Matakin Tegaskan Patung di Tuban Murni karena Alasan Agama


  
|  
|   
|   
|   |    |

   |

  |
|  
|   |  
Matakin Tegaskan Patung di Tuban Murni karena Alasan Agama - Tribunnews.com
 'Menurut saya ini jangan dipolitisir, ini murni agama. Artinya penghormatan 
terhadap Kwan Kong, tidak ada ka...  |   |

  |

  |

 

Senin, 14 Agustus 2017 12:02 WIB


Patung Yang Mulia Kwan Sing Tee Koen setinggi tiga puluh meter akan menjadi 
yang tertinggi se-Asia Tenggara berasa di Tuban 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Nurmulia Rekso PurnomoTRIBUNNEWS.COM, JAKARTA 
--- Sampai Patung Kongco Kwan Sing Tee Koen di Klenteng Kwan Sing Bio, Tuban, 
Jawa Timur, dikatikan dengan pemerintahan Tiongkok serta kepahlawanan nasional, 
Ketua Umum Majelis Tinggi Agama KhonghucuIndonesia (MATAKIN) Uung Sendana 
menyayangkan hal tersebut.Saat dihubungi Tribunnews.com, ia menegaskan bahwa 
pendirian patung tersebut adalah murni agama. Oleh karena itu menurutnya tidak 
tepat jika tokoh tersebut dikait-kaitkan dengan hal-hal lain.
Termasuk menganggap patung itu melecehkan kedaulatan kelompok tertentu, dan 
membandingkan patung tersebut dengan patung Jendral Sudriman."Menurut saya ini 
jangan dipolitisir, ini murni agama. Artinya penghormatan terhadap Kwan Kong, 
tidak ada kaitannya dengan poltiik, apalagi pahalawan nasional," ujarnya.Kongco 
Kwan Sing Tee Koen atau Kwan Kong sejatinya adalah jendral bernama Guan Yu, 
yang hidup di sekitar abad pertama masehi di Tiongkok.Karena kesetiannya 
terhadap sang atasan, ia kemudian disucikan oleh masyarakat Konghucu.Uung 
Sedana berharap semua pihak termasuk pemerintah bisa membantu, agar umat 
Konghucu di Tuban bisa terus beribadah.Ia khawatir jika jamaah Konghucu di 
Tuban bisa dikalahkan oleh kelompok-kelompok tertentu yang tidak mewakili 
aspirasi mayoritas bangsa Indonesia, kelompok minoritas lain di Indonesia juga 
akan mengalami nasib yang sama."Kalau kita mengikuti tekanan seperti ini terus, 
ini akan semakin menguat ya, karena mereka merasa dapat angin, ini mussti kita 
cegah, negara kita kan majemuk," ujarnya."Kita beruntung ada Pancasila, artinya 
justru kalau kita selalu mengikuti tekanan-tekanan, alasan-alasan dibuat-buat, 
ya tidak ada hubungannya, bahaya. Ini bisa terjadi di mana-mana," katanya.

Kirim email ke