Maaf kalau menurut saya vatikan sudah dia akui dunia/ PBB, sedangkan ormas yang 
mendirikan kekhilafahan dilarang dibanyak negara.
Itu saja yang menjadi masalah

From: [email protected] [mailto:[email protected]]
Sent: Wednesday, July 19, 2017 7:41 AM
To: Gelora 45 <[email protected]>; Yahoo! Inc. 
<[email protected]>
Subject: [**EXTERNAL**] [GELORA45] Din Syamsudin: Vatikan Itu Semacam Bentuk 
Kekhilafahan





”Menurut Din, khilafah adalah salah satu ajaran sentral Islam yang bersumber 
dari Al-Qur’an dan Al-Hadits”, jadi dengan lain kata Muhammadiyah ingin 
mendirikan kekhilafahan. Cuma saja malu-malu kucing untuk berterus terang. 
hehehehehe



https://www.eramuslim.com/berita/nasional/din-syamsudin-khilafah-tidak-bisa-dinafikan-bentuknya-umat-islam-bisa-lihat-vatikan.htm





Din Syamsudin: Vatikan Itu Semacam Bentuk Kekhilafahan

3<https://www.eramuslim.com/berita/nasional/din-syamsudin-khilafah-tidak-bisa-dinafikan-bentuknya-umat-islam-bisa-lihat-vatikan.htm>

zahid – Selasa, 24 Syawwal 1438 H / 18 Juli 2017 17:30 WIB

Eramuslim – Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsudin tergelitik 
mengomentari isu khilafah. Seperti diketahui saat ini tengah ramai 
diperbincangkan di masyarakat banyak soal khilafah.

Pemerintah menganggap bahwa khilafah tak sesuai dasar negara Indonesia, 
sehingga Hizbut Tahrir Indonesia sebagai ormas yang mengusung konsep khilafah 
dibubarkan.

Menurut Din, khilafah adalah salah satu ajaran sentral Islam yang bersumber 
dari Al-Qur’an dan Al-Hadits, maka seorang muslim tidak boleh menafikannya. 
Ulama pramodern dan moderpun sepakat bahwa manusia adalah khalifah atau wakil 
Tuhan di muka bumi (khalifatullah fil ardh). Kemudian khilafatullah fil 
ardh/kekuasaan Tuhan di bumi (God’s Vicegerency on Earth) bisa dibandingkan 
dengan konsep Kristiani tentang “Kerajaan Tuhan” (Christendom).

Din Syamsudin mengungkapkan bahwa khilafah historis yang pernah ada setelah 
masa Khulafaur Rasyidin adalah kerajaan, dan Islam tidak membawa konsep tentang 
bentuk atau sistem pemerintahan tertentu. Maka tidak ada kewajiban mendirikan 
khilafah sebagai lembaga politik-kekuasaan.

“Sehingga jika konsep khilafah Hizbut Tahrir dimaksud sebagai lembaga 
politik-kekuasaan, maka itu bukan merupakan kesepakatan jumhur ulama,” ungkap 
Din seperti dikutip dari Muhammadiyah or.id<http://or.id>, Jumat (14/7/2017).

Tentang khilafah, Din lebih lanjut mengatakan bahwa khilafah sebagai ajaran 
Islam yang mulia tidak boleh dinafikan khususnya oleh umat Islam. Maka 
diperlukan penafsiran baru yang kontekstual terhadap khilafah, khususnya dalam 
konteks NKRI yang berdasarkan Pancasila.

“Khilafah dapat dipahami membawa pesan kesatuan, persatuan, dan kebersamaan 
umat Islam secara nasional, kemajemukan warna kulit, bahasa, budaya dan 
lain-lain. Di Indonesia, kita telah membentuk Majelis Ulama Indonesia (MUI) 
yang dapat berfungsi sebagai organisasi payung atau tenda besar bagi seluruh 
umat Islam,” tegas Din.

Menurut Din, konsep khilafah dapat diterapkan dalam bentuk adanya lembaga 
mondial yang mempersatukan seluruh umat Islam, seperti Vatikan mempersatukan 
umat Katholik sedunia. Umat Katholik di negara mana pun sangat tunduk dan patuh 
kepada Vatikan, tanpa mengabaikan sistem nasional masing-masing bangsa.

“Saya mengusulkan kepada umat Islam termasuk kepada Hizbut Tahrir untuk 
mentransformasi “khilafah ‘alamiyah” mereka ke dalam bentuk seperti Vatikan. 
Vatikan adalah lembaga yang sangat berpengaruh, baik dalam urusan keagamaan 
maupun non keagamaan, termasuk ekonomi, politik, dan budaya. Memang Vatikan 
memisahkan antara agama dan politik, tapi Vatikan berfungsi dan diperlakukan 
sebagai negara,” tambah Din.

Namun Din melihat bahwa hal itu tidak mudah karena watak umat Islam, khususnya 
Sunni, kurang bersifat faternalistik dan sentralistik, serta otonomi atau 
egoisme masing-masing bangsa bahkan organisasi sangat kuat.

“Sehingga sebagai solusi hubungan khilafah dan negara pancasila agar khilafah 
tidak diabaikan dan negara pancasila tetap ditegakkan, semangat kekatholikan 
atau budaya Vatikan yang mampu merajut kesatuan, persatuan, dan kebersamaan 
bagus untuk  ditiru,” tutup Din. (Voa-I/Ram)

Kirim email ke