https://nasional.tempo.co/read/1033982/ketua-ypkp-65-pki-itu-korban-pembantaian-1965?TerkiniUtama&campaign=TerkiniUtama_Click_2
Ketua YPKP 65: PKI Itu Korban Pembantaian 1965
Reporter:
Non Koresponden
Editor:
Juli Hantoro
Rabu, 15 November 2017 15:01 WIB
0 komentar
<https://nasional.tempo.co/read/1033982/ketua-ypkp-65-pki-itu-korban-pembantaian-1965?TerkiniUtama&campaign=TerkiniUtama_Click_2#comments>
10001
# Font:
# Ukuran Font: -
<https://nasional.tempo.co/read/1033982/ketua-ypkp-65-pki-itu-korban-pembantaian-1965?TerkiniUtama&campaign=TerkiniUtama_Click_2#font-decrease>
+
<https://nasional.tempo.co/read/1033982/ketua-ypkp-65-pki-itu-korban-pembantaian-1965?TerkiniUtama&campaign=TerkiniUtama_Click_2#font-increase>
#
#
Kini Anda dapat mengganti jenis dan ukuran font sesuai preferensi Anda.
Saya mengerti
<https://nasional.tempo.co/read/1033982/ketua-ypkp-65-pki-itu-korban-pembantaian-1965?TerkiniUtama&campaign=TerkiniUtama_Click_2#>
Ketua YPKP 65: PKI Itu Korban Pembantaian 1965
<https://nasional.tempo.co/read/1033982/ketua-ypkp-65-pki-itu-korban-pembantaian-1965?TerkiniUtama&campaign=TerkiniUtama_Click_2>
Ketua Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan 1965/1966 (YPKP65) Bedjo
Untung dan rombongan mengadukan sejumlah laporan dan temuan baru terkait
genosida 1965 kepada Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, Jakarta, 24
Oktober 2017. Tempo/Fajar Pebrianto
*TEMPO.CO*, *Jakarta* - Ketua Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan 1965
(YPKP 65) Bedjo Untung menyatakan bahwa Partai Komunis Indonesia (PKI)
<https://nasional.tempo.co/read/1028267/try-sutrisno-pki-menang-dan-kamu-semua-hilang>
adalah korban pembantaian 1965.
"PKI ini jelas korban, orang-orang tidak ada yang tahu. Yang mereka tahu
katanya PKI berontak, itu tidak ada," ujarnya setelah mengadu ke Kantor
Komnas HAM pada Rabu, 15 November 2017.
Baca juga: Mengapa PKI Punya Banyak Massa Sebelum 1965, Penelitian
Ini...
<https://nasional.tempo.co/read/1020952/mengapa-pki-punya-banyak-massa-sebelum-1965-penelitian-ini>
Menurut Bedjo, dirinya bukan orang PKI. Menurut dia PKI tidak melakukan
pemberontakan tapi justru menjadi korban pembantaian. "Saya juga bukan
orang PKI ya, tapi sekarang sejarah akan mengatakan PKI tidak berontak
tapi justru mereka menjadi korban," katanya.
Bedjo mengatakan, ketika itu Bung Karno adalah presiden yang sangat
berwibawa dan disenangi rakyat Asia, Afrika dan Amerika Latin, beliau
tidak mungkin jatuh karena sangat diterima rakyat.
"Indonesia akan menjadi mercusuar bangsa, nah ini amerika itu sengaja
ingin menjatuhkan dan kemudian memang ada rekayasa dari CIA untuk
menjatuhkan Soekarno dan targetnya adalah menghancurkan PKI
<https://nasional.tempo.co/read/1021070/amien-rais-sebut-ada-pki-malam-apa-maksudnya>",
katanya.
Baca juga: Goenawan Mohamad: Kalau Mau Bilang PKI Ada, Buktikan!
<https://nasional.tempo.co/read/1020614/goenawan-mohamad-kalau-mau-bilang-pki-ada-buktikan>
Sebelumnya Bedjo Untung menyatakan ragu akan sikap pemerintah untuk
menempuh jalur non-yudisial terkait dengan kasus dugaan pelanggaran hak
asasi manusia (HAM) pada 1965–1966. Sikap pemerintah itu sebelumnya
disampaikan oleh Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan,
Wiranto, Sabtu lalu.
Menurut Bedjo, ada kejanggalan dan kontradiksi antara perkataan dan
sikap yang ditunjukkan pemerintah terhadap para keluarga korban. "Dari
dulu, siapa pun menterinya, selalu janji seperti itu. Tapi hingga saat
ini tak jelas maksudnya apa itu non-yudisial? Caranya bagaimana? Kapan
akan dilaksanakan? Bentuknya apa saja?" kata Bejo kepada Koran Tempo,
Oktober 2016 silam.
------------------------------------------------------------------------
# PKI <https://www.tempo.co/tag/pki>
====================
https://nasional.tempo.co/read/1027384/datangi-komnas-ham-bedjo-untung-ypkp65-laporkan-dokumen-as
YPKP 65 ke Komnas HAM, Mengaku Punya Bukti Baru Pembunuhan Massal
Reporter:
Untuk magang 2008
Editor:
Kukuh S. Wibowo
Rabu, 15 November 2017 14:44 WIB
0 komentar
<https://nasional.tempo.co/read/1033977/ypkp-65-ke-komnas-ham-mengaku-punya-bukti-baru-pembunuhan-massal?TerkiniUtama&campaign=TerkiniUtama_Click_6#comments>
00000
# Font:
# Ukuran Font: -
<https://nasional.tempo.co/read/1033977/ypkp-65-ke-komnas-ham-mengaku-punya-bukti-baru-pembunuhan-massal?TerkiniUtama&campaign=TerkiniUtama_Click_6#font-decrease>
+
<https://nasional.tempo.co/read/1033977/ypkp-65-ke-komnas-ham-mengaku-punya-bukti-baru-pembunuhan-massal?TerkiniUtama&campaign=TerkiniUtama_Click_6#font-increase>
#
#
Kini Anda dapat mengganti jenis dan ukuran font sesuai preferensi Anda.
Saya mengerti
<https://nasional.tempo.co/read/1033977/ypkp-65-ke-komnas-ham-mengaku-punya-bukti-baru-pembunuhan-massal?TerkiniUtama&campaign=TerkiniUtama_Click_6#>
YPKP 65 ke Komnas HAM, Mengaku Punya Bukti Baru Pembunuhan Massal
<https://nasional.tempo.co/read/1033977/ypkp-65-ke-komnas-ham-mengaku-punya-bukti-baru-pembunuhan-massal?TerkiniUtama&campaign=TerkiniUtama_Click_6>
Ketua Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan 1965/1966 (YPKP 65)Bedjo
Untung melaporkan temuan kuburan massal di Purwodadiyang diduga sebagai
lokasi pembunuhan massal.
*TEMPO.CO, Jakarta* - Ketua Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan 1965
(YPKP 65) Bedjo Untung melakukan pengaduan dengan bukti baru kepada
Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM)
<https://www.tempo.co/tag/komisi-nasional-hak-asasi-manusia-komnas-ham>terkait
dengan peristiwa pembantaian massal 1965.
"Kami ingin melaporkan sekaligus bersilaturahmi dengan Komnas HAM yang
baru dan ingin korban 1965 dan Komnas HAM
<https://www.tempo.co/tag/komnas-ham>tetap menjalin kerja sama serta
bersinergi tentang tugas pokok masing-masing," kata Bedjo di kantor
Komnas HAM, Rabu, 15 November 2017.
*Baca: Komnas HAM Akan Lanjutkan Penyelidikan Peristiwa 1965
<https://nasional.tempo.co/read/1026659/komnas-ham-akan-lanjutkan-penyelidikan-peristiwa-1965>*
*<https://nasional.tempo.co/read/1026659/komnas-ham-akan-lanjutkan-penyelidikan-peristiwa-1965>*Bedjo
melaporkan bukti baru berupa penemuan kuburan massal di Grobogan,
Purwodadi, Jawa Tengah. Penemuan itu, kata dia, akan dijadikan bukti
baru kasus pembantaian 1965.
Menurut dia, penemuan kuburan massal ini sudah menjadi bukti yang akurat
tentang terjadinya genosida 1965. Jadi dia dan YPKP 65 merasa perlu
membuktikan adanya pembunuhan massal di Indonesia pada 1965-1969.
Para korban 1965 yang hadir menganggap Komnas HAM benteng keadilan dan
perlindungan bagi masyarakat. "Jadi, kalau itu (kuburan massal) sudah
ditemukan, berarti di Indonesia memang ada kejahatan kemanusiaan dan itu
dipertanggungjawabkan, karena fitnah ini menjadi tidak adil bagi kami,"
ujar Bedjo.
*Simak: Datangi Komnas HAM, Bedjo Untung YPKP 65 Laporkan Dokumen AS
<https://nasional.tempo.co/read/1027384/datangi-komnas-ham-bedjo-untung-ypkp65-laporkan-dokumen-as>*
*<https://nasional.tempo.co/read/1027384/datangi-komnas-ham-bedjo-untung-ypkp65-laporkan-dokumen-as>*Ditambah
lagi, kata dia, adanya dokumen yang beberapa minggu lalu beredar
mengenai komunikasi telegram dari Amerika. Dokumen itu menyebutkan ada
suatu rekayasa yang dilakukan Tentara Nasional Indonesia untuk
menjatuhkan Presiden Sukarno dan membantai Partai Komunis Indonesia.
"Pertama, dikatakan dalam percakapan telegram antara Duta Besar
Indonesia dan Kementerian Luar Negeri di Amerika, TNI akan menggulingkan
Bung Karno tanpa pemberitahuan dan sesudah itu akan menghancurkan PKI.
Jadi PKI itu akan dihancurkan TNI Angkatan Darat," tuturnya.
*MOH. KHORY ALFARIZI*
------------------------------------------------------------------------