Waktu saya sedang jongkok mencabuti rumput di kebun semasa saya masih
tinggal di Maarssen,lebih dari 15 tahun yang lalu, tiba2 saya terkejut, lho
kok ada orang bersiul lagu Hallo, hallo Bandung. Saya menoleh, tambah
heran, lha kok orang Belanda. Dia rupanya lihat keheranan saya, bilang ya,
dia lahir di Bandung.
Akhinya jadi ngobrol dengan dia, cerita kalau ayahnya pemimpin perkebunan
di sekitar Bandung.
Yang tetap saya herani sampai sekarang, lha kok orang Belanda jalan2 sambil
bersiul Hallo Hallo Bandung.

2017-06-30 10:13 GMT+02:00 'Chan CT' [email protected] [GELORA45] <
[email protected]>:

>
>
> Sebelumnya, tak pernah menjadi pertanyaan dalam ingatan kalau lagu
> “Halo-halo Bandung” itu diciptakan Ismail Marzuki, setelah bung tanya,
> membuat saya jadi ragu2. Kejar oom Google, ternyata memang jadi kontroversi
> siapa pencipta sesungguhnya?
>
> Tapi, ... kenapa selama dinyatakan penciptanya Ismail Marzuki, orangnya
> juga juga diam-diam saja? TIDAK MEMBANTAH?! Apa TIDAK MALU mengakui lagu
> yang bukan ciptaannya sendiri? Atau ada usaha hendak mengkerdilkan Ismail
> Marzuki dengan menyatakan “Halo-halo Bandung” itu BUKAN Ciptaannya?
>
> Salam
>
> ChanCT
>
>
>
> *Kontroversi Pencipta ”Halo-Halo Bandung”*
>
> https://web.archive.org/web/20071209204657/http://pikiran-
> rakyat.com/cetak/2007/032007/23/0105.htm
>
> BANYAK hal yang masih berselimut kabut dalam rangkaian peristiwa Bandung
> Lautan Api, 61 tahun silam. Tak hanya tentang sosok Mohammad Toha, tetapi
> juga tentang siapa pencipta lagu “Halo-Halo Bandung”. Sejauh ini, khalayak
> mengenal bahwa lagu perjuangan tersebut merupakan ciptaan Ismail Marzuki.
> Akan tetapi, banyak orang yang meragukannya. Pasalnya, komponis kelahiran
> Kwitang, Jakarta Pusat, 11 Mei 1914 itu berkecenderungan mencipta lagu-lagu
> berirama lambat nan romantis. Sementara, “Halo-Halo Bandung” termasuk genre
> lagu mars yang berirama cepat dan heroik.
>
> *LIRIK "Halo-Halo Bandung" pada salah satu buku lagu.*  *HAZMIRULLAH/"PR"
>
> Simak saja, misalnya, sejumlah lagu karya Ismail Marzuki, seperti “Rayuan
> Pulau Kelapa”, “Sabda Alam”, “Indonesia Pusaka”, “Juwita Malam”, “Selendang
> Sutera”, “Sepasang Mata Bola”, “Melati di Tapal Batas”, “Bandung Selatan di
> Waktu Malam”, “Aryati”, dan “Jangan Ditanya ke Mana Aku Pergi”.
>
> Komponis senior Indonesia, Abdullah Totong (AT) Mahmud, membenarkan adanya
> polemik tersebut. Hanya, dirinya tak berani menghakimi mana pihak yang
> benar dan mana yang salah. “Informasi yang saya dengar, lagu tersebut,
> seharusnya, NN (*no name*; pencipta tak diketahui-red.). Saya sendiri tak
> tahu bagaimana kemudian lagu itu jadi ciptaan Ismail Marzuki,” ungkapnya,
> ketika dihubungi, Kamis (22/3) petang.
>
> Polemik ihwal siapa pencipta “Halo-Halo Bandung” itu sebenarnya sudah lama
> terjadi. Di dalam buku *Saya Pilih Mengungsi: Pengorbanan Rakyat Bandung
> untuk Kedaulatan* disebutkan, polemik itu mulai terjadi pada 1995.
>
> Pestaraja Humala Sadungan Marpaung --akrab disapa Bang Maung--, seorang
> pejuang yang sempat bergabung ke dalam Pasukan Istimewa (PI), di dalam buku
> itu, menyebutkan bahwa lagu tersebut bukan ciptaan orang-perseorangan.
> “Halo-Halo Bandung” merupakan ciptaan bersama para pejuang Bandung.
>
> Sandiah Soerjono alias Ibu Kasur punya kisah soal ini. Suatu ketika,
> suaminya, Soerjono (Pak Kasur-red.) memberinya dua lagu baru, “Halo-Halo
> Bandung” dan “Gempur dan Rebut Bandung Kembali”. “‘ Halo-Halo Bandung’
> memang bagus lagunya *tuh*. *Kan* bapak bilangnya begini, ’Pak, ini siapa
> yang bikin?’ tanya saya. ‘*Ah, bocah-bocahe dewe*.’ ‘Bocah Batak,’
> katanya. Kalau tidak salah namanya Tobing...,” katanya.
>
> Adjie Esa Poetra, pengamat musik, berpendapat berbeda. Menurut dia,
> kecenderungan seorang musisi tak bisa digeneralisasi. “Suatu ketika, bisa
> jadi seorang musisi mencipta lagu yang begitu lembut menyayat. Akan tetapi,
> di saat yang lain, bisa juga ia mencipta lagu yang garang dan penuh
> semangat. Ismail Marzuki, mungkin juga demikian,” ungkapnya, ketika
> dihubungi melalui telefon selulernya, pekan lalu.
>
> Singkatnya, kata Adjie, proses mencipta seorang musisi tergantung suasana
> hati. Ia mencontohkan sosok Harry Roesli yang dikenal bengal. “Akan tetapi,
> suatu saat, ia mencipta sebuah lagu yang begitu menyayat, seperti ‘Jangan
> Menangis Indonesia’. Begitulah kira-kira,” katanya.
>
> Melalui karya-karyanya, Adjie “mengenal” Ismail Marzuki sebagai sosok yang
> dinamis. “Saya kira, ‘Halo-Halo Bandung’, bisa jadi benar ciptaan Ismail
> Marzuki. Pada lagu itu, meski bergenre mars, saya menangkap ada sisi
> romantisme yang merupakan ciri khasnya. Lagi pula, Ismail Marzuki orang
> jujur. Rasanya, tidak mungkin dia mengakui sesuatu yang sebetulnya bukan
> karyanya,” ujar Adjie .
>
> **
>
> MENURUT Bang Maung, di dalam buku *Saya Pilih Mengungsi: Pengorbanan
> Rakyat Bandung untuk Kedaulatan”,* proses penciptaan “Halo-Halo Bandung”
> dilatarbelakangi oleh perjuangan pemuda Bandung, tanpa melihat asal-usul
> suku bangsa. Hal itu tercermin dengan kata “Halo!” yang merupakan sapaan
> khas pemuda Medan, akibat pengaruh film-film koboi Amerika yang sering
> diputar, saat itu.
>
> Ceritanya, pada suatu malam, di Ciparay, diselenggarakan perayaan Batak.
> Di sana, disediakan pula sebuah panggung dan memberikan kesempatan kepada
> pengunjung yang ingin menyumbangkan lagu. Seorang pemuda Batak bernama Bona
> L. Tobing, tiba-tiba menyapa, "Halo!" kepada Kota Bandung di kejauhan,
> "Halo Bandung!". Kemudian sapaan itu memiliki irama, "Halo-Halo Bandung"
> seperti irama yang dikenal saat ini. “Akan tetapi, irama itu tidak selesai
> karena malam sudah larut,” tutur Bang Maung.
>
> Sebagai pejuang, Bang Maung pun turut menyusup ke Kota Bandung, setiap
> malam, setelah peristiwa Bandung Lautan Api. “Siang hari tidak ada kerja.
> Jadi di Ciparay ini, anak-anak Bandung dari Pasukan Istimewa tiduran. 'Eh,
> lagu yang kemarin itu mana? Halo! Halo Bandung! de-de-de--- (berirama
> menurun).' Setelah lama, orang Ambon juga ikut. Pemuda Indonesia Maluku
> itu, di antaranya Leo Lopulisa, Oom Teno, Pelupessy. Sesudah Halo-Halo
> Bandung, datang orang Ambonnya. *...* Sudah lama beta! tidak bertemu
> dengan kau!' Karena itu, ada 'beta' di situ. Bagaimana kata itu bisa masuk
> kalau tidak ada dia di situ. Si Pelupessy-lah itu, si Oom Tenolah itu, saya
>  *enggak *tahu. Tapi, sambil nyanyi bikin syair. Itulah para pejuang yang
> menciptakannya. Tidak ada itu yang menciptakan. Kita sama-sama saja
> main-main begini. Jadi, kalau dikatakan siapa pencipta (Halo-Halo) Bandung?
> Para pejuang Bandung Selatan," ucapnya. (Hazmirullah/”PR”)***
>
> *From:* Sunny ambon [email protected] [GELORA45]
> *Sent:* Friday, June 30, 2017 3:10 PM
> *To:* Gelora 45
> *Subject:* [GELORA45] Re: Kesaksian Guru, Obama Hapal Lagu Halo-halo
> Bandung
>
>
>
>
> *Tahukah Anda siapa pengaran lagu "Halo Halo Bandung"?*
>
> 
>

Kirim email ke