Ikut menambah pandangan bung Yoseph T Taher dekh.

Untuk menambah wawasan pengetahuan sejarah kita tentang perjuangan
rakyat Indonesia dalam memenangkan Filsafat Pancasila dan menolak usul
bentuk negara Islam Indonesia dalam Sidang Konstituante yang waktu itu
dalam rangka untuk menentukan Undang-Undang Dasar baru Negara Republik
Indonesia seperti dan juga sesuai dengan catatan sejarah, saya cuplikkan
karya Soemarsono - Revolusi Agustus, Bab V Bagian V: Masalah Kebudayaan,
Hasta Mitra hlm.261-267 Jkt 2008.
Juga saya kirimkan per pdf.

Kutipan mulai:

V. Masalah Kebudayaan

Theis atau Atheis Itu Soal Kepercayaan

Agama adalah masalah kepercayaan. Tidak ada yang mengatakan agama itu
masalah rasional. Tapi yang disebut kepercayaan, bukan soal agama saja.
Misalnya mengenai Buddha. Ajaran Buddha itu agama. Tapi Buddha -
Sidharta Gautama - sebenarnya dia orang atheis, tak bertuhan. Hanya
percaya kepada lakunya sendiri. Laku sendirilah yang bisa membikin diri
bebas dan mencapai bodhisatwa. Tapi tidak ada pujian dari Buddha pada
Tuhan. Buddha di Tiongkok atau juga Buddha di tempat lain. Buddha
sebenarnya berarti Aku menemukan kebenaran, mendapatkan kejelasan. Yang
dimaksud Buddha ialah menemukan kebenaran, sedang Tuhan yang dicarinya
tidak ada. Jadi yang ada itu apa? Diri kita. Kita musti mensucikan diri
kita. Menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan yang merugikan orang.
Sebab perbuatan yang tidak baik, menurut Buddha, ada karmanya. Jadi
kalau kita nanti berbuat makin lama makin baik melalui kehidupan
beralih-alih yang akhirnya mencapai bodhisatwa. Tapi Buddhisme adalah
atheisme, paham tidak mempercayai adanya Tuhan. Di dalam UUD 45
Buddhisme disejajarkan dengan aliran kepercayaan. Theis dan atheis itu
sama- sama kepercayaan. Yang satu percaya ada Tuhan yang lainnya
atheis, percaya tidak ada Tuhan. Tetapi sekarang atheis diartikan
anti-Tuhan. Ini tuduhan tidak logis. Sudah dinyatakan bahwa tidak ada
Tuhan, kok mau memerangi Tuhan, sesuatu yang tidak ada. 

Itu masalah kepercayaan. Tapi kenyataannya ada orang yang menuduh orang
lain mau memerangi Tuhan. Dalam sejarah Perang Salib, kruistocht
orloogen sebenarnya berlatar belakang politik. Perang Palestina – Israel
sebenarnya bukan masalah agama, tapi politik. Politik menggunakan
agama. Di zaman modern orang-orang menyerukan tidak menggunakan agama
sebagai alat politik. Bagus juga, memisahkan antara soal politik dan
agama. Agama ya agama. Tapi di Indonesia belum sampai bisa yang begitu
itu. Oleh sebab itu Bung Karno merumuskan Ketuhanan Yang Maha Esa
sebagai kerukunan beragama, kerukunan kepercayaan. Kalau sekarang orang
saling membunuh karena perkara agama, itu ‘kan perbuatan paling
terbelakang. Salah satu kewajiban kita, menurut UUD 45, bagaimana
mencerdaskan supaya rakyat kita itu berpikiran maju. 

Di Surabaya saya mengenal tokoh Islam Pak Dibjo dari Partai Sarikat
Islam Indonesia - PSII. Soedibjo dulu di zaman Bung Karno pernah jadi
Menteri Urusan Pengerahan Tenaga Rakyat, disingkat Petera. Dia memimpin
Hisbullah waktu di Surabaya. Hisbullah yang dipimpinnya dekat sekali
dengan Pesindo yang beraliran kiri. 

Sila Pertama Pancasila demi Kerukunan Beragama 

Sila pertama Pancasila adalah Ketuhanan Yang Maha Esa, yang menurut
Bung Karno bermakna kerukunan dalam beragama. Jadi buat apa pengikut
agama dengan pengikut agama bertempur? Tuhan tidak menyuruh kita saling
membunuh. Tetapi dalam politik, antara orang komunis dan anti- komunis,
yang anti-komunis membunuhi kaum komunis. Contohnya fitnahan bahwa di
Madiun katanya ribuan ulama ditangkapi dan diperlakukan kejam oleh kaum
komunis. Semua itu omong kosong. Sebab tak ada gunanya orang komunis
membunuhi kaum anti-komunis. 

Lalu mesti diapakan orang yang anti-komunis itu? Ya diberi penerangan,
diberi pengertian bahwa orang komunis membela rakyat, orang komunis
paling berperi-kemanusiaan. Sebaliknya, tuduhan bahwa orang komunis itu
anti-Tuhan telah menimbulkan banyak sekali korban waktu G30S, dengan
Suharto sebagai yang bertanggung jawab. Di dalam tahanan zaman Suharto,
saya bertemu dengan seorang yang belakangan masuk penjara juga. Suharto
memerintahkan menghabisi siapa saja yang menentangnya, yang komunis
maupun penganut Islam. Dia termasuk orang yang menjadi saksi dan dia
pernah bertemu dan bertanya pada Suharto: “Bagaimana ini?”

“Ya hilangkan saja!” jawab Suharto. 

Itu kebijaksanaan “tumpas-kelor”. Dihabisi sampai anak-anak kita
dikejar-kejar dan tidak diberi kebebasan, didiskriminasi sedemikian
rupa, dan diberi cap “anaknya Tapol”. Suharto melakukan hal itu karena
dia sebenarnya takut ada perlawanan. Sebab yang berani berlawan itu
orang komunis, anak-anaknya dikhawatirkan nanti akan mengobarkan
perlawanan. 

Dalam UUD ‘45 Kedudukan Kepercayaan Sama 

Kerukunan beragama dalam Undang-Undang Dasar 1945 jelas ada klausulnya.
Bahwa yang dimaksudkan dengan kepercayaan termasuk kedudukan yang sama
di antara orang-orang yang percaya adanya Tuhan dan orang-orang tidak
percaya adanya Tuhan. Sedangkan interpretasi yang hanya membolehkan
percaya adanya Satu Tuhan itu berasal dari golongan yang sempit
pandangannya. Untuk mengerti interpretasi yang benar, kita musti buka
ke terangan aslinya dalam Undang-Undang Dasar 1945. Sebab, Kebatinan
itu juga diakui. Sekarang umpamanya, Buddha itu, sebenarnya atheis,
sebab dia tidak memuja Tuhan. Sidharta Gautama mengajarkan supaya kita
menjadi manusia sadar. 40 tahun mengembara mencari Tuhan, lantas dia
menemukan kebenaran. Kebenarannya, menurut Buddha, Tuhan itu tidak ada.
Walaupun begitu Buddhisme diakui dalam Pancasila sebagai Kepercayaan.
Sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa, ada keterangannya dan di dalam
Undang-Undang Dasar 1945 disebutkan bahwa semua golongan kepercayaan
diakui sederajat dan diinterpretasikan sebagai Kerukunan Beragama.
Penjelasan tentang Pancasila sudah sejak semula, oleh Soekarno Bung
Karno sendiri sebagai penggalinya. Ada keterangan-keterangan yang
kemudian dimasukkan ke dalam UUD 1945 Bab 11 Pasal 29 Ayat 2, menyebut
“Kepercayaan itu sederajat.” Aidit waktu itu bilang dia atheis dan
Soedisman juga atheis, tetapi mereka tidak ditindak. Sekarang yang
menjadi masalah pada bangsa Indonesia ini selain masalah Ketuhanan yang
dijadikan persoalan untuk mengadakan pemaksaan bahwa Tuhan itu Satu,
adalah bila tidak menerima Pancasila artinya tidak mau menerima UUD
1945 sebagai dasar negara. 

PKI dituduh tidak mau menerima Pancasila, tetapi itu sulit dibuktikan.
Dalam sidang Konstituante, yang membela Pancasila adalah PKI. Ketika
tahun 1958 Konstituante yang waktu itu akan menentukan Undang-Undang
Dasar baru, mayoritas suara sudah menolak membentuk negara Islam, sebab
di situ Nahdatul Ulama, Masyumi dan kelompok Islam lainnya itu dalam
perbandingan sudah kalah suara. Tetapi Konstituante harus bisa
menghimpun duapertiga suara dan ini tidak bisa memenuhi quorum.
Kemudian PKI memberikan suaranya bukan untuk negara Islam tetapi untuk
Pancasila. Ini sebagai peninggalan sejarah dari PKI, hingga dalam
Undang-Undang Dasar 1945 Pancasila juga masih dipakai, walaupun dalam
Sidang Konstituante itu pendukung Pancasila juga tidak bisa memenuhi
quorum. Karena itulah lahir Dekrit Presiden untuk Kembali ke Undang-
Undang Dasar 1945. Nah dalam Peristiwa di Madiun itu juga begitu,
disiarkan fitnah bahwa muslim ditangkapi. Itu sudah berbau politik
dengan menyalahgunakan agama. 

Suku Lawan Suku Itu Masalah Keterbelakangan 

Sejak sebelum Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, kita sudah sepakat
untuk hidup berdampingan dalam Kebhinnekaan. Tak ayal, pada tahun-tahun
awal Revolusi di Sumatra Utara terjadi pertikaian antarsuku, antara
suku Batak Karo dan Batak Toba, antara suku Aceh dan Batak, atau Batak
dan Minang. Tapi saya ingin kemukakan, bahwa Peristiwa Madiun agak lain
dengan yang pernah terjadi di Sumatra Utara itu. Kalau mereka masih
berkelahi untuk kepentingan suku, menurut saya – saya mendengarnya
ketika berada di sana – mereka masih konservatif, terbelakang. Padahal
UUD ’45 memerintahkan supaya kita, yang lebih terdidik mencerdaskan
rakyat. Berikan pengertian politik bahwa perkelahian antarsuku tidak ada
gunanya. Untuk apa? Coba pikir, itu kan keterbelakangan, sama dengan
butahuruf, bahkan butapolitik. Tidak perlu ada pertentangan antarsuku
dan pertentangan antaragama itu. Tentang Peristiwa Madiun, adalah
tragedi nasional. Itu kita tidaksenang. Sama dengan Peristiwa Madiun
tahun 1948, juga kita tidak senang dengan tragedi nasional G30S tahun
1965. Namun demikian apa jaminannya kalau di waktu yang akan datang
tidak akan terulang lagi? Karena itu kita membicarakannya untuk menarik
pelajaran. Dan pelajaran yang bisa ditarik adalah bahwa selama masih
ada imperialisme, anti-komunisme, demikian pula fasisme, pengalaman
buruk itu akan terulang. 

Tahanan Dipaksa Jadi Islam 

Waktu di tahanan Salemba, Jakarta, ribuan tahanan ditahan di sana.
Padahal penjara Salemba cuma mampu menampung 600–800 orang, tetapi
diisi oleh 2.500 orang. Lalu para tahanan dipaksa beragama. Walaupun
mengaku Kristen lalu dilihat Kartu Tanda Penduduknya apakah memang
Kristen. Memang banyak juga yang dalam Kartu Penduduknya ditulis
beragama Islam. Walau dia mengaku Kristen tetapi kalau dalam KTP-nya
tercantum beragama Islam, dia tidak diakui kekristenannya dan harus
sembahyang dan berpuasa di bulan Ramadhan. Dalam kenyataan di Indonesia
banyak orang yang Islamnya Islam abangan, artinya Islam tetapi tidak
sembahyang 5- waktu. Ayah saya juga Islam tetapi Islam abangan. Di
penjara sempit yang penuh sesak itu, azan dikumandangkan dengan suara
nyaring. Maka terbangunlah semua. Bagi yang tak biasa sholat, ini cukup
mengganggu. 

Agama dan MDH 

Saya sendiri orang Kristen. Tadinya saya beragama Islam. Saya menjadi
Kristen karena mengikuti agama istri saya yang berayahkan seorang
pendeta beragama Nasrani. Bagi saya apakah Kristen, apakah Islam atau
Buddha, ini suatu plus, suatu kelebihan. Menurut saya, anggota Partai
Komunis yang berideologi komunis dengan pedoman filsafat MDH -
Materialisme Dialektika dan Histori - tidak musti atheis. Atheisme juga
suatu kepercayaan. Theis juga kepercayaan. Di dalam UUD 45 kedua-duanya
disejajarkan. 

Mengenai agama, Pak Musso – kurang atheis apa – tokh dia katakan,
“Menurut teorinya, kita ini berideologi kerakyatan, artinya yang kita
junjung itu rakyat. Agama masih menjadi milik rakyat, sebab rakyat
tidak seperti kita yang ada kalanya dikatakan maju. Untuk bisa menjadi
atheis, seseorang memerlukan syarat-syarat keilmuan. Jadi kalau rakyat
kita di desa-desa itu masih mempunyai kepercayaan, jangankan agama,
hantu saja juga mereka masih percaya, masih percaya gugon-tuhon
- kepercayaan animisme. Karena itu milik rakyat maka kita harus
membelanya. Dan untuk menghapusnya, berilah mereka pendidikan ilmu,
nanti ia akan hilang sendiri. Kalau mereka umpamanya tidak suka agama,
nanti agama itu akan hilang sendiri, tapi jangan dipaksa, jangan
dimusuhi. Kenapa kita harus memusuhi orang beragama, itu sama saja
kalau kita memusuhi Tuhan. Pengertian atheis itu bukan anti-Tuhan.
Kalau kita percaya tidak ada Tuhan, sesuatu yang dipahami tidak ada,
mengapa dimusuhi? Memusuhi yang dianggap tidak ada, itu kan bodoh.
Jadi, tidak usah kita jadikan persoalan. Boleh, yang sudah maju itu
sudah atheis, dengan pengertian jangan memusuhi yang menjadi milik
rakyat, sekalipun itu dikatakan terbelakang. Mereka masih terbelakang,
tapi menghilangkan keterbelakangan tidak bisa dengan paksa. Kasih
mereka ilmu!” 

Sebagai orang Kristen terus terang saya katakan bahwa saya tidak setuju
kalau agama itu diikut-ikutkan dengan urusan politik. Sebab agama itu
soal pribadi, soal kepercayaan yang tidak akan mengganggu saya untuk
menjalankan disiplin dan tugas-tugas partai. Jadi jangan
dicampuradukkan. Menurut saya, kalau kepada rakyat Indonesia kita
katakan, “Ini pemimpin PKI atau anggota PKI, kami ini atheis,” itu apa
gunanya? Sebab massa kita masih belum mempunyai kesadaran untuk
memilah-milah persoalannya. Kalau secara ilmiah anggota partai itu
kader, yang artinya bahwa kader lebih maju pikirannya. Kalau yang belum
menjadi anggota partai pikirannya belum semaju itu. Dia masih
terbelakang kesadarannya; nanti kalau mereka sudah maju pikirannya
mereka sendiri yang akan melakukan itu. Itu tidak akan mengganggu
apa-apa.

Masyumi Menggunakan Fanatisme Agama 

Sejak didirikan pada zaman Jepang, Masyumi memang sudah digunakan untuk
melawan komunis! Sukiman, terus terang kalau saya bicara terbuka, apa
yang bisa dihormati dari dia? Zaman Belanda Sukiman sudah bekerja
sebagai dokter, tapi bersikap kanan sekali menjilat Belanda. Tujuannya,
supaya gerakannya, gerakan kanan, bisa dapat bermacam fasilitas dari
Belanda, sampai tentara Jepang masuk. Tidak tahu saya apakah karena
keyakinan agamanya. Tetapi Boechori yang juga orang Islam, benci sekali
kepada Sukiman. Ketika terjadi Peristiwa PRRI, statement Aidit
menyatakan bahwa sikap PNI itu baik, seperti juga Idham Chalid, Ketua
NU waktu itu. Kalau Masyumi, yang didirikan pada zaman Jepang,
berpolitik dengan menggunakan fanatisme agama. 

Akibat korban dari pengaruh pemanfaatan yang disebabkan oleh fanatisme
agama ini sampai ada juga yang mempertanyakan: 

“Ik kan niet begrijpen - Saya tidak bisa mengerti - mengapa sampai
begitu banyak yang dibunuhi. Katanya semua orang memeluk suatu agama.
Siapa itu yang membunuhi?” 

Jawabannya ialah bahwa yang bertanggungjawab atas pembunuhan itu adalah
Suharto. Tentara pun banyak yang tidak sampai hati membunuhi. Tetapi
yang banyak melakukan pembunuhan adalah orang-orang Islam fanatik, yang
dalam benak mereka yang mereka bunuhi adalah orang-orang kafir.
Pembunuhan atas orang yang disangka komunis itu, konon, itu tidak ada
dosanya, malah akan mendapat pahala. Itu sebabnya mengapa Abdurrahman
Wahid meminta maaf kepada kita. Banyak yang mati dibunuh di Malang yang
saya lihat bekas-bekasnya, dan yang melakukannya adalah orang Islam,
tetapi di belakangnya tentara. Walaupun setelah “diamankan” di penjara,
mereka masih disiksa, di-bon, dipotong lehernya, dilemparkan ke dalam
satu jurang – ada kalanya satu lubang bisa berisi 200 orang korban
pembunuhan. Pelakunya banyak orang Islam. Ini bukan Islam atau orang
Islamnya yang menjadi masalah, tetapi Islam dipakai untuk tujuan
politik. 

Terjadinya pertempuran antara kelompok Kristen dan Islam di Maluku yang
lalu itu bukanlah suatu pertikaian agama, tetapi politik. Di
belakangnya itu politik. Contohnya “Laskar Jihad”, yang memakai
kekuatan Islam untuk kepentingan politik. Islam sangat mudah
memobilisasi rakyat dan mendapat pengikut karena istilah Hisbullah
berarti Tentara Allah. Jihad itu juga Tentara Allah yang berbuat untuk
Allah. Demikian juga Masyumi, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.
Namun Abdurrahman Wahid dengan NU dan Partai Kebangkitan Bangsa -
PKB-nya tidak anti-komunis. Bagusnya, masih belum ada kelompok yang
menggunakan agama Kristen untuk kepentingan politik seperti itu. Ada
Partai Kristen Nasional, tetapi kurang pengaruhnya atau bahkan tidak
mempunyai pengaruh. 

Sebenarnya membicarakan atheis dan theis itu tak ada manfaatnya, lain
halnya kalau soal perjuangan anti imperialis, karena imperialis itu
nyata. 

Imperialis Belanda, imperialis Amerika, dan imperialis Inggris,
bersama-sama pada membuat jaringan intel dan semuanya itu adalah sumber
teror.

Kutipan selesai.


Dengan harapan juga akan bisa menambah pengetahuan minimal sejarah yang
diperlukan oleh para elite Indonesia, baik yang paling tinggi dan punya
wewenang menentukan politik kenegaraan Indonesia, yang sipil maupun
militer.

Salam
Lusi.-







Beginn der weitergeleiteten Nachricht:

Datum: Sat, 7 Oct 2017 21:00:31 +1100 (AEDT)
Von: "Yoseph T Taher [email protected] [GELORA45]"
<[email protected]> An: [email protected]
Betreff: Re: [GELORA45] Panglima TNI: Pancasila Hadiah Terbaik Umat
Islam untuk Indonesia


Kalau Pancasila adalah 'HADIAH TERBAIK' umat Islam untuk Indonesia, 
kenapa dalam sidang Konstituante RI 1957, semua Partai Islam ingin 
menjadikan Islam sebagai Dasar negara menggantikan Pancasila dan hanya 
PNI dan PKI yang berjuang mati-matian mempertahankan Pancasila sebagai 
Dasar Negara? Apakah Panglima pernah mempelajari sejarah Konstituante 
tahun 1957 itu? "Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah" kata Bung 
Karno Penggali Pancasila.

------ Original Message ------
From: "Sunny ambon [email protected] [GELORA45]" 
<[email protected]>
To:
Sent: Saturday, 7 Oct, 2017 At 8:24 PM
Subject: [GELORA45] Panglima TNI: Pancasila Hadiah Terbaik Umat Islam 
untuk Indonesia
     
   
       
  Apakah para ulama mendiskusikan dan mendebatkan Pancasila sebelum 
diumumkan  ataukah tergantung siapa yang bicara, jadi bisa seperti 
gado-gado dengan tambahan bumbu istimewa,  yang akhirnya menjadi 
Pancasial! heheheheh

http://www.suara-islam.com/read/kabar/nasional/23796/Panglima-TNI-Pancasila-Hadiah-Terbaik-Umat-Islam-untuk-Indonesia
 
<http://www.suara-islam.com/read/kabar/nasional/23796/Panglima-TNI-Pancasila-Hadiah-Terbaik-Umat-Islam-untuk-Indonesia>

   Panglima TNI: Pancasila Hadiah Terbaik Umat Islam untuk Indonesia
06 Oktober 23:04 | Dilihat : 187  
  Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmatyo menjadi pembicara dalam
   Pengajian Bulanan di PP Muhammadiyah, Jumat malam (06/10/2017).
   [foto: sindonews.com <http://sindonews.com> ]
Jakarta (SI Online) - Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmatyo mengatakan, 
Pancasila, dasar dan Ideologi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) 
merupakan sebuah hadiah terbaik umat Islam untuk NKRI. Bukan tanpa 
sebab, Gatot melanjutkan, Pancasila merupakan produk dari 
pemikiran-pemikiran para ulama terdahulu untuk merumuskan dasar negara, 
termasuk Undang-Undang Dasar 1945.
"Dalam merumuskan ini, pembuka Undang-Undang Dasar 45 pun bahasanya 
berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa, punya siapa itu? Islam," ujar dia 
dalam acara pengajian bulanan di Kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah, 
Jalan Menteng Raya No.62, Jumat (6/10/2017), seperti dilansir Republika 
Online.
Pengajian yang bertemakan "Islam, TNI dan Kedaulatan Bangsa" tersebut, 
Gatot mengatakan, kemerdekaan
Indonesia pun merupakan bagian besar dari perjuangan para Kyai yang 
memimpin dan menyatukan kekuatan Indonesia. Kyai, kata dia, mengambil 
andil memobilisasi perjuangan kemerdekaan, bahkan saat itu Tentara 
Indonesia pun belum ada.
Gato juga menjelaskan, kelahiran Tentara Nasional Indonesia pun tidak 
terlepas dari peran besar umat Islam. Masa Kemerdekaan, Umat Islam yang 
menjaga kedaulatan adalah cikal bakal lahirnya Tentara Indonesia.
"Tentara asal usulnya berasal dari umat islam, sudah pasti itu, dari 
mana lagi? dalam konteks kedaulatan ini, para pejuang tersebut berpikir 
bahwa kita dalam menjaga kedaulatan harus membuat rambu-rambu, sehingga 
dibentuk BPUPKI yang isinya kyai juga," ujar dia lagi.
Oleh karena itu, kata dia, jangan sampai ada sekelompok yang merasa 
paling berjasa dalam kemerdekaan Indonesia. Sebab, kata dia, fakta tak 
terpisahkan andil besar umat Islam dalam kemerdekaan Indonesia tidak 
bisa terbantahkan lagi. 
"Jadi, zaman sekarang ini jangan sok-sokan seolah-olah dia yang 
memerdekakan bangsa ini," kata Gatot yang entah menyindir kelompok mana.
Sebab itulah, lanjut Gatot, apa yang menjadi landasan Indonesia saat 
ini, yakni Pancasila merupakan wujud umat Islam sebagai mayoritas di 
Indonesia mampu melindungi, dan menangi agama lainnya di bawah Negara 
Kesatuan Republik Indonesia. Barang siapa yang akan merubah Pancasila, 
kata dia, berarti menginginkan perpecahan Indonesia. 
"Umat Islam menaungi melindungi agama lainnya dengan membuat Ketuhanan 
Yang Maha Esa. Jangan diubah lagi, itu warisan," ujar dia. []


       
                 

                 
 

Kalau Pancasila adalah 'HADIAH TERBAIK' umat Islam untuk Indonesia, kenapa dalam sidang Konstituante RI 1957, semua Partai Islam ingin menjadikan Islam sebagai Dasar negara menggantikan Pancasila dan hanya PNI dan PKI yang berjuang mati-matian mempertahankan Pancasila sebagai Dasar Negara? Apakah Panglima pernah mempelajari sejarah Konstituante tahun 1957 itu? "Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah" kata Bung Karno Penggali Pancasila.



------ Original Message ------
From: "Sunny ambon [email protected] [GELORA45]" <[email protected]>
To:
Sent: Saturday, 7 Oct, 2017 At 8:24 PM
Subject: [GELORA45] Panglima TNI: Pancasila Hadiah Terbaik Umat Islam untuk Indonesia

   
& nbsp;
     
                   


Apakah para ulama mendiskusikan dan mendebatkan Pancasila sebelum diumumkan  ataukah tergantung siapa yang bicara, jadi bisa seperti gado-gado dengan tambahan bumbu istimewa,  yang akhirnya menjadi Pancasial! heheheheh


http://www.suara-islam.com/read/kabar/nasional/23796/Panglima-TNI-Pancasila-Hadiah-Terbaik-Umat-Islam-untuk-Indonesia



Panglim a TNI: Pancasila Hadiah Terbaik Umat Islam untuk Indonesia

06 Oktober 23:04 | Dilihat : 187  

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmatyo menjadi pembicara dalam Pengajian Bulanan di PP Muhammadiyah, Jumat malam (06/10/2017). [foto: sindonews.com]

Jakarta (SI Online) - Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmatyo mengatakan, Pancasila, dasar dan Ideologi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan sebuah hadiah terbaik umat Islam untuk NKRI. Bukan tanpa sebab, Gatot melanjutkan, Pancasila merupakan produk dari pemikiran-pemikiran para ulama terdahulu untuk merumuskan dasar negara, termasuk Undang-Undang Dasar 1945.

"Dalam merumuskan ini, pembuka Undang-Undang Dasar 45 pun bahasanya berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa, punya siapa itu? Islam," ujar dia dalam acara pengajian bulanan di Kantor Pimpinan Pusat Muha mmadiyah, Jalan Menteng Raya No.62, Jumat (6/10/2017), seperti dilansir Republika Online.

Pengajian yang bertemakan "Islam, TNI dan Kedaulatan Bangsa" tersebut, Gatot mengatakan, kemerdekaan
Indonesia pun merupakan bagian besar dari perjuangan para Kyai yang memimpin dan menyatukan kekuatan Indonesia. Kyai, kata dia, mengambil andil memobilisasi perjuangan kemerdekaan, bahkan saat itu Tentara Indonesia pun belum ada.

Gato juga menjelaskan, kelahiran Tentara Nasional Indonesia pun tidak terlepas dari peran besar umat Islam. Masa Kemerdekaan, Umat Islam yang menjaga kedaulatan adalah cikal bakal lahirnya Tentara Indonesia.

"Tentara asal usulnya berasal dari umat islam, sudah pasti itu, dari mana lagi? dalam konteks kedaulatan ini, para pejuang tersebut berpikir bahwa kita dalam menjaga kedaulatan harus membuat rambu-rambu, sehingga dibentuk BPUPKI yang isinya kyai juga," ujar dia lagi.

Oleh karena itu, kata dia, jangan sampai ada sekelompok yang merasa paling berjasa dalam kemerdekaan Indonesia. Sebab, kata dia, fakta tak terpisahkan andil besar umat Islam dalam kemerdekaan Indonesia tidak bisa terbantahkan lagi. 

"Jadi, zaman sekarang ini jangan sok-sokan seolah-olah dia yang memerdekakan bangsa ini," kata Gatot yang entah menyindir kelompok mana.

Sebab itulah, lanjut Gatot, apa yang menjadi landasan Indonesia saat ini, yakni Pancasila merupakan wujud umat Islam sebagai mayoritas di Indonesia mampu melindungi, dan menangi agama lainnya di bawah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Barang siapa yang akan merubah Pancasila, kata dia, berarti menginginkan perpecahan Indonesia. 

"Umat Islam menaungi melindungi agama lainnya dengan membuat Ketuhanan Yang Maha Esa. Jangan diubah lagi, itu warisan," ujar dia. []


     
               
               

Attachment: Soemarsono- Revolusi Agustus - V Masalah Kerbudayaan - 100817.pdf
Description: Adobe PDF document

Kirim email ke