kenapa kok harus pakai nama "revolusi putih"
 

---In [email protected], <ajegilelu@...> wrote :

 Maksudnya 2014 itu untuk menandingi revolusi mental kecap (hitam) Jokowi?


--- jonathangoeij@... wrote:
 

 sudah pastilah bilangnya putihnya susu apalagi.

 
--- ajegilelu@... wrote :

 Apa sudah pasti program minum susu ini terkait dengan revolusi putih pilkada?
 Atau itu sekedar permainan perasaan sehingga ngalor-ngidul mengonotasikannya?
 

 Bagaimanapun, "revolusi pilkada" kelihatan tertib, rapi, dan solid ya. 

 Menjungkirbalikkan stigma AS / Bush tentang Islam yang sedemikian buruk 

 sampai dia dengan segala ketololannya harus menjerit, "Crusadeǃ". 

 Sayangnya, revolusi tandingan dari pendukung Ahok (Parade Bhineka Tunggal Ika)
 kelihatan sangat tidak disiplin (kalau tidak boleh dibilang anarkis, al. 
mengotori 

 kota, merusak taman) dan OOT - sampai ada regu yang bangga turun ke jalan 

 dengan kostum tentara Romawi, hhaa.... 

 

 Saya pikir sudahlah. Jangan mau terus-terusan digendangi Bush (sekarang Trump).
 Di topik ini fokus saja pada penolakan Susi yang sudah berkali-kali bilang mau 
mundur 

 dari pemerintahan Jokowi dan lebih banyak bicara tentang barang mati seputar 
kapal, 

 pelabuhan, jaring (paling banter keselamatan ikan & terumbu karang), tiba-tiba 
sekarang
 ngomong soal nelayan... keuntungan bagi nelayan (tidak peduli peternak dkk). 
Apa sih 

 kesalahan para pemilih Indonesia sampai dapatnya cuma pemerintahan yang sikap 

 dan pemikirannya selalu terkotak-kotak dengan mulut penuh kecap persatuan, 
gotongroyong, 

 bhineka melulu. Revolusi mental kecap.

 

 Mengenai program minum susu barangkali masih ada yang ingat ini,

 

 “Susunisasi 
http://nasional.kompas.com/read/2014/06/06/1819321/Revolusi.Putih.Prabowo.untuk.Dobrak.Konsumsi.Susu.Masyarakat”

 

 


 --- jonathangoeij@... wrote:
   
 Susu memang putih, demikian juga Revolusi Putih dibawah:
 

 Revolusi Putih http://www.panjimas.com/citizens/2017/05/26/revolusi-putih/


 

 --- ajegilelu@... wrote :

 O kirain warna susu.

 --- jonathangoeij@... wrote:
 

 Sebenarnya program susu bagi anak2 itu baik sekali, dan saya rasa susu sangat 
tepat karena kandungan protein dan kalsium yang tinggi sekali dan juga harga 
yang murah/terjangkau. Kandungan kalsium inilah yang tidak ada pada ikan. Cuman 
masalah tunggangan politik lebih mendominasi terutama pemakaian nama "revolusi 
putih" yang memberi konotasi khilafah apalagi kalau dikaitkan dengan suasana 
pilkada barusan dan pidato pribumi.
 

 Sara rasa seandainya tujuannya meningkatkan gizi anak2, lebih baik dimasukkan 
kedalam program KJP (atau sudah ada?) atau program peningkatan gizi anak2 
daripada pada nama khusus "revolusi putih."
 

 --- ajegilelu@... wrote :

 Apa kesalahan peternak (sapi dll) kok yang dipikirkan cuma kepentingan sendiri 

 untuk dipuji nelayan? Apa salahnya memajukan kesejahteran 
nelayan-peternak-petani-
 buruh-Guru dan semuanya?
 

 Pemerintahan kok diskriminatif. Kerjanya cuma urusan pecah-belah, hitam-putih, 

 gontok-gontokan, rebutan rejeki.

 

 Parasit.

 --- SADAR@... wrote:

   Daripada Revolusi Putih Prabowo, Susi Pudjiastuti Usulkan "Susinisasi" 
FABIAN JANUARIUS KUWADO
 Kompas.com - 27/10/2017, 12:52 WIB
 
 Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti saat berada di rumah dinasnya 
di kawasan Widya Chandra V, Jakarta Selatan, Jumat 
(20/10/2017).(Kompas.com/Kurnia Sari Aziza )
 

 JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti 
http://indeks.kompas.com/tag/Susi-Pudjiastuti tidak setuju atas ide " Revolusi 
Putih http://indeks.kompas.com/tag/revolusi-putih"; yang dikemukakan Ketua Umum 
Partai Gerindra Prabowo Subianto.
 Susi lebih setuju jika Revolusi Putih yang memiliki arti sosialisasi susu 
sebagai konsumsi sehari-hari kepada anak-anak tersebut diganti 'Susinisasi'.
 Apa itu 'Susinisasi'?
 Istilah 'Susinisasi' ternyata merujuk pada namanya sendiri sebagai Menteri KKP 
yang sedang mengampanyekan gerakan makan ikan nasional.
 "Susinisasi itu maksudnya makan ikan. Jadi bukan minum susu saja, tapi makan 
ikan diperbanyak dong," ujar Susi saat berbincang santai dengan wartawan di 
Ruang VIP Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng, Jumat (21/10/2017).
 Menurut Susi, susu memang bergizi baik, tetapi pasokan produksinya sangat 
terbatas. Susu di Indonesia pun lebih banyak berasal dari luar negeri alias 
impor dibandingkan produksi dalam negeri.






































 


 


 

Kirim email ke