http://regional.kompas.com/read/2017/11/15/08433531/gas-rawa-melimpah-ruah-sudah-2-bulan-warga-tak-lagi-beli-gas-melon
Gas Rawa Melimpah Ruah, Sudah 2 Bulan Warga Tak Lagi Beli Gas Melon
Kontributor Grobogan, Puthut Dwi Putranto Nugroho
Kompas.com - 15/11/2017, 08:43 WIB
Warga Desa Rajek, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah
memasak dengan kompor gas yang teraliri gas rawa, Selasa (14/11/2017).
Warga Desa Rajek, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah
memasak dengan kompor gas yang teraliri gas rawa, Selasa
(14/11/2017).(KOMPAS.com/Puthut Dwi Putranto)
*GROBOGAN, KOMPAS.com *- Sudah lebih dari dua bulan ini, puluhan
keluarga kurang mampu di Desa Rajek, Kecamatan Godong, Kabupaten
Grobogan, Jawa Tengah tidak lagi menggunakan tabung gas melon
<http://indeks.kompas.com/tag/gas-melon> untuk memasak.
Warga tidak lagi harus bersusah payah berburu hingga mengeluarkan biaya
untuk mendapatkan fasilitas tabung gas elpiji atau liquid petroleum gas
ukuran 3 kilogram subsidi dari pemerintah itu.
Desa Rajek yang dihuni sekitar 750 KK ini bisa ditempuh sekitar satu jam
perjalanan dari Kota Purwodadi, Grobogan. Infrastruktur akses jalan desa
cukup memadai dengan betonisasi.
Desa ini dikelilingi lahan persawahan yang subur. Mayoritas penduduk
berprofesi sebagai buruh tani serta buruh bangunan.
Seperti masyarakat umumnya, selama ini kompor gas dan tabung gas melon
sudah menjadi fasilitas kebutuhan primer warga setempat. Rata-rata
setiap keluarga di Desa Rajek memiliki sarana itu. Namun, kini mereka
tak butuh gas melon lagi.
*(Baca juga: Viral Foto Mengharukan Ayah dan Anak di Kereta, Ini
Faktanya
<http://regional.kompas.com/read/2017/10/31/20173471/viral-foto-mengharukan-ayah-dan-anak-di-kereta-ini-faktanya>)*
Semua berawal dari sumur bor untuk mencukupi kebutuhan akan air
bersih. Sebenarnya, warga desa sudah lama ingin merealisasikan sendiri
sumur bor tanpa bantuan dari pemerintah. Hanya saja, upaya mencari
sumber air itu urung untuk diwujudkan lantaran selalu saja titik lokasi
tanah yang digali muncul semburan air yang dahsyat.
Fenomena alam inilah yang kemudian membuat warga mengurungkan niat untuk
membuat sumur. Warga ketakutan dengan dampak buruk yang akan terjadi
jika nekat membuat sumur. Kini, mereka mengandalkan sumur bor yang
diwujudkan melalui program pemerintah yakni Penyediaan Air Minum dan
Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas).
"Sejak zaman leluhur, berkali-kali saat ingin buat sumur pasti keluar
semburan air yang deras. Kami khawatir dan tak lagi-lagi membuat sumur.
Hingga akhirnya ada Program Pamsimas yang membantu kami," kata Ketua
Kelompok Masyarakat Desa Rajek, Moh Sukur, Selasa (14/11/2017).
Separator yang memisahkan air dan gas terpasang di Desa Rajek, Kecamatan
Godong, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, Selasa (14/11/2017).?
Separator yang memisahkan air dan gas terpasang di Desa Rajek, Kecamatan
Godong, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, Selasa (14/11/2017).?
(Kompas.com/Puthut Dwi PN)
*Gas rawa <http://indeks.kompas.com/tag/gas-rawa>*
Isyarat alam di Desa Rajek membuat gatal telinga pemerintah sehingga
ditindaklanjuti. Pada 2013, Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM)
Provinsi Jawa Tengah menerjunkan Tim Ahli Geologi untuk menggelar riset
di Desa Rajek.
Di luar perkiraan, hasil penelitian mencatat bahwa ternyata kandungan
gas alam melimpah ruah terpendam di tanah Desa Rajek. Secara ilmiah,
ahli geologi yang diterjunkan menyebutkan bahwa gas alam di Desa Rajek
itu sebagai gas rawa <http://indeks.kompas.com/tag/gas-rawa>, yaitu gas
alam yang bersemayam di kedalaman yang dangkal.
Di Desa Rajek, gas yang terbentuk dari fosil hewan dan tumbuhan itu
ditemukan di kedalaman sekitar 30 hingga 40 meter.
"Luar biasa kandungan gas rawa di Desa Rajek. Gas rawa di Desa Rajek
berada di kedalaman 30 meter hingga 40 meter. Lokasinya di spot-spot
tertentu. Jenisnya biogenik gas dan di kedalaman dangkal. Usia lebih
muda dan bersih dibanding gas alam yang terpendam di kedalaman ratusan
hingga ribuan meter. Kandungan Metana (CH4) lebih banyak. Secara
geologi, kami yakin jika dibor di kedalaman yang lebih dalam lagi, akan
lebih banyak lagi kandungan gas alam yang tersimpan di Desa Rajek,"
ungkap Ketua Ahli Geologi yang meneliti di Desa Rajek, Handoko Teguh Wibowo.
Lulusan S2, Marine Geology and Geophysic, Oregon State University, USA
itu menyampaikan, pada tahun 2017, melalui bantuan anggaran dari
Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, pihaknya diminta fokus
memanfaatkan gas alam tersebut untuk memberdayakan masyarakat.
Sampai akhirnya, Handoko yang merupakan Ketua Ikatan Ahli Geologi
Indonesia Jatim ini mencetuskan ide untuk mengalirkan gas rawa itu ke
setiap rumah warga sebagai pengganti tabung gas melon. Lalu
diciptakanlah teknologi tepat guna untuk pemanfaatan gas alam.
Dari tiga titik lokasi pengeboran, air yang mengandung gas rawa itu
dialirkan melalui pipa atau pipanisasi menuju separator. Separator
adalah tabung bertekanan dan bertemperatur tertentu yang berfungsi untuk
memisahkan air dan gas.
"Air kami buang dan gas kami alirkan melalui pipa ke kompor warga. Di
selang pada kompor kami beri stop kran dan regulator untuk mengatur
kestabilan gas. Kami jamin peralatan mini yang kami buat ini aman dan
nyaman. Ini percontohan pertama di Indonesia yang mengalirkan gas rawa
ke kompor warga. Gas rawa sama fungsinya dengan gas alam lain. Untuk
bahan bakar industri, kendaraan bermotor, kebutuhan memasak rumah
tangga, hotel, restoran dan sebagainya," tutur Handoko yang juga dosen
di jurusan Teknik Geologi dan Pertambangan Institut Teknologi Adhitama
Surabaya (ITATS).
"Untuk gas rawa di Desa Rajek bisa saja dialirkan ke seluruh rumah warga
maupun digunakan untuk kepentingan pemberdayaan masyarakat yang lain.
Gas rawa Desa Rajek jika terus dipakai diprediksi bisa sampai seratus
tahun baru habis," tutur pria yang juga menjadi Ketua Pokja penanganan
Lumpur Sidoarjo atau Lapindo ini.
Warga Desa Rajek, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah,
memasak dengan kompor gas yang teraliri gas Rawa, Selasa (14/11/2017).
Warga Desa Rajek, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah,
memasak dengan kompor gas yang teraliri gas Rawa, Selasa
(14/11/2017).(Kompas.com/Puthut Dwi PN)
*Dua bulan tanpa gas melon*
Kepala Desa Rajek, Moh Dhori, menuturkan, sebagai praktik uji coba atau
percontohan, gas rawa diminta dialirkan ke 21 keluarga kurang mampu di
desanya. Alhasil, lanjut dia, lebih dari dua bulan ini, warga merasakan
dampak positifnya.
"Efisien dan luar biasa saya bilang. Seperti memakai tabung gas melon.
Kompor menyala api biru dan tiada henti. Hebat. Dua bulan ini uji coba
berhasil. Rencana ke depan akan kami diskusikan dengan seluruh warga.
Kemungkinan besar akan dialirkan ke seluruh warga," tutur Dhori.
Indah Pujiyati (45), warga Desa Rajek, mengaku senang karena rumahnya
menjadi sasaran untuk teraliri gas rawa. Setidaknya, kini dia tak lagi
dipusingkan untuk menyisihkan uang guna membeli tabung gas melon. Indah
bisa lebih berhemat dan menggunakan sisa uang untuk kebutuhan lain.
"Suami saya buruh tani. Penghasilan pas-pasan. Dalam sebulan saja kami
butuh tiga tabung gas melon untuk memasak. Alhamdulilah penyaluran gas
rawa ini sangat bermanfaat bagi kami. Uang bisa saya sisihkan untuk
keperluan sekolah anak saya. Semoga saja ini terus berlanjut," pungkas
ibu tiga anak ini.