"Konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi penggerak utama perekonomian 
semakin terseok-seok, mencerminkan daya beli masyarakat yang melemah," kata 
Abra. ...
..."Padahal momen bulan puasa dan Lebaran secara alamiah terjadi peningkatan 
penjualan," ujar Abra.
...
Pengamat Tak Yakin Pertumbuhan Ekonomi 5,2 % Terealisasi



  
|  
|   
|   
|   |    |

   |

  |
|  
|   |  
Pengamat Tak Yakin Pertumbuhan Ekonomi 5,2 % Terealisasi
 'Konsumsi rumah tangga yang menjadi penggerak utama perekonomian semakin 
terseok-seok, mencerminkan daya bel...  |   |

  |

  |

 

Kendaraan melintas dengan latar belakang pembangunan gedung bertingkat di 
kawasan Kemayoran, Jakarta, Senin (20/2). Perekonomian DKI Jakarta sepanjang 
2016 tumbuh stabil sesuai dengan angka Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) 
DKI Jakarta pada tahun 2016 yang tercatat tumbuh 5,85 persen0 Shares   Sumber: 
antara07 Agustus, 2017dibaca normal 1 menit   
   - "Target pertumbuhan 5,2 persen sulit tercapai," kata Abra
"Konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi penggerak utama perekonomian 
semakin terseok-seok, mencerminkan daya beli masyarakat yang melemah," kata 
Abra.tirto.id - Pengamat ekonomi, Abra Talattov menilai target pertumbuhan 
ekonomi sebesar 5,2 persen, sebagaimana yang telah ditetapkan dalam RAPBN-P 
2017 akan susah tercapai. Hal itu berdasar pada pertumbuhan ekonomi di dua 
kuartal tahun ini hanya mencapai 5 persen.

"Dengan melihat kinerja ekonomi Q2, target pertumbuhan 5,2 persen sulit 
tercapai. Alasannya, pertumbuhan konsumsi rumah tangga semakin sulit untuk 
tumbuh melesat," ujar ekonom dari Institute for Development of Economics and 
Finance (Indef) kepada Antara, Senin (7/8/2017).

Baca: BI Optimistis Pertumbuhan Ekonomi Naik 5,2 % di Kuartal III

Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja merilis pertumbuhan ekonomi di triwulan 
II-2017 mencapai 5,01 persen, angka itu relatif melambat karena sama 
dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi pada triwulan I-2017.

Abra melanjutkan, pada triwulan II-2017, konsumsi rumah tangga tumbuh sekitar 
4,95 persen (year on year) atau hanya lebih tinggi 0,01 persen dibandingkan 
triwulan sebelumnya. Padahal, kata dia, pada tahun-tahun sebelumnya pertumbuhan 
konsumsi pada triwulan II umumnya jauh lebih tinggi dibandingkan triwulan I.

"Konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi penggerak utama perekonomian 
semakin terseok-seok, mencerminkan daya beli masyarakat yang melemah," kata 
Abra.

Baca: BPS Klaim Tidak Ada Penurunan Daya Beli Masyarakat

Indikator melemahnya daya beli masyarakat, kata Abra, dapat dilihat dari 
melambatnya pertumbuhan sektor perdagangan dari 4,96 persen pada triwulan 
I-2017 menjadi hanya 3,78 persen pada triwulan II-2017. 

Menurutnya, hal itu sama pula dengan pertumbuhan sektor industri pengolahan 
yang pertumbuhannya melambat dari 4,24 persen pada triwulan I-2017 menjadi 3,54 
persen pada triwulan II-2017.

"Padahal momen bulan puasa dan Lebaran secara alamiah terjadi peningkatan 
penjualan," ujar Abra.

Baca: BPS: Ekonomi Indonesia Melambat, Hanya Tumbuh 5,01%

Sebelumnya, BPS mengatakan, salah satu yang berkontribusi terhadap ekonomi pada 
triwulan II-2017 untuk tumbuh sebesar 5,01 persen (year on year) adalah kinerja 
investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB). Pertumbuhan PMTB didorong 
oleh investasi berupa bangunan, kendaraan dan peralatan lainnya.

Investasi berupa bangunan pada triwulan II-2017 tumbuh seiring dengan 
meningkatnya aktivitas pada sektor konstruksi seperti pembangunan 
infrastruktur. Selain itu, investasi juga didukung oleh realisasi belanja modal 
pemerintah pusat pada APBN 2017 sebesar Rp35,7 triliun atau meningkat 4,36 
persen dibandingkan periode sama tahun lalu. 

Baca juga artikel terkait PERTUMBUHAN EKONOMI 2017 atau tulisan menarik lainnya 
Alexander Haryanto 
(tirto.id - ale/ale)

Kirim email ke