Putra pahlawan revolusi: Semuabertanggung jawab dalam tragedi 65 Senin, 2 Oktober 2017 07:00 Reporter : Anisyah Al Faqir, Ramadhian Fadillah Agus Widjojo. ©2017Merdeka.com/dwi narwoko Merdeka.com- Sudah 52tahun peristiwa penculikan dan pembunuhan enam jenderal TNI dan satu perwira.Terjadi pada 30 September 1965. Sejak masa reformasi, berbagai upayapenyelesaian tragedi berdarah itu dilakukan. Namun, nyatanya rekonsiliasi itu belum berjalan baik. Masing-masih pihak yangterlibat dalam peristiwa G30S merasa dirinya sebagai korban. Tak ada keinginanuntuk membuka diri. Apalagi mengakui kesalahan yang dilakukan kelompoknya. Letjen (Purn) Agus Widjojo adalah putra sulung Pahlawan Revolusi Mayjen AnumertaSutoyo Siswomihardjo. Dia menilai PKI harus bertanggung jawab atas kekerasanyang mereka lakukan di tahun 1948, pada 1 Oktober 1965 dan sebelumnya. Merekamelakukan pembunuhan dan meneror masyarakat. Puncaknya adalah membunuh parajenderal di malam kelam tersebut. Namun setelah itu keadaan berbalik. Giliran ratusan ribu anggota PKI, ataumereka yang dituding PKI menjadi korban dibantai oleh rakyat antikomunis yangdibekingi TNI AD. Di sini fungsi perlindungan negara pada warganyadipertanyakan. Agus menyaksikan ayahnya dijemput dan tak pernah kembali pada dini hari 1Oktober 1965. Namun kemudian Agus memilih untuk menghentikan dendam danmenggagas rekonsiliasi di antara dua pihak. Dia tak mau kelak peristiwa semacamitu terjadi lagi di Indonesia. "Sampai kapan kita mau mewariskan dendam antara sesama anak bangsa,"katanya pada merdeka.com. Pada merdeka.com, Agus bercerita panjang lebar soal peristiwa itu. Bagaimanapula tanggapannya soal isu kebangkitan PKI. Simak wawancara Ramadhian Fadillah,Anisyah Al Fakir, Rendi Perdana dan Muhammad Zul Atsari dengan Letjen (Purn)Agus Widjojo Selasa pekan lalu. Pernahkah anda terpikirkan untuk balas dendam? Oh enggak ada. Bagaimana mau balas dendam. Siapa yang saya cari? Memang sayaingin tahu juga, siapa yang bunuh ayah saya, bagaimana cara membunuhnya,mengapa dibunuh? Kelak itu baru saya dapatkan dari pengetahuan-pengetahuan yang dalam selamasaya menjadi perwira. Tapi ketika peristiwa itu terjadi, saya baru lulusan SMA. Saya tahu soal (G30S)itu karena mendengarkan radio dan melihat warta berita televisi yang masihhitam putih di TVRI. Kenapa anda saat itu memilih menjadi tentara? Kepastian masa depan. Saya ingin mencari bidang pengabdian yang bisa meneguhkanhati saya, saya menemukan itu adalah pengabdian dalam keprajuritan. (Agus Widjojo masuk akademi militer hingga kemudian mencapai pangkat letnanjenderal) Bukan karena ingin mencari pembunuh ayah anda, atau melakukan aksibalas dendam? Oh tidak ada. Saat ini Film soal G30S PKI ramai diputar lagi. Anda adalah saksimata peristiwa tersebut. Bagaimana anda menilai film itu? Itu merupakan kenyataan sejarah. Malam itu saya dengar suara sepatu boot dantusukan bayonet di pintu. Saya dengar suara-suara teriakan. Tapi saya tidakbisa melihat langsung karena saya tidur di kamar sebelah. Begitu kejadian saya langsung berpikir bahwa saya harus siap menghadapikemungkinan terburuk ke depannya. Saat itu saya baru lulus SMA. Bisa dirasakanbagaimana tiba-tiba kepala keluarga itu lenyap, lantas bagaimana nasibkita? Mungkin kalau tidak ada kejadian seperti itu saya tidak bisa menjadi tentaraseperti sekarang ini. Apakah anda memaafkan tragedi 1965? Berdamai dengan masa lalu. Yang sudah ya sudah. Belum tentu itu memaafkan. Tapisaya terima itu sebagai sebuah kenyataan. Tetapi saya berpikir untukkepentingan bangsa, bukan saya pribadi, atau untuk membalas dendam walaupunmasih ada keinginan dalam diri sendiri masih ada rasa penasaran siapa sih yangbunuh ayah saya itu, itu enggak bias dihindari. Tapi ke depannya bagaimana kita sebagai masyarakat menghadapi hal itu? Mauterus begini? Saling mendendam? Sampai kapan? Itu saja yang saya pikirkan. Bagaimana prosesnya hingga anda kemudian menerima kenyataan hinggaakhirnya menyuarakan rekonsiliasi antara para eks Tapol dan keluarga pahlawanrevolusi? Tidak gampang itu ya, karena itu proses pencarian. Waktu itu saya mendapattugas sebagai komisi untuk perdamaian antar Timor Leste dan Indonesia yangangkatan bersenjatanya bersinggungan. Mulai dari situ saya melihat adanya rekonsiliasi perdamaian dari keduabelah pihak yang sedang bertikai. Dari situ saya melihat bahwa perdamaianadalah jalan satu-satunya untuk menyelesaikan masalah pertikaian. Sayamemutuskan untuk segera berdamai dengan keluarga pelaku dan juga keluargakorban tahun 65. Rekonsiliasi itu sendiri baru bisa dipahami jika seseorangsudah berdamai dengan dirinya sendiri. Dengan situasi memanas lagi seperti saat ini, idealnyarekonsiliasi seperti apa? Dalam kondisi seperti sekarang ini yang masih rawan setiap kali adapermasalahan, kita harus dekati dengan persamaan. Jangan tonjolkan perbedaandulu. Tapi apa persamaan kita. Apa persamaan sebagai satu bangsa yangmerekatkan kita. Apa persamaan kita? Itu dulu sampai sembuh sakitnya. Karena masyarakat kita belum cukup dewasa untuk melihat satu masalah kebangsaandari perspektif perbedaan. Yang sebetulnya bermanfaat untuk kita cari dan ambilpelajaran, justru untuk merekatkan persatuan dan kesatuan bangsa. Masyarakatkita belum siap untuk sampai ke situ. Kenapa rekonsiliasi sulit sekali dilakukan? Saya setuju satu-satunya jalan untuk berdamai dengan masa lalu adalah denganrekonsiliasi. Untuk sampai kepada space yang memungkinkan kita berekonsiliasidengan semua pihak itu memang memerlukan persyaratan yang berat dan persyaratanitu tidak ada dalam masyarakat kita. Kita belum siap untuk rekonsiliasi. Persyaratan itu adalah bahwa pertama semuaharus berdamai dengan dirinya sendiri terlebih dahulu. Semua harus berdamaidengan masa lalunya dulu. Kalau seperti kemarin kita lihat masing-masing pihak masih menempatkan dirinyadalam konteks 65, dalam peran 65. Ya sudah, kemarin itu Indonesia masih beradaseperti di tahun-tahun itu. Kita tidak bisa menempatkan diri sebagai manusia di tahun 2017 dan mengadakanrefleksi untuk melihat tragedi 65 dari perspektif indonesia tahun 2017. Rekonsiliasi itu tidak menuding-nuding berbagai pihak. Apabila kita darimasing-masing pihak mengadakan refleksi dan introspeksi terhadap diri sendiri.Itu belum ada sifat di masyarakat kita. Kalau kita lihat dulu ada Forum Silaturahmi Anak Bangsa yangmemotori rekonsiliasi. Kini dengan situasi memanas seperti ini, apa tidakmundur lagi rekonsiliasi? Ya kita untuk maju dan mendorong supaya mencapai kondisi rekonsiliasi secara subtansif.Rekonsiliasi kumpul-kumpul bersama sudah banyak. Forum Silaturahmi Anak Bangsa,yang kita adakan sendiri di situ ada anak Aidit, Kartosuwiryo, tapi sekedaruntuk duduk bersama dan makan bersama. Tapi tidak secara substantif untuk mendorong masuk dengan mencari pengungkapankebenaran. Guna memutar film, melihat pihaknya masing-masing, apa yang terjadi,di mana tanggung jawab pihaknya. Bukan tanggung jawab yang lain dalam tragedi65. Karena dalam tragedi 1965, masing-masing pihak sampai tingkat tertentu pastipunya tanggung jawab dan tidak bisa mempersalahkan kepada satu pihak. Semuaharus bertanggung jawab karena ini merupakan proses dan tragedi yangmenyebabkan sebab dan akibat. Kalau dalam Forum Silaturahmi Anak Bangsa tatanannya sudah padaintropeksi diri atau bagaimana ? Tidak ada hukum di Indonesia untuk membuat orang sampai ke tingkat itu. Forumitu sebenarnya sudah bagus, bisa berkumpul, bisa menyatu dengan anak korban danpelaku. Tapi kelemahan dari rekonsiliasi semacam itu tidak ada pelajaran yangdipetik. Apa yang salah dari masa lalu. Bagaimana agar tidak terulang kembalisekarang ini? Beberapa waktu lalu diskusi di LBH yang dihadiri eks Tapol sempatdibubarkan. Tanggapan anda? Kelemahan even yang diadakan di LBH adalah pertama, dia banyak mengumpulkandari kelompok yang banyak sejalan dengan pemikirannya. Kalau itu ya kita akanmakin mabuk. Kedua berbicara akan meneruskan sejarah. Siapa pun tidak ada yang memilikikewenangan meluruskan sejarah. Tidak pula sejarawan. Kedua pihak harus datang dan duduk bersama. Di mana letak tanggung jawabkelompoknya terhadap tragedi 65 itu. Semua dilandasi keinginan yang sama untukbersatu kembali dengan berdamai pada diri sendiri dan dengan masa lalu. Itu berat.Itu susah. Saya tidak percaya itu ada pada masyarakat Indonesia saat ini. Rekonsiliasi itu artinya pendekatan. Tidak bisa satu pihak mengaku sebagaikorban. Ya tidak bisa dong. Itu sudah berpihak, dan korban tragedi 65 ini adadi mana-mana. Karena korban ada di mana-mana. Jadi, tidak satu pihak. Kitatidak bisa tarik garis, sana hitam, sini putih. Begitu juga sebaliknya. Makatidak akan tercapai penyelesaian masalah seperti itu. Jadi pertemuan ini hanya menambah polarisasi dengan kelompoknya saja dan kitaakan susah bergerak untuk mencapai rekonsiliasi. Kalau dulu, saat Saya simposium di Hotel Arya Duta banyak healing proses danjuga truth seeking. Biarkan semua pihak bicara agar kita semua tahu. Kalaukemarin yang di LBH kan cuma satu pihak yang ingin mencoba meluruskan sejarah.Tidak ada itu sebenarnya, jika mereka ingin meluruskan sejarah, itu versi dia.Jadi masyarakat kita belum siap untuk rekonsiliasi. Simposium Tragedi 1965 di Aryaduta sempat mencuri perhatian. Keduabelah pihak dihadirkan untuk duduk bersama dan disaksikan banyak pihak. Apakahnanti akan ada simposium lanjutan? Harus dilalui dengan proses pencerahan terlebih dahulu kepada semua pihakterhadap apa yang akan direkonsiliasi. Apakah kita sepakat untuk melaluirekonsiliasi? Apa kita mau terus fanatik, saling memusuhi, sampai kapan?Dikasih dengan cara-cara apapun itu tidak akan menyelesaikan. Masyarakat kembali memanas dan menyangkut-pautkan berbagai haldengan PKI. Menurut Anda, bagaimana masyarakat saat ini harus bersikap terhadapisu komunisme? Bawalah kepada fakta dan bagaimana menyikapi kondisi seharusnya. Sebetulnyarambu-rambu hukum sudah cukup kuat, terutama TAP MPRS tahun 1966. Turutmenyebarkan ajaran komunisme yang diancam dengan hukuman-hukuman tertentu.Tegakkan lagi seperti itu. Hanya mungkin memang, hukum itu belum konkret yang dinyatakan sebagaimenyebarkan ajaran komunisme yang bagaimana, jangan sesuatu yang sifatnyasangat umum. Seperti misalnya oleh-oleh kaos palu arit yang dijual bebas di Vietnam. Kalaumemang itu mau dilarang di Indonesia, cantumkan peraturan itu dalamundang-undang. Itu pun harus dengan konkret agar semua tahu akan hal itu. Lantas apa yang dikatakan sebagai penyebaran paham dan ajaran komunisme, harusdiperjelas juga maksud dalam undang-undang tersebut. Bagaimana tanggapan anda terkait kembali memanasnya isukebangkitan PKI? Kalau tidak ada kondisi yang sengaja membuat masalah itu muncul maka dia tidakakan muncul. Mungkin juga dia malah diimbangi dengan masalah lain yang bersifatlebih mendesak. Sebenarnya luka itu belum sembuh (tragedi 65). Menurut Bapak siapa yang memainkan isu ini? Ya campur aduk sih. Segala cara digunakan untuk mencapai tujuannya yangberaneka ragam dan pasti itu tujuan politik. Sebetulnya ketakutan masyarakat kepada PKI saat itu karena apa? Karena dibuat dalam kemasan informasi yang menakutkan dan itu sebenarnya belumtentu benar. Informasi-informasi tidak benar ini yang disebarkan terus menerus. Padahal sebenarnya ancaman terhadap Pancasila itu bukan hanya dari komunissaja. Kalau istilah yang diangkat dalam orde baru ekstrem kiri dan ekstremkanan. Kalau ekstrim kiri itu ada kemungkinan untuk datang kembali. Apakah ektrimkanan tidak akan muncul kembali? Tanya orang Jawa Barat sekarang ini, dari managerakan-gerakan intoleransi. Dari wilayah sabuk yang dulu merupakan basis DarulIslam/Tentara Islam Indonesia. TNI AD hingga saat ini masih terdepan untuk memerangi segala halberbau komunis. Dari pengalaman anda, sebenarnya seperti apa doktrin yangditerima TNI AD soal komunisme ini? Ya memang benar. Tahun 1948 mereka (PKI) berontak. Sebetulnya 1963 merekaberalih strategi. Mereka memaksakan kebijakan-kebijakan yang pro komunis danmereka menjadi anak emasnya Presiden Soekarno. Ada isu land reform, membagikantanah. Lalu ada rencana angkatan kelima, mempersenjatai buruh tani guna bisamenandingi Angkatan Darat, Angkatan Laut dan Angkatan Udara, dan itu khasnegara komunis. Ini mereka desakkan setelah mereka memenangkan hati dan pikiranPresiden Soerkarno. Semakin intens lagi setelah mereka mendengar informasidesas-desus sakitnya Bung Karno dan tidak akan lama lagi bisa dikendalikanhidup Bung Karno. Yang menentang itu paling gencar adalah Angkatan Darat. TapiAngkatan Darat lebih bersifat defensif. Nah mungkin PKI ini yang terpancing "kapan nih kita bertindak. Kalau kitaterlambat bertindak kita keduluan Angkatan Darat'. Mereka terpancing untukmasuk. Penculikan ini merupakan tradisi di tentara. Misal ada peristiwaRengasdengklok. Nah ini kan kultur politik dulu, yang dilaksanakan olehelemen-elemen yang tidak profesional. Aksi mereka langsung gagal. Tidak adaplan B karena mereka semua amatiran. Mereka juga menanamkan dendam di hati masyarakat. Tanya anggota HMI, Anshor,budayawan, itu semua diintimidasi oleh Pemuda Rakyat. Ada tuh anggota Babinsayang digorok karena berusaha melawan. Aksi seperti apa, aksi sepihak. Jadi ketika saya duduk bersama anaknya Aidit, dan saya juga dipertanyakan olehteman-temen saya, 'ngapain duduk semeja dengan pembunuh ayahmu Gus?' Saya tidakpermisif dengan tindakan saya itu, tetapi saya ingin memaksakan PKI harus ikutbertanggungjawab atas peristiwa 65. Tanggung jawab dong, di mana letak tanggug jawabmu? Saya ingin mengatakanPKI-PKI itu tangannya ikut berlumuran darah. Kenapa kalian tidak pernahmengatakan bahwa sebelum 1 Oktober 65 sebelum jam 4 pagi. Jam 4 pagi masihterjadi pembunuhan yang dilakukan oleh PKI. Apalagi sebelum-sebelumnya tahun48. Kuburan masal itu banyak. Kenapa tidak pernah disinggung? Itu yang mau sayapaksakan untuk diakui. Saya katakan, adakan refleksi dan intropeksi pada dirikalian sendiri. Dari kubu yang anti-PKI juga alasannya untuk mencegah korban yang lebihbanyak yang diakibatkan oleh PKI, itu bisa dipertimbangkan. Tapi kalau sampaibertahun-tahun bela diri namanya bukan bela diri tapi ada keterlibatan langsungdan ini yang tidak diakui dari sisi anti PKI. PKI tidak mengakui pelanggaran HAM berat yang terjadi sebelum '65 dan merekamerasa tidak bersalah dan merasa menjadi korban dan di sini ada yang mengatakannegara tidak mungkin bersalah. Padahal negara punya tanggung jawab untukmelindungi warga negaranya. [ang] https://www.merdeka.com/khas/persyaratan-rekonsiliasi-tak-ada-dalam-masyarakat.html
[GELORA45] Putra pahlawan revolusi: Semua bertanggung jawab dalam tragedi 65
Julius Gunawan [email protected] [GELORA45] Mon, 02 Oct 2017 16:52:12 -0700
- [GELORA45] Putra pahlawa... Julius Gunawan [email protected] [GELORA45]
- Fw: [GELORA45] Putr... 'Chan CT' [email protected] [GELORA45]
- AW: [nasional-l... Roeslan [email protected] [GELORA45]
- Re: [temu_e... Tatiana Lukman [email protected] [GELORA45]
- Re: [te... 'Chan CT' [email protected] [GELORA45]
- Fw... Chalik Hamid [email protected] [GELORA45]
- Re... 'Chan CT' [email protected] [GELORA45]
