Pesta Sex di Sorga itu hanyalah impian dan khayalan orang-orang yang
tidak kebagian sex di padang pasir. Ingatannya hanya betapa nikmatnya
'pesta sex' disorga, tanpa berpikir bahwa penduduk sorga adalah Allah
dan para malaikat yang berupa roh. Allah menciptakan milyaran malaekat
sebelum menciptakan segala sesuatunya, yang disebut sebagai anak-anak
Allah. Mereka tidak diciptakan untuk berkemampuan berkembang biak, Akan
tetapi, ketika zamannya Nabi Nuh, dimana kejahatan manusia makin
meningkat, banyak malaekat yang turun kebumi karena melihat anak-anak
perempuan manusia cantik-cantik, lalu memperistri mereka, siapa saja
yang mereka sukai. Lahirlah anak-anak mereka yang disebut Nephilim.
Melihat keadaan ini, ditambah lagi dengan kejahatan manusia yang
meningkat, maka menyesallah Allah menciptakan manusia. Allah sangat
murka dan menghukum dunia dengan banjir besar yang menenggelamkan mereka
semua, yang kita kenal dengan Banjir Nabi Nuh. Para malaikat yang
berbuat dosa karena mereka adalah roh, kembali kesorga dan mendapat
hukuman di sorga, dan tidak memangku jabatan apapun lagi, sampai kepada
hari penghakiman kelak. Untuk jelasnya, silahkan baca Alkitab,
Kejadian/Genesis 6:1-8.
------ Original Message ------
From: "Chalik Hamid [email protected] [GELORA45]"
<[email protected]>
To: "Yahoo! Inc." <[email protected]>; "Jaringan
Kerja Indonesia" <[email protected]>; "Gelora
45" <[email protected]>; "Sastra Pembebasan"
<[email protected]>; "Yahoo! Inc."
<[email protected]>; "Yahoo! Inc."
<[email protected]>; "DISKUSI FORUM HLD"
<[email protected]>
Sent: Saturday, 29 Jul, 2017 At 1:55 PM
Subject: Trs: [GELORA45] Apa Benar di Surga Ada Pesta Seks?
Kalau lucu, jangan menahan tawa.
Pada Jumat, 28 Juli 2017 22:17, "Jonathan Goeij
[email protected] [GELORA45]" <[email protected]> menulis:
Kenapa tujuan ketiga perkawinan ini tetap berlangsung di surga? Sayyid
Bakri bin Sayyid M Syatha Dimyathi dalam I‘anatut Thalibin menjawab, di
surga sudah tidak ada lagi beranak pinak dan tidak ada pula penahanan
dorongan seksual yang menyebabkan badan menjadi mudharat.
إذ لا تناسل هناك ولا احتباس
Artinya, “(Hanya tujuan ketiga yang tersisa di surga, yaitu merasakan
kenikmatan) karena di sana tidak ada lagi keturunan (baru) dan tidak
(perlu) lagi menahan (dorongan seksual) yang memudharatkan badan,”
(Lihat Sayyid Bakri bin Sayyid M Syatha Dimyathi, I‘anatut Thalibin,
Daru Ihya’il Kutubil Arabiyah, Isa Al-Babi Al-Halabi, juz IV, halaman
253).
Dari keterangan ini, kita menyimpulkan bahwa kenikmatan seksual di surga
adalah benar adanya.
...
Apa Benar di Surga Ada Pesta Seks?
Kamis, 20 Juli 2017 14:00Bahtsul Masail
<https://www.nu.or.id/post/59/bahtsul-masail/>
Bagikan
<https://www.nu.or.id/post/read/79691/apa-benar-di-surga-ada-pesta-seks>
Apa Benar di Surga Ada Pesta Seks?
Ilustrasi
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Redaksi Bahtsul Masail NU Online, pak ustadz belakangan ini masalah
pesta seks di surga ramai diperbincangkan masyarakat. Pertanyaan saya,
sebebas apa hubungan seksual di surga? Apakah ada keterangan agama
perihal ini. Mohon penjelasannya. Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr.
wb. (Hj Indah Nurkholifah/Ciamis).
Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya untuk kita
semua. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kami hanya menemukan
entri “pesta kawin” dan “pesta nikah” yang pengertiannya merujuk pada
pesta perayaan perkawinan. Sedangkan pesta seks tidak ditemukan di KBBI.
Meskipun begitu, kami mencoba memaknai pesta seks dari pengertian
“pesta” yang secara harfiah merujuk pada perjamuan makan dan minum
(bersuka ria dan sebagainya); perayaan (keramaian dan sebagainya).
Kami mengandaikan istilah pesta seks itu sebagai sebuah perayaan yang
melibatkan banyak orang dalam beraktivitas seksual dengan suka ria
sebebas-bebasnya. Kalau ini yang dimaksud dengan pesta seks sebagai
sebuah kenikmatan di surga, maka hal ini jelas keliru. Sepanjang
informasi agama yang kami ketahui, salah satu nikmat Allah di surga itu
adalah kenikmatan berhubungan seksual, bukan pesta seks. Itu pun tetap
diatur melalui perkawinan seperti keterangan Hasyiyatul
Baijuri dan Hasyiyah I’anatut Thalibindengan redaksi sedikit berbeda.
والنكاح من الشرائع القديمة فإنه شرع من لدن أبينا آدم عليه السلام واستمر
حتى في الجنة فإنه يجوز للإنسان النكاح في الجنة ولو لمحارمه ما عدا الأصول
والفروع فلا ينكح أمه ولا بنته فيها وفائدته في الدنيا حفظ النسل وتفريغ ما
يضر حبسه من المني واستيفاء اللذة والتمتع، وهذه هي التي تبقى في الجنة
Artinya, “Nikah merupakan syariat terdahulu. Ia disyariatkan sejak Nabi
Adam AS dan berlangsung hingga di surga kelak. Seseorang boleh menikahi
sekalipun mahrahmnya selain pokok dan cabangnya di surga. Dari sini,
seseorang tidak boleh menikahi ibunya (serta nenek ke atas) dan anak
perempuannya (serta cucu perempuan ke bawah). Tujuan perkawinan di dunia
(menurut kalangan medis) adalah menjaga keturunan, mengeluarkan cairan
mani yang memudharatkan jika tertahan di dalam badan, dan merasakan
kenikmatan. Tujuan (ketiga) ini yang tersisa di surga,” (Lihat Syekh M
Ibrahim Al-Baijuri, Hasyiyatul Baijuri, cetakan kedua, 1999 M/1420 H,
Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyah, juz II, halaman 169).
Kenapa tujuan ketiga perkawinan ini tetap berlangsung di surga? Sayyid
Bakri bin Sayyid M Syatha Dimyathi dalam I‘anatut Thalibin menjawab, di
surga sudah tidak ada lagi beranak pinak dan tidak ada pula penahanan
dorongan seksual yang menyebabkan badan menjadi mudharat.
إذ لا تناسل هناك ولا احتباس
Artinya, “(Hanya tujuan ketiga yang tersisa di surga, yaitu merasakan
kenikmatan) karena di sana tidak ada lagi keturunan (baru) dan tidak
(perlu) lagi menahan (dorongan seksual) yang memudharatkan badan,”
(Lihat Sayyid Bakri bin Sayyid M Syatha Dimyathi, I‘anatut Thalibin,
Daru Ihya’il Kutubil Arabiyah, Isa Al-Babi Al-Halabi, juz IV, halaman
253).
Dari keterangan ini, kita menyimpulkan bahwa kenikmatan seksual di surga
adalah benar adanya. Meski begitu, hubungan seksual tetap diatur, bukan
sebebas-bebasnya seperti pengertian yang tercakup dalam istilah pesta
seks.
Hubungan seksual di surga diatur melalui perkawinan dan orang-orang yang
bisa dinikahi. Salah satu peraturan perkawinan di surga adalah larangan
untuk menikahi istri orang lain, ibu (dan juga nenek ke atas [ushul]),
anak perempuan (dan juga cucu ke bawah [furu']), istri para nabi dan
rasul termasuk para istri Nabi Muhammad SAW sebagaimana disinggung Ibnu
Katsir dalam karyanya, kitab Qashashul Anbiya.
Adapun mahram selain ibu dan anak perempuan boleh dinikahi, tentu yang
bukan istri orang lain. Sedangkan seorang perempuan yang menikah lebih
dari sekali akan menjadi istri dari suami terakhir dalam hidupnya.
Sementara sebagian ulama mengatakan, perempuan itu ditawarkan untuk
memilih suami yang dikehendaki.
Simpulan kami, tidak benar kalau di surga ada pesta seks. Saran kami,
para dai hendaknya berhati-hati sekali dalam menjelaskan nikmat surga
agar tidak membuat kekeliruan persepsi masyarakat.
Demikian jawaban singkat kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami
selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca.
Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.
(Alhafiz Kurniawan)
Apa Benar di Surga Ada Pesta Seks?
Ilustrasi
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Redaksi Bahtsul Masail NU Online, pak ustadz belakangan ini masalah
pesta seks di surga ramai diperbincangkan masyarakat. Pertanyaan saya,
sebebas apa hubungan seksual di surga? Apakah ada keterangan agama
perihal ini. Mohon penjelasannya. Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr.
wb. (Hj Indah Nurkholifah/Ciamis).
Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya untuk kita
semua. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kami hanya menemukan
entri “pesta kawin” dan “pesta nikah” yang pengertiannya merujuk pada
pesta perayaan perkawinan. Sedangkan pesta seks tidak ditemukan di KBBI.
Meskipun begitu, kami mencoba memaknai pesta seks dari pengertian
“pesta” yang secara harfiah merujuk pada perjamuan makan dan minum
(bersuka ria dan sebagainya); perayaan (keramaian dan sebagainya).
Kami mengandaikan istilah pesta seks itu sebagai sebuah perayaan yang
melibatkan banyak orang dalam beraktivitas seksual dengan suka ria
sebebas-bebasnya. Kalau ini yang dimaksud dengan pesta seks sebagai
sebuah kenikmatan di surga, maka hal ini jelas keliru. Sepanjang
informasi agama yang kami ketahui, salah satu nikmat Allah di surga itu
adalah kenikmatan berhubungan seksual, bukan pesta seks. Itu pun tetap
diatur melalui perkawinan seperti keterangan Hasyiyatul
Baijuri dan Hasyiyah I’anatut Thalibindengan redaksi sedikit berbeda.
والنكاح من الشرائع القديمة فإنه شرع من لدن أبينا آدم عليه السلام واستمر
حتى في الجنة فإنه يجوز للإنسان النكاح في الجنة ولو لمحارمه ما عدا الأصول
والفروع فلا ينكح أمه ولا بنته فيها وفائدته في الدنيا حفظ النسل وتفريغ ما
يضر حبسه من المني واستيفاء اللذة والتمتع، وهذه هي التي تبقى في الجنة
Artinya, “Nikah merupakan syariat terdahulu. Ia disyariatkan sejak Nabi
Adam AS dan berlangsung hingga di surga kelak. Seseorang boleh menikahi
sekalipun mahrahmnya selain pokok dan cabangnya di surga. Dari sini,
seseorang tidak boleh menikahi ibunya (serta nenek ke atas) dan anak
perempuannya (serta cucu perempuan ke bawah). Tujuan perkawinan di dunia
(menurut kalangan medis) adalah menjaga keturunan, mengeluarkan cairan
mani yang memudharatkan jika tertahan di dalam badan, dan merasakan
kenikmatan. Tujuan (ketiga) ini yang tersisa di surga,” (Lihat Syekh M
Ibrahim Al-Baijuri, Hasyiyatul Baijuri, cetakan kedua, 1999 M/1420 H,
Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyah, juz II, halaman 169).
Kenapa tujuan ketiga perkawinan ini tetap berlangsung di surga? Sayyid
Bakri bin Sayyid M Syatha Dimyathi dalam I‘anatut Thalibin menjawab, di
surga sudah tidak ada lagi beranak pinak dan tidak ada pula penahanan
dorongan seksual yang menyebabkan badan menjadi mudharat.
إذ لا تناسل هناك ولا احتباس
Artinya, “(Hanya tujuan ketiga yang tersisa di surga, yaitu merasakan
kenikmatan) karena di sana tidak ada lagi keturunan (baru) dan tidak
(perlu) lagi menahan (dorongan seksual) yang memudharatkan badan,”
(Lihat Sayyid Bakri bin Sayyid M Syatha Dimyathi, I‘anatut Thalibin,
Daru Ihya’il Kutubil Arabiyah, Isa Al-Babi Al-Halabi, juz IV, halaman
253).
Dari keterangan ini, kita menyimpulkan bahwa kenikmatan seksual di surga
adalah benar adanya. Meski begitu, hubungan seksual tetap diatur, bukan
sebebas-bebasnya seperti pengertian yang tercakup dalam istilah pesta
seks.
Hubungan seksual di surga diatur melalui perkawinan dan orang-orang yang
bisa dinikahi. Salah satu peraturan perkawinan di surga adalah larangan
untuk menikahi istri orang lain, ibu (dan juga nenek ke atas [ushul]),
anak perempuan (dan juga cucu ke bawah [furu']), istri para nabi dan
rasul termasuk para istri Nabi Muhammad SAW sebagaimana disinggung Ibnu
Katsir dalam karyanya, kitab Qashashul Anbiya.
Adapun mahram selain ibu dan anak perempuan boleh dinikahi, tentu yang
bukan istri orang lain. Sedangkan seorang perempuan yang menikah lebih
dari sekali akan menjadi istri dari suami terakhir dalam hidupnya.
Sementara sebagian ulama mengatakan, perempuan itu ditawarkan untuk
memilih suami yang dikehendaki.
Simpulan kami, tidak benar kalau di surga ada pesta seks. Saran kami,
para dai hendaknya berhati-hati sekali dalam menjelaskan nikmat surga
agar tidak membuat kekeliruan persepsi masyarakat.
Demikian jawaban singkat kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami
selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca.
Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.
(Alhafiz Kurniawan)