Pada Jumat, 8 September 2017 1:15, "Jonathan Goeij [email protected]
[GELORA45]" <[email protected]> menulis:
Dari ‘maaf ke PKI’ hingga ‘pribumisasi Islam’, lima hal menarik tentang Gus Dur
|
|
|
| | |
|
|
|
| |
Dari ‘maaf ke PKI’ hingga ‘pribumisasi Islam’, lima hal menarik tentang Gus...
Abdurrahman Wahid yang akrab disapa Gus Dur juga disebut sebagai tokoh yang
pertama kali mencetuskan konsep yang... | |
|
|
Rafki HidayatBBC Indonesia
- 3 jam lalu
- Bagikan artikel ini dengan Facebook
- Bagikan artikel ini dengan Twitter
- Bagikan artikel ini dengan Messenger
- Bagikan artikel ini dengan Email
- Kirim
Hak atas fotoGETTY IMAGESImage captionAbdurrahman Wahid atau Gus Dur: 7
September 1940-30 Desember 2009.Hari Kamis (07/09), 77 tahun lalu, merupakan
kelahiran presiden keempat Indonesia, Abdurrahman Wahid atau yang lebih akrab
disapa Gus Dur.Semasa hidupnya tokoh Nahdlatul Ulama ini dikenal sebagai orang
yang blak-blakan dan tidak jarang kontroversial. Berikut adalah sejumlah hal
menarik tentang Gus Dur.
Ikon pluralisme dan kebebasan beragama
Meski sudah ada di Indonesia selama ratusan tahun, baru pada tahun 2000 lah,
ketika Gus Dur menjadi presiden, agama Kong Hu Cu diakui sebagai salah satu
agama resmi Indonesia.Dengan mencabut Instruksi Presiden yang melarang kegiatan
terbuka tradisi Tionghoa, berbagai budaya dan aktivitas keagamaan Kong Hu Cu
pun bebas diselenggarakan di tanah air.
- Jejak-jejak Gus Dur di NU
- Ketika media Barat memberitakan sidang perdana kasus Ahok
Presiden keempat Indonesia ini pun menjadikan tahun baru Cina sebagai hari
libur nasional namun pluralisme yang disuarakan oleh Gus Dur sebenarnya
menyentuh berbagai agama.Image captionTahun baru Cina sudah bisa diperingati
dengan bebas di Indonesia sejak Gus Dur memerintah.Cendekiawan muslim
perempuan, Lies Marcoes, kepada BBC Indonesia menceritakan pengalaman
pribadinya melihat bagaimana Gus Dur 'mendukung kebebasan beragama'."Waktu itu
sekolah Katolik Sang Timur di Kebayoran lama, ditutup oleh warga dengan tuduhan
macam-macam... (Di sekolah) dituduh di sana ada rumah ibadah, padahal izinnya
untuk sekolah. Gus Dur pun langsung datang sendiri ke sana berdialog dengan
warga Muslim yang menolak," cerita Lies Marcoes.Image captionSebuah masjid
Ahmadiyah di Depok yang disegel oleh kepolisian.Lies memaparkan bahwa Gus Dur
membujuk warga dengan mengungkapkan bagaimana pentingnya pendidikan bagi
manusia. "Jalan ke sekolah yang sebelumnya ditutup oleh warga kampung pun
kemudian dibuka".Lies juga menyebut Gus Dur adalah tokoh yang selalu membela
hak beragama bagi warga Ahmadiyah dan Syiah.
Kontroversi soal komunisme dan Israel
Berbagai kontroversi kerap muncul ketika Gus Dur menjabat presiden hampir dua
dekade yang lalu.Salah satunya terjadi pada tahun 2000, ketika dia berencana
mencabut Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (TAP MPRS) Nomor
XXV Tahun 1966, tentang Pembubaran PKI dan Larangan Penyebaran Komunisme,
Marxisme, dan Leninisme.Selain berencana mencabut ketentuan tentang pembubaran
PKI dan larangan penyebaran komunisme itu, Gus Dur juga sempat menyatakan maaf
kepada korban peristiwa 1965.Image captionDiperkirakan sekitar 200.000 hingga
500.000 jiwa tewas dalam kekerasan pada 1965-1966.Selain itu, Gus Dur juga
mengemukakan rencana untuk menjalin hubungan ekonomi dan perdagangan dengan
Israel."Israel percaya pada Tuhan. Jika pada negara yang tak bertuhan seperti
Rusia dan Cina saja kita menjalin hubungan diplomatik, mengapa dengan Israel
tidak?" kata Gus Dur dalam sebuah wawancara.Kedua idenya itu memang ditentang
sebagian masyarakat Indonesia, yang menurut cendekiatan Muslim Akhmad Sahal
mencerminkan gaya pemikiran Gus Dur yang berbeda dengan kebanyakan orang."Gus
Dur itu tidak senang dengan kemapanan. Sesuatu kalau nggak bergerak itu harus
dikejutkan," ungkap Sahal.Image captionUpaya untuk membuka hubungan ekonomi dan
perdagangan dengan Israel tidak pernah dilanjutkan setelah Gus Dur lengser.Soal
komunisme, pencabutan TAP MPRS menurut Sahal lebih ditujukan Gus Dur untuk
paham Komunisme. "Komunisme kan boleh dipelajari, sah-sah saja. Gus Dur tak
pernah bilang PKI dibolehkan. TAP MPRS itu dicabut sehingga orang bisa belajar
dari komunisme."Sementara tentang Israel, membuka hubungan diplomatik bukan
berarti melegitimasi soal penindasan (Israel) terhadap Palestina."Tapi (Gus
Dur) ini kan realistis saja. Beberapa negara Arab saja menjalin hubungan
(dengan Israel)," pungkas Sahal.'Pribumisasi Islam = Islam Nusantara'Pada
Muktamar Nadhlatul Ulama ke-33, Agustus 2015 silam, tema 'Islam Nusantara' yang
kala itu diangkat, ramai dibicarakan."Islam Nusantara disebut sebagai Islam
yang khas Indonesia. Kehadiran Islam tidak untuk menantang tradisi yang ada.
Sebaliknya, Islam untuk memperkaya dan mengislamkan tradisi yang ada secara
bertahap."Konsep Islam Nusantara tersebut, sebenarnya bisa dilihat berasal dari
konsep 'Pribumisasi Islam' yang pertama kali diutarakan Gus Dur.Hak atas
fotoGETTY IMAGESImage captionIslam Nusantara disebut berasal dari konsep
pribumisasi Islam yang dicuatkan Gus Dur."Islam tidak identik dengan Arab".
Justru Islam itu diturunkan untuk memenuhi, menjawab, dan meneruskan kebutuhan
masyarakat," kata Sahal mengutip Gus Dur."Makanya Islam harus menimbang soal
kemaslahatan. Dan kemaslahatan itu harus disesuaikan dengan konteks lokalnya,"
ungkap Sahal yang saat ini sedang menempuh program doktor di Departemen Studi
Agama, Universitas Pennsylvania di Amerika Serikat.Sahal menyebut konsep
pribumisasi Islam adalah salah satu ide Gus Dur yang layak, tetapi jarang
dieksplorasi.
Menjadi 'pembenaran' tokoh NU untuk politik praktis
Pada tanggal 20 Oktober 1999, Gus Dur, yang telah memimpin Nahdlatul Ulama
selama lebih dari 10 tahun, menjadi presiden Indonesia. Inilah untuk pertama
kalinya seorang mantan petinggi organisasi Islam menjadi orang nomor satu di
Indonesia.Hak atas fotoGETTY IMAGESImage captionMelenggangnya Gus Dur ke kursi
RI1 disebut menjadi 'pembuka jalan' bagi kader NU untuk berpolitik praktis.Lies
menyebut peristiwa ini menjadi momentum pula bagi 'anak muda NU untuk masuk ke
era politik praktis'.Belakangan, dikenal nama-nama seperti Ketua Umum PKB
Muhaimin Iskandar, Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dakhiri, dan Menteri Sosial
Khofifah Indar Parawansa, yang merupakan tokoh-tokoh dari NU.Namun Lies melihat
terjunnya kader-kader NU ke dunia politik ini 'tanpa menggunakan etika seperti
Gus Dur'."Gus Dur dijadikan pembenaran. Padahal Gus Dur masuk dalam kerangka
perjuangan yang cukup jauh (ke depan)."Image captionSalah satu kader NU yang
kini menjabat Menteri Sosial, Khofifah Indar Parawansa.Dia mencontohkan tidak
semua kaum muda di lingkungan NU bisa paham mengapa Gus Dur membela teman-teman
Ahmadiyah."Yang tolak Ahmadiyah kan sebagiannya pemuda NU, bukan hanya karena
keterbatasan pengetahuan dibandingkan Gus Dur, tetapi juga karena ada
kepentingan politik menolak kelompok primordial."Meskipun begitu, pandangan
Lies ini tentu tidak dapat digeneralisasi.Kepada BBC Indonesia, Juni lalu, juru
bicara Jamaah Ahmadiyah Indonesia, Yendra Budiana mengungkapkan bagaimana
masjid Al-Hidayah milik jamaah Ahmadiyah di Depok, kerap mendatangkan berbagai
penceramah, 'di antaranya tokoh muda Nahdlatul Ulama, Zuhairi Misrawi.'
Inisiator Syariat Islam di Aceh
Saat menjadi presiden Indonesia, Gus Dur adalah tokoh yang menawarkan penerapan
syariat Islam di Aceh.Dalam wawancara dengan BBC Indonesia pada 8 April 2014,
meskipun menilai 'ganjil', mantan Gubernur Aceh yang juga merupakan mantan
aktivis Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Zaini Abdullah, menyatakan 'tawaran Gus Dur
tersebut sebagai upaya meredam perlawanan GAM yang saat itu di atas angin'.Hak
atas fotoDOKUMENTASIImage captionBendera GAM yang sempat dikibarkan pada 4
Desember 2016, dan menimbulkan kontroversi.Seperti diketahui, penerapan syariat
Islam di Aceh, kerap mendapat tentangan dari berbagai organisasi hak asasi
manusia internasional. Misalnya, ketika pasangan gay di Aceh ditangkap dan
dihukum cambuk 85 kali, pada 23 Mei lalu. Lembaga Human Rights Watch menyebut
hukuman cambuk itu 'melanggar hukum internasional'.
- Pengibaran bendera GAM di Aceh 'sekadar nostalgia'
- Razia celana ketat di Aceh melibatkan polisi militer, 42 orang ditangkap
Gus Dur -menurut Lies Marcoes- kemungkinan tidak menghitung keputusan tersebut
bisa dijadikan komoditas politik oleh sekelompok pihak di Aceh karena GAM tidak
menggunakan argumentasi agama dalam berjuang."Mereka adalah kelompok sekuler
pada dasarnya," tambahnya.Image captionSeorang gay dihukum cambuk di Aceh pada
Mei 2017 lalu.Meskipun begitu, Lies menilai, Gus Dur menawarkan Syariat Islam
karena, "Dia berpikir isu yang lebih besar, bagaimana menjaga keutuhan
Indonesia, karena waktu itu bergaung keinginan referendum Aceh... Tapi ya
sekarang (Syariat Islam) digunakan untuk menyatakan Aceh berbeda dari tempat
lain. Ini ekses..." #yiv4419910430 #yiv4419910430 -- #yiv4419910430ygrp-mkp
{border:1px solid #d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0
10px;}#yiv4419910430 #yiv4419910430ygrp-mkp hr {border:1px solid
#d8d8d8;}#yiv4419910430 #yiv4419910430ygrp-mkp #yiv4419910430hd
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px
0;}#yiv4419910430 #yiv4419910430ygrp-mkp #yiv4419910430ads
{margin-bottom:10px;}#yiv4419910430 #yiv4419910430ygrp-mkp .yiv4419910430ad
{padding:0 0;}#yiv4419910430 #yiv4419910430ygrp-mkp .yiv4419910430ad p
{margin:0;}#yiv4419910430 #yiv4419910430ygrp-mkp .yiv4419910430ad a
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv4419910430 #yiv4419910430ygrp-sponsor
#yiv4419910430ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv4419910430
#yiv4419910430ygrp-sponsor #yiv4419910430ygrp-lc #yiv4419910430hd {margin:10px
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv4419910430
#yiv4419910430ygrp-sponsor #yiv4419910430ygrp-lc .yiv4419910430ad
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv4419910430 #yiv4419910430actions
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv4419910430
#yiv4419910430activity
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv4419910430
#yiv4419910430activity span {font-weight:700;}#yiv4419910430
#yiv4419910430activity span:first-child
{text-transform:uppercase;}#yiv4419910430 #yiv4419910430activity span a
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv4419910430 #yiv4419910430activity span
span {color:#ff7900;}#yiv4419910430 #yiv4419910430activity span
.yiv4419910430underline {text-decoration:underline;}#yiv4419910430
.yiv4419910430attach
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px
0;width:400px;}#yiv4419910430 .yiv4419910430attach div a
{text-decoration:none;}#yiv4419910430 .yiv4419910430attach img
{border:none;padding-right:5px;}#yiv4419910430 .yiv4419910430attach label
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv4419910430 .yiv4419910430attach label a
{text-decoration:none;}#yiv4419910430 blockquote {margin:0 0 0
4px;}#yiv4419910430 .yiv4419910430bold
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv4419910430
.yiv4419910430bold a {text-decoration:none;}#yiv4419910430 dd.yiv4419910430last
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv4419910430 dd.yiv4419910430last p
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv4419910430
dd.yiv4419910430last p span.yiv4419910430yshortcuts
{margin-right:0;}#yiv4419910430 div.yiv4419910430attach-table div div a
{text-decoration:none;}#yiv4419910430 div.yiv4419910430attach-table
{width:400px;}#yiv4419910430 div.yiv4419910430file-title a, #yiv4419910430
div.yiv4419910430file-title a:active, #yiv4419910430
div.yiv4419910430file-title a:hover, #yiv4419910430 div.yiv4419910430file-title
a:visited {text-decoration:none;}#yiv4419910430 div.yiv4419910430photo-title a,
#yiv4419910430 div.yiv4419910430photo-title a:active, #yiv4419910430
div.yiv4419910430photo-title a:hover, #yiv4419910430
div.yiv4419910430photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv4419910430
div#yiv4419910430ygrp-mlmsg #yiv4419910430ygrp-msg p a
span.yiv4419910430yshortcuts
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv4419910430
.yiv4419910430green {color:#628c2a;}#yiv4419910430 .yiv4419910430MsoNormal
{margin:0 0 0 0;}#yiv4419910430 o {font-size:0;}#yiv4419910430
#yiv4419910430photos div {float:left;width:72px;}#yiv4419910430
#yiv4419910430photos div div {border:1px solid
#666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv4419910430
#yiv4419910430photos div label
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv4419910430
#yiv4419910430reco-category {font-size:77%;}#yiv4419910430
#yiv4419910430reco-desc {font-size:77%;}#yiv4419910430 .yiv4419910430replbq
{margin:4px;}#yiv4419910430 #yiv4419910430ygrp-actbar div a:first-child
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv4419910430 #yiv4419910430ygrp-mlmsg
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv4419910430
#yiv4419910430ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv4419910430
#yiv4419910430ygrp-mlmsg select, #yiv4419910430 input, #yiv4419910430 textarea
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv4419910430
#yiv4419910430ygrp-mlmsg pre, #yiv4419910430 code {font:115%
monospace;}#yiv4419910430 #yiv4419910430ygrp-mlmsg *
{line-height:1.22em;}#yiv4419910430 #yiv4419910430ygrp-mlmsg #yiv4419910430logo
{padding-bottom:10px;}#yiv4419910430 #yiv4419910430ygrp-msg p a
{font-family:Verdana;}#yiv4419910430 #yiv4419910430ygrp-msg
p#yiv4419910430attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv4419910430
#yiv4419910430ygrp-reco #yiv4419910430reco-head
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv4419910430 #yiv4419910430ygrp-reco
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv4419910430 #yiv4419910430ygrp-sponsor
#yiv4419910430ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv4419910430
#yiv4419910430ygrp-sponsor #yiv4419910430ov li
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv4419910430
#yiv4419910430ygrp-sponsor #yiv4419910430ov ul {margin:0;padding:0 0 0
8px;}#yiv4419910430 #yiv4419910430ygrp-text
{font-family:Georgia;}#yiv4419910430 #yiv4419910430ygrp-text p {margin:0 0 1em
0;}#yiv4419910430 #yiv4419910430ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv4419910430
#yiv4419910430ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none
!important;}#yiv4419910430