TUDUHAN KOMUNIS YANG PALING MENYAKITKAN
Oleh Robert Nio alias Mang Ucup

“Loe liat, amper semoea Toekang Gambar moeka’nja poetjet, badan’nja
koeroes2 dan doeit’nja kempes” ungkapan itulah yang dilontarkan oleh
ayahnya

Siauw Tik Kwie pada saat ia mengutarakan ingin jadi pelukis. Namun karena
ia merasa memiliki bakat dan juga merasa terpanggil untuk jadi TOEKANG
GAMBAR. Ia tetap melanjutkan cita-citanya.

Dikemudian hari ia baru menyadari sepenuhnya bahwa ungkapan sang ayah itu
ternyata banyak benarnya. Misalnya untuk dua halaman komik yang digambar
olehnya ia hanya mendapatkan bayaran Rp. 7,50

Berarti dalam sebulan ia hanya mendapatkan Rp. 60 saja. Ia menggambar dalam
ukuran besar. Per halaman komik ukurannya 1 plano (8 x folio). Dikerjakan
dengan tinta Cina dan mopit.

Hal ini ia lakukan selama TUJUH TAHUN berturut-turut. Tanpa pernah libur
maupun sakit sekalipun juga. Terlebih lagi TANPA PERNAH MENGELUH.

Ia menggambar dengan sabar, tekun dan tabah sebanyak lebih dari 1.900
adegan!

Hanya sekali saja dimana ia merasa sangat sedih sekali. Tanpa bisa
tertahankan lagi air matanya pun turun berlinang.

Namun tak satu katapun juga yang ia ucapkan. Ialah pada saat seluruh hasil
karyanya yang telah dikerjakan selama Tujuh Tahun.

Harus DIBAKAR di depan matanya sendiri! Hal inilah yang sangat
menghancurkan perasaanya.

Cobalah anda hayati sendiri betapa sakitnya hati seseorang apabila hasil
karya yang selama bertahun-tahun dilukis dengan penuh sukacita.

Sekarang harus DIBAKAR JADI ABU dalam jangka waktu beberapa menit saja.

Pembakaran komik ini dilakukan atas perintah langsung dari pimpinan Star
Weekly/ Keng Po.

Maklum pada tahun 1966 pemerintah Orde Baru sedang gencar-gencarnya
melakukan politik Anti Tionghoa sebagai TUDUHAN ANTEK KOMUNIS!

Kejadian ini merupakan tragedi sejarah yang paling buruk, yang pernah
terjadi dalam sejarah komik Indonesia.

Mirip seperti ketika jaman Hitler membakar buku-buku hasil karya orang
Yahudi !

Bagi yang tidak tahu latar belakang pembuatan komik mungkin menilai apa
susahnya menggambar komik Sie Djin Koei!

Perlu diketahui bahwa pada saat itu tidak ada satupun karya komik silat
yang bisa dijadikan contoh.

Teks dari komik memang benar dikerjakan oleh Oey Kim Tiang alias OKT. Namun
seluruh gambar dipercayakan sepenuhnya kepada Siauw Tik Kwie.

Siauw Tik Kwie itu mirip seperti Karl May yang banyak menulis buku tentang
suku Indian di Amerika, tapi ia sendiri selama hidupnya tidak pernah ke
Amerika.

Begitu juga dengan Siauw Tik Kwie yang tidak pernah keluar dari Indonesia.
Boro-boro pergi ke luar negeri untuk mencukupi biaya hidup sehari-harinya
pun sudah sulit sekali.

Pada awalnya Siauw Tik Kwie menggunakan contoh untuk wajah para tokoh
komiknya dari Wayang Potehi maupun opera Tionghoa.

Sedangkan gerakan-gerakan maupun senjatanya ia dapatkan dari perguruan
tempat dimana ia belajar silat.

Agar bisa melukis kuda dengan baik ia sering pergi mempelajarinya di kadang
kuda.

Bahkan untuk melukis gunung-gunung dalam komiknya; ia khusus pergi ke
Padalarang untuk mempelajari corak dari gunung kapur yang ada di sana.

Dari sini saja kita bisa melihat betapa besar dedikasinya Siauw Tik Kwie.
Walaupun hanya dengan gaji yang sangat minimal. Namun ia berusaha untuk
memberikan hasil yang maksimal.

Maka tidaklah heran betapa hancur luluh hatinya. Ketika ia harus
menyaksikan hasil karya yang dikerjakan salama bertahun-tahun harus dibakar
musnah jadi abu !

Sejak saat itu ia tidak pernah mau menggambar komik lagi, karena luka batin
yang sangat mendalam. Ia juga merubah namanya menjadi Otto Suastika.

Maklum nama Siauw Tik Kwie sering disingkat menjadi SWK (Swastika) atau
lambang dari Agama Tridharma yang dianut olehnya.

Om Siaw juga mewariskan hak ciptanya kepada Drs. Aggi Tjetje, Ketua Umum
Dewan Pengurus Nasional Gabungan Tridharma Indonesia

Kirim email ke