Artikel di situs 'vice.com
<https://l.facebook.com/l.php?u=http%3A%2F%2Fvice.com%2F&h=ATOyXknFvPh3F0x3B4VeFjCKyIn70OYXz5mPutN2Qi2HIyA4VicldO2qNA3PHwbI88cyYXbWDEDByDx0hKtEvIczlJeGPqiwyfhz3JmA_MiZiaOCZfbeCvIEP0sI0wJUk-5fh7sC7Yub8ge-jVxMAl9vhsEA3Oa5pWa-KY9dbnQcji6k9HznOd3N4VTaBhUWgGdMktul8Isi4r_kGLw2jv5QvgNM3FBunLRNax7jMBE7shybACo0V5Ol-UZZmZ8UPtedcrqJojpVkgocui3Nv4NVIqlPaUr5xdkjboPNcbqR9iczerJw>
 
' ini membahas hilangnya satu generasi kaum intelektual atau kaum 
cendekiawan setelah terjadinya peristiwa 65, lembaran paling kelam berdarah 
dari sejarah modern Indonesia. Akibat fatal bagi nasib bangsa dipaparkan 
dlm artikel ini secara rinci, terutama mengenai hilangnya tenaga ahli 
/tenaga terdidik ( baik yg sedang menjalani studinya diluar negeri maupun 
persekusi terhadap kaum intelektual kiri progresiv didalam negeri), yg 
sebenarnya sangat diperlukan untuk membangun negara yg masih berusia muda, 
yg belum lama melepaskan diri dari belenggu penindasan dan penghisapan 
penjajah kolonial.
 
Ada kekurangan dari artikel ini, yaitu tidak adanya pembahasan tentang 
terjadinya perubahan fundamental dibidang politik dan ekonomi, dimana 
akibat dilancarkannya Genosida politik terhadap kekuatan kiri yang anti 
imperinalis, berakibat ditumbangkannya pemerintahan Bung Karno yg progresiv 
anti imperialis dan kemudian digantikan oleh rezim militer otoriter korup 
Orba /Suharto yg pro imperialis dan anti kekuatan kiri.
 
Dalam kenyataannya, dengan dilancarkannnya Genosida politik 1965-66 oleh 
militer yg didukung oleh golongan tuan tanah feodal dan kakitangan 
imperialis, bukan hanya mengakibatkan terhambatnya proses nation-building 
/pembangunan bangsa, tetapi lebih dari itu telah mengakibatkan terjadinya 
kemunduran luar biasa dibidang peradaban bangsa secara keseluruhan, yg 
tercermin dg merajalelanya budaya KKN (Korupsi, Kolusi, Nepotisme) disemua 
lembaga negara dan pemerintahan, yg sampai hari ini masih terus berlanjut 
dan nasib bagi para korbannya (Korban 65) belum banyak mengalami perbaikan 
yg signifikan, masih mengalami perlakuan diskriminatif, stigmatisasi dan 
berbagai persekusi.
 
 
 
A.H.
 
---------------------
 
Gestapu Menghapus Satu Generasi Intelektual Indonesia
 
" ... David T. Hill dalam Knowing Indonesia from Afar: Indonesian Exiles 
and Australian Academic menulis para pelarian politik (eksil) Indonesia 
1965 terdiri dari mahasiswa, duta besar, dan delegasi Indonesia yang saat 
peristiwa G30S terjadi, sedang berada di luar negeri dengan kepentingan 
yang beragam.  ...
 
Pencabutan kewarganegaraan para mahasiswa dan Duta Besar Indonesia di luar 
negeri menandai era hilangnya generasi intelektual Indonesia yang 
dipersiapkan Sukarno kelak membangun Tanah Air. Sebelum berangkat ke luar 
negeri, para mahasiswa tersebut menandatangani kontrak ikatan dinas untuk 
siap kembali dan berbakti pada Indonesia selepas kuliah.
 
Di dalam negeri, situasi tidak kalah genting. Intelektual kampus-kampus 
dalam negeri banyak yang dipecat, ditangkap, dan tidak diketahui nasibnya 
akibat dicurigai 'tercemar' paham kiri. Apalagi, di dalam negeri pada 
periode 1959-1963 terjadi peningkatan pesat jumlah Universitas di 
indonesia. .  .  Universitas negeri tercatat berjumlah delapan (1959) 
menjadi 39 (1963). Begitu pun dengan Universitas Swasta dari awalnya cuma 
berjumlah 112 (1961) melonjak drastis jadi 228 (1965). Sehingga, total pada 
1965 ada 335 universitas/institut yang menampung lebih dari 278.000 
mahasiswa. Jumlah tersebut meningkat berkali-kali lipat jika dibandingkan 
dengan jumlah lulusan pendidikan tinggi di Hindia Belanda pada 1940 yang 
berjumlah 79 orang saja.  .... "
 
Selengkapnya:  
https://www.vice.com/id_id/article/pakmpn/gestapu-menghapus-satu-generasi-intelektual-indonesia
<https://www.vice.com/id_id/article/pakmpn/gestapu-menghapus-satu-generasi-intelektual-indonesia>
 
 
 
                       ***
 
 


<div style=\"border:0;border-bottom:1px solid black;width:100%;\"> 
Gesendet mit Telekom Mail <https://t-online.de/email-kostenlos> - kostenlos 
und sicher für alle!

Kirim email ke