From: Yoseph T Taher [email protected] [GELORA45] 
Sent: Friday, November 10, 2017 8:06 PM

  

   
     
      SOEMARSONO
      dan HARI PAHLAWAN 10 NOVEMBER (1) 




      (Harsutejo) 




      Pengantar 




      Sejak berkuasanya rezim Orba 1965 sampai kini nama
      Soemarsono dihapus dari khasanah sejarah kemerdekaan Indonesia, utamanya
      pertempuran rakyat Surabaya melawan Sekutu dan Belanda dengan salah satu
      puncaknya pada 10 November 1945 yang kini kita kenal sebagai Hari 
Pahlawan.
      Pertempuran Surabaya 1945 dan Hari Pahlawan tak dapat dipisahkan dengan 
nama
      Soemarsono, tokoh pemuda dan tokoh perjuangan 1945. Di samping namanya 
dicoret
      dari sejarah Indonesia, ia bahkan dibungkam selama setengah abad ini. 
Maka tak
      aneh jika sebagian besar generasi muda dan pelajar tak mengenalnya. 
Tulisan
      berikut saya petik dari buku di bawah. 




      10 November 1945 




      Perang perlawanan rakyat Indonesia di Surabaya 1945 yang
      berpuncak pada pertempuran hebat pada 28-30 Oktober 1945 melawan tentara
      Inggris yang hendak memaksakan kehendaknya, merupakan perang rakyat 
sebenarnya.
      Selanjutnya pemboman membabi buta pasukan Sekutu Inggris pada 10 November 
1945
      yang dilakukan karena rakyat tidak sudi bertekuk lutut, telah menimbulkan
      korban ribuan rakyat tak berdosa dan kerusakan luar biasa. Peristiwa 10
      November 1945 yang kemudian kita kenal sebagai Hari Pahlawan tidak dapat 
kita
      mengerti secara baik hanya dengan menceritakan bagian-bagiannya saja. 
Dengan
      demikian orang perlu mengambil pandangan yang pokok agar terjadi sambung
      pengertian. Latar belakang kota Surabaya dalam konteks masyarakat 
kolonial,
      sebagai kota marine, kota buruh, tidaklah cukup untuk dapat mengerti arti
      pertempuran Surabaya 10 November 1945. 




      Bagi saya untuk mengambil pengertian pokok maka peristiwa
      Hari Pahlawan itu tidak dapat dilepaskan dari Proklamasi Kemerdekaan 17 
Agustus
      1945, tidak dapat dipisahkan dengan perjuangan nasional untuk kemerdekaan
      Indonesia, tetapi merupakan bagian dari rentetan peristiwa sejarah. 
Kejadian 10
      November 1945 itu besar karena menjadi bagian yang lebih besar yakni 
Proklamasi
      Kemerdekaan dan perjuangan kemerdekaan melawan kolonialisme. Hari 
Pahlawan itu
      merupakan fenomena dari proses perjuangan kemerdekaan dan proklamasi, 
tidak
      akan ada Hari Pahlawan tanpa ada Proklamasi, tidak ada Proklamasi 
Kemerdekaan
      tanpa perjuangan kemerdekaan sebelumnya. 




      Kemerdekaan Indonesia merupakan hasil revolusi, Revolusi
      Agustus 1945 yang berlangsung hanya sebentar yang mengubah kualitas negeri
      jajahan menjadi negeri merdeka. Kemerdekan yang kita rebut itu sesuai 
dengan
      prinsip-prinsip yang tercantum dalam Atlantic Charter 1941[1] yang 
kemudian terdapat juga dalam Pembukaan Undang-Undang
      Dasar 1945, “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa 
dan
      oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena 
tidak
      sesuai dengan perikemanusian dan perikeadilan.” Maka tidak aneh jika para
      pemuda ketika melakukan aksi corat-coret di Surabaya menyebut juga 
“Atlantic
      Charter.” 




      Dengan adanya KMB maka revolusi menjadi gagal.
      Kemerdekaan hanya ada artinya jika dengan revolusi. Dengan adanya KMB dan
      penyerahan kedaulatan yang datang kemudian ialah neo-kolonialisme yang
      berlangsung sampai saat ini. Secara formal kita merdeka, tetapi isinya 
dijajah,
      kemerdekaan semu, kemerdekaan yang memperbodoh rakyat, rakyat belum 
merdeka di
      dalam Republik Indonesia yang secara formal merdeka. Tanpa kemerdekaaan 
penuh
      sebagai jembatan emas sebagaimana disebutkan oleh Bung Karno, maka tidak 
akan
      ada kemakmuran bangsa.[2] Demikianlah pandangan saya tentang arti 10 
November 1945
      sebagai Hari Pahlawan dalam hubungannya dengan Proklamasi Kemerdekaan 
serta
      perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia. 




      Dalam situasi seperti sekarang ini maka api 10 November
      telah padam, yang tinggal abunya. Tidak ada penjajah yang menyerahkan
      kemerdekaan dengan sukarela, kemerdekaan harus direbut sebagai yang sering
      ditekankan oleh Bung Karno. Dewasa ini hakekatnya kita tidak lagi 
merdeka, kita
      selalu diatur-atur orang lain, kita didikte oleh pemilik modal besar, 
oleh IMF dan
      World Bank. Kita akan menikmati kemerdekaan yang sebenarnya jika kita 
dapat
      melaksanakan Trisakti ajaran Bung Karno sepenuhnya: bebas dalam politik,
      berdikari dalam ekonomi dan berkepribadian dalam kebudayaan. Demikian 
Soemarsono. (Harsutejo, Soemarsono,
      Pemimpin Perlawanan Rakyat Surabaya 1945 Yang Dilupakan, Pustaka Sinar
      Harapam, Jakarta, 2010.) 



















      [1] Atlantic Charter diumumkan dalam kecamuk Perang Dunia II
      pada 14 Agustus 1941, diteken oleh Winston Curchill, Perdana Menteri 
Inggris
      bersama FD Roosevelt, Presiden Amerika Serikat. Prinsip dasarnya kemudian
      dimasukkan ke dalam Declaration of the United Nations pada 1 Januari 1942.




      [2] Bung Karno selalu menyebut revolusi belum selesai.
      Barangkali ini merupakan perbedaan terminologi, antara revolusi gagal dan
      revolusi belum selesai. Dalam persetujuan KMB Belanda dengan bantuan AS 
telah
      berhasil menekan utusan Indonesia yang diketuai oleh Hatta untuk menerima
      tuntutan Belanda agar utang-utang dalam dan luar negeri pemerintah jajahan
      Hindia Belanda dibebankan kepada pihak Indonesia sebesar US$1,13 miliar 
(Kahin
      A & G McT 2001:40), suatu jumlah yang bukan alang-kepalang besarnya bagi
      Republik. Di samping itu semua aset perusahaan asing kaum kapitalis 
penjajah
      yang telah direbut rakyat harus dikembalikan kepada pemiliknya yang “sah”.
      Sejarawan Hilmar Farid menyebut dua langkah ini sebagai keputusan absurd 
yang
      dilakukan penguasa RI (Hilmar Farid dalam pengantar buku Soegiri DS, 
Demokrasi dan Spektrum Kemerdekaan Indonesia,
      Hasta Mitra, 2003:8). Dikatakan olehnya bahwa sejak itu maka imajinasi 
radikal
      tentang bangsa ini tenggelam dan diganti oleh keangkuhan kuasa, orientasi
      ekonomi kapitalis dengan kesenjangan begitu hebat (Idem 2003:7).




      Bung Karno selalu menyebut revolusi belum selesai. Barangkali ini 
merupakan
      perbedaan terminologi, antara revolusi gagal dan revolusi belum selesai. 
Dalam
      persetujuan KMB Belanda dengan bantuan AS telah berhasil menekan utusan
      Indonesia yang diketuai oleh Hatta untuk menerima tuntutan Belanda agar
      utang-utang dalam dan luar negeri pemerintah jajahan Hindia Belanda 
dibebankan
      kepada pihak Indonesia sebesar US$1,13 miliar (Kahin A & G McT 2001:40),
      suatu jumlah yang bukan alang-kepalang besarnya bagi Republik. Di samping 
itu
      semua aset perusahaan asing kaum kapitalis penjajah yang telah direbut 
rakyat
      harus dikembalikan kepada pemiliknya yang “sah”. Sejarawan Hilmar Farid
      menyebut dua langkah ini sebagai keputusan absurd yang dilakukan penguasa 
RI
      (Hilmar Farid dalam pengantar buku Soegiri DS, Demokrasi dan Spektrum 
Kemerdekaan Indonesia, Hasta Mitra, 2003:8).
      Dikatakan olehnya bahwa sejak itu maka imajinasi radikal tentang bangsa 
ini
      tenggelam dan diganti oleh keangkuhan kuasa, orientasi ekonomi kapitalis 
dengan
      kesenjangan begitu hebat (Idem 2003:7). 








        



      SOEMARSONO dan HARI PAHLAWAN 10 NOVEMBER (2)




      (Harsutejo) 



        



      Masa Pendudukan Jepang




      Di masa Jepang pada bulan Agustus 1944 saya dikirim ke
      Surabaya oleh Sukarni sebagai pimpinan Indonesia Muda untuk membantu
      perjuangan di sana menyongsong proklamasi dengan payung pegawai perusahaan
      minyak BPM. Di BPM ketika itu terdapat 20 pemuda yang berasal dari 
berbagai
      tempat untuk membantu perjuangan di bawah pimpinan Djohan Sjahruzah, 
seorang
      intelektual yang simpatik dengan orientasi Marxisme/sosialisme. Djohan
      Sjahruzah mula-mula tergabung dalam PNI Pendidikan bersama Hatta dan 
Sjahrir.
      Djohan Sjahruzah seorang yang teguh dengan ideologi yang baik serta 
dedikasi
      tinggi, ia berpengaruh di kalangan mahasiswa. Dia ini pula sebenarnya
      organisator PNI Pendidikan. Kelak ia tergabung ke dan menjadi Sekjen PSI
      bentukan Sutan Sjahrir yang pecah dengan Amir Sjarifuddin. Kata orang yang
      dekat dengan Djohan Sjahrusah, menilik pengabdian dan ideologinya ia lebih
      pantas menjadi pemimpin PKI. 



      Belakangan saya berhubungan dengan gerakan bawah tanah
      di Surabaya lewat saluran Bung Widarta[1] dari PKI ilegal dengan majalah 
bawah tanah bernama Menara Merah.yang berorientasikan
      Marxisme/Komunisme. Di samping itu jmajalah ini juga memuat ulasan
      politik nasional dan internasional. Kemudian saya mulai melakukan kontak
      dengan sejumlah kader gerakan di Tulungagung dan Blitar yang kuat. 
Sementara
      itu Angkatan Muda Indonesia (AMI), organisasi resmi yang diterima pihak
      Jepang di Surabaya dipimpin oleh Ruslan Abdulgani. Anggota pimpinan yang 
lain
      ialah Sutomo atau Bung Tomo, saya menjadi anggota pengurus tingkat 
kecamatan.
      Mereka menuntut kemerdekaan sekarang juga. Di pihak lain terdapat gerakan
      yang tidak percaya pada Jepang, karena kemerdekaan bukan sekedar dituntut,
      apalagi dihadiahkan, kemerdekaan harus direbut. 



      Gerakan yang dipimpin Bung Widarta ini lebih menarik
      bagi saya. Mereka melakukan langkah-langkah nyata dalam perlawanan 
terhadap
      Jepang. Hal ini berbeda dengan gerakan Djohan Sjahruzah yang terbatas pada
      pendidikan di kalangan intelektual. Gerakan Widarta lebih banyak melakukan
      aksi-aksi di kalangan kaum buruh, melakukan gerakan anti-fasis dengan
      melakukan kegiatan sabotase di samping melakukan pendidikan politik lewat
      majalah berkala Menara Merah. Kami
      melakukan pendidikan politik untuk menyambut kemerdekaan yang telah kami
      perhitungkan datangnya, ketika Jepang mengalami kejatuhan. Ideologi
      kemerdekaan ini berarti kesediaan untuk mengorbankan jiwa raga guna 
merebut
      kemerdekaan dari penjajah, sama sekali bukan berharap-harap hadiah 
mereka. 



      Pada waktu yang sama para aktivis pemuda dan gerakan
      bawah tanah juga melakukan kegiatannya dalam berbagai organisasi yang 
dibangun
      Jepang guna menyongsong Indonesia
      Merdeka yang diyakini akan segera dapat diwujudkan dengan jatuhnya Jepang
      yang juga sudah dalam perhitungan banyak pemimpin. Di samping perlawanan
      gerakan di bawah tanah, selama pendudukan Jepang terjadi juga sejumlah
      perlawanan bersenjata, di antaranya yang terkenal ialah pemberontakan Peta
      Blitar pada 14 Februari 1945 di bawah pimpinan Supriadi. Di bidang 
kesenian
      terjadi juga perlawanan sebagai dilakukan tokoh ludruk Surabaya Cak 
Durasim
      yang tersohor dengan sindirannya terhadap Jepang maupun para pemimpin yang
      membantu Jepang, Pegupon omahe doro,
      melok Nippon tambah soro (Pegupon rumah burung dara, ikut Nipon tambah
      sengsara) yang ditebus dengan nyawa yang bersangkutan. 








      Orang Jepang Pendukung
      Kemerdekaan 



      Saya belum pernah membaca tulisan tentang adanya
      kelompok orang Jepang yang terorganisasi yang sebenarnya mendukung 
perjuangan
      kemerdekaan Indonesia. Menurut hemat saya, kelompok itu merupakan sel 
Partai
      Komunis Jepang yang berada di dalam pemerintahan maupun bala tentara 
Jepang
      yang menduduki Indonesia. Hal ini hanya saya ketahui dari pengalaman 
pribadi.[2] 



      Di masa pendudukan Jepang saya pernah melakukan
      pertemuan dengan seorang militer Jepang berpangkat Sersan Mayor 
berdasarkan
      petunjuk yang diberikan Widarta. Pada suatu kali saya harus mencari kertas
      untuk keperluan penerbitan majalah bawah tanah Menara Merah. Saya 
bertanya, “Bagaimana caranya mendapatkan
      kertas yang amat langka itu?” Dengan enteng dijawab oleh pimpinan, “Ya 
dari
      kantor-kantor Jepang!” Wah ini sesuatu yang tidak masuk di akal saya,
      bagaimana mungkin mengambil kertas, barang yang cukup langka itu dari 
kantor
      BPM yang dijaga ketat pihak Jepang. Di masa itu kertasnya kertas merang,
      bentuknya bukan dalam rim-riman tapi masih dalam gulungan besar seperti 
yang
      baru keluar dari pabrik kertas. Bagaimana mungkin membawa kertas dalam
      gulungan besar demikian keluar dari kantor yang dijaga tentara Jepang 
dengan
      aman tanpa mereka ketahui? Ini benar-benar tidak mungkin! Ternyata 
jawabannya
      sesuatu yang tidak pernah saya pikirkan. 



      Oleh pimpinan saya diberi mandat berupa selembar kertas
      yang dilinting seperti rokok. Jika kertas tersebut dimasukkan ke dalam air
      maka akan terbaca di dalamnya huruf-huruf ‘CC Partai Komunis Indonesia 
(PKI)’
      dengan tanda Paluarit. “Jika kau menemui tentara Jepang yang dimaksudkan 
yang
      sedang menjadi kepala jaga di BPM, dia pun akan menunjukkan kertas yang 
sama
      dengan tulisan ‘CC Partai Komunis Jepang’, itulah kawan yang kita cari”.




      Saya bertemu dengan yang bersangkutan di kantor Hongbu
      (BPM), tempat saya bekerja dengan perasaan agak ragu juga, sebab jika saya
      menemui orang yang salah, bisa-bisa nyawa taruhannya. Kami berdua bertemu 
di
      sebuah ruangan kepala jaga yang kosong di kantor itu sebagaimana telah
      diatur, kami saling menunjukkan kertas yang dilinting itu dan kami 
masukkan
      ke dalam gelas berisi air yang telah disiapkan, dan benar huruf-huruf dan
      simbol Paluarit itu timbul, lalu saya sampaikan bahwa saya akan mengambil
      kertas dari kantor tersebut pada jam 14.00 siang. Dua becak telah saya
      siapkan. Sebenarnyalah ketika melewati pintu gerbang masih ada perasaan 
ngeri
      melihat tentara Jepang yang sedang berjaga dengan bayonet terhunus. 
Ternyata
      dia hanya membalas hormat saya dan membiarkan saya pergi. Maka dua gulung
      besar kertas dalam dua becak pun keluar dari kantor dengan pengawasan 
penjaga
      tentara Jepang...... yang ternyata kawan bangsa Indonesia dari Partai 
Komunis
      Jepang. 



      Kejadian ini membuat kepercayaan saya terhadap PKI kian
      membesar, PKI merupakan satu-satunya gerakan yang mempunyai jaringan 
dengan
      gerakan internasional melawan fasisme. Kejadian ini merupakan salah satu
      bentuk manifestasi dari solidaritas internasional meskipun secara
      kecil-kecilan dalam arti yang pernah bersinggungan dengan pengalaman 
langsung
      diri saya. Dari pengalaman ini saya berkeyakinan bahwa kalau terjadi
      bentrokan dengan tentara Jepang maka tidak akan terjadi pertumpahan darah
      besar-besaran, apalagi Jepang telah menyerah, tak pelak tentu ada peranan
      yang telah dan akan dimainkan unsur-unsur anti-fasisme dalam barisan 
tentara
      Jepang sendiri. 



      Dalam perkembangan selanjutnya setelah kemerdekaan
      seorang panglima senior Laksamana Shibata Yaichiro dari AL membuka gudang
      senjata di Embong Wungu bagi para pemuda Indonesia.[3] Ketika ia menyerah 
kepada seorang kapten wakil Sekutu
      pada 3 Oktober 1945, ia memerintahkan kepada anak buahnya untuk 
menyerahkan
      senjata kepada pihak Republik yang akan bertanggungjawab terhadap 
Sekutu.[4] Demikian papar Soemarsono. 















      [1] Tentang Widarta, lihat catatan kaki di belakang.



      [2] Ini merupakan tantangan bagi mahasiswa sejarah dan
      sejarawan untuk menelitinya lebih lanjut.



      [3] Dalam tahun 1960-an saya dengar dari Hasan Ismail
      tentang adanya tulisan dari Laksamana Madya Shibata Yaichiro yang di masa 
itu
      bertugas di Surabaya. Dia menulis bahwa dalam kubu Jepang memang terdapat
      gerakan bawah tanah yang membantu rakyat Indonesia. Hal demikian banyak
      terjadi juga di Tiongkok. Saya mendengar di masa pemberontakan Peta 
Blitar,
      terdapat satu kompi tentara Jepang yang dijebloskan ke penjara di Ambarawa
      karena komandannya ternyata menjadi anggota gerakan anti-fasis. Menurut
      dugaan saya mereka itu kebanyakan berada dalam jaringan yang dibangun oleh
      Partai Komunis Jepang. Hal ini terjadi juga dengan Partai Komunis Belanda
      (CPN). Kita kenal kasus Piet van Staveren, anggota CPN. Sebagai tentara
      Belanda kemudian dia menyeberang ke RI menjelang agresi Belanda pertama 
(21
      Juli 1947), bersama saya ada di Madiun. Dengan nama Indonesia Pitojo, ia
      menjadi penyiar Radio Gelora Pemuda Madiun dalam bahasa Belanda. Antara 
lain
      dia mempropagandakan agar milisi di negeri Belanda tidak memerangi 
perjuangan
      rakyat Indonesia. Dalam peristiwa Madiun ia ditangkap, dikirim kembali ke
      negeri Belanda, di sana dijatuhi hukuman 7 tahun karena desersi (Sm).



      [4] MC Ricklefs 1993:325; Hutagalung 2001:146.

     
     

   











Kirim email ke