Pada Kamis, 17 Agustus 2017 21:41, "Sie Tik Tan [email protected]
[perhimpunanpersaudaraan]" <[email protected]> menulis:
Bisa saja ketua Matakin ini dng kejujurannya mengemukakan bahwa pembanguan
Patung Dewa Perang Guan Yu/ Kwan Kong adalah se- mata2 didasari kepercayaan
agama. Tampaknya dia , sebagaimana juga banyak orang dlm masyarakat masih
diliputi kenaifan dlm berpikir dan akibatnya juga pada tindakannya dikarenakan
masih terus berlakunya pembodohan yg ditanamkan Suharto dng rejim ORBA-nya.Kwan
Kong lahir dari kalangan rakyat biasa dan bukan Dewa sejak kelahirannya, tetapi
dikultuskan setelah kematiannya.Karena sebagai jenderal perang ia patuh & setia
pada saudara angkatnya yg lebih tua, Liauw Pie, seorang turunan dari raja dari
kerajaan yg terdahulu. Dan kemudian berhasil menduduki tahta dlm salah satu
dari 3 kerajaan Han yg pecah dan saling berperang.Pengkultusan ini tentu
bermuatan politik karena menyanjung kelanggengan serta kesetiaan pada kekuasaan
kelas feodal . Dan tentu saat itu biasanya agama yg dianut raja tentunya juga
agama negara, saat itu belum dikenal sekularisasi.Tapi ada juga variasi lain
dari sejarah 3 negara ini , dimana sebenarnya kelompok Lauw Pie, Kwan Kong dan
Thio Hui ( 3 saudara angkat) dianggap sebagai pemberontak terhadap kerajaan Han
, sehingga negara itu pecah jadi 3. Jadi menurut variasi ini justru 3 orang ini
adalah penghianat dan tidak setia. Tapi variasi ini tampaknya kurang populer di
Tiongkok maupun di Nusantara, sedangkan variasi yg satunya di Nusantara dikenal
antara lain melalui wayang po te hi yg sering ditayangkan di kelenteng2, dan
digemari juga oleh etnis2 lain di Nusantara.Juga tampak dari ajaran Konghucu
bahwa anak dituntut patuh dan setia pada ayah ( orangtua), rakyat patuh pada
pejabad dan seluruh lapisan masyarakat patuh dan setia pada raja/ kaizar.
Karena raja/kaizar adalah yg ditunjuk Thian/Tuhan untuk memimpin negara dan
rakyatnya.Walaupun dlm gagasan Konghucu dikatakan bahwa raja/ kaizar
berkewajiban mensejahterakan rakyatnya, tapi siapa yg mengontrol raja/ kaizar?
Apakah Tjian/Tuhan yg mengangkatnya lalu mengantinya melalui intrik2 istana?
sampai2 anak balitapun bisa dijadikan kaizar, tentu dibawah " bimbingan" suatu
klik/ bangsawan tertentu. Atau raja/ kaizar diganti dng cara dipanggil
menghadap Tuhan, atau melalui pemberontakan tani atau feodal lainnya ?Jadi
jelas muatan politik dari kelas yg berkuasa dng pengkultusan tsb. Maka bisa
dikatakan naif pemikiran ketua ini bila menganggap pemujaan pada Dewa Perang
feodal ini se- mata2 adalah agama . Dan sejarah juga membuktikan bahwa agama
selalu digunakan oleh kelas penguasa untuk meninabobokan kesedaran kelas rakyat
tertindas dan dng demikan memadamkan perlawanan terhadap penindasan. Walaupun
adalah juga kenyataan bahwa pada agama2 tertentu gagasan awalnya sebenarnya
merupakan perlawanan terhadap ketidak adilan didalam masyarakat saat itu, tapi
dlm perkembangannya sering dimanfaatkan oleh kelas yg berkuasa.Diketahui bahwa
PM Jepang , Abe, sudah beberapa kali kunjung ke kuil Yasukuni, yg berarti kuil
" Mendamaikan Negara". Kuil agama Shinto ini dibangun Kaizar Meiji bagi seluruh
orang yg meninggal dlm pengabdiannya selama pelaksanaan gagasan Meiji untuk
modernisasi kekaizaran Jepang. Halmana dikenal sebagai jaman Restorasi Meiji .
Kuil ini kemudian juga digunakan untuk makam mereka yg dianggap berjasa dan
berkembang demi kejayaan kekaizaran feodal Jepang. Ada sekitar 2.466.532 (
data beberapa th yl, mungkin sudah bertambah?) nama dng data lengkap , baik,
pria, wanita, anak2 dan juga orang asing yg mengabdi kekaizaran Jepang a.l
Korea dan Formosa ( Taiwan). Tapi juga mereka yg meninggal dlm PD II , dimana
terdapat juga 14 penjahat perang .Walau setelah kekalahan Jepang pada PD II,
agama Shinto bukan lagi agama negara ( sekularisasi yg diharuskan oleh USA/
Sekutu sebagai pemenang), tapi sebagai yayasan partikelir kuil tetap melakukan
ritual agama Shinto. Tapi apakah orang, terutama rakyat2 korban militarisme
fasis Jepang bisa menerima alasan PM Abe bahwa dia kunjung kerkuil hanya se-
mata2 melaksanakan ritual agama?Seperti halnya kasus patung di Tuban, mungkin
hanya sebagaian kecil rakyat Jepang tidak menyetujui tindakan P.M Abe, tapi
masyarakat dunia , terutama rakyat2 yg menjadi korban langsung tentu boleh
menyuarakan ketidak setujuannya terhadap tindakan P.M Abe. Tentu kita bisa
katakan tidak bisa disamakan antara ke-2 masalah ini, tapi keduanya mempunyai
alasan idiologi kelas yg sama, pemujaan kekuasaan kelas penindas feodal. Suatu
Don Quichot-isme , seperti yg di tulis dng baik oleh Chervantes.Walau Bung
Karno menegaskan perlunya menguasai MDH sebagai pisau analisa masyarakat dan
juga ditegaskan perlunya mempelajari sejarah dlm pidatonya Jasmerah, tapi dng
adanya TAP MPRS no 25 dan de-SUKARNO-sasi yg masih berlaku saat ini, maka
adanya ketidak pekaan yg naif, hanya sekedar terdorong untuk memanifestasikan
kemegahan ( atau kemegalomanian?) maka pengurus kelenteng ( dan Matakin?),
tidak bisa menyedari bahwa dlm saat masih berlakunya pembodohan maka masalah
ini bisa memicu keresahan atau dimanfaatkan oleh segolongan yg berkepentingan.
Mungkin kalau patung ini berada dlm bangunan kuil maka masalah ini tidak
terjadi?Diketahui bahwa balatentera Kubilay Khan dlm ekspedidinya untuk
menghukum kerajaan Singosari , dng 1000 kapal dan 30.000 prajurit justru
melakukan pendapatan di pantai Tuban. Walau dinasti Yuan adalah dinasti
Monggol, tapi orang awam menganggapnya sebagai Tiongkok, apalagi mungkin juga
tentera yg dikirim juga dari etnis Tiongkok dan dipimpin jenderal
Tiongkok.Kelenteng Tuban ini merupakan satu2-nya kelenteng yg menghadap laut,
hikayatnya karena pada saat pemindahan patung Kwan Kong ( bukan yg raksasa ini)
dr tempat lain beberapa ratus th yl, kapal angkut kandas disitu , jadi dibangun
saja kelenteng ditempat itu. Diketahui kekaizaran2 Tiongkok punya kebijakan
untuk mencegah warganya melaut. Tapi Cheng He ketika itu berhasil meyakinkan
kaizarnya, untuk jalan Sutera laut. Dan setelah Kaizar yg diabdi Cheng He
meninggal, maka kebijakan anti melaut diberlakukan kembali dan jalan Sutera
laut yg dirintis Cheng He musnah dng sendirinya.Beberapa waktu yl ada tanggapan
di YouTube yg mengatakan bahwa diresmikannya Patung Dewa Perang Kwan Kong, yg
menghadap laut ini, tampaknya bukan kebetulan, karena hanya selang beberapa
hari saja dari peringatan 90 tahun TPRT.Entah apakah dng demikian ada
kemungkinan bisa digosipkan bahwa se-akan2 patung yg menghadap laut ini
hendak dimaknakan sebagai penyambutan kemungkinan pendaratan tentera Tiongkok
seperti jaman Kubilay Khan? Bahwa di Tuban sendiri tidak ada keresahan dng
adanya patung ini, dan hanya beberapa gelintir orang didaerah lain yg ribut,
perlu sebaiknya ditanggapi dan disikapi dng bijaksana sana, jangan hanya
bersikap " anjing menggonggong kalifah berlalu". Suara2 protes bisa saja
awalnya kecil tak berarti, tapi juga tidak semua gagasan yg muncul walau
sekecil apapun pendukungnya juga berarti gagasan yg salah dan tak bisa
berkembang karena yg lain sepi2 saja. Kenyataan adalah gagasan yg kecil tetap
bisa berkembang, dan segala pemikiran yg berlaku dlm masyarakat sekarang ini
awalnya juga kecil dan pendukungnya terbatas, bahkan mungkin juga awalnya
dianggap sesat dan dikejar.Jadi anjing yg menggonggong juga sebenarnya bisa
merupakan peringatan bagi penduduk kampung/ oaze yg memelihara anjing bahwa ada
sesuatu yg dianggap berbahaya, sehingga penduduk kampung/ oaze waspada terhadap
rombongan yg mendekati, ataukah kalifah pedagang biasa atau penyamun. Aksi
Kamisan yg sudah mencapai lebih 500 kali , mungkin oleh sementara orang di
anggap sebagai anjing mengonggong dan tidak diperdulikan, tetapi aksi ini
merupakan peringatan bagi rakyat bahwa masih ada pedang Democles diatas kepala
barisan rakyat progresif dng adanya pembiaran terhadap impunity.Tentu saja
keresahan SARA yg ditimbulkan beberapa gelintir orang tsb perlu ditanggapi dan
diambil kebijakan untuk segara diatasi sebelum mencapai titik kritiknya.Tapi
juga tidak sepenuhnya tepat penggunaan Pancasila hanya demi kaidah kemajemukan
dan keragaman serta toleransi agama saja dlm masalah patung Dewa Perang ini,
kerana Pancasila juga mengandung kaidah anti penindasan manusia terhadap
manusia, sedangkan Dewa Perang ini merupakan perwujutan elit kekuasaan kelas
penindas feodal.Penentangan terhadap simbol2 kekerasan terhadap kemanusiaan
terjadi di- mana2, terakhir ini di USA, di Belanda juga terjadi dlm kaitannya
dng kekejaman penjajahan Belanda, antara lain di Nusantara. Beberapa tahun yg
lalu patung Jenderal J.B v Heutsz disingkirkan dari Monument Hindia Belanda,
karena se" gelintir" warga Belanda progresif menganggap tidak sewajarnya
sipembantai rakyat Aceh dimuliakan . Demikian juga sikap warga progresif
Belanda terhadap Gubernur Jenderal . J.P Coen ( Murjangkung kata orang Betawi)
pembantai rakyat Banda yg patungnya didirikan dikota kelahirannya Hoorn, tapi
ditempuh kebijakan lain tanpa menyingkirkan patung, dng cara memberikan suatu
keterangan pada dinding podium tempat berdirinya, tentang kekejamannya dan juga
ditandaskan bahwa tidak selayaknya dihormati. Ini merupakan suatu tindakan
pelurusan sejarah yg baik bagi generasi muda Belanda.Ibu Carmel Budiardjo
pernah datang ke daerah monument Pancasila Sakti di Lubang Buaya, dimana beliau
menjelaskan pada anak2 sekolah pengunjung bahwa apa yg tertera disitu adalah
suatu penipuan dan pemutarbalikan sejarah. Kiranya bila tiba waktunya yg tepat
memang sebaiknya dimonument tsb diberikan keterangan tambahan sebagai pelurusan
sejarah, agar generasi muda Indonesia memahami dng jelas dan baik apa yg telah
di lakukan oleh Suharto dng rejim ORBA- nya.
Verstuurd vanaf mijn iPad
Op 17 aug. 2017 om 07:30 heeft Chalik Hamid [email protected]
[perhimpunanpersaudaraan] <[email protected]> het
volgende geschreven:
Pada Kamis, 17 Agustus 2017 5:21, "'Chan CT' [email protected]
[nasional-list]" <[email protected]> menulis:
From: Jonathan Goeij [email protected] [GELORA45] Sent: Wednesday,
August 16, 2017 11:31 PM
Matakin Tegaskan Patung di Tuban Murni karena Alasan Agama
|
|
|
| | |
|
|
|
| |
Matakin Tegaskan Patung di Tuban Murni karena Alasan Agama - Tribunnews.com
'Menurut saya ini jangan dipolitisir, ini murni agama. Artinya penghormatan
terhadap Kwan Kong, tidak ada ka... | |
|
|
Senin, 14 Agustus 2017 12:02 WIB
Patung Yang Mulia Kwan Sing Tee Koen setinggi tiga puluh meter akan menjadi
yang tertinggi se-Asia Tenggara berasa di Tuban
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Nurmulia Rekso PurnomoTRIBUNNEWS.COM, JAKARTA
--- Sampai Patung Kongco Kwan Sing Tee Koen di Klenteng Kwan Sing Bio, Tuban,
Jawa Timur, dikatikan dengan pemerintahan Tiongkok serta kepahlawanan nasional,
Ketua Umum Majelis Tinggi Agama KhonghucuIndonesia (MATAKIN) Uung Sendana
menyayangkan hal tersebut.Saat dihubungi Tribunnews.com, ia menegaskan bahwa
pendirian patung tersebut adalah murni agama. Oleh karena itu menurutnya tidak
tepat jika tokoh tersebut dikait-kaitkan dengan hal-hal lain. Termasuk
menganggap patung itu melecehkan kedaulatan kelompok tertentu, dan
membandingkan patung tersebut dengan patung Jendral Sudriman."Menurut saya ini
jangan dipolitisir, ini murni agama. Artinya penghormatan terhadap Kwan Kong,
tidak ada kaitannya dengan poltiik, apalagi pahalawan nasional," ujarnya.Kongco
Kwan Sing Tee Koen atau Kwan Kong sejatinya adalah jendral bernama Guan Yu,
yang hidup di s ekitar abad pertama masehi di Tiongkok.Karena kesetiannya
terhadap sang atasan, ia kemudian disucikan oleh masyarakat Konghucu.Uung
Sedana berharap semua pihak termasuk pemerintah bisa membantu, agar umat
Konghucu di Tuban bisa terus beribadah.Ia khawatir jika jamaah Konghucu di
Tuban bisa dikalahkan oleh kelompok-kelompok tertentu yang tidak mewakili
aspirasi mayoritas bangsa Indonesia, kelompok minoritas lain di Indonesia juga
akan mengalami nasib yang sama."Kalau kita mengikuti tekanan seperti ini terus,
ini akan semakin menguat ya, karena mereka merasa dapat angin, ini mussti kita
cegah, negara kita kan majemuk," ujarnya."Kita beruntung ada Pancasila, artinya
justru kalau kita selalu mengikuti tekanan-tekanan, alasan-alasan dibuat-buat,
ya tidak ada hubungannya, bahaya. Ini bisa terjadi di mana-mana," katanya.
#yiv3090702618 #yiv3090702618 -- #yiv3090702618ygrp-mkp {border:1px solid
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv3090702618
#yiv3090702618ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv3090702618
#yiv3090702618ygrp-mkp #yiv3090702618hd
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px
0;}#yiv3090702618 #yiv3090702618ygrp-mkp #yiv3090702618ads
{margin-bottom:10px;}#yiv3090702618 #yiv3090702618ygrp-mkp .yiv3090702618ad
{padding:0 0;}#yiv3090702618 #yiv3090702618ygrp-mkp .yiv3090702618ad p
{margin:0;}#yiv3090702618 #yiv3090702618ygrp-mkp .yiv3090702618ad a
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv3090702618 #yiv3090702618ygrp-sponsor
#yiv3090702618ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv3090702618
#yiv3090702618ygrp-sponsor #yiv3090702618ygrp-lc #yiv3090702618hd {margin:10px
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv3090702618
#yiv3090702618ygrp-sponsor #yiv3090702618ygrp-lc .yiv3090702618ad
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv3090702618 #yiv3090702618actions
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv3090702618
#yiv3090702618activity
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv3090702618
#yiv3090702618activity span {font-weight:700;}#yiv3090702618
#yiv3090702618activity span:first-child
{text-transform:uppercase;}#yiv3090702618 #yiv3090702618activity span a
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv3090702618 #yiv3090702618activity span
span {color:#ff7900;}#yiv3090702618 #yiv3090702618activity span
.yiv3090702618underline {text-decoration:underline;}#yiv3090702618
.yiv3090702618attach
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px
0;width:400px;}#yiv3090702618 .yiv3090702618attach div a
{text-decoration:none;}#yiv3090702618 .yiv3090702618attach img
{border:none;padding-right:5px;}#yiv3090702618 .yiv3090702618attach label
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv3090702618 .yiv3090702618attach label a
{text-decoration:none;}#yiv3090702618 blockquote {margin:0 0 0
4px;}#yiv3090702618 .yiv3090702618bold
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv3090702618
.yiv3090702618bold a {text-decoration:none;}#yiv3090702618 dd.yiv3090702618last
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv3090702618 dd.yiv3090702618last p
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv3090702618
dd.yiv3090702618last p span.yiv3090702618yshortcuts
{margin-right:0;}#yiv3090702618 div.yiv3090702618attach-table div div a
{text-decoration:none;}#yiv3090702618 div.yiv3090702618attach-table
{width:400px;}#yiv3090702618 div.yiv3090702618file-title a, #yiv3090702618
div.yiv3090702618file-title a:active, #yiv3090702618
div.yiv3090702618file-title a:hover, #yiv3090702618 div.yiv3090702618file-title
a:visited {text-decoration:none;}#yiv3090702618 div.yiv3090702618photo-title a,
#yiv3090702618 div.yiv3090702618photo-title a:active, #yiv3090702618
div.yiv3090702618photo-title a:hover, #yiv3090702618
div.yiv3090702618photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv3090702618
div#yiv3090702618ygrp-mlmsg #yiv3090702618ygrp-msg p a
span.yiv3090702618yshortcuts
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv3090702618
.yiv3090702618green {color:#628c2a;}#yiv3090702618 .yiv3090702618MsoNormal
{margin:0 0 0 0;}#yiv3090702618 o {font-size:0;}#yiv3090702618
#yiv3090702618photos div {float:left;width:72px;}#yiv3090702618
#yiv3090702618photos div div {border:1px solid
#666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv3090702618
#yiv3090702618photos div label
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv3090702618
#yiv3090702618reco-category {font-size:77%;}#yiv3090702618
#yiv3090702618reco-desc {font-size:77%;}#yiv3090702618 .yiv3090702618replbq
{margin:4px;}#yiv3090702618 #yiv3090702618ygrp-actbar div a:first-child
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv3090702618 #yiv3090702618ygrp-mlmsg
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv3090702618
#yiv3090702618ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv3090702618
#yiv3090702618ygrp-mlmsg select, #yiv3090702618 input, #yiv3090702618 textarea
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv3090702618
#yiv3090702618ygrp-mlmsg pre, #yiv3090702618 code {font:115%
monospace;}#yiv3090702618 #yiv3090702618ygrp-mlmsg *
{line-height:1.22em;}#yiv3090702618 #yiv3090702618ygrp-mlmsg #yiv3090702618logo
{padding-bottom:10px;}#yiv3090702618 #yiv3090702618ygrp-msg p a
{font-family:Verdana;}#yiv3090702618 #yiv3090702618ygrp-msg
p#yiv3090702618attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv3090702618
#yiv3090702618ygrp-reco #yiv3090702618reco-head
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv3090702618 #yiv3090702618ygrp-reco
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv3090702618 #yiv3090702618ygrp-sponsor
#yiv3090702618ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv3090702618
#yiv3090702618ygrp-sponsor #yiv3090702618ov li
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv3090702618
#yiv3090702618ygrp-sponsor #yiv3090702618ov ul {margin:0;padding:0 0 0
8px;}#yiv3090702618 #yiv3090702618ygrp-text
{font-family:Georgia;}#yiv3090702618 #yiv3090702618ygrp-text p {margin:0 0 1em
0;}#yiv3090702618 #yiv3090702618ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv3090702618
#yiv3090702618ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none
!important;}#yiv3090702618