Dari ‘maaf ke PKI’ hingga ‘pribumisasi Islam’, lima hal menarik tentang Gus Dur


  
|  
|   
|   
|   |    |

   |

  |
|  
|    |  
Dari ‘maaf ke PKI’ hingga ‘pribumisasi Islam’, lima hal menarik tentang Gus...
 Abdurrahman Wahid yang akrab disapa Gus Dur juga disebut sebagai tokoh yang 
pertama kali mencetuskan konsep yang...  |   |

  |

  |

 

Rafki HidayatBBC Indonesia   
   - 3 jam lalu
   
   - Bagikan artikel ini dengan Facebook
    
   - Bagikan artikel ini dengan Twitter
    
   - Bagikan artikel ini dengan Messenger
    
   - Bagikan artikel ini dengan Email
    
   - Kirim
Hak atas fotoGETTY IMAGESImage captionAbdurrahman Wahid atau Gus Dur: 7 
September 1940-30 Desember 2009.Hari Kamis (07/09), 77 tahun lalu, merupakan 
kelahiran presiden keempat Indonesia, Abdurrahman Wahid atau yang lebih akrab 
disapa Gus Dur.Semasa hidupnya tokoh Nahdlatul Ulama ini dikenal sebagai orang 
yang blak-blakan dan tidak jarang kontroversial. Berikut adalah sejumlah hal 
menarik tentang Gus Dur.
Ikon pluralisme dan kebebasan beragama
Meski sudah ada di Indonesia selama ratusan tahun, baru pada tahun 2000 lah, 
ketika Gus Dur menjadi presiden, agama Kong Hu Cu diakui sebagai salah satu 
agama resmi Indonesia.Dengan mencabut Instruksi Presiden yang melarang kegiatan 
terbuka tradisi Tionghoa, berbagai budaya dan aktivitas keagamaan Kong Hu Cu 
pun bebas diselenggarakan di tanah air.   
   - Jejak-jejak Gus Dur di NU
   - Ketika media Barat memberitakan sidang perdana kasus Ahok
Presiden keempat Indonesia ini pun menjadikan tahun baru Cina sebagai hari 
libur nasional namun pluralisme yang disuarakan oleh Gus Dur sebenarnya 
menyentuh berbagai agama.Image captionTahun baru Cina sudah bisa diperingati 
dengan bebas di Indonesia sejak Gus Dur memerintah.Cendekiawan muslim 
perempuan, Lies Marcoes, kepada BBC Indonesia menceritakan pengalaman 
pribadinya melihat bagaimana Gus Dur 'mendukung kebebasan beragama'."Waktu itu 
sekolah Katolik Sang Timur di Kebayoran lama, ditutup oleh warga dengan tuduhan 
macam-macam... (Di sekolah) dituduh di sana ada rumah ibadah, padahal izinnya 
untuk sekolah. Gus Dur pun langsung datang sendiri ke sana berdialog dengan 
warga Muslim yang menolak," cerita Lies Marcoes.Image captionSebuah masjid 
Ahmadiyah di Depok yang disegel oleh kepolisian.Lies memaparkan bahwa Gus Dur 
membujuk warga dengan mengungkapkan bagaimana pentingnya pendidikan bagi 
manusia. "Jalan ke sekolah yang sebelumnya ditutup oleh warga kampung pun 
kemudian dibuka".Lies juga menyebut Gus Dur adalah tokoh yang selalu membela 
hak beragama bagi warga Ahmadiyah dan Syiah.
Kontroversi soal komunisme dan Israel
Berbagai kontroversi kerap muncul ketika Gus Dur menjabat presiden hampir dua 
dekade yang lalu.Salah satunya terjadi pada tahun 2000, ketika dia berencana 
mencabut Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (TAP MPRS) Nomor 
XXV Tahun 1966, tentang Pembubaran PKI dan Larangan Penyebaran Komunisme, 
Marxisme, dan Leninisme.Selain berencana mencabut ketentuan tentang pembubaran 
PKI dan larangan penyebaran komunisme itu, Gus Dur juga sempat menyatakan maaf 
kepada korban peristiwa 1965.Image captionDiperkirakan sekitar 200.000 hingga 
500.000 jiwa tewas dalam kekerasan pada 1965-1966.Selain itu, Gus Dur juga 
mengemukakan rencana untuk menjalin hubungan ekonomi dan perdagangan dengan 
Israel."Israel percaya pada Tuhan. Jika pada negara yang tak bertuhan seperti 
Rusia dan Cina saja kita menjalin hubungan diplomatik, mengapa dengan Israel 
tidak?" kata Gus Dur dalam sebuah wawancara.Kedua idenya itu memang ditentang 
sebagian masyarakat Indonesia, yang menurut cendekiatan Muslim Akhmad Sahal 
mencerminkan gaya pemikiran Gus Dur yang berbeda dengan kebanyakan orang."Gus 
Dur itu tidak senang dengan kemapanan. Sesuatu kalau nggak bergerak itu harus 
dikejutkan," ungkap Sahal.Image captionUpaya untuk membuka hubungan ekonomi dan 
perdagangan dengan Israel tidak pernah dilanjutkan setelah Gus Dur lengser.Soal 
komunisme, pencabutan TAP MPRS menurut Sahal lebih ditujukan Gus Dur untuk 
paham Komunisme. "Komunisme kan boleh dipelajari, sah-sah saja. Gus Dur tak 
pernah bilang PKI dibolehkan. TAP MPRS itu dicabut sehingga orang bisa belajar 
dari komunisme."Sementara tentang Israel, membuka hubungan diplomatik bukan 
berarti melegitimasi soal penindasan (Israel) terhadap Palestina."Tapi (Gus 
Dur) ini kan realistis saja. Beberapa negara Arab saja menjalin hubungan 
(dengan Israel)," pungkas Sahal.'Pribumisasi Islam = Islam Nusantara'Pada 
Muktamar Nadhlatul Ulama ke-33, Agustus 2015 silam, tema 'Islam Nusantara' yang 
kala itu diangkat, ramai dibicarakan."Islam Nusantara disebut sebagai Islam 
yang khas Indonesia. Kehadiran Islam tidak untuk menantang tradisi yang ada. 
Sebaliknya, Islam untuk memperkaya dan mengislamkan tradisi yang ada secara 
bertahap."Konsep Islam Nusantara tersebut, sebenarnya bisa dilihat berasal dari 
konsep 'Pribumisasi Islam' yang pertama kali diutarakan Gus Dur.Hak atas 
fotoGETTY IMAGESImage captionIslam Nusantara disebut berasal dari konsep 
pribumisasi Islam yang dicuatkan Gus Dur."Islam tidak identik dengan Arab". 
Justru Islam itu diturunkan untuk memenuhi, menjawab, dan meneruskan kebutuhan 
masyarakat," kata Sahal mengutip Gus Dur."Makanya Islam harus menimbang soal 
kemaslahatan. Dan kemaslahatan itu harus disesuaikan dengan konteks lokalnya," 
ungkap Sahal yang saat ini sedang menempuh program doktor di Departemen Studi 
Agama, Universitas Pennsylvania di Amerika Serikat.Sahal menyebut konsep 
pribumisasi Islam adalah salah satu ide Gus Dur yang layak, tetapi jarang 
dieksplorasi.
Menjadi 'pembenaran' tokoh NU untuk politik praktis
Pada tanggal 20 Oktober 1999, Gus Dur, yang telah memimpin Nahdlatul Ulama 
selama lebih dari 10 tahun, menjadi presiden Indonesia. Inilah untuk pertama 
kalinya seorang mantan petinggi organisasi Islam menjadi orang nomor satu di 
Indonesia.Hak atas fotoGETTY IMAGESImage captionMelenggangnya Gus Dur ke kursi 
RI1 disebut menjadi 'pembuka jalan' bagi kader NU untuk berpolitik praktis.Lies 
menyebut peristiwa ini menjadi momentum pula bagi 'anak muda NU untuk masuk ke 
era politik praktis'.Belakangan, dikenal nama-nama seperti Ketua Umum PKB 
Muhaimin Iskandar, Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dakhiri, dan Menteri Sosial 
Khofifah Indar Parawansa, yang merupakan tokoh-tokoh dari NU.Namun Lies melihat 
terjunnya kader-kader NU ke dunia politik ini 'tanpa menggunakan etika seperti 
Gus Dur'."Gus Dur dijadikan pembenaran. Padahal Gus Dur masuk dalam kerangka 
perjuangan yang cukup jauh (ke depan)."Image captionSalah satu kader NU yang 
kini menjabat Menteri Sosial, Khofifah Indar Parawansa.Dia mencontohkan tidak 
semua kaum muda di lingkungan NU bisa paham mengapa Gus Dur membela teman-teman 
Ahmadiyah."Yang tolak Ahmadiyah kan sebagiannya pemuda NU, bukan hanya karena 
keterbatasan pengetahuan dibandingkan Gus Dur, tetapi juga karena ada 
kepentingan politik menolak kelompok primordial."Meskipun begitu, pandangan 
Lies ini tentu tidak dapat digeneralisasi.Kepada BBC Indonesia, Juni lalu, juru 
bicara Jamaah Ahmadiyah Indonesia, Yendra Budiana mengungkapkan bagaimana 
masjid Al-Hidayah milik jamaah Ahmadiyah di Depok, kerap mendatangkan berbagai 
penceramah, 'di antaranya tokoh muda Nahdlatul Ulama, Zuhairi Misrawi.'
Inisiator Syariat Islam di Aceh
Saat menjadi presiden Indonesia, Gus Dur adalah tokoh yang menawarkan penerapan 
syariat Islam di Aceh.Dalam wawancara dengan BBC Indonesia pada 8 April 2014, 
meskipun menilai 'ganjil', mantan Gubernur Aceh yang juga merupakan mantan 
aktivis Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Zaini Abdullah, menyatakan 'tawaran Gus Dur 
tersebut sebagai upaya meredam perlawanan GAM yang saat itu di atas angin'.Hak 
atas fotoDOKUMENTASIImage captionBendera GAM yang sempat dikibarkan pada 4 
Desember 2016, dan menimbulkan kontroversi.Seperti diketahui, penerapan syariat 
Islam di Aceh, kerap mendapat tentangan dari berbagai organisasi hak asasi 
manusia internasional. Misalnya, ketika pasangan gay di Aceh ditangkap dan 
dihukum cambuk 85 kali, pada 23 Mei lalu. Lembaga Human Rights Watch menyebut 
hukuman cambuk itu 'melanggar hukum internasional'.   
   - Pengibaran bendera GAM di Aceh 'sekadar nostalgia'
   - Razia celana ketat di Aceh melibatkan polisi militer, 42 orang ditangkap
Gus Dur -menurut Lies Marcoes- kemungkinan tidak menghitung keputusan tersebut 
bisa dijadikan komoditas politik oleh sekelompok pihak di Aceh karena GAM tidak 
menggunakan argumentasi agama dalam berjuang."Mereka adalah kelompok sekuler 
pada dasarnya," tambahnya.Image captionSeorang gay dihukum cambuk di Aceh pada 
Mei 2017 lalu.Meskipun begitu, Lies menilai, Gus Dur menawarkan Syariat Islam 
karena, "Dia berpikir isu yang lebih besar, bagaimana menjaga keutuhan 
Indonesia, karena waktu itu bergaung keinginan referendum Aceh... Tapi ya 
sekarang (Syariat Islam) digunakan untuk menyatakan Aceh berbeda dari tempat 
lain. Ini ekses..."

Kirim email ke