Bung Sunny, Di jaman Belanda dan kemudian jaman Indonesia merdeka, yang saya ketahui di dinas Peternakan di kota Solo, ada satu dokter hewan sebagai kepalanya. Waktu itu dokternya dr. hewan Tjondronegoro. Kemudian ada dokter Rusli sebagai wakilnya, bekerja di bawah dia. Tidak lama, setelah stage pada dokter Tjondronegoro, dokter Rusli dipindah, jadi dokter hewan di kota lain. Dokter Tjondronegoro ini yang mengajari ayah saya caranya membangun kandang hewan,panjangnya, lebarnya, kemiringannya supaya air kencing gampang mengalir ke selokan, tetapi tidak boleh terlalu miring yang bisa merusak kuku sapi, menimbulkan penyakit di kuku sapi, menyebabkan pembusukan, infeksi dan mati. Setelah dr. Tjondronegoro pensiun, saya sering disuruh ibu bawa makanan ke dr. Tjondronegoro yang hidup sendirian. Ayah saya panggil dr. Tjondronegoro oom, karena ayah dulu sekelas dengan oom Irawan, anak dr. Tjondro. Oom Irawan kerja di pabik gula Colomadu. Di bawah dokter Tjondronegoro, kepala dinasnya adalah Wisnu. Di bawah pak Wisnu, ada beberapa mantri. Mantri2 kerjanya keuring susu, ambil satu botol tiap bulan dari loper susu dan dalam 3 hari sudah sampaikan hasil analisanya, kadar protein, kadar abu, kadar lemak, kebersihan (disaring diatas filter, kemudian dihiung ada berapa titik debu). Mantri2 kerjanya juga keuring hewan yang mau disembelih, sehat tidaknya. Yang tidak sehat, tidak boleh disembelih. Herannya beberapa tahun kemudian, tidak ada dokter hewannya yang jadi kepala, tetapi langsung Wisnu yang jadi kepala dinas. Lalu kalau ada hewan sakit, ayah mesti panggil dokter partikulir lulusan UGM, yang juga jadi docent di UGM. Bagaimana di dinas pertanian, saya tidak tahu. Bisa saja kepalanya , seperti di struktur dinas kehewanan dulu, masih seorang Ir. pertanian, tetapi bawahannya pasti banyak yang dari sekolah pertanian tingkat SMA. Strukturnya kalau di teknik, di pabrik, di negeri Belanda ada satu kepala pwerusahaan, seorang insinyur, kepala developmentnya seorang insinyur atau doktor yang bantu kepala pabrik juga atasi problem2, kepala pabrik belakangan hanya dari tingkat HBO/HTS, dulunya operator asal bisa baca tulis, lama2 harus lulusan tingkat STM. Jadi strukturnya, selalu seperti kerucut, dengan banyak dari sekolah teknik atau memiliki ijasah Vak Proces Teknik tingkat A, tingkat B, tingkat C. Yang tingkat C boleh jadi kepala regu begitu ada lowongan. Salam, KH
2017-09-06 15:03 GMT+02:00 Sunny ambon [email protected] [GELORA45] < [email protected]>: > > > > *Apakah para petani-petani yang selama ini bekerja di ladang-landang > pertanian berpendidikan tinggi? Apa maksud rezim berkuasa dengan adanya > IPB? Bagaimana kalau tamatan sekolah tinggi agama bekerja di bank-bank > syariah?* > > > <https://www.avast.com/sig-email?utm_medium=email&utm_source=link&utm_campaign=sig-email&utm_content=webmail> > Virus-free. > www.avast.com > <https://www.avast.com/sig-email?utm_medium=email&utm_source=link&utm_campaign=sig-email&utm_content=webmail> > <#m_3106373496092641243_DAB4FAD8-2DD7-40BB-A1B8-4E2AA1F9FDF2> > > >
