Pengiriman ilegal (trafik ilegal) sudah diprediksi oleh ormas-ormas buruh 
migran seperti ATKI ketika Pemerintah akan menghentikan pengiriman pekerja ke 
Timur Tengah. Ini pernah jadi perdebatan di milis karena ada yang setuju dengan 
plan pemerintah ketika itu untuk menghentikan pengiriman pekerja ke Timteng. 
Yang dituntut ormas buruh migran adalah tindakan pemerintah untuk melindungi 
buruh migran, bukannya menghentikan pengirimannya. Karena selama pemerintah 
tidak mampu menciptakan pekerjaan bagi rakyatnya, tak terhindarkan orang akan 
terus berusaha cari kerjaan di luar negeri. Karena tidak bisa pergi secara 
legal, orang mencari segala macam cara untuk tetap mencari nafkah ke luar. Nah, 
inilah yang menyuburkan usaha para penyelundup pekerja gelap.  

    On Thursday, October 5, 2017 3:47 PM, "Sunny ambon [email protected] 
[GELORA45]" <[email protected]> wrote:
 

     
Timur tengah lagi kucar kacir. Mengapamau dikirim kesana?
http://sp.beritasatu.com/home/tki-ilegal-marak-pemerintah-didesak-buka-pengiriman-prt-ke-timteng/120728

 TKI Ilegal Marak, Pemerintah Didesak Buka Pengiriman PRT ke Timteng
Kamis, 5 Oktober 2017 | 7:33     
[JAKARTA] Pelayanan Advokasi untuk Keadilan dan Perdamaian (Padma) Indonesia 
mendesak pemerintah dalam hal ini Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) agar 
membuka kembali pengiriman tenaga kerja Indonesia (TKI) sektor pekerja rumah 
tangga (PRT) ke negara-negara Timur Tengah (Timteng). Pasalnya, sampai saat ini 
sekitar 10.000 TKI PRT yang dikirim secara ilegal ke negara-negara 
Timteng.Pengiriman ilegal itu diduga kuat dilakukan oleh perorangan yang 
melibatkan oknum pejabat dari beberapa kementerian termasuk dari Kemnaker, 
Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) dan 
Kementerian Hukum dan HAM. “Saya melihat penghentian pengiriman ke sana justru 
memuluskan pengiriman ilegal yang menguntungkan sejumlah oknum pejabat bahkan 
diduga menguntungkan menteri terkait,” kata Direktur Eksekutif Pelayanan 
Advokasi untuk Keadilan dan Perdamaian (Padma) Indonesia, Gabriel Sola, kepada 
SP, Rabu (4/10).Sebagaimana diberitakan, sejak 4 Mei 2015, pemerintah Indonesia 
akan menghentikan pengiriman TKI sebagai PRT ke-21 negara di Timteng. Kebijakan 
itu diambil setelah dua pembantu rumah tangga asal Indonesia dihukum mati di 
Arab Saudi. Larangan itu berlaku antara lain untuk Aljazair, Arab Saudi, 
Bahrain, Irak, Iran, Kuwait, Lebanon, Mesir, Oman, Palestina, Qatar, Suriah, 
Uni Emirat Arab, Yaman, dan Yordania.Desakan yang sama disampaikan peneliti 
Migrant Care, Anis Hidayah. “Kami minta pemerintah agar kebijakan penyetopan 
pengiriman TKI PRT ke sana mohon ditinjau kembali. Karena ternyata justru 
menyuburkan pengiriman TKI PRT ilegal yang diduga menguntungkan banyak pihak, 
termasuk oknum-oknum dari lembaga pemerintah terkait,” kata Anis.Gabriel 
mengatakan, realitas yang terjadi adalah pertama, negara-negara Timteng sangat 
membutuhkan tenaga kerja PRT. Kedua, di sisi lain di Indonesia kemiskinan tidak 
kunjung hilang. “Jadi ada daya tarik yakni kebutuhan akan PRT di Timteng dan 
daya dorong dari dalam negeri adalah kemiskinan,” kata dia.Dua hal inilah, kata 
Gabriel, yang mendorong pengiriman TKI Ilegal semakin marak dan tidak 
terkontrol sama sekali. Oleh karena itu, solusi yang tepat, kata dia, adalah, 
pertama, pencabutan moratorium dibarengi dengan pengiriman TKI melalui 
Pelayanan Terpatu Satu Atap (LTSA) ke Timteng.Kedua, peningkatan kapasitas TKI 
yang dikirim ke Timteng. Ketiga, pendampingan hukum dan hak asasi manusia (HAM) 
terhadap TKI mulai dari pengurusan dokumen hingga berada di Timteng. 
Keempat,mengawasi ketat Pengerah Penempatan Tenaga Kerja Indonesia Swasta 
(PPTKIS) agar pengurusan, pengiriman, pemenuhan hak-hak dan perlindungan hukum 
dan HAM TKI beserta keluarga TKI yang ditinggalkan.Sebelumnya, Sekretaris Utama 
BNP2TKI Hermono mengakui maraknya pengiriman TKI ilegal ke Timteng. “Di tempat 
penampung TKI di Qatar sampai saat ini banyak sekali. Sebagian dari mereka 
adalah TKI ilegal,” kata Hermono.Sementara Dirjen Pembinaan Penempatan dan 
Perluasan Kesempatan Kerja (K3), Maruli Apul Hasoloan, mengatakan, sampai saat 
ini masih marak pengiriman TKI secara ilegal ke luar negeri terutama ke 
Malaysia dan negara-negara Timteng. “Ada banyak cara yang dilakukan para 
perekrut ilegal, serta banyak jalan tikus ke luar negeri bagi TKI-TKI ilegal,” 
kata dia.Bahkan Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Jasa Tenaga Kerja Indonesia 
(Apjati), Ayub Basalamah, mengatakan, ada sekitar 10.000 orang TKI ilegal yang 
diberangkatkan ke luar negeri terutama negara-negara Timur Tengah setiap bulan. 
“Mereka dikirim oleh perseorangan. Sepertinya didukung orang kuat di negeri 
ini,” kata Ayub.Menurut Ayub, sebagian besar TKI ilegal yang dikirim secara 
ilegal ke luar negeri itu merupakan perdagangan manusia (orang).Maruli 
mengatakan, untuk menekan perdagangan manusia, pihaknya menggalakan pelaksanaan 
program Desa Migran Produktif (Desmigratif). “Dua tahun ke depan kami akan 
membangun 400 Desmigratif, yang bertujuan menekan pengiriman TKI ilegal 
terutama perdagangan manusia,” kata dia.Hal yang sama dilakukan BNP2TKI yakni 
program Kampung TKI. Desmigratif dan Kampung TKI substansinya sama yakni 
menekan perdagangan orang berkedok pengiriman TKI ke luar negeri. [E-8]  


  #yiv3568297560 #yiv3568297560 -- #yiv3568297560ygrp-mkp {border:1px solid 
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv3568297560 
#yiv3568297560ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv3568297560 
#yiv3568297560ygrp-mkp #yiv3568297560hd 
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px 
0;}#yiv3568297560 #yiv3568297560ygrp-mkp #yiv3568297560ads 
{margin-bottom:10px;}#yiv3568297560 #yiv3568297560ygrp-mkp .yiv3568297560ad 
{padding:0 0;}#yiv3568297560 #yiv3568297560ygrp-mkp .yiv3568297560ad p 
{margin:0;}#yiv3568297560 #yiv3568297560ygrp-mkp .yiv3568297560ad a 
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv3568297560 #yiv3568297560ygrp-sponsor 
#yiv3568297560ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv3568297560 
#yiv3568297560ygrp-sponsor #yiv3568297560ygrp-lc #yiv3568297560hd {margin:10px 
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv3568297560 
#yiv3568297560ygrp-sponsor #yiv3568297560ygrp-lc .yiv3568297560ad 
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv3568297560 #yiv3568297560actions 
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv3568297560 
#yiv3568297560activity 
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv3568297560
 #yiv3568297560activity span {font-weight:700;}#yiv3568297560 
#yiv3568297560activity span:first-child 
{text-transform:uppercase;}#yiv3568297560 #yiv3568297560activity span a 
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv3568297560 #yiv3568297560activity span 
span {color:#ff7900;}#yiv3568297560 #yiv3568297560activity span 
.yiv3568297560underline {text-decoration:underline;}#yiv3568297560 
.yiv3568297560attach 
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px 
0;width:400px;}#yiv3568297560 .yiv3568297560attach div a 
{text-decoration:none;}#yiv3568297560 .yiv3568297560attach img 
{border:none;padding-right:5px;}#yiv3568297560 .yiv3568297560attach label 
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv3568297560 .yiv3568297560attach label a 
{text-decoration:none;}#yiv3568297560 blockquote {margin:0 0 0 
4px;}#yiv3568297560 .yiv3568297560bold 
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv3568297560 
.yiv3568297560bold a {text-decoration:none;}#yiv3568297560 dd.yiv3568297560last 
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv3568297560 dd.yiv3568297560last p 
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv3568297560 
dd.yiv3568297560last p span.yiv3568297560yshortcuts 
{margin-right:0;}#yiv3568297560 div.yiv3568297560attach-table div div a 
{text-decoration:none;}#yiv3568297560 div.yiv3568297560attach-table 
{width:400px;}#yiv3568297560 div.yiv3568297560file-title a, #yiv3568297560 
div.yiv3568297560file-title a:active, #yiv3568297560 
div.yiv3568297560file-title a:hover, #yiv3568297560 div.yiv3568297560file-title 
a:visited {text-decoration:none;}#yiv3568297560 div.yiv3568297560photo-title a, 
#yiv3568297560 div.yiv3568297560photo-title a:active, #yiv3568297560 
div.yiv3568297560photo-title a:hover, #yiv3568297560 
div.yiv3568297560photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv3568297560 
div#yiv3568297560ygrp-mlmsg #yiv3568297560ygrp-msg p a 
span.yiv3568297560yshortcuts 
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv3568297560 
.yiv3568297560green {color:#628c2a;}#yiv3568297560 .yiv3568297560MsoNormal 
{margin:0 0 0 0;}#yiv3568297560 o {font-size:0;}#yiv3568297560 
#yiv3568297560photos div {float:left;width:72px;}#yiv3568297560 
#yiv3568297560photos div div {border:1px solid 
#666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv3568297560 
#yiv3568297560photos div label 
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv3568297560
 #yiv3568297560reco-category {font-size:77%;}#yiv3568297560 
#yiv3568297560reco-desc {font-size:77%;}#yiv3568297560 .yiv3568297560replbq 
{margin:4px;}#yiv3568297560 #yiv3568297560ygrp-actbar div a:first-child 
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv3568297560 #yiv3568297560ygrp-mlmsg 
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv3568297560 
#yiv3568297560ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv3568297560 
#yiv3568297560ygrp-mlmsg select, #yiv3568297560 input, #yiv3568297560 textarea 
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv3568297560 
#yiv3568297560ygrp-mlmsg pre, #yiv3568297560 code {font:115% 
monospace;}#yiv3568297560 #yiv3568297560ygrp-mlmsg * 
{line-height:1.22em;}#yiv3568297560 #yiv3568297560ygrp-mlmsg #yiv3568297560logo 
{padding-bottom:10px;}#yiv3568297560 #yiv3568297560ygrp-msg p a 
{font-family:Verdana;}#yiv3568297560 #yiv3568297560ygrp-msg 
p#yiv3568297560attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv3568297560 
#yiv3568297560ygrp-reco #yiv3568297560reco-head 
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv3568297560 #yiv3568297560ygrp-reco 
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv3568297560 #yiv3568297560ygrp-sponsor 
#yiv3568297560ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv3568297560 
#yiv3568297560ygrp-sponsor #yiv3568297560ov li 
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv3568297560 
#yiv3568297560ygrp-sponsor #yiv3568297560ov ul {margin:0;padding:0 0 0 
8px;}#yiv3568297560 #yiv3568297560ygrp-text 
{font-family:Georgia;}#yiv3568297560 #yiv3568297560ygrp-text p {margin:0 0 1em 
0;}#yiv3568297560 #yiv3568297560ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv3568297560 
#yiv3568297560ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none 
!important;}#yiv3568297560 

   

Kirim email ke