----- Pesan yang Diteruskan ----- Dari: 'Tatiana Lukman' via forumdiskusi 
<[email protected]>Kepada: Yahoogroups 
<[email protected]>; DISKUSI FORUM HLD 
<[email protected]>; Rachmat Hadi-Soetjipto 
<[email protected]>; Daeng <[email protected]>; Gol 
<[email protected]>; Harry Singgih <[email protected]>; Farida Ishaja 
<[email protected]>; Mitri <[email protected]>; Lingkar Sitompul 
<[email protected]>; Ronggo A. <[email protected]>; 
[email protected] <[email protected]>; Billy Gunadi 
<[email protected]>; Oman Romana <[email protected]>; Harsono Sutedjo 
<[email protected]>Terkirim: Sabtu, 30 September 2017 21.06.28 GMT+2Judul: 
HOME FILM Pembuatan Ulang Film G30S/PKI Harus Ungkap Fakta Sejarah
 
   
   - HOME 
   -  FILM

Pembuatan Ulang Film G30S/PKI Harus Ungkap Fakta Sejarah
 Sampul Film G30S PKI. FOTO/Istimewa1.4k Shares      
   
   -    
Gatot Nurmantyo
tiMeter: +33
   -    
Joko Widodo

Reporter: Rio Apinino20 September, 2017dibaca normal 2 menit   
   - Tanpa pengungkapan sejarah, remake film G/30S PKI tidak akan memicu 
kematangan masyarakat.
Tatiana Lukman, anak kandung MH Lukman, Wakil Ketua CC PKI ketika prahara 1 
Oktober terjadi, mengatakan bahwa remake film G30S/PKI harus memuat fakta 
sejarah.tirto.id - Tanggapan keras soal usul Presiden Joko Widodo yang ingin 
agar film Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI dibuat ulang (remake) muncul dari 
Tatiana Lukman, anak kandung MH Lukman, Wakil Ketua CC PKI ketika prahara 1 
Oktober terjadi. Tatiana mengatakan bahwa usulan pembuatan film baru akan 
relevan ketika sejarah yang sebenarnya diungkap.

Apa yang ia maksud sebagai "sejarah yang sebenarnya", menurut Tatiana, adalah 
fakta-fakta yang sudah terungkap baik oleh Indonesianis atau sejarawan kritis 
sejak berpuluh tahun lalu. Fakta sejarah ini, menurutnya, tidak akan 
kedaluwarsa. Tatiana merujuk pada pernyataan Jokowi yang mengatakan ingin 
membuat film yang lebih "kekinian", yang lebih bisa diterima generasi milenial. 

"Dapatkah diharapkan pembuatan sebuah film tentang G30S yang sesuai, atau 
paling tidak sedikit mendekati fakta-fakta sejarah? Bersediakah pemerintah 
mengakui bahwa enam jenderal dan seorang kapten itu tidak disiksa atau disayat 
kemaluannya oleh anggota Gerwani, bahwa yang membunuh mereka bukan PKI, 
melainkan bagian dari tentara juga, bahwa tarian orgie oleh Gerwani di Lubang 
Buaya hanyalah khayalan?" terang Tatiana kepada Tirto. 

"[Bersediakah pemerintah mengakui bahwa] Supersemar bukanlah pelimpahan 
kekuasaan Bung Karno kepada Suharto, bahwa Bung Karno tidak pernah menyetujui 
pembubaran PKI, dan masih banyak lagi. Inilah pernyataan yang harus dijawab 
lebih dulu oleh Jokowi sebelum bikin film baru yang sesuai dengan konteks 
kekinian," Tatiana menambahkan. 

Kalaupun pembuatan film remake ini direalisasikan, Tatiana menilai bahwa itu 
tidak akan mengubah nasib para penyintas, sepanjang pemerintah tidak bersedia 
menerima fakta di atas. 

Tatiana menilai, pihak-pihak yang terus menerus menghidupkan momok PKI 
berkepentingan untuk mengalihkan massa dari permasalahan konkret yang mereka 
hadapi sehari hari. Seperti semakin meningkatnya harga kebutuhan hidup, upah 
yang rendah, pengangguran, penyempitan lahan, hingga korupsi. 

"Satanisasi PKI dibutuhkan untuk mengalihkan perhatian massa rakyat," katanya. 

Tirto juga menghubungi Ilham Aidit, anak kedua Dwipa Nusantar Aidit, ketua CC 
PKI, yang bersama Lukman dan Njoto menghidupi dan membesarkan PKI pasca Madiun 
Affair, 1948, untuk kebutuhan yang sama. Tapi sampai berita ini ditulis, tidak 
ada tanggapan. 

Baca juga
Pakar Sejarah: Masyarakat Sudah Cerdas Menilai Film G30S/PKI
Film G30S PKI Dinilai Tidak Tepat untuk Jadi Rujukan Sejarah
Pro Kontra Nobar G30S PKI

Usulan presiden agar film G30S/PKI dibuat ulang berawal dari instruksi Panglima 
TNI Jenderal Gatot Nurmantyo kepada Kodim, Koramil, sampai Babinsa, agar film 
tersebut ditonton bersama.

Gatot tidak ambil pusing dengan polemik yang muncul terkait acara nobar film 
G30S/PKI. Ia menyatakan hanya pemerintah yang bisa melarang instruksinya. "Yang 
bisa melarang saya hanya pemerintah. Polemik dan ada penentangan dari berbagai 
pihak itu, 'memangnya gue pikirin'," ujarnya. 

Sebelumnya, Asvi Warman Adam, sedikit dari sejarawan yang fokus membahas 
peristiwa G30S sekaligus peneliti utama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia 
(LIPI), setuju pembuatan ulang film G30S/PKI setidaknya karena dua alasan. 
Pertama, film itu jelek, baik dalam hal kualitas teknis film, juga substansi 
cerita atau niat awal membuat film tersebut. 
"Film itu bertujuan untuk mengangkat kepahlawanan Suharto, tapi di sisi lain 
untuk merendahkan Sukarno. Film itu untuk memperlihatkan bahwa Sukarno dekat, 
bisa diatur, dan membela PKI. Padahal kan tidak demikian," kata Asvi. 

Asvi menginterpretasikan usulan Jokowi tersebut sebagai penolakan tidak 
langsung atas instruktsi Panglima TNI yang ingin film G30S/PKI diputar ulang 
lagi. Asvi juga mengaitkan ini dengan penggantian Gatot Nurmantyo yang 
direncanakan tahun depan. 

"Tahun depan ada penggantian Panglima TNI. Sekarang AD, jadi kemungkinannya 
besok AU. Nah apakah tujuannya terkait dengan itu? Ini buat orang bertanya, apa 
biar tetap AD atau apa? Itu kan dugaan-dugaan yang mungkin. Instruksi untuk 
menonton film ini jadi sangat politis," kata Asvi. 
 

-- 
You received this message because you are subscribed to the Google Groups 
"forumdiskusi" group.
To unsubscribe from this group and stop receiving emails from it, send an email 
to [email protected].
To post to this group, send email to [email protected].
Visit this group at https://groups.google.com/group/diskusiforum.
For more options, visit https://groups.google.com/d/optout.
  

Kirim email ke