Pada Selasa, 22 Agustus 2017 6:14, "'Tsasando' [email protected]
[wahana-news]" <[email protected]> menulis:
http://www.sejarahsosial.org/rekonstruksi-sosial-korban-tragedi-nasional-1965-di-solo-pati-dan-bali/
Rekonstruksi Sosial Korban TragediNasional 1965 di Solo, Pati dan Bali
Pendahuluan
Penelitian rekonstruksi sosial korban/penyintas peristiwakekerasan 1965
merupakan penelitian keberlanjutan dari Tahun yang Tak PernahBerakhir (TYTPB)
yang kami selenggarakan tahun 2000. Fokus penelitian TYTPBadalah pengalaman
penderitaan korban, penyintas dan keluarganya akibat dariperistiwa kekerasan
1965-66. Korban/penyintas dalam buku TYTPB penuh denganlinangan air mata dan
hidup yang kelam. Juga, di dalam TYTPB korban/penyintasbercerita tentang
pengalaman relasi sosial mereka yang hancur. Sementara itu, pada penelitian
rekonstruksi sosial ini kamimenitikberatkan cerita pengalaman korban/penyintas
dalam membangun kembalirelasi sosial mereka yang hancur dan pengabdian mereka
di masyarakat hinggadapat diterima secara penuh. Dalam ruang lingkup
rekonstruksi sosial inisemangat mereka tidak kunjung padam untuk membangun
kebudayaan bangsa Indonesiayang beragam. Walaupun dalam penelitian rekonstruksi
sosial ini kamimenekankan pada pengabdian korban/penyintas terhadap lingkungan
masyarakatnya,kami perlu pula untuk memaparkan kerusakan relasi sosial mereka
akibat dariperistiwa kekerasan 1965. Kerusakan relasi sosial ini kembali ditata
olehkorban/penyintas dengan cara yang berbeda di setiap daerah. Dari penelitian
di tiga daerah yaitu Bali, Pati dan Solo,masing-masing wilayah terdapat
kekhususan, terutama dari struktur sosial yangmelingkupinya. Misalkan, wilayah
Pati masih cukup kuat tekanan militernya dalammengawasi para penyintas 1965.
Kepentingan apa yang melandasi militer bersikapmenekan terhadap penyintas di
sana? Kami akan mendiskusikan masalah ini dibagian struktur sosial di wilayah
Pati. Demikian pula dengan Solo, ketikapenahanan para korban menggunakan gedung
kraton salah satunya adalah SasonoMulyo (gedung untuk pengangkatan raja) dan
Balai Kota, gedung pemerintah. Halyang sama dengan Bali, apa yang menyebabkan
korban/penyintas dan pelaku dapathidup berdampingan. Persoalan kekhususan di
masing-masing wilayah penyintaserat kaitan dengan struktur sosialnya. Sudah
lima puluh tahun lebih korban peristiwa 30 September 1965dapat bertahan dan
tidak merasa dendam terhadap pelaku. Sikap mereka berhasilmelalui perjalanan
pahit, bahkan dewasa ini kehidupan mereka telah berada padabatas “melampaui
rekonsiliasi”. Untuk memperjelas proses perjalananmereka, perlu dibahas tiga
hal yakni konteks penghancuran relasi sosial korban;bagaimana proses mereka
kembali ke masyarakat; dan pencapaian yang merekaperoleh bersama dengan
masyarakat. Korban kekerasan peristiwa 30 September 1965 telah
mengalamipenghancuran relasi sosial yang mendalam. Mereka dipenjara, dibuang ke
PulauBuru, dibunuh secara brutal, dan mendapatkan stigma sebagai orang kafir
dantidak berguna. Korban-korban yang dipenjarakan tidak mendapatkan
pasokanmakanan yang memadai dan berkualitas. Apabila ada keluarga memasok
makananuntuk salah seorang anggota keluarganya tidak mencukupi bagi tahanan
satu sel.Lambat laun pasokan makanan semacam itu memecah kerukunan di kalangan
korban. Sementara itu, para korban yang dipenjara dan yang dibunuhmeninggalkan
anak-anak yang tidak terurus. Anak-anak mereka menjadi putussekolah, kehidupan
mereka terlunta-lunta. Bahkan terdapat anak yang ikut ibunyadi penjara, karena
dia tidak bisa hidup dengan orang lain. Anak-anak sangatbergantung dari lembaga
sosial agama, jika tidak ada sanak keluarga yangmengurus mereka. Acapkali
anak-anak hidupnya terpisah dari orangtua dan saudarakandung lainnya. Mayun
ketika peristiwa September 1965 meletus berumur 8 tahun.Ayahnya seorang guru
sekolah dasar (SD) dibunuh. Mayun bersama dua saudaralaki-laki hidup
tercerai-berai dan baru dapat berkumpul kembali beberapa tahunkemudian. Selain
itu, kerusakan relasi sosial lainnya yakni keluargakorban kesulitan dalam
ekonomi terutama untuk menghidupi anak-anak agar dapatmelanjutkan sekolah. Di
Solo, hampir rata-rata perempuan/ibu menjadi kepalakeluarga. Mereka secara
mendadak bekerja sebagai penjahit. Situasi seperti inikarena pengaruh
lingkungan sosial. Misalkan, Kitri, ketika di SD sering melihatdan belajar
menjahit dengan kedua orangtuanya. Juga, saat sekolah di sekolahmenengah
pertama (SMP) dan sekolah menengah atas (SMA) dia mendapatkanpelajaran
merancang pola pakaian yang menjadi modal baginya untuk memperolehpekerjaan.
Demikian pula di Pati, wilayah pantai utara Jawa, pengalamanSumini bisa
mendapatkan nafkah dengan menjahit dan menjual makanan. Diadipenjara selama
enam setengah tahun, dan selama dipenjara mendapatkanpengetahuan dan pengalaman
menjahit pakaian. Juga, Mimin di Bali bisa bertahanhidup dengan melakukan
praktek pertanian di Desa Guang, Gianyar. Metode kerjapertanian dia peroleh
dari Pulau Buru, ketika pemerintah mengirimnya ke sanauntuk berkumpul dengan
suami. Sementara itu, banyak tapol yang kembali ke masyarakat setelahmengenyam
sekian tahun dipenjara kesulitan untuk memperoleh nafkah. Perusahaantidak ada
yang mau menerima mereka, setelah diketahui latar belakang merekasebagai orang
yang terlibat dalam organisasi komunis. Supeno hingga empat kalimelamar
pekerjaan, dan semua permohonan lamaran kerjanya ditolak. Akhirnya,Supeno yang
mempunyai keahlian di bidang industri mesin membuka usaha sendiri.Selama lima
puluh tahun lebih dia berusaha mandiri dengan bengkel bubut dansukses. Dia pun
dapat menyekolahkan putra-putrinya hingga lulus perguruantinggi. Kemudian,
bagaimana korban berproses kembali ke masyarakat. DiSolo, Supeno mengabdi di
lingkungan tempat tinggalnya sebagai bendahara rukuntetangga (RT) selama
puluhan tahun. Sejak keluar dari penjara, Supeno langsungaktif di lingkungan
RT. Demikian pula Kitri, istri Supeno, selain mengurusputra-putrinya, dia juga
aktif di lingkungan rukun warga (RW). Pada tahun1980-an secara aklamasi dia
dipilih oleh belasan ketua RT untuk menduduki ketuaPendidikan Kesejahteraan
Keluarga (PKK) di tingkat RW. Lurah harus campurtangan untuk menurunkan Kitri
dari jabatan tersebut. Meskipun demikian, Kitritetap aktif hingga puluhan tahun
mengurus peningkatan gizi balita di tingkat RWdi kampungnya. Dia juga aktif
meningkatkan minat baca di kalangan remaja di kampung. Sementara itu, Supeno
selain aktif mengabdi di lingkungan tempattinggalnya sebagai bendahara RT, dia
juga menjadi anggota Majelis Gereja untukzona Surakarta dan Yogyakarta. Bahkan,
Kitri dan Supeno setiap tahun pada hariraya Idul Fitri selalu menerima
kedatangan tetangganya, sanak saudara danhandai taulan untuk bersilaturahim.
Rumahnya pun menjadi penuh sesak dengantamu-tamunya. Mayoritas penduduk di
lingkungan tempat tinggal Supeno adalahketurunan Arab. Situasi itu
memperlihatkan sikap toleransi Supeno dan keluargaterhadap lingkungannya. Di
Bali, proses korban kembali ke masyarakat mengambil jalanmengabdi kepada warga.
Mereka bekerja memimpin masyarakat agar dapatmeringankan beban dalam kehidupan
ritual Bali. Misalkan Natar pada tahun 1990anterpilih sebagai salah seorang
Saba Desa. Tugas Saba Desa adalah mencari jalanyang sesuai dengan adat (sastra)
Bali bagi warga. Pada 1990-an di desaKabupaten Gianyar, keluarga yang
menjalankan upacara ngaben bagi anggotakeluarganya yang wafat membutuhkan biaya
besar hingga harus menjual sawahnya.Akhirnya, Natar bersama rekannya di Saba
Desa menemukan konsep ngaben massal.Biaya ngaben massal ini jauh lebih murah
daripada sebelumnya. Jika dibandingkandengan biaya sebelumnya untuk upacara
ngaben keluarga harus mengeluarkan biayasebesar Rp 30 juta, tetapi setelah
ngaben massal diselenggarakan biaya hanya Rp2,5 juta per keluaga. Natar
menjabat Saba Desa hingga dua periode. Dia kemudianmengundurkan dari jabatannya
itu karena ingin mengabdikan diri bagi cucu-cucunyaagar dapat bersekolah hingga
ke jenjang perguruan tinggi. Hal yang mirip dilakukan oleh Rentang di Desa
Guang, Gianyar.Setelah kembali dari pembuangan di Pulau Buru, dia aktif di
pertanian. Tidakbeberapa lama, dia diangkat oleh warga sebagai kepala pertanian
desa (subak).Tugas Rentang yakni mengatur pembagian air pertanian desa sehingga
menjadikunci keberhasilan pertanian desanya. Keberhasilan Rentang mengelola
pengairandesa pernah dicurigai oleh komandan Koramil akan membawa warga seperti
tahun1965. Komandan meminta dia untuk berhenti sebagai kepala subak. Namun,
wargajustru mempertahankan Rentang terus mengabdi bagi kepentingan pertanian
desa. Juga, di Pati para tapol kembali ke masyarakat dengan mengabdikepada
warga, terutama untuk mengurus pertanian. Supardi setelah kembali dariPulau
Buru bergabung ke dalam organisasi Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan).
Diorganiasi tani itu, Supardi mengurus pembagian air bersih. Warga
Patimembutuhkan air bersih untuk memasak kebutuhan pokok. Selain itu, Supardi
jugamenjabat di Badan Permusyawaratan Desa (BPD). Bagianterakhir dari
pendahuluan tulisan ini membahas hasil yang dicapai oleh korban.Kerja
kebudayaan kelompok korban di Solo, Pati, dan Bali mempunyai perbedaanyang
khas. Di Solo, kelompok korban yang tergabung dalam Paguyuban Korban OrdeBaru
(Pakorba) pada 2005 berhasil menyelenggarakan nyadran, atau upacara menghormati
korban yang meninggal dibunuh di atasJembatan Bacem. Di area Jembatan Bacem
pada 2004, perempuan dan lelaki berasaldari wilayah sekitar Jawa Tengah hadir
di sana untuk berdoa agar arwah merekayang mati tidak wajar menjadi ikhlas dan
tentram. Mereka menaburkan bunga,menyebarkan benih ikan ke Bengawan Solo, dan
melepas puluhan burung liar keudara. Peristiwa upacara kebudayaan di Jembatan
Bacem ini untuk menghormatipara korban yang dibunuh pada peristiwa 1965 agar
tidak mempunyai dendam denganpara pelaku dan agar korban lainnya yang masih
hidup bisa berdamai dan bekerjamengabdi di masyarakat. Peringatan di Jembatan
Bacem ini dilakukan setiaptahun, bahkan pada 2005 peringatan dapat menayangkan
wayangan, meskipun tidakmencapai semalam suntuk. Sementara itu di Bali, Natar
bersama-sama dengan rekannyamenyelenggarakan latihan kesenian gong Bali bagi
generasi muda di sekitardesanya. Hampir setiap pekan puluhan perempuan dan para
pemuda berlatih dramamusik gong Bali. Peralatan musik telah tersedia. Tujuan
Natar menyelenggarakanlatihan kesenian itu adalah agar para pemuda-pemudi
desanya dapat meneruskankebudayaan Bali, dan juga agar mereka sejak dini
ditanamkan kesenian budipekerti. Mereka memahami cerita tradisi Bali yang
mempunyai nilai gotong-royongdan mandiri. Aktifitas kesenian ini merupakan
wujud pengabdian dari korbanuntuk terus memupuk nilai-nilai kebudayaan bagi
generasi muda agar mereka tidakterperangkap dalam budaya kekerasan dan narkoba.
Hal yang sama jugadipraktekkan oleh Agung Alit dan Mayun di Kesiman, Denpasar,
yang menyediakanruang publik perpustakaan bagi pemuda-pemudi di Bali.
Perpustakaan itu diberi nama bersahaja yakni Taman Baca Kesiman.Tidak hanya
perpustakaan yang bisa dimanfaatkan oleh publik, tetapi tersediaruang asri gaya
khas Bali yang sering dipergunakan untuk diskusi publik danpemutaran film.
Menurut Agung Alit sebagai inisiator Taman Baca Kesiman, ruangpublik tersebut
berdiri agar orang-orang muda bisa lebih kreatif mengekspresikankebudayaan anti
kekerasan. Sementara itu, di Pati, Supardi mengorganisir para petani didalam
Koperasi Tani. Pendirian Koperasi Tani ini agar para petani
bisabergotong-royong untuk mendapatkan produksi pertanian yang
berkualitas.Koperasi Tani ini juga untuk mengatasi kesulitan dalam memperoleh
benih, pupukdan peralatan pertanian. Selain itu, Koperasi Tani ini dibentuk
untuk mengatasikesulitan warga untuk memperoleh air bersih. #yiv0394278656
#yiv0394278656 -- #yiv0394278656ygrp-mkp {border:1px solid
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv0394278656
#yiv0394278656ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv0394278656
#yiv0394278656ygrp-mkp #yiv0394278656hd
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px
0;}#yiv0394278656 #yiv0394278656ygrp-mkp #yiv0394278656ads
{margin-bottom:10px;}#yiv0394278656 #yiv0394278656ygrp-mkp .yiv0394278656ad
{padding:0 0;}#yiv0394278656 #yiv0394278656ygrp-mkp .yiv0394278656ad p
{margin:0;}#yiv0394278656 #yiv0394278656ygrp-mkp .yiv0394278656ad a
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv0394278656 #yiv0394278656ygrp-sponsor
#yiv0394278656ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv0394278656
#yiv0394278656ygrp-sponsor #yiv0394278656ygrp-lc #yiv0394278656hd {margin:10px
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv0394278656
#yiv0394278656ygrp-sponsor #yiv0394278656ygrp-lc .yiv0394278656ad
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv0394278656 #yiv0394278656actions
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv0394278656
#yiv0394278656activity
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv0394278656
#yiv0394278656activity span {font-weight:700;}#yiv0394278656
#yiv0394278656activity span:first-child
{text-transform:uppercase;}#yiv0394278656 #yiv0394278656activity span a
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv0394278656 #yiv0394278656activity span
span {color:#ff7900;}#yiv0394278656 #yiv0394278656activity span
.yiv0394278656underline {text-decoration:underline;}#yiv0394278656
.yiv0394278656attach
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px
0;width:400px;}#yiv0394278656 .yiv0394278656attach div a
{text-decoration:none;}#yiv0394278656 .yiv0394278656attach img
{border:none;padding-right:5px;}#yiv0394278656 .yiv0394278656attach label
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv0394278656 .yiv0394278656attach label a
{text-decoration:none;}#yiv0394278656 blockquote {margin:0 0 0
4px;}#yiv0394278656 .yiv0394278656bold
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv0394278656
.yiv0394278656bold a {text-decoration:none;}#yiv0394278656 dd.yiv0394278656last
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv0394278656 dd.yiv0394278656last p
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv0394278656
dd.yiv0394278656last p span.yiv0394278656yshortcuts
{margin-right:0;}#yiv0394278656 div.yiv0394278656attach-table div div a
{text-decoration:none;}#yiv0394278656 div.yiv0394278656attach-table
{width:400px;}#yiv0394278656 div.yiv0394278656file-title a, #yiv0394278656
div.yiv0394278656file-title a:active, #yiv0394278656
div.yiv0394278656file-title a:hover, #yiv0394278656 div.yiv0394278656file-title
a:visited {text-decoration:none;}#yiv0394278656 div.yiv0394278656photo-title a,
#yiv0394278656 div.yiv0394278656photo-title a:active, #yiv0394278656
div.yiv0394278656photo-title a:hover, #yiv0394278656
div.yiv0394278656photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv0394278656
div#yiv0394278656ygrp-mlmsg #yiv0394278656ygrp-msg p a
span.yiv0394278656yshortcuts
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv0394278656
.yiv0394278656green {color:#628c2a;}#yiv0394278656 .yiv0394278656MsoNormal
{margin:0 0 0 0;}#yiv0394278656 o {font-size:0;}#yiv0394278656
#yiv0394278656photos div {float:left;width:72px;}#yiv0394278656
#yiv0394278656photos div div {border:1px solid
#666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv0394278656
#yiv0394278656photos div label
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv0394278656
#yiv0394278656reco-category {font-size:77%;}#yiv0394278656
#yiv0394278656reco-desc {font-size:77%;}#yiv0394278656 .yiv0394278656replbq
{margin:4px;}#yiv0394278656 #yiv0394278656ygrp-actbar div a:first-child
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv0394278656 #yiv0394278656ygrp-mlmsg
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv0394278656
#yiv0394278656ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv0394278656
#yiv0394278656ygrp-mlmsg select, #yiv0394278656 input, #yiv0394278656 textarea
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv0394278656
#yiv0394278656ygrp-mlmsg pre, #yiv0394278656 code {font:115%
monospace;}#yiv0394278656 #yiv0394278656ygrp-mlmsg *
{line-height:1.22em;}#yiv0394278656 #yiv0394278656ygrp-mlmsg #yiv0394278656logo
{padding-bottom:10px;}#yiv0394278656 #yiv0394278656ygrp-msg p a
{font-family:Verdana;}#yiv0394278656 #yiv0394278656ygrp-msg
p#yiv0394278656attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv0394278656
#yiv0394278656ygrp-reco #yiv0394278656reco-head
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv0394278656 #yiv0394278656ygrp-reco
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv0394278656 #yiv0394278656ygrp-sponsor
#yiv0394278656ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv0394278656
#yiv0394278656ygrp-sponsor #yiv0394278656ov li
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv0394278656
#yiv0394278656ygrp-sponsor #yiv0394278656ov ul {margin:0;padding:0 0 0
8px;}#yiv0394278656 #yiv0394278656ygrp-text
{font-family:Georgia;}#yiv0394278656 #yiv0394278656ygrp-text p {margin:0 0 1em
0;}#yiv0394278656 #yiv0394278656ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv0394278656
#yiv0394278656ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none
!important;}#yiv0394278656