.
Ikut nimbrung.
 
 
Dari berbagai pertimbangan yg ditulis cukup bagus oleh bung Djie itu, saya 
kira faktor pertimbangan politis yg paling sentral, sehingga paling banyak 
disoroti. Pemerintahan Bung Karno dan Gus Dur terguling antara lain juga 
karena ada masalah dg Feeport.  Kasus 'papa minta saham' pernah juga jadi 
isu yg panas.
 
'Persetujuan ttg devestasi 51% (dg pembayaran bertahap) dan pembangunan 
smelter adalah hasil kompromi maksimal, yg bisa dicapai oleh pemerintahan 
Jokowi-JK tanpa harus melibatkan arbitrasi internasional.
 
Dalam hal mendapatkan pemasukan bersih yg lebih besar bagi Indonesia, yaitu 
dibidang pajak dan royalti, masih belum ada keputusan yg jelas,  selain 
disebutkan ttg 'pemasukan yg lebih baik dibanding dg kontrak sebelumnya'.
 
Perlu diingat, bhw Pemerintah daerah Papua, yg memiliki 'status otonomi 
khusus', juga menuntut dilibatkan dlm hal bagi hasil antara 3 pihak :  
Freeport - Pemerintah pusat - Pemerintah daerah Papua.
 
Dalam masalah sangat penting ttg  bagi hasil  ini, ada baiknya menarik 
pelajaran dari pengalaman terbaru, misalnya pengalaman Bolivia dibawah 
pimpinan  Evo Morales dan pertimbangan situasi di Indonesia saat ini.
 
 
Salam,
Arif H.  
 
-----------------
-----Original-Nachricht----- Betreff: Re: [GELORA45] Indonesia (Suharto) 
bayar 2.4 milyar dollar ganti rugi nasionalisasi oleh bung Karno.
Datum: 2017-09-09T05:41:45+0200
Von: "kh djie [email protected] [GELORA45]" <[email protected]>
An: "Gelora45" <[email protected]>
 
 
 


 
 
 
Selain cadangan, memangnya berapa banyak aset perusahaan pertambangan?
Cadangan biji2 logam yang ada di bumi sana, kalau Free Port pergi, ya tetap 
milik Indonesia.
Aset perusahaan pertambangan : gedung2, mesin2 , alat2 pengangkutan, 
installasi pengolahan
waste, galangan kapal dan installasinya, tunnel yang dibangun dll.
 
Apakah kalau PTFI angkat kaki pemerintah harus "membeli" aset PTFI? 
Darimana datangnya klausul seperti itu? Apakah tidak bisa menawarkan 
"membeli" dengan harga terjangkau/layak atau PTFI sendiri yang harus 
memindahkan aset tsb dari area pertambangan?
Tergantung bagaimana tertulis perjanjiannya. Kalau tidak ya, peraturan yang 
umum berlaku. Di negeri Belanda, kalau orang sewa rumah, kalau berhenti 
sewa, harus mengembalikan keadaan rumah seperti sebelumnya. jadi kalau dia 
pasang tegel, tegelnya harus dilepas kembali, kecuali kalau penyewa baru 
mau menerimanya. Lha ini, ada perundingan, ada penyewa baru yang mau Kasih 
sedikit kerugian, ada juga yang sengaja mempersuli penghuni lama, diajak 
eker2an, supaya ganti ruginya rendah. Ada juga yang selesai baik2. Tetapi 
penyewa baru, kalau dia pergi, harus melepas tegel itu, kecuali kalau 
penyewa berikutnya mau menerima.
Kalau mau baik2an menyelesaikan kasus Free Port andaikan tidak mau beri 
perpanjangan kontrak, ya Free Port boleh angkat apa2 yang bisa dibawa. Yang 
tertinggal bisa dihitung, apa masih ada harganya kalau dilihat dari 
penyusutan harga yang ada di tata bukunya. Tetapi tidak tahu, apa mau 
begitu, atau harus diputus oleh arbitrase internasional.
Tetapi tidak memperpanjang kontrak, bisa bertahun tahun dapat investor baru 
yang berani masuk . Bertahun tahun nganggur, dan pegawai harus dibayar 
berat sekali. Dari menghasilkan untuk pemerintah, pemerintah justru harus 
keluar uang banyak. Investor baru bisa2 justru minta fasilitas bebas pajak 
beberapa tahun, karena harus investasi banyak memasang mesin2 baru ? 
Berarti pemerintah kehilangan penghasilan.
 
Kalau dinasionalisasi bisa menimbulkan probleem lama sekali di bidang 
hukum. Investor2 yang mau masuk jadi ketakutan, membatalkan niatnya.Bisa 
saja nasionalisasi terjadi, kalau ada pemerintahan baru, yang berani sekali 
dengan beleid lain.
Hanya kalau ekonomi membaik, dapat dukungan rakyat. Kalau memburuk, ya 
maunya digulingkan.
Mungkin ada pendapat lain ?

2017-09-08 16:29 GMT+02:00 Jonathan Goeij [email protected]
<mailto:[email protected]> [GELORA45] <[email protected]
<mailto:[email protected]> >:
   
   
   
  Selain cadangan, memangnya berapa banyak aset perusahaan pertambangan?
  Apakah kalau PTFI angkat kaki pemerintah harus "membeli" aset PTFI?
  Darimana datangnya klausul seperti itu? Apakah tidak bisa menawarkan
  "membeli" dengan harga terjangkau/layak atau PTFI sendiri yang harus
  memindahkan aset tsb dari area pertambangan?
  Freeport sudah beroperasi sejak penghujung 60-an, memangnya seberapa
  tinggi teknologi waktu itu sehingga sampai sekarang masih belum sanggup
  juga.


  On Friday, September 8, 2017 5:21 AM, Chan CT <[email protected]
  <mailto:[email protected]> > wrote:


  Lho, ... siapa yang mencampur adukkan selesainya KK dengan nasionalisasi?
  Yang menjadi masalah operasi pertambangan emas yg segede itu, tidak baik
  berhenti operasi dalam waktu lama! Jadi, sebelum selesai KK Freeport
  ditahun 2021, sudah ada kesimpulan bagaimana kelanjutannya, .... Kalau
  tidak ada kesepakatan, PTFI harus angkat-kaki sedang RI belum mampu ambil
  oper, tidak punya dana cukup untuk “membeli” aset PTFI, belum ada
  kemampuan teknologi dan manajemen, ... untuk meneruskan operasi. Jadi,
  tuntutan “nasionalisasi” PTFI tidak masuk akal bisa dilaksanakan, belum
  lagi dilihat dari sudut kekuatan pendukung AS didalam Pemerintah Jokowi
  sekarang ini, ... bagaimana mungkin melaksanakan nasionalisasi??? Lalu,
  harus undang modal-asing lain? Ada negara yg mau dan apa bisa memberi
  keuntungan lebih besar pada RI?
   
   
  From: Jonathan Goeij [email protected] [GELORA45]
  Sent: Friday, September 8, 2017 1:29 AM
  To: Yahoogroups
  Subject: Re: AW: AW: Trs: [GELORA45] Indonesia (Suharto) bayar 2.4 milyar
  dollar ganti rugi nasionalisasi oleh bung Karno.
   
   
   
  Kelihatannya bung Chan berpendapat kalau Kontrak Karya th 2021 tidak
  diperpanjang itu merupakan nasionalisasi, saya rasa itu merupakan
  pengertian yang salah kaprah. Nasionalisasi itu kalau pemerintah
  mengambil alih kepemilikan PT Freeport Indonesia dari Freeport McMoran,
  sedang kalau kontrak tidak diperpanjang PTFI tetap milik Freeport McMoran
  tidak diambil alih sama sekali. Tidak memperpanjang kontrak ya tidak
  memperpanjang kontrak titik, jangan dicampur adukkan dengan
  nasionalisasi.
   
   
  ---In [email protected] <mailto:[email protected]> ,
  <SADAR@...> wrote :

  Aacchh, ... ternyata bung TIDAK mengerti bagaimana bisa mewujudkan
  CITA-CITA menjadi KENYATAAN, tidak bisa menemukan dan menentukan apa
  kiranya yang bisa dicapai dengan memenangkan perjuangan setahap demi
  setahap sesuai KEMAMPUAN kekuatan sekarang, ... sekarang belum bisa tidak
  berarti sudah lepaskan saja cita-cita perjuangan, sekalipun baru dicapai
  10-30% saja! yaa, ... majulah selangkah demi selangkah dahulu, ... Ketua
  Mao pun berani menentukan lebih dahulu mundur meninggalkan daerah basis
  untuk mencapai kemenangan yang lebih besar kemudian! Dan, TIDAK ADA yang
  bisa menuduh Ketua menyerah dan meninggalkan cita-cita perjuangannya!
   
  Dari mana kekuatan bung bisa menuntut NASIONALISASI Freeport selesai KK,
  tahun 2021? Bukankah bung sudah mengakui pemerintah Jokowi yang sekarang
  ini bukan Pemerintah Rakyat dalam arti sesungguhnya? Tidakkah bung bisa
  melihat disekitar Jokowi masih begitu kuat kekuatan ORBA,
  jenderal-jenderal pendukung AS masih begitu kuat, bisa dan mungkinkah
  tuntutan nasionalisasi itu dimenangkan? Menuntut 51% saham nya saja sudah
  begitu sulitnya bisa disetujui, ... malah ada pejabat tinggi yang minta
  bagian saham, papa minta saham dsb. nya, ...
   
  Salam,
  ChanCT 
   
  From: Roeslan
  Sent: Thursday, September 7, 2017 9:17 PM
  To: 'Chan CT' ; [email protected] ; 'Tatiana Lukman' ; 
  [email protected] ; [email protected]
  Subject: AW: AW: Trs: [GELORA45] Indonesia (Suharto) bayar 2.4 milyar
  dollar ganti rugi nasionalisasi oleh bung Karno.
   
  REFLEKSI: Tulisan bung dibawah ini saya tanggapi sebagai tulisan yang 100
  % anti Pancasial 1 Juni 1945, dan UUD 45 naskah aseli, yang ditulis 72
  tahun yang lalu. Tulisan bung jelas menolak cita-cita revolusi Agustus
  1945. Yaitu pembebasan, kemerdekaan sejati, emansipasi, dan berdikari
  dalam suatu NKRI. Ini semua telah bung tentang dengan alasan bahwa
  kehendak seperti itu adalah kehendak yang ditulis &frac12; abad yang
  lalu, jadi harus ditinggalkan,karena kita sekarang ini sudah berada pada
  zaman Globalisasi pasar bebas, yang  mengabdi pada ideologi
  Neoliberalisme. Tapi ironinya bung tidak konsekwen dalam berpikir, ini
  tercermin bahwa  jiwa  bung samapai detik ini, yang masih ngotot
  menggunakan nama milis yang bung kelola dengan nama GELORA 45, yang
  atinya besedia melanjutkan  cita-cita Proklamasi kemerdekaan 17 Agustus
  1945, seperti yang sudah saya kemukakan diatas. Bukanlah nama Gelora 45
  itu adalah mengandung cita-cita untuk melanjutkan Revolusi Indonesaia
  sampai selesai? Ini menurut Bung Karno. MENGAPA BUNG TETAP NGOTOT
  MENGGUNAKAN GELORA 45????.  Lalu apa maksud  Bung menggunakan nama itu,
  kalu bukan untuk menipu rakyat Indonesia??? Harus difahami bahwa Gelora
  45 bukan berarti gelora yang tunduk pada kaum penjajah!! Model lama atau
  baru; Tapi gelora 45  berarti  semangat anti penjajahan, dan semanagt
  berjuang demi pembebasan Rakyat Indonesia di tanah air Indonesia!!!
   
  Oleh karena itu saya nasehatkan hendaknya Bung mengagnti saja nama GELORA
  45, dengan nama GELORA NEOLIBERALISME ABAD KE XXI. Jika bung tetap ngotot
  mempertahankan nama GELORA 45, maka disitu terkandung maksud bahwa bung
  secara sadar telah berusaha melakukan penipuan terhadap seluruh Rakyat
  Indonesaia, dengan menggunakan nama GELORA 45 untuk menentang cita-cita
  Revolusi Indonesua. Betapa tidak karena dalam tulisan bung, bung
  menghendaki agar supaya rakyat Indonesia membuang cita-cita Revolusi
  Indonesaia yang digerakkan oleh Bung Karno 72 tahun yang lalu, yang bung
  nilai sebagai khayalan yang harus ditinggalkan.
   
  Saya yakin bahwa Rakyat Indoinesia masih tetap berkehendak untuk
  melakukan pesan Bung karno, yang mengatakan Lanjutkan revoluis Indonesioa
  sampai selesai. Apa yang ditulis oleh Tatiana yang saya dukung, adalah
  merupakan tulisan yang menuruti cita-cita revolusi Agustus 1945, sesuai
  dengan  pesan Bong Karno, Sang Proklamator dan Presiden pertama NKRI. 
  Bung sutuju boleh tidak juga boleh, yang tidak boleh adalah mencatut 
  mana Gelora 45 untuk menipu Rakyat Inbdonesia. Jangan merintangai
  Perjuangan rakyat Indonesia dalam usahanya untuk terus berjuang
  melanjutkan cita-cita revolusi Indonesia, yang diawali oleh perang
  kemerdekaan 1945-1949. Saya siap untuk meninggalkan milis ini, yang
  menggunakan nama Gelora 45, yang secara haketat hendak membrangus suara
  rakyat Indonesia yang hendak melanjutkan pesan Bung Karno, yaitu
  melanjutkan Revolusi sampai selesai. Jika bung merasa terusik oleh
  tulisan saya siap untuk bung keluarkan. Karena saya akan terus
  menyuarakan prinsip-prinsip perejuangan Kemerdekaann sejati bagi Rakyat
  Indonesia dan kehidupan NKRI!!!.
   
  Roeslan
   
   
   
   
  Von: Chan CT [mailto:sadar@...]
  Gesendet: Donnerstag, 7. September 2017 01:35
  An: Roeslan; [email protected]; 'Tatiana Lukman'
  Betreff: Re: AW: Trs: [GELORA45] Indonesia (Suharto) bayar 2.4 milyar
  dollar ganti rugi nasionalisasi oleh bung Karno.
   
  Mengapa sudah hidup diusia lanjut, banyak makan asam-garam berpuluh
  tahun, ... masih saja HIDUP dalam MIMPI!!! Bisanya hyanya meratapi
  KEKALAHAN dihajar habis oleh Suharto, ... tidak berhasil menemukan solusi
  jalan keluar terbaik untuk melangkah kedepan.
   
  Seandai-seandainya yang kalian ajukan itu SUDAH TIDAK akan terjadi,
  kecuali kalian bisa memutar balik jalannya sejarah. KENYATAAN yg harus
  dihadapi bagaimana KESALAHAN FATAL yg dilakukan Suharto dengan
  menggadaikan Freeport pada AS itu, yang sudah berlangsung lebih 1/2 abad
  ini! Dari Indonesia yang mutlak sangat dirugikan, bisa berubah lebih baik
  sekalipun dianggap masih terlalu sedikit. Dipikirkanlah solusi yang
  terbaik sesuai KONDISI RI sekarang ini, jangan pula menghayal-hayal indah
  dengan tuntutan kebablasan menuntut “NASIONALISASI” Freeport yg TIDAK
  REALIS itu!
   
   
   
  From: Roeslan roeslan12@... [GELORA45]
  Sent: Thursday, September 7, 2017 4:34 AM
  To: [email protected] ; 'Tatiana Lukman'
  Subject: AW: Trs: [GELORA45] Indonesia (Suharto) bayar 2.4 milyar dollar
  ganti rugi nasionalisasi oleh bung Karno.
   
   
  Betul apa yang ditulis Tatiana: saya kutip ………. Pasti tidak akan perlu
  menasionalisasi Freeport, karena pertama=tama tidak akan diijinkan baik
  oleh PKI maupun BK eksplotasi Freeport seperti yang dijalankan Suharto!!.
  (kutipan selesai ). Dalam  konteks ini sikap Bung Karno membatasi
  eksploitasi sumber daya alam oleh asing. Bung Karno mengatakan ``Kita
  simpan di tanah sampai insinyur kita mampu menggarap sendiri`` ( Kwik
  Kian Gie: Kebijakan Ekonomi Politik dan Hilangnya Nalar. halaman 184)
  Referensi lain, bagian pledoi Bung Hatta di pengadilan Scheveningen 1932.
  Dalam sidang. majelis hakim mempertanyakan apakah bangsa Indonesia mampu
  mengurus diri sendiri di alam merdeka yang dikehendaki oleh Bung Hatta
  bersama mahasiswa Indonesia yang bergabung dalan Perhimpunan Indonesia di
  Negeri  Belanda. Bung Hatta mengatakan ``Saya lebih suka melihat
  Nusantara tenggelam di laut dari pada dijajah Tuan-tuan`` Majelis hakim
  memvonis Bung Hatta bebas murni,Tapi di Nederlands-Indie (Hindia.Belanda)
  dengan alasan yang sama,tiga tahun sebelumnya, Bung Karno dibuang dan di
  penjara. Haruskah kita berjiwa terjajah sampai sekarang?
  Kwik Kian Gie: Kebijakan Ekonomi Politik dan Hilangnya Nalar. halaman
  184).
  Roeslan.
  Von: [email protected] [mailto:[email protected]]
  Gesendet: Mittwoch, 6. September 2017 19:31
  An: [email protected]; nesare1@...
  Cc: Yahoogroups; DISKUSI FORUM HLD
  Betreff: Re: Trs: [GELORA45] Indonesia (Suharto) bayar 2.4 milyar dollar
  ganti rugi nasionalisasi oleh bung Karno.
   
  SEANDAINYA tidak ada kudeta Suharto dan BK tetap jadi presiden, maka PKI
  tentu akan masih terus hidup!! Pasti tidak akan perlu menasionalisasi
  Freeport, karena pertama=tama tidak akan diijinkan baik oleh PKI maupun
  BK eksplotasi Freeport seperti yang dijalankan Suharto!! KArena tidak
  akan pernah diijinkan kelahiran PMA yang mengeruk kekayaan alam kita oleh
  pemodal asing dengan mengabaikan kepentingan rakyat , lingkungan dan
  kedaulatan rakyat!
  On Tuesday, September 5, 2017 2:02 PM, "mailto:nesare1@...%20[GELORA45]";
  <[email protected]> wrote:
   
  Betul setuju dengan komentar bung ini.
  Ini dulu. Jamannya masih perang krn RI masih dirongrong. Revolusi masih
  berjalan.
  Kalau sekarang gimana? Kalau sekarang presiden RI itu adalah bung Karno.
  Apakah bung berpendapat bung Karno akan menasionalisasi semua perusahaan
  asing yg ada termasuk freeport hasil dagangan Orba/soeharto?
  Pendapat saya: bung Karno tidak akan menasionalisasikan perusahaan2 asing
  itu. Dia tidak sebodoh itu.
  Nesare
  From: [email protected] [mailto:[email protected]]
  Sent: Tuesday, September 5, 2017 4:22 AM
  To: diskusiforum@...; Yahoo! Inc. <perhimpunanpersaudaraan@
  yahoogroups.com>; Jaringan Kerja Indonesia <
  jaringan-kerja-indonesia@...>; Gelora 45 <[email protected]>;
  Sastra Pembebasan <[email protected]>; Yahoo! Inc. <
  [email protected]>; Yahoo! Inc. <
  [email protected]>
  Cc: Yahoogroups <[email protected]>; Rachmat Hadi-Soetjipto <
  nc-hadisora@...>; Daeng <menakjinggo@...>; Gol <gogol.r@...>; Harry
  Singgih <harrysinggih@...>; Mitri <scorpio2001id@...>; Farida Ishaja <
  farida.ishaja@...>; Lingkar Sitompul <lingkarsitompul@...>; Ronggo A. <
  ronggo303@...>; indo1@...; Billy Gunadi <billygunadie@...>; Oman Romana <
  oromana0037@...>
  Subject: Re: Trs: [GELORA45] Indonesia (Suharto) bayar 2.4 milyar dollar
  ganti rugi nasionalisasi oleh bung Karno.
   
  Siapa yang suruh Suharto bayar Belanda ganti rugi nasionalisasi yang
  dilakukan pemerintahan Sukarno?? Kan itu karena Suharto antek imperialis,
  maka dia mau saja disuruh bayar. Sama seperti perusahaan dan pemilik
  hotel AS di Kuba yang menuntut supaya Kuba bayar nasionalisasi yang
  dilakukan ketika Revolusi menang. Selama Kuba tidak mau jadi antek AS,
  tidak akan ada pembayaran apa-apa!!
  KMB dibatalkan BK, juga karena menganggap isinya sangat tidak adil dan
  sangat pro Belanda... Antara lain, masak Indonesia harus bertanggung
  jawab dan bayar hutang-hutangnya Belanda!!
  Seandainya BK mau jadi antek imperialis dan kaum pemodal asing seperti
  pemerintahan sejak Suharto sampai sekarang, tidak ada alasan kaum
  imperialis untuk menjatuhkan Sukarno...PMA seperti yang dijalankan
  Suharto dan rezim boneka tanpa Suharto sampai sekarang bukanlah PMA yang
  diinginkan BK.... PMA yang sekarang dipraktekkan adalah PMA yang
  diinginkan PSI dan MASYUMI!!! Itu jelas dalam perdebatan di DPR ...Dan
  jelas BK anti penghisapan dan menginginkan Sosialisme... Justru sekarang
  banyak orang yang mempreteli BK dari karakter anti nekolimnya!!!
  On Tuesday, September 5, 2017 6:56 AM, 'Chalik Hamid' via forumdiskusi <
  diskusiforum@...> wrote:
  Pada Selasa, 5 September 2017 6:19, "kh djie djiekh@... [GELORA45]" <
  [email protected]> menulis:
   
  Ini terkait dengan persetujuan Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag,
  Belanda, yang memutuskan sebagai imbalan atas penyerahan kedaulatan
  kepada Republik Indonesia (saat itu Republik Indonesia Serikat) pada 27
  Desember 1949, Indonesia harus membayar utang kepada Belanda sebesar 4,5
  milyar gulden –awalnya Belanda meminta 6,5 milyar gulden.

  [image]
  <https://myrepro.files.wordpress.com/2016/02/picsart_02-16-08-32-27.jpg>

  Selain itu, untuk membangun kembali pascaperang, Belanda mendapatkan
  gelontoran dana, dalam bentuk hutang, dari program Marshall Plan AS
  antara tahun 1948-1951 sebesar US$1.128 juta. Sumbangan dari Marshall
  Plan dan Indonesia ini dikenal sebagai The Miracle of Holland (keajaiban
  Belanda).

  “Indie verloren, betekende niet ramspoed geboren (Hindia hilang, bukan
  berarti tiba bencana). Belanda masih bisa menarik keuntungan dari bekas
  jajahannya meski tanah jajahan itu sudah lepas,” tulis sejarawan Lambert
  Giebels dalam “De Indonesische Injectie” (Sumbangan Indonesia), yang
  dimuat di De Groene Amsterdammer, Januari 2000.

  Setelah membayar sekira 4 milyar gulden antara tahun 1950-1956, Indonesia
  secara sepihak membatalkan persetujuan KMB. Belakangan, pada awal Orde
  Baru, berdiri Inter Govenmental Group on Indonesia (IGGI), diketuai oleh
  Belanda, yang punya agenda tersembunyi berupa mencari penyelesaian utang
  Indonesia zaman Orde Lama, yang berkaitan dengan nasionalisasi perusahaan
  Belanda, sekira US$2,4 milyar.

  Giebels tak habis pikir, mengapa Belanda tega melakukan itu kepada
  Indonesia. Padahal kepada Suriname, yang juga bekas jajahannya, Belanda
  membayar lunas ganti rugi atas perbudakan sebesar 1,5 milyar euro begitu
  Suriname merdeka pada 25 November 1975. Jumlah itu dianggap belum cukup.
  “Suriname berhak mendapat ganti rugi senilai 50 milyar euro,” kata ekonom
  Suriname Armand Zunder kepada Philip Smet dari Radio Nederland
  Wereldomroep, 2 Juli 2010.

  Zunder membandingkan kasus Suriname dengan kasus lainnya. Belanda minta
  ganti rugi dari Jerman setelah Perang Dunia II. Jerman membayar lebih
  dari 120 milyar euro untuk warga Yahudi. Organisasi Internasional
  DiversCités sudah berseru kepada Parlemen Prancis, juga negara-negara
  Eropa termasuk Belanda, untuk membayar ganti rugi kepada bekas jajahannya
  atas peran mereka dalam perbudakan. Pada 1999, di Afrika terbentuk The
  Africa World Reparations and Repatriation Truth Commission, sebuah komisi
  penyelidik internasional yang menuntut ganti rugi. Menurut hukum
  internasional, perbudakan dikategorikan sebagai kejahatan terhadap
  kemanusiaan.

  Bagaimana dengan Belanda? Jangankan ganti rugi, permintaan maaf atas
  penjajahan dan aksi militer di masa lalu baru disampaikan pemerintah
  Belanda pada 2005. Mereka juga akhirnya mengakui 17 Agustus 1945 sebagai
  hari proklamasi kemerdekaan Indonesia, bukan lagi 27 Desember 1949.

  --
  You received this message because you are subscribed to the Google Groups
  "forumdiskusi" group.
  To unsubscribe from this group and stop receiving emails from it, send an
  email to diskusiforum+unsubscribe@....
  To post to this group, send email to diskusiforum@....
  Visit this group at https://groups.google.com/group/diskusiforum
  <https://groups.google.com/group/diskusiforum> .
  For more options, visit https://groups.google.com/d/optout
  <https://groups.google.com/d/optout> .
   


   
   


 




<div style=\"border:0;border-bottom:1px solid black;width:100%;\"> 
Gesendet mit Telekom Mail <https://t-online.de/email-kostenlos> - kostenlos 
und sicher für alle!

Kirim email ke