Ikut menambah pandangan bung Yoseph T Taher dekh. Untuk menambah wawasan pengetahuan sejarah kita tentang perjuangan rakyat Indonesia dalam memenangkan Filsafat Pancasila dan menolak usul bentuk negara Islam Indonesia dalam Sidang Konstituante yang waktu itu dalam rangka untuk menentukan Undang-Undang Dasar baru Negara Republik Indonesia seperti dan juga sesuai dengan catatan sejarah, saya cuplikkan karya Soemarsono - Revolusi Agustus, Bab V Bagian V: Masalah Kebudayaan, Hasta Mitra hlm.261-267 Jkt 2008. Juga saya kirimkan per pdf.
Kutipan mulai: V. Masalah Kebudayaan Theis atau Atheis Itu Soal Kepercayaan Agama adalah masalah kepercayaan. Tidak ada yang mengatakan agama itu masalah rasional. Tapi yang disebut kepercayaan, bukan soal agama saja. Misalnya mengenai Buddha. Ajaran Buddha itu agama. Tapi Buddha - Sidharta Gautama - sebenarnya dia orang atheis, tak bertuhan. Hanya percaya kepada lakunya sendiri. Laku sendirilah yang bisa membikin diri bebas dan mencapai bodhisatwa. Tapi tidak ada pujian dari Buddha pada Tuhan. Buddha di Tiongkok atau juga Buddha di tempat lain. Buddha sebenarnya berarti Aku menemukan kebenaran, mendapatkan kejelasan. Yang dimaksud Buddha ialah menemukan kebenaran, sedang Tuhan yang dicarinya tidak ada. Jadi yang ada itu apa? Diri kita. Kita musti mensucikan diri kita. Menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan yang merugikan orang. Sebab perbuatan yang tidak baik, menurut Buddha, ada karmanya. Jadi kalau kita nanti berbuat makin lama makin baik melalui kehidupan beralih-alih yang akhirnya mencapai bodhisatwa. Tapi Buddhisme adalah atheisme, paham tidak mempercayai adanya Tuhan. Di dalam UUD 45 Buddhisme disejajarkan dengan aliran kepercayaan. Theis dan atheis itu sama- sama kepercayaan. Yang satu percaya ada Tuhan yang lainnya atheis, percaya tidak ada Tuhan. Tetapi sekarang atheis diartikan anti-Tuhan. Ini tuduhan tidak logis. Sudah dinyatakan bahwa tidak ada Tuhan, kok mau memerangi Tuhan, sesuatu yang tidak ada. Itu masalah kepercayaan. Tapi kenyataannya ada orang yang menuduh orang lain mau memerangi Tuhan. Dalam sejarah Perang Salib, kruistocht orloogen sebenarnya berlatar belakang politik. Perang Palestina – Israel sebenarnya bukan masalah agama, tapi politik. Politik menggunakan agama. Di zaman modern orang-orang menyerukan tidak menggunakan agama sebagai alat politik. Bagus juga, memisahkan antara soal politik dan agama. Agama ya agama. Tapi di Indonesia belum sampai bisa yang begitu itu. Oleh sebab itu Bung Karno merumuskan Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai kerukunan beragama, kerukunan kepercayaan. Kalau sekarang orang saling membunuh karena perkara agama, itu ‘kan perbuatan paling terbelakang. Salah satu kewajiban kita, menurut UUD 45, bagaimana mencerdaskan supaya rakyat kita itu berpikiran maju. Di Surabaya saya mengenal tokoh Islam Pak Dibjo dari Partai Sarikat Islam Indonesia - PSII. Soedibjo dulu di zaman Bung Karno pernah jadi Menteri Urusan Pengerahan Tenaga Rakyat, disingkat Petera. Dia memimpin Hisbullah waktu di Surabaya. Hisbullah yang dipimpinnya dekat sekali dengan Pesindo yang beraliran kiri. Sila Pertama Pancasila demi Kerukunan Beragama Sila pertama Pancasila adalah Ketuhanan Yang Maha Esa, yang menurut Bung Karno bermakna kerukunan dalam beragama. Jadi buat apa pengikut agama dengan pengikut agama bertempur? Tuhan tidak menyuruh kita saling membunuh. Tetapi dalam politik, antara orang komunis dan anti- komunis, yang anti-komunis membunuhi kaum komunis. Contohnya fitnahan bahwa di Madiun katanya ribuan ulama ditangkapi dan diperlakukan kejam oleh kaum komunis. Semua itu omong kosong. Sebab tak ada gunanya orang komunis membunuhi kaum anti-komunis. Lalu mesti diapakan orang yang anti-komunis itu? Ya diberi penerangan, diberi pengertian bahwa orang komunis membela rakyat, orang komunis paling berperi-kemanusiaan. Sebaliknya, tuduhan bahwa orang komunis itu anti-Tuhan telah menimbulkan banyak sekali korban waktu G30S, dengan Suharto sebagai yang bertanggung jawab. Di dalam tahanan zaman Suharto, saya bertemu dengan seorang yang belakangan masuk penjara juga. Suharto memerintahkan menghabisi siapa saja yang menentangnya, yang komunis maupun penganut Islam. Dia termasuk orang yang menjadi saksi dan dia pernah bertemu dan bertanya pada Suharto: “Bagaimana ini?” “Ya hilangkan saja!” jawab Suharto. Itu kebijaksanaan “tumpas-kelor”. Dihabisi sampai anak-anak kita dikejar-kejar dan tidak diberi kebebasan, didiskriminasi sedemikian rupa, dan diberi cap “anaknya Tapol”. Suharto melakukan hal itu karena dia sebenarnya takut ada perlawanan. Sebab yang berani berlawan itu orang komunis, anak-anaknya dikhawatirkan nanti akan mengobarkan perlawanan. Dalam UUD ‘45 Kedudukan Kepercayaan Sama Kerukunan beragama dalam Undang-Undang Dasar 1945 jelas ada klausulnya. Bahwa yang dimaksudkan dengan kepercayaan termasuk kedudukan yang sama di antara orang-orang yang percaya adanya Tuhan dan orang-orang tidak percaya adanya Tuhan. Sedangkan interpretasi yang hanya membolehkan percaya adanya Satu Tuhan itu berasal dari golongan yang sempit pandangannya. Untuk mengerti interpretasi yang benar, kita musti buka ke terangan aslinya dalam Undang-Undang Dasar 1945. Sebab, Kebatinan itu juga diakui. Sekarang umpamanya, Buddha itu, sebenarnya atheis, sebab dia tidak memuja Tuhan. Sidharta Gautama mengajarkan supaya kita menjadi manusia sadar. 40 tahun mengembara mencari Tuhan, lantas dia menemukan kebenaran. Kebenarannya, menurut Buddha, Tuhan itu tidak ada. Walaupun begitu Buddhisme diakui dalam Pancasila sebagai Kepercayaan. Sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa, ada keterangannya dan di dalam Undang-Undang Dasar 1945 disebutkan bahwa semua golongan kepercayaan diakui sederajat dan diinterpretasikan sebagai Kerukunan Beragama. Penjelasan tentang Pancasila sudah sejak semula, oleh Soekarno Bung Karno sendiri sebagai penggalinya. Ada keterangan-keterangan yang kemudian dimasukkan ke dalam UUD 1945 Bab 11 Pasal 29 Ayat 2, menyebut “Kepercayaan itu sederajat.” Aidit waktu itu bilang dia atheis dan Soedisman juga atheis, tetapi mereka tidak ditindak. Sekarang yang menjadi masalah pada bangsa Indonesia ini selain masalah Ketuhanan yang dijadikan persoalan untuk mengadakan pemaksaan bahwa Tuhan itu Satu, adalah bila tidak menerima Pancasila artinya tidak mau menerima UUD 1945 sebagai dasar negara. PKI dituduh tidak mau menerima Pancasila, tetapi itu sulit dibuktikan. Dalam sidang Konstituante, yang membela Pancasila adalah PKI. Ketika tahun 1958 Konstituante yang waktu itu akan menentukan Undang-Undang Dasar baru, mayoritas suara sudah menolak membentuk negara Islam, sebab di situ Nahdatul Ulama, Masyumi dan kelompok Islam lainnya itu dalam perbandingan sudah kalah suara. Tetapi Konstituante harus bisa menghimpun duapertiga suara dan ini tidak bisa memenuhi quorum. Kemudian PKI memberikan suaranya bukan untuk negara Islam tetapi untuk Pancasila. Ini sebagai peninggalan sejarah dari PKI, hingga dalam Undang-Undang Dasar 1945 Pancasila juga masih dipakai, walaupun dalam Sidang Konstituante itu pendukung Pancasila juga tidak bisa memenuhi quorum. Karena itulah lahir Dekrit Presiden untuk Kembali ke Undang- Undang Dasar 1945. Nah dalam Peristiwa di Madiun itu juga begitu, disiarkan fitnah bahwa muslim ditangkapi. Itu sudah berbau politik dengan menyalahgunakan agama. Suku Lawan Suku Itu Masalah Keterbelakangan Sejak sebelum Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, kita sudah sepakat untuk hidup berdampingan dalam Kebhinnekaan. Tak ayal, pada tahun-tahun awal Revolusi di Sumatra Utara terjadi pertikaian antarsuku, antara suku Batak Karo dan Batak Toba, antara suku Aceh dan Batak, atau Batak dan Minang. Tapi saya ingin kemukakan, bahwa Peristiwa Madiun agak lain dengan yang pernah terjadi di Sumatra Utara itu. Kalau mereka masih berkelahi untuk kepentingan suku, menurut saya – saya mendengarnya ketika berada di sana – mereka masih konservatif, terbelakang. Padahal UUD ’45 memerintahkan supaya kita, yang lebih terdidik mencerdaskan rakyat. Berikan pengertian politik bahwa perkelahian antarsuku tidak ada gunanya. Untuk apa? Coba pikir, itu kan keterbelakangan, sama dengan butahuruf, bahkan butapolitik. Tidak perlu ada pertentangan antarsuku dan pertentangan antaragama itu. Tentang Peristiwa Madiun, adalah tragedi nasional. Itu kita tidaksenang. Sama dengan Peristiwa Madiun tahun 1948, juga kita tidak senang dengan tragedi nasional G30S tahun 1965. Namun demikian apa jaminannya kalau di waktu yang akan datang tidak akan terulang lagi? Karena itu kita membicarakannya untuk menarik pelajaran. Dan pelajaran yang bisa ditarik adalah bahwa selama masih ada imperialisme, anti-komunisme, demikian pula fasisme, pengalaman buruk itu akan terulang. Tahanan Dipaksa Jadi Islam Waktu di tahanan Salemba, Jakarta, ribuan tahanan ditahan di sana. Padahal penjara Salemba cuma mampu menampung 600–800 orang, tetapi diisi oleh 2.500 orang. Lalu para tahanan dipaksa beragama. Walaupun mengaku Kristen lalu dilihat Kartu Tanda Penduduknya apakah memang Kristen. Memang banyak juga yang dalam Kartu Penduduknya ditulis beragama Islam. Walau dia mengaku Kristen tetapi kalau dalam KTP-nya tercantum beragama Islam, dia tidak diakui kekristenannya dan harus sembahyang dan berpuasa di bulan Ramadhan. Dalam kenyataan di Indonesia banyak orang yang Islamnya Islam abangan, artinya Islam tetapi tidak sembahyang 5- waktu. Ayah saya juga Islam tetapi Islam abangan. Di penjara sempit yang penuh sesak itu, azan dikumandangkan dengan suara nyaring. Maka terbangunlah semua. Bagi yang tak biasa sholat, ini cukup mengganggu. Agama dan MDH Saya sendiri orang Kristen. Tadinya saya beragama Islam. Saya menjadi Kristen karena mengikuti agama istri saya yang berayahkan seorang pendeta beragama Nasrani. Bagi saya apakah Kristen, apakah Islam atau Buddha, ini suatu plus, suatu kelebihan. Menurut saya, anggota Partai Komunis yang berideologi komunis dengan pedoman filsafat MDH - Materialisme Dialektika dan Histori - tidak musti atheis. Atheisme juga suatu kepercayaan. Theis juga kepercayaan. Di dalam UUD 45 kedua-duanya disejajarkan. Mengenai agama, Pak Musso – kurang atheis apa – tokh dia katakan, “Menurut teorinya, kita ini berideologi kerakyatan, artinya yang kita junjung itu rakyat. Agama masih menjadi milik rakyat, sebab rakyat tidak seperti kita yang ada kalanya dikatakan maju. Untuk bisa menjadi atheis, seseorang memerlukan syarat-syarat keilmuan. Jadi kalau rakyat kita di desa-desa itu masih mempunyai kepercayaan, jangankan agama, hantu saja juga mereka masih percaya, masih percaya gugon-tuhon - kepercayaan animisme. Karena itu milik rakyat maka kita harus membelanya. Dan untuk menghapusnya, berilah mereka pendidikan ilmu, nanti ia akan hilang sendiri. Kalau mereka umpamanya tidak suka agama, nanti agama itu akan hilang sendiri, tapi jangan dipaksa, jangan dimusuhi. Kenapa kita harus memusuhi orang beragama, itu sama saja kalau kita memusuhi Tuhan. Pengertian atheis itu bukan anti-Tuhan. Kalau kita percaya tidak ada Tuhan, sesuatu yang dipahami tidak ada, mengapa dimusuhi? Memusuhi yang dianggap tidak ada, itu kan bodoh. Jadi, tidak usah kita jadikan persoalan. Boleh, yang sudah maju itu sudah atheis, dengan pengertian jangan memusuhi yang menjadi milik rakyat, sekalipun itu dikatakan terbelakang. Mereka masih terbelakang, tapi menghilangkan keterbelakangan tidak bisa dengan paksa. Kasih mereka ilmu!” Sebagai orang Kristen terus terang saya katakan bahwa saya tidak setuju kalau agama itu diikut-ikutkan dengan urusan politik. Sebab agama itu soal pribadi, soal kepercayaan yang tidak akan mengganggu saya untuk menjalankan disiplin dan tugas-tugas partai. Jadi jangan dicampuradukkan. Menurut saya, kalau kepada rakyat Indonesia kita katakan, “Ini pemimpin PKI atau anggota PKI, kami ini atheis,” itu apa gunanya? Sebab massa kita masih belum mempunyai kesadaran untuk memilah-milah persoalannya. Kalau secara ilmiah anggota partai itu kader, yang artinya bahwa kader lebih maju pikirannya. Kalau yang belum menjadi anggota partai pikirannya belum semaju itu. Dia masih terbelakang kesadarannya; nanti kalau mereka sudah maju pikirannya mereka sendiri yang akan melakukan itu. Itu tidak akan mengganggu apa-apa. Masyumi Menggunakan Fanatisme Agama Sejak didirikan pada zaman Jepang, Masyumi memang sudah digunakan untuk melawan komunis! Sukiman, terus terang kalau saya bicara terbuka, apa yang bisa dihormati dari dia? Zaman Belanda Sukiman sudah bekerja sebagai dokter, tapi bersikap kanan sekali menjilat Belanda. Tujuannya, supaya gerakannya, gerakan kanan, bisa dapat bermacam fasilitas dari Belanda, sampai tentara Jepang masuk. Tidak tahu saya apakah karena keyakinan agamanya. Tetapi Boechori yang juga orang Islam, benci sekali kepada Sukiman. Ketika terjadi Peristiwa PRRI, statement Aidit menyatakan bahwa sikap PNI itu baik, seperti juga Idham Chalid, Ketua NU waktu itu. Kalau Masyumi, yang didirikan pada zaman Jepang, berpolitik dengan menggunakan fanatisme agama. Akibat korban dari pengaruh pemanfaatan yang disebabkan oleh fanatisme agama ini sampai ada juga yang mempertanyakan: “Ik kan niet begrijpen - Saya tidak bisa mengerti - mengapa sampai begitu banyak yang dibunuhi. Katanya semua orang memeluk suatu agama. Siapa itu yang membunuhi?” Jawabannya ialah bahwa yang bertanggungjawab atas pembunuhan itu adalah Suharto. Tentara pun banyak yang tidak sampai hati membunuhi. Tetapi yang banyak melakukan pembunuhan adalah orang-orang Islam fanatik, yang dalam benak mereka yang mereka bunuhi adalah orang-orang kafir. Pembunuhan atas orang yang disangka komunis itu, konon, itu tidak ada dosanya, malah akan mendapat pahala. Itu sebabnya mengapa Abdurrahman Wahid meminta maaf kepada kita. Banyak yang mati dibunuh di Malang yang saya lihat bekas-bekasnya, dan yang melakukannya adalah orang Islam, tetapi di belakangnya tentara. Walaupun setelah “diamankan” di penjara, mereka masih disiksa, di-bon, dipotong lehernya, dilemparkan ke dalam satu jurang – ada kalanya satu lubang bisa berisi 200 orang korban pembunuhan. Pelakunya banyak orang Islam. Ini bukan Islam atau orang Islamnya yang menjadi masalah, tetapi Islam dipakai untuk tujuan politik. Terjadinya pertempuran antara kelompok Kristen dan Islam di Maluku yang lalu itu bukanlah suatu pertikaian agama, tetapi politik. Di belakangnya itu politik. Contohnya “Laskar Jihad”, yang memakai kekuatan Islam untuk kepentingan politik. Islam sangat mudah memobilisasi rakyat dan mendapat pengikut karena istilah Hisbullah berarti Tentara Allah. Jihad itu juga Tentara Allah yang berbuat untuk Allah. Demikian juga Masyumi, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Namun Abdurrahman Wahid dengan NU dan Partai Kebangkitan Bangsa - PKB-nya tidak anti-komunis. Bagusnya, masih belum ada kelompok yang menggunakan agama Kristen untuk kepentingan politik seperti itu. Ada Partai Kristen Nasional, tetapi kurang pengaruhnya atau bahkan tidak mempunyai pengaruh. Sebenarnya membicarakan atheis dan theis itu tak ada manfaatnya, lain halnya kalau soal perjuangan anti imperialis, karena imperialis itu nyata. Imperialis Belanda, imperialis Amerika, dan imperialis Inggris, bersama-sama pada membuat jaringan intel dan semuanya itu adalah sumber teror. Kutipan selesai. Dengan harapan juga akan bisa menambah pengetahuan minimal sejarah yang diperlukan oleh para elite Indonesia, baik yang paling tinggi dan punya wewenang menentukan politik kenegaraan Indonesia, yang sipil maupun militer. Salam Lusi.- Beginn der weitergeleiteten Nachricht: Datum: Sat, 7 Oct 2017 21:00:31 +1100 (AEDT) Von: "Yoseph T Taher [email protected] [GELORA45]" <[email protected]> An: [email protected] Betreff: Re: [GELORA45] Panglima TNI: Pancasila Hadiah Terbaik Umat Islam untuk Indonesia Kalau Pancasila adalah 'HADIAH TERBAIK' umat Islam untuk Indonesia, kenapa dalam sidang Konstituante RI 1957, semua Partai Islam ingin menjadikan Islam sebagai Dasar negara menggantikan Pancasila dan hanya PNI dan PKI yang berjuang mati-matian mempertahankan Pancasila sebagai Dasar Negara? Apakah Panglima pernah mempelajari sejarah Konstituante tahun 1957 itu? "Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah" kata Bung Karno Penggali Pancasila. ------ Original Message ------ From: "Sunny ambon [email protected] [GELORA45]" <[email protected]> To: Sent: Saturday, 7 Oct, 2017 At 8:24 PM Subject: [GELORA45] Panglima TNI: Pancasila Hadiah Terbaik Umat Islam untuk Indonesia Apakah para ulama mendiskusikan dan mendebatkan Pancasila sebelum diumumkan ataukah tergantung siapa yang bicara, jadi bisa seperti gado-gado dengan tambahan bumbu istimewa, yang akhirnya menjadi Pancasial! heheheheh http://www.suara-islam.com/read/kabar/nasional/23796/Panglima-TNI-Pancasila-Hadiah-Terbaik-Umat-Islam-untuk-Indonesia <http://www.suara-islam.com/read/kabar/nasional/23796/Panglima-TNI-Pancasila-Hadiah-Terbaik-Umat-Islam-untuk-Indonesia> Panglima TNI: Pancasila Hadiah Terbaik Umat Islam untuk Indonesia 06 Oktober 23:04 | Dilihat : 187 Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmatyo menjadi pembicara dalam Pengajian Bulanan di PP Muhammadiyah, Jumat malam (06/10/2017). [foto: sindonews.com <http://sindonews.com> ] Jakarta (SI Online) - Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmatyo mengatakan, Pancasila, dasar dan Ideologi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan sebuah hadiah terbaik umat Islam untuk NKRI. Bukan tanpa sebab, Gatot melanjutkan, Pancasila merupakan produk dari pemikiran-pemikiran para ulama terdahulu untuk merumuskan dasar negara, termasuk Undang-Undang Dasar 1945. "Dalam merumuskan ini, pembuka Undang-Undang Dasar 45 pun bahasanya berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa, punya siapa itu? Islam," ujar dia dalam acara pengajian bulanan di Kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Jalan Menteng Raya No.62, Jumat (6/10/2017), seperti dilansir Republika Online. Pengajian yang bertemakan "Islam, TNI dan Kedaulatan Bangsa" tersebut, Gatot mengatakan, kemerdekaan Indonesia pun merupakan bagian besar dari perjuangan para Kyai yang memimpin dan menyatukan kekuatan Indonesia. Kyai, kata dia, mengambil andil memobilisasi perjuangan kemerdekaan, bahkan saat itu Tentara Indonesia pun belum ada. Gato juga menjelaskan, kelahiran Tentara Nasional Indonesia pun tidak terlepas dari peran besar umat Islam. Masa Kemerdekaan, Umat Islam yang menjaga kedaulatan adalah cikal bakal lahirnya Tentara Indonesia. "Tentara asal usulnya berasal dari umat islam, sudah pasti itu, dari mana lagi? dalam konteks kedaulatan ini, para pejuang tersebut berpikir bahwa kita dalam menjaga kedaulatan harus membuat rambu-rambu, sehingga dibentuk BPUPKI yang isinya kyai juga," ujar dia lagi. Oleh karena itu, kata dia, jangan sampai ada sekelompok yang merasa paling berjasa dalam kemerdekaan Indonesia. Sebab, kata dia, fakta tak terpisahkan andil besar umat Islam dalam kemerdekaan Indonesia tidak bisa terbantahkan lagi. "Jadi, zaman sekarang ini jangan sok-sokan seolah-olah dia yang memerdekakan bangsa ini," kata Gatot yang entah menyindir kelompok mana. Sebab itulah, lanjut Gatot, apa yang menjadi landasan Indonesia saat ini, yakni Pancasila merupakan wujud umat Islam sebagai mayoritas di Indonesia mampu melindungi, dan menangi agama lainnya di bawah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Barang siapa yang akan merubah Pancasila, kata dia, berarti menginginkan perpecahan Indonesia. "Umat Islam menaungi melindungi agama lainnya dengan membuat Ketuhanan Yang Maha Esa. Jangan diubah lagi, itu warisan," ujar dia. []
|
Kalau Pancasila adalah 'HADIAH TERBAIK' umat Islam untuk Indonesia, kenapa dalam sidang Konstituante RI 1957, semua Partai Islam ingin menjadikan Islam sebagai Dasar negara menggantikan Pancasila dan hanya PNI dan PKI yang berjuang mati-matian mempertahankan Pancasila sebagai Dasar Negara? Apakah Panglima pernah mempelajari sejarah Konstituante tahun 1957 itu? "Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah" kata Bung Karno Penggali Pancasila.
|
Soemarsono- Revolusi Agustus - V Masalah Kerbudayaan - 100817.pdf
Description: Adobe PDF document
