Kalau dihindu Sorga bukan tujuan akhir, tujuan akhir sang roh adalah Moksa. Apa itu moksa? Moksa adalah suatu peristiwa dimana sang roh tidak dilahir kembali. Kenapa sang roh takut lahir (Reinkarnasi), sebab kalau kita lahir kedunia kembali amatlah susah. Dari kecil kita harus sekolah sampai kuliah, lalu memberi nafkah istri dan anak, intraksi sosial dimasyarakat dll. Belum lagi saat kita lahir akan menjadi binatang atau orang cacat Karena perbuatan kita sebelumnya terlalu jahat.
Lantas kamana sang roh saat Moksa, jawabanya sang roh akan menyatu dengan Tuhan. Karena sang roh adalah percikan terkecil dari Tuhan. Ibarat Sinar matahari jika dibiaskan oleh uap air maka akan kelihatan warna-warni yang disebut pelangi. Kalau di weda disebutkan orang yang masih hidup masih memungkinkan bisa moksa asalkan dosanya kecil. Ibarat kapur barus, perubahan hujud dari padat langsung menjadi uap. ** Note : Hanya di hindu yang punya konsep ini. Kenapa orang yang lahir bisa kaya, cantik atau yang lainya. Sebab hal ini sangat dipengaruhi oleh perbuatan sebelumnya. Misalnya walupun dia jarang sembayang, jarang bekerja tapi begitu ada kesempaan langsung kaya, atau jadi general manager. Hal ini disebabkan karena tabungan perbuatan baik sebelumnya lah yang mempengaruhi hidupnya. Kemana arah sorga dalam Hindu : arah menuju sorga dalam agama hindu adalah timur laut Makanya orang hindu sembahyang menghadap ke timur atau ke utara. Lantas siapa yang di tuju di front office sorga, beliau aalah sang suratma Disinilah sang roh akan ditanya tentang perbuatan kita di bumi, Kalau tidak mengaku darah dll sebagai saksi. Setelah jelas jumlah dosa kita barulah kita di hadapkan pada sorga dan neraka. Yang akan dieksekusi oleh sang jogor manik From: [email protected] [mailto:[email protected]] Sent: Saturday, July 29, 2017 11:55 AM To: Yahoo! Inc. <[email protected]>; Jaringan Kerja Indonesia <[email protected]>; Gelora 45 <[email protected]>; Sastra Pembebasan <[email protected]>; Yahoo! Inc. <[email protected]>; Yahoo! Inc. <[email protected]>; DISKUSI FORUM HLD <[email protected]> Subject: [**EXTERNAL**] Trs: [GELORA45] Apa Benar di Surga Ada Pesta Seks? Kalau lucu, jangan menahan tawa. Pada Jumat, 28 Juli 2017 22:17, "Jonathan Goeij [email protected]<mailto:[email protected]> [GELORA45]" <[email protected]<mailto:[email protected]>> menulis: Kenapa tujuan ketiga perkawinan ini tetap berlangsung di surga? Sayyid Bakri bin Sayyid M Syatha Dimyathi dalam I‘anatut Thalibin menjawab, di surga sudah tidak ada lagi beranak pinak dan tidak ada pula penahanan dorongan seksual yang menyebabkan badan menjadi mudharat. إذ لا تناسل هناك ولا احتباس Artinya, “(Hanya tujuan ketiga yang tersisa di surga, yaitu merasakan kenikmatan) karena di sana tidak ada lagi keturunan (baru) dan tidak (perlu) lagi menahan (dorongan seksual) yang memudharatkan badan,” (Lihat Sayyid Bakri bin Sayyid M Syatha Dimyathi, I‘anatut Thalibin, Daru Ihya’il Kutubil Arabiyah, Isa Al-Babi Al-Halabi, juz IV, halaman 253). Dari keterangan ini, kita menyimpulkan bahwa kenikmatan seksual di surga adalah benar adanya. ... Apa Benar di Surga Ada Pesta Seks? Kamis, 20 Juli 2017 14:00Bahtsul Masail<https://www.nu.or.id/post/59/bahtsul-masail/> Bagikan [Apa Benar di Surga Ada Pesta Seks?] Ilustrasi Assalamu ‘alaikum wr. wb. Redaksi Bahtsul Masail NU Online, pak ustadz belakangan ini masalah pesta seks di surga ramai diperbincangkan masyarakat. Pertanyaan saya, sebebas apa hubungan seksual di surga? Apakah ada keterangan agama perihal ini. Mohon penjelasannya. Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Hj Indah Nurkholifah/Ciamis). Jawaban Assalamu ‘alaikum wr. wb. Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kami hanya menemukan entri “pesta kawin” dan “pesta nikah” yang pengertiannya merujuk pada pesta perayaan perkawinan. Sedangkan pesta seks tidak ditemukan di KBBI. Meskipun begitu, kami mencoba memaknai pesta seks dari pengertian “pesta” yang secara harfiah merujuk pada perjamuan makan dan minum (bersuka ria dan sebagainya); perayaan (keramaian dan sebagainya). Kami mengandaikan istilah pesta seks itu sebagai sebuah perayaan yang melibatkan banyak orang dalam beraktivitas seksual dengan suka ria sebebas-bebasnya. Kalau ini yang dimaksud dengan pesta seks sebagai sebuah kenikmatan di surga, maka hal ini jelas keliru. Sepanjang informasi agama yang kami ketahui, salah satu nikmat Allah di surga itu adalah kenikmatan berhubungan seksual, bukan pesta seks. Itu pun tetap diatur melalui perkawinan seperti keterangan Hasyiyatul Baijuri dan Hasyiyah I’anatut Thalibindengan redaksi sedikit berbeda. والنكاح من الشرائع القديمة فإنه شرع من لدن أبينا آدم عليه السلام واستمر حتى في الجنة فإنه يجوز للإنسان النكاح في الجنة ولو لمحارمه ما عدا الأصول والفروع فلا ينكح أمه ولا بنته فيها وفائدته في الدنيا حفظ النسل وتفريغ ما يضر حبسه من المني واستيفاء اللذة والتمتع، وهذه هي التي تبقى في الجنة Artinya, “Nikah merupakan syariat terdahulu. Ia disyariatkan sejak Nabi Adam AS dan berlangsung hingga di surga kelak. Seseorang boleh menikahi sekalipun mahrahmnya selain pokok dan cabangnya di surga. Dari sini, seseorang tidak boleh menikahi ibunya (serta nenek ke atas) dan anak perempuannya (serta cucu perempuan ke bawah). Tujuan perkawinan di dunia (menurut kalangan medis) adalah menjaga keturunan, mengeluarkan cairan mani yang memudharatkan jika tertahan di dalam badan, dan merasakan kenikmatan. Tujuan (ketiga) ini yang tersisa di surga,” (Lihat Syekh M Ibrahim Al-Baijuri, Hasyiyatul Baijuri, cetakan kedua, 1999 M/1420 H, Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyah, juz II, halaman 169). Kenapa tujuan ketiga perkawinan ini tetap berlangsung di surga? Sayyid Bakri bin Sayyid M Syatha Dimyathi dalam I‘anatut Thalibin menjawab, di surga sudah tidak ada lagi beranak pinak dan tidak ada pula penahanan dorongan seksual yang menyebabkan badan menjadi mudharat. إذ لا تناسل هناك ولا احتباس Artinya, “(Hanya tujuan ketiga yang tersisa di surga, yaitu merasakan kenikmatan) karena di sana tidak ada lagi keturunan (baru) dan tidak (perlu) lagi menahan (dorongan seksual) yang memudharatkan badan,” (Lihat Sayyid Bakri bin Sayyid M Syatha Dimyathi, I‘anatut Thalibin, Daru Ihya’il Kutubil Arabiyah, Isa Al-Babi Al-Halabi, juz IV, halaman 253). Dari keterangan ini, kita menyimpulkan bahwa kenikmatan seksual di surga adalah benar adanya. Meski begitu, hubungan seksual tetap diatur, bukan sebebas-bebasnya seperti pengertian yang tercakup dalam istilah pesta seks. Hubungan seksual di surga diatur melalui perkawinan dan orang-orang yang bisa dinikahi. Salah satu peraturan perkawinan di surga adalah larangan untuk menikahi istri orang lain, ibu (dan juga nenek ke atas [ushul]), anak perempuan (dan juga cucu ke bawah [furu']), istri para nabi dan rasul termasuk para istri Nabi Muhammad SAW sebagaimana disinggung Ibnu Katsir dalam karyanya, kitab Qashashul Anbiya. Adapun mahram selain ibu dan anak perempuan boleh dinikahi, tentu yang bukan istri orang lain. Sedangkan seorang perempuan yang menikah lebih dari sekali akan menjadi istri dari suami terakhir dalam hidupnya. Sementara sebagian ulama mengatakan, perempuan itu ditawarkan untuk memilih suami yang dikehendaki. Simpulan kami, tidak benar kalau di surga ada pesta seks. Saran kami, para dai hendaknya berhati-hati sekali dalam menjelaskan nikmat surga agar tidak membuat kekeliruan persepsi masyarakat. Demikian jawaban singkat kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca. Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq, Wassalamu ’alaikum wr. wb. (Alhafiz Kurniawan) [Apa Benar di Surga Ada Pesta Seks?] Ilustrasi Assalamu ‘alaikum wr. wb. Redaksi Bahtsul Masail NU Online, pak ustadz belakangan ini masalah pesta seks di surga ramai diperbincangkan masyarakat. Pertanyaan saya, sebebas apa hubungan seksual di surga? Apakah ada keterangan agama perihal ini. Mohon penjelasannya. Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Hj Indah Nurkholifah/Ciamis). Jawaban Assalamu ‘alaikum wr. wb. Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kami hanya menemukan entri “pesta kawin” dan “pesta nikah” yang pengertiannya merujuk pada pesta perayaan perkawinan. Sedangkan pesta seks tidak ditemukan di KBBI. Meskipun begitu, kami mencoba memaknai pesta seks dari pengertian “pesta” yang secara harfiah merujuk pada perjamuan makan dan minum (bersuka ria dan sebagainya); perayaan (keramaian dan sebagainya). Kami mengandaikan istilah pesta seks itu sebagai sebuah perayaan yang melibatkan banyak orang dalam beraktivitas seksual dengan suka ria sebebas-bebasnya. Kalau ini yang dimaksud dengan pesta seks sebagai sebuah kenikmatan di surga, maka hal ini jelas keliru. Sepanjang informasi agama yang kami ketahui, salah satu nikmat Allah di surga itu adalah kenikmatan berhubungan seksual, bukan pesta seks. Itu pun tetap diatur melalui perkawinan seperti keterangan Hasyiyatul Baijuri dan Hasyiyah I’anatut Thalibindengan redaksi sedikit berbeda. والنكاح من الشرائع القديمة فإنه شرع من لدن أبينا آدم عليه السلام واستمر حتى في الجنة فإنه يجوز للإنسان النكاح في الجنة ولو لمحارمه ما عدا الأصول والفروع فلا ينكح أمه ولا بنته فيها وفائدته في الدنيا حفظ النسل وتفريغ ما يضر حبسه من المني واستيفاء اللذة والتمتع، وهذه هي التي تبقى في الجنة Artinya, “Nikah merupakan syariat terdahulu. Ia disyariatkan sejak Nabi Adam AS dan berlangsung hingga di surga kelak. Seseorang boleh menikahi sekalipun mahrahmnya selain pokok dan cabangnya di surga. Dari sini, seseorang tidak boleh menikahi ibunya (serta nenek ke atas) dan anak perempuannya (serta cucu perempuan ke bawah). Tujuan perkawinan di dunia (menurut kalangan medis) adalah menjaga keturunan, mengeluarkan cairan mani yang memudharatkan jika tertahan di dalam badan, dan merasakan kenikmatan. Tujuan (ketiga) ini yang tersisa di surga,” (Lihat Syekh M Ibrahim Al-Baijuri, Hasyiyatul Baijuri, cetakan kedua, 1999 M/1420 H, Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyah, juz II, halaman 169). Kenapa tujuan ketiga perkawinan ini tetap berlangsung di surga? Sayyid Bakri bin Sayyid M Syatha Dimyathi dalam I‘anatut Thalibin menjawab, di surga sudah tidak ada lagi beranak pinak dan tidak ada pula penahanan dorongan seksual yang menyebabkan badan menjadi mudharat. إذ لا تناسل هناك ولا احتباس Artinya, “(Hanya tujuan ketiga yang tersisa di surga, yaitu merasakan kenikmatan) karena di sana tidak ada lagi keturunan (baru) dan tidak (perlu) lagi menahan (dorongan seksual) yang memudharatkan badan,” (Lihat Sayyid Bakri bin Sayyid M Syatha Dimyathi, I‘anatut Thalibin, Daru Ihya’il Kutubil Arabiyah, Isa Al-Babi Al-Halabi, juz IV, halaman 253). Dari keterangan ini, kita menyimpulkan bahwa kenikmatan seksual di surga adalah benar adanya. Meski begitu, hubungan seksual tetap diatur, bukan sebebas-bebasnya seperti pengertian yang tercakup dalam istilah pesta seks. Hubungan seksual di surga diatur melalui perkawinan dan orang-orang yang bisa dinikahi. Salah satu peraturan perkawinan di surga adalah larangan untuk menikahi istri orang lain, ibu (dan juga nenek ke atas [ushul]), anak perempuan (dan juga cucu ke bawah [furu']), istri para nabi dan rasul termasuk para istri Nabi Muhammad SAW sebagaimana disinggung Ibnu Katsir dalam karyanya, kitab Qashashul Anbiya. Adapun mahram selain ibu dan anak perempuan boleh dinikahi, tentu yang bukan istri orang lain. Sedangkan seorang perempuan yang menikah lebih dari sekali akan menjadi istri dari suami terakhir dalam hidupnya. Sementara sebagian ulama mengatakan, perempuan itu ditawarkan untuk memilih suami yang dikehendaki. Simpulan kami, tidak benar kalau di surga ada pesta seks. Saran kami, para dai hendaknya berhati-hati sekali dalam menjelaskan nikmat surga agar tidak membuat kekeliruan persepsi masyarakat. Demikian jawaban singkat kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca. Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq, Wassalamu ’alaikum wr. wb. (Alhafiz Kurniawan)
