"Saya nggak mau berpolemik. Ini juga upaya meluruskan sejarah. Saya hanya ingin 
menunjukkan fakta yang terjadi saat itu. Karena anak-anak saya, prajurit saya, 
masih banyak yang tidak tahu," tegas Jendera Gatot.

Bagaimana Film “Penghianatan G30S/PKI” bisa dinyatakan “FAKTA yang terjadi saat 
itu”, kalau masalah prinsip siapa DALANG G30S itu sesungguhnya sampai sekarang 
BELUM juga mendapat kejernihan? Kenyataan yang terjadi, justru jenderal 
Soeharto lah yang merebut inisiatif sejak pagi hari 1 Oktober 1965 menguasai 
keadaan! Bagaimana TIDAK? Jenderal Soeharto sudah mengetahui lebih dahulu 
RENCANA RINCI G30S yang dilaporkan Kol. Latief. Dan selanjutnya atasnama 
“ketertiban dan keamanan” menumpas kekuataan G30S dan berlanjut dengan 
mengejar, menangkap membantai jutaan orang yang dituduh komunis dan Soekarnois, 
dan dengan GEMILANG berhasil melorot Presiden Soekarno dengan keluarkan TAP 
MPRS No.33/1967! Menjadikan PROKLAMATOR RI, Presiden pertama RI sebagai 
PESAKITAN yang harus dikarantina sampai meninggal tanpa perawatan kedokteran 
yang manusiawi! 

Serentetan yang dilakukan jenderal Soeharto inilah MAKAR sesungguhnya, ... dan 
inilah kenyataan yang terjadi! TEPAT apa yang dikatakan Dr. H. Soebandrio, 
Waperdam-I RI ketika itu, dalam tulisannya “Kesaksianku Tentang G30S”, jenderal 
Soeharto menjalankan KUDETA MERANGKAK, ... dan BERHASIL dengan gemilang!

Salam,
ChanCT




From: Jonathan Goeij [email protected] [GELORA45] 
Sent: Friday, September 22, 2017 1:49 AM
To: Yahoogroups 
Subject: [GELORA45] Perlukah ada film G30S/PKI versi kekinian dan milenial?

  

Perlukah ada film G30S/PKI versi kekinian dan milenial?


                        
                 
           
                    Perlukah ada film G30S/PKI versi kekinian dan milenial?
                  Saat menanggapi rencana nonton bareng film Pengkhiatan 
G30S/PKI yang 'diperintahkan' Panglima TNI Jender...  
           
     


Isyana ArthariniWartawan BBC Indonesia
  a.. 19 September 2017
  a.. Bagikan artikel ini dengan Facebook  
  b.. Bagikan artikel ini dengan Twitter  
  c.. Bagikan artikel ini dengan Messenger  
  d.. Bagikan artikel ini dengan Email  
  e.. Kirim
Hak atas fotoULET IFANSASTI/GETTY IMAGESImage captionTNI berencana mengadakan 
acara nonton bareng film Pengkhianatan G30S/PKI sebagai upaya untuk 
mengingatkan lagi akan sejarah. 
Saat menanggapi rencana nonton bareng film Pengkhiatan G30S/PKI yang 
'diperintahkan' oleh Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, Presiden Jokowi 
tidak mempermasalahkannya dan malah menyebut soal perlunya versi baru dari film 
tersebut yang lebih 'kekinian'. Akan seperti apa bentuknya?
"Untuk anak-anak milenial, tentu saja mestinya dibuatkan lagi film yang memang 
bisa masuk ke mereka. Biar ngerti mereka bahaya komunisme. Biar mereka tahu 
juga mengenai PKI," kata Jokowi pada wartawan, Senin (18/09).
"Ya akan lebih baik kalau ada versi yang paling baru. Agar lebih kekinian, bisa 
masuk ke generasi-generasi milenial," ujarnya.
Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo mengatakan bahwa acara nonton bareng itu 
adalah perintahnya.
"Saya nggak mau berpolemik. Ini juga upaya meluruskan sejarah. Saya hanya ingin 
menunjukkan fakta yang terjadi saat itu. Karena anak-anak saya, prajurit saya, 
masih banyak yang tidak tahu," tegas Jendera Gatot.
  a.. Tagar #DaruratDemokrasi, #DaruratPKI, dan 'pembentukan opini massa' 
  b.. Nobar film G30S/PKI oleh TNI 'mundur ke era Orde Baru', kata aktivis HAM
Film Gerakan 30 September yang dibuat atas inisiatif pemerintah Orde Baru itu 
telah dihentikan penayangan wajibnya di televisi nasional sejak Orde Baru 
berakhir pada 1998 karena dinilai hanya memuat cerita versi Orde Baru.
Namun, juru bicara TNI, Mayjen Wuryanto, meyakini cerita dalam film itu 
berdasarkan fakta dan memastikan akan ditayangkan serentak di seluruh kantor 
dan markas TNI pada 30 September mendatang.
"Pembuatan (film) itu kan tentunya melibatkan pakar sejarah, pelaku sejarah dan 
semuanya yang berkaitan dengan peristiwa itu. Tidak mungkin pembuatan film itu 
ujug-ujug (tiba-tiba)," kata Wuryanto pada BBC Indonesia.
Sejarawan Bonnie Triyana, yang juga adalah Pemimpin Redaksi Majalah Historia, 
menilai bahwa asumsi Jenderal Gatot bahwa anak-anak muda tidak tahu sejarah 
dinilai tidak tepat.
"Orang film itu di YouTube ada kok dan bisa mencari sendiri. Anak-anak zaman 
sekarang kalau untuk melihat film itu, versinya bagaimana, untuk melihat 
kritik-kritik terhadap film itu juga tinggal mencari di Google," kata Bonnie.
Jika memang akan ada versi baru film Pengkhianatan G30S/PKI, maka Bonnie 
mempertanyakan tujuannya.
Pasalnya, film asli yang disutradarai Arifin C. Noer itu bertujuan "untuk 
membangkitkan trauma massal, mengawetkan stigma terhadap PKI dan melegitimasi 
kekuasaan Presiden Soeharto saat itu".
Hak atas fotoULET IFANSASTI/GETTY IMAGESImage captionSejarahwan Bonnie Triyana 
berpendapat Pengkhiatan G30S/PKI mencampurkan hal yang merupakan fakta dengan 
bumbu fiksi. 
Ketika Presiden Jokowi mengusulkan versi kekinian film tersebut, Bonnie 
mengatakan, "kalau (tujuannya) cuma untuk mengawetkan stigma komunisme, ngapain 
bikin lagi menghabiskan uang negara, pakai saja yang sudah ada".
Masalahnya, film Pengkhianatan G30S/PKI berhenti hanya sampai peristiwa 
pembunuhan para jenderal TNI.
Sedangkan jika tujuan film 'versi kekinian' yang diusulkan Presiden Jokowi 
tersebut adalah melakukan revisi, maka menurut Bonnie, film itu nantinya harus 
menampilkan juga "peristiwa pembunuhan massal dan persekusi yang terjadi" 
setelah tewasnya para jenderal.
Antara fakta dan fiksi
Bonnie juga membeberkan hal yang merupakan fakta dan merupakan bumbu fiksi 
dalam film tersebut.
Faktanya, benar bahwa para jenderal diculik oleh satu batalyon Cakra Birawa, 
dibawa ke Lubang Buaya, dan dibunuh, dan ada segelintir pemimpin PKI yang 
terlibat dalam peristiwa tersebut berdasarkan buku John Roosa, Dalih Pembunuhan 
Massal.
Lompati Twitter pesan oleh @Hanungbramantyo 
  Film G30S/PKI dibuat sutradara Arifin C Noor. Serius bgt bikinya dan estetik. 
Soal akurat ato tidak itu urusan lain. Namanya juga film 😬
  — hanung bramantyo (@Hanungbramantyo) 17 September 2017
Hentikan Twitter pesan oleh @Hanungbramantyo
Lompati Twitter pesan 2 oleh @Hanungbramantyo 
  21. Kalo ada yg terganggu dg Subyektifitas di Film G30S ya silakan bikin 
versi lain. Itulah Demokrasi. (Eh?Kita msh demokrasi gak sih?😁
  — hanung bramantyo (@Hanungbramantyo) 17 September 2017
Hentikan Twitter pesan 2 oleh @Hanungbramantyo
Namun bagian-bagian yang menyatakan bahwa ada mata jenderal yang dicungkil, 
yang wajahnya disayat, dan Gerwani yang menari-nari, merupakan fiksi, kata 
Bonnie.
"Kenyataannya, setelah 1 Oktober 1965, ada ribuan orang ditangkapi, dibuang, 
dipenjara tanpa diadili, dan dibunuh. Kemudian ada persekusi, perampasan hak 
milik warga, itu juga fakta, dan di situ negara terlibat. Itu kan rangkaian. 
Kita melihat sejarah tidak bisa satu penggal peristiwa saja," ujar Bonnie.
Sementara itu, pembuat film dokumenter Pulau Buru Tanah Air Beta, Rahung 
Nasution, yang pemutarannya kerap dilarang karena dituduh menyebarkan komunisme 
mengatakan sulit untuk membayangkan akan seperti apa film Pengkhianatan 
G30S/PKI versi milenial yang disebut Presiden Jokowi.
  a.. Merekam sejarah yang mulai terkikis dari Pulau Buru 
  b.. Korban 1965: 'Saya bertemu algojo yang menembak mati ayah saya'
"Para korban ini saja mau duduk, ngobrol saja nggak boleh, seperti peristiwa 
(pengepungan) di LBH kemarin, terus kita ngomong film, itu terlalu jauh 
lompatannya. Ada ruang nggak untuk saling berbicara lebih dulu soal peristiwa 
itu? Kalau misalnya tidak ada ruang untuk saling berbicara soal peristiwa itu, 
ya berarti filmnya nanti versi rezim saja kan?" ujar Rahung.
Pulau Buru Tanah Air Beta menampilkan kisah dua tahanan politik yang pernah 
dibuang ke sana, yaitu Hersri Setiawan dan Tedjabayu Sudjojono, yang kembali ke 
pulau tempat masa-masa tergelap kehidupan mereka.
Hersri kembali ke sana bersama anak perempuan dan istrinya untuk menunjukkan 
tempat-tempat saat dia berdiam selama sembilan tahun, sejak 1969 sampai 1978.
Namun pemutaran film tersebut pernah beberapa kali dilarang, salah satunya saat 
pertama akan ditampilkan di Goethe Institut pada Maret 2016 lalu, tapi kemudian 
acara bisa berpindah ke gedung Komnas HAM.
Hak atas fotoBBC INDONESIAImage captionBeberapa pengguna media sosial melihat 
perlunya menonton film dokumenter karya Joshua Oppenheimer untuk 'mengimbangi' 
film Pengkhianatan G30S/PKI. 
Beberapa pengguna media sosial menyatakan bahwa film dokumenter karya Joshua 
Oppenheimer, yaitu Jagal (The Act of Killing) dan Senyap (The Look of Silence) 
seolah sudah bisa 'menggantikan' fungsi film Pengkhianatan G30S/PKI untuk 
mengenalkan sejarah pada generasi milenial. Tapi benarkah begitu?
Bonnie tidak menjawab langsung. Menurutnya, dua film itu menggambarkan apa yang 
terjadi setelah 1 Oktober 1965 dan dampak dari 'saling membunuh' di masyarakat 
yang terjadi di masa itu. Dan penggambaran itulah yang tak ada dalam film 
Pengkhianatan G30S/PKI.
Sementara bagi Rahung, filmnya, dan film-film lain yang membahas soal 1965 
adalah upaya untuk menawarkan narasi lain dari peristiwa tersebut yang selama 
ini tak pernah mendapat tempat.
"Banyak narasi di sana, tidak hanya satu pihak seperti yang dikatakan Orde 
Baru, siapapun punya narasi. Ini juga bukan mengungkap kebenaran atau 
meluruskan sejarah. Itu kan wilayah para sejarawan,"
Komisi Perlindungan Anak Indonesia sudah mengatakan bahwa film Pengkhianatan 
G30S/PKI tidak patut ditonton anak-anak karena adegan sadis penuh kekerasan, 
terutama saat penculikan para jenderal.
Setara Institute, lewat pernyataannya, mengatakan bahwa sudah saatnya ada film 
baru mengenai peristiwa 1965.
"Film yang diharapkan akurasi sejarahnya lebih objektif, tidak semata hanya 
propaganda dan tertuju pada kekerasan yang terjadi pada 1 Oktober pagi, tetapi 
juga menuturkan prolog mengapa peristiwa itu meletus dan epilog serta sekuel 
yang berakibat tragis bagi sebagian orang Indonesia yang tidak terlibat dan 
menjadi korban. Dengan demikian film baru itu mampu menjadi refleksi bagi 
generasi milenial, bukan sekedar menyajikan kekerasan dan kebencian," ujar 
Wakil Ketua Setara Institute, Bonar Tigor Naipospos dalam pernyataan tersebut.

Kirim email ke