Beberapa tanggapan ttg konsep "Esa" dan "Ika" :
(1) "Kata “esa” lebih membutuhkan pendekatan konseptual, dibanding
pendekatan numerik. Kita ambil contoh, ketika dinyatakan bahwa Tuhan itu
satu, bagaimana kita menjelaskan definisi satu tersebut? Apakah satu itu
dua minus satu, nol plus satu, empat minus tiga? Namun, akan lebih mudah
bila kita menyebut Tuhan itu tunggal (esa). Mengapa?
Karena konsep tunggal yang tidak hanya berupa angka (satu), tapi juga
memiliki sifat dan konsep kesatuan yang utuh. Mungkin saja itu sebabnya
bahasa Indonesia tidak mengenal istilah untuk sesuatu yang tidak tunggal.
Ini berbeda dengan “eka” (seperti yang diungkapkan sebelumnya) terdapat
kata dwi- dan tri-. Mungkin ini dapat menjadi masukan kecil bagi Badan
Bahasa, dengan menambahkan keterangan tambahan kelas kata sifat atau
ajektiva dalam entri “esa” di KBBI. “Esa” tidak hanya dapat dipahami
sebagai sebuah angka atau bilangan, tapi sebuah sifat yang satu, utuh,
tidak ada duanya" (
http://citizen6.liputan6.com/read/2904122/kolom-bahasa-esa-dan-eka-apa-bedanya
<http://citizen6.liputan6.com/read/2904122/kolom-bahasa-esa-dan-eka-apa-bedanya>
)
(2) " ... Sesanti “Bhinneka Tunggal Ika” yang tertulis pada pita yang
digenggam Lambang Negara Republik Indonesia, Burung Garuda Pancasila,
bukanlah buah karya atau karangan para pendiri bangsa. Sesanti itu diambil
dari Kekawin Sutasoma mahakarya Mpu Tantular. Bunyi bait kekawin itu secara
utuh adalah “Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa” yang artinya
“Berbeda-beda manunggal menjadi satu, tidak ada kebenaran yang mendua”.
Siapakah yang dimaksud “berbeda-beda tetapi tunggal” itu ? Ia adalah Budha
dan Siwa. Dalam teologi Hindu, IA yang disebut Brahma, Wisnu, Siwa, Rudra,
Rama, Krisna, Budha adalah satu. Tidak ada yang kedua. NamaNYA banyak
sebanyak orang memberi nama, sebanyak pemujanya memberi panggilan, tetapi
IA sesungguhnya satu. Perlu juga dipertegas bahwa sesanti “Bhinneka Tunggal
Ika Tan Hana Dharma Mangrwa” yang menjadi satu kesatuan Lambang Negara itu
digubah oleh seorang Mpu. Bukan ustad, syeikh atau yang lainnya. Ini
penting untuk menegaskan posisi ajaran Hindu-Budha dalam Lambang Negara
Republik Indonesia. ... " (
https://www.facebook.com/groups/242187789285988/permalink/798709406967154/?hc_location=ufi
<https://www.facebook.com/groups/242187789285988/permalink/798709406967154/?hc_location=ufi>
)
A.H.
---------------
-----Original-Nachricht-----
Betreff: [LISI] Fw: Romo Magnis: Ucapan Eggi Sudjana Salah Besar )
Datum: 2017-10-07T22:37:47+0200
Von: "'K. Prawira' [email protected] [LISI]" <[email protected]>
Romo Magnis: Ucapan Eggi Sudjana Salah Besar
[Romo Magnis: Ucapan Eggi Sudjana Salah Besar]Franz Magnis-Suseno.
Tirto/Andrey Gromico
8.9k Shares
* [Eggi Sudjana] <https://tirto.id/m/eggi-sudjana-1P>
Eggi Sudjana
* [Maria Franz Anton Valerian Benedictus Ferdinand von Magnis]
<https://tirto.id/m/maria-franz-anton-valerian-benedictus-ferdinand-von-magnis-jm>
Maria Franz Anton Valerian Benedictus Ferdinand von Magnis
Reporter: Jay Akbar
<https://tirto.id/author/jayakbar?utm_source=internal&utm_medium=topauthor>
07 Oktober, 2017
https://tirto.id/romo-magnis-ucapan-eggi-sudjana-salah-besar-cxXi
* Magnis menjelaskan Trinitas dalam Kristen bukan berarti ada tiga
Tuhan seperti dikatakan Eggi
Menurut Franz Magnis-Suseno, ucapan Eggi—bahwa tidak ada keesaan Tuhan di
luar agama Islam—menunjukkan kesombongan serius.
tirto.id <https://tirto.id/?utm_source=internal&utm_medium=Article> -
Tokoh agama Katolik Franz Magnis-Suseno mengkritik pernyataan pengacara
Eggi Sudjana yang menyebut agama-agama selain Islam bertentangan dengan
sila pertama Pancasila. Pria yang akrab disapa Romo Magnis ini menilai ada
dua kekeliruan dalam pernyataan Eggi.
Baca juga: Eggi Sudjana Dilaporkan ke Bareskrim Soal Isu SARA
<https://tirto.id/eggi-sudjana-dilaporkan-ke-bareskrim-soal-isu-sara-cxS6>
“Ada dua kebodohan besar dari Eggi Sudjana,” kata Romo Magnis saat
dihubungi Tirto, Jumat (10/6).
Kekeliruan pertama, menurut Magnis, adalah Eggi tidak memahami bahwa
Pancasila yang disahkan pada 18 Agustus 1945 sebagai pembukaan UUD
merupakan hasil rumusan untuk menampung agama-agama yang ada di Indonesia.
Dengan kata lain, para pendiri bangsa telah memahami bahwa Pancasila tidak
hanya untuk satu agama saja.
“Jadi yang dikatakan Pak Eggi bertentangan dengan maksud mereka [pendiri
negara] yang menetapkan Pancasila dan UUD,” ujar Magnis.
Kekeliruan lain, lanjutnya, terjadi ketika Eggi mengomentari keyakinan
agama yang berbeda dengan keyakinannya. Menurut Magnis, argumentasi Eggi
bahwa tidak ada keesaan Tuhan di luar agama yang dianutnya menunjukkan
kesombongan yang serius. Apalagi tidak ada yang lebih tahu sifat-sifat
Tuhan selain Tuhan itu sendiri.
“Seakan-akan Pak Eggi punya pengetahuan khusus tentang keesaan Tuhan,"
katanya.
Magnis kemudian menunjukkan kekeliruan kedua dari ucapan Eggi, yakni salah
memahami konsep Trinitas. Menurutnya, Trinitas dalam Kristen bukan berarti
ada tiga Tuhan sebagaimana disampaikan oleh Eggi. Trinitas dalam Kristen
adalah satu Tuhan yang memiliki tiga wujud: Allah, roh kudus, Yesus.
“Jadi, bukan tiga dewa, [melainkan] satu Tuhan yang menyatakan diri dalam
tiga wujud,” ujarnya.
Pernyataan Eggi berpotensi menimbulkan keresahan di kalangan umat beragama.
Profesor filsafat ini berpesan Eggi sebaiknya tidak membicarakan keyakinan
agama lain kecuali dalam konteks dialog dengan pemeluk agama yang
dibicarakan. Ia juga mengingatkan penguasaan seseorang soal agamanya bukan
berarti ia berhak mengomentari agama orang lain.
“[Letak] kesombongannya adalah [ketika] dia merasa tahu agama sendiri, lalu
merasa bisa menilai agama lain,” katanya.
Namun, Romo Magnis percaya pernyataan Eggi tidak mewakili umat Islam.
Menurutnya masih banyak umat Islam yang menghargai dan menghormati
keyakinan umat Kristen. “Saya kenal banyak muslim yang sangat menghormati
pandangan Kristiani,” ujarnya.
Baca juga:
* PGI dan Walubi Tak Mau Terpancing Ucapan Eggi Sudjana
<https://tirto.id/pgi-dan-walubi-tak-mau-terpancing-ucapan-eggi-sudjana-cxVP>
* Sejarawan: Eggi Sudjana Ahistoris dan Tak Paham Konsep Esa
<https://tirto.id/sejarawan-eggi-sudjana-ahistoris-dan-tak-paham-konsep-esa-cxVS>
* Ketua PBNU: Tafsir Eggi Sudjana Soal Pancasila Mengada-ada
<https://tirto.id/ketua-pbnu-tafsir-eggi-sudjana-soal-pancasila-mengada-ada-cxTf>
Sebelumnya Ketua DPN Perhimpuan Pemuda Hindu Indonesia, Sures Kumar,
melaporkan Eggi ke Bareskrim Mabes Polri atas dugaan tindak pidana
menyebarkan ujaran kebencian dan SARA. Laporan ini diterima oleh Mabes
Polri dengan nomor LP/1016/X/2017/Bareskrim tertanggal 5 Oktober 2017.
Eggi dilaporkan dengan tuduhan menyebarkan informasi yang ditujukan untuk
menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan atau kelompok
masyarakat tertentu berdasarkan suku, agama, ras, dan antargolongan
sebagaimana diatur dalam Pasal 45 A ayat 2 dan Pasal 28 ayat 2
Undang-undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi
Elektronik.
Saat melaporkan kasus ini, Sures membawa sejumlah bukti, antara lain video
dari Youtube yang menayangkan Eggi saat diwawancarai dan berita media
online. Rekaman video pernyataan kontroversial Eggi ini juga telah tersebar
di berbagai platform media sosial seperti Twitter dan Youtube.
Dalam rekaman video tersebut, Eggi menyatakan: "Pengetahuan saya, mungkin
terbatas, tapi bisa diuji secara intelektual, tidak ada ajaran selain
Islam, ingat ya, garis bawahi, selain Islam, yang sesuai dengan Pancasila.
Selain Islam bertentangan.”
Eggi menilai sila pertama Pancasila yang berbunyi "Ketuhanan yang Maha Esa"
hanya kompatibel dengan konsep ketuhanan di Islam yang monoteistik. "Karena
Kristen Trinitas, Hindu Trimurti, Buddha setahu saya tidak punya konsep
Tuhan, kecuali apa yang diajarkan Siddhartha Gautama," tambahnya.
Pernyataan ini diutarakan pada Senin, tanggal 18 September lalu, seusai
sidang mengenai Perppu Ormas di Mahkamah Konstitusi (MK). Eggi mengajukan
gugatan uji materi ke MK atas nama individu dengan alasan Perppu ini justru
mengancam keberadaan Ormas selain Ormas Islam, terutama pada pasal 59 ayat
4 huruf C.
"Maka saya sudah ingatkan tadi, konsekuensi hukum jika Perppu diterima dan
berkekuatan hukum tetap dan mengikat, maka konsekuensi hukumnya ajaran
selain Islam harus dibubarkan," kata pria yang juga merupakan pengacara
Rizieq Shihab ini.
Baca juga artikel terkait KASUS UJARAN KEBENCIAN
<https://tirto.id/q/kasus-ujaran-kebencian-fYh?utm_source=internal&utm_medium=lowkeyword>
atau tulisan menarik lainnya Jay Akbar
<https://tirto.id/author/jayakbar?utm_source=internal&utm_medium=lowauthor>
(tirto.id - jay/msh)
<div style=\"border:0;border-bottom:1px solid black;width:100%;\">
Gesendet mit Telekom Mail <https://t-online.de/email-kostenlos> - kostenlos
und sicher für alle!