From: Jonathan Goeij [email protected] [GELORA45] 
Sent: Wednesday, August 16, 2017 11:31 PM


  


Matakin Tegaskan Patung di Tuban Murni karena Alasan Agama 


                        
                 
           
                 Matakin Tegaskan Patung di Tuban Murni karena Alasan Agama - 
Tribunnews.com
                  'Menurut saya ini jangan dipolitisir, ini murni agama. 
Artinya penghormatan terhadap Kwan Kong, tidak ada ka...  
           
     




Senin, 14 Agustus 2017 12:02 WIB




Patung Yang Mulia Kwan Sing Tee Koen setinggi tiga puluh meter akan menjadi 
yang tertinggi se-Asia Tenggara berasa di Tuban 


Laporan Wartawan Tribunnews.com, Nurmulia Rekso Purnomo
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA --- Sampai Patung Kongco Kwan Sing Tee Koen di Klenteng 
Kwan Sing Bio, Tuban, Jawa Timur, dikatikan dengan pemerintahan Tiongkok serta 
kepahlawanan nasional, Ketua Umum Majelis Tinggi Agama KhonghucuIndonesia 
(MATAKIN) Uung Sendana menyayangkan hal tersebut.
Saat dihubungi Tribunnews.com, ia menegaskan bahwa pendirian patung tersebut 
adalah murni agama. Oleh karena itu menurutnya tidak tepat jika tokoh tersebut 
dikait-kaitkan dengan hal-hal lain.

Termasuk menganggap patung itu melecehkan kedaulatan kelompok tertentu, dan 
membandingkan patung tersebut dengan patung Jendral Sudriman.
"Menurut saya ini jangan dipolitisir, ini murni agama. Artinya penghormatan 
terhadap Kwan Kong, tidak ada kaitannya dengan poltiik, apalagi pahalawan 
nasional," ujarnya.
Kongco Kwan Sing Tee Koen atau Kwan Kong sejatinya adalah jendral bernama Guan 
Yu, yang hidup di s ekitar abad pertama masehi di Tiongkok.
Karena kesetiannya terhadap sang atasan, ia kemudian disucikan oleh masyarakat 
Konghucu.
Uung Sedana berharap semua pihak termasuk pemerintah bisa membantu, agar umat 
Konghucu di Tuban bisa terus beribadah.
Ia khawatir jika jamaah Konghucu di Tuban bisa dikalahkan oleh 
kelompok-kelompok tertentu yang tidak mewakili aspirasi mayoritas bangsa 
Indonesia, kelompok minoritas lain di Indonesia juga akan mengalami nasib yang 
sama.
"Kalau kita mengikuti tekanan seperti ini terus, ini akan semakin menguat ya, 
karena mereka merasa dapat angin, ini mussti kita cegah, negara kita kan 
majemuk," ujarnya.
"Kita beruntung ada Pancasila, artinya justru kalau kita selalu mengikuti 
tekanan-tekanan, alasan-alasan dibuat-buat, ya tidak ada hubungannya, bahaya. 
Ini bisa terjadi di mana-mana," katanya.

Kirim email ke