Tercemar merkuri, kerang hijau dari Teluk Jakarta ‘sebabkan kanker’ 
http://www.bbc.com/indonesia/majalah-40679343 Rafki HidayatBBC Indonesia
 25 Juli 2017

 Bagikan artikel ini dengan Facebook 
http://www.bbc.com/indonesia/majalah-40679343#  Bagikan artikel ini dengan 
Twitter http://www.bbc.com/indonesia/majalah-40679343#  Bagikan artikel ini 
dengan Messenger http://www.bbc.com/indonesia/majalah-40679343#  Bagikan 
artikel ini dengan Email 
mailto:?subject=Shared%20from%20BBC%20Indonesia&body=http%3A%2F%2Fwww.bbc.com%2Findonesia%2Fmajalah-40679343
  Kirim http://www.bbc.com/indonesia/majalah-40679343#share-tools




 Pencemaran logam berat, khususnya merkuri, di Teluk Jakarta, telah sampai pada 
titik mengkhawatirkan. Seorang peneliti dari Institut Pertanian Bogor menyebut, 
kini berbahaya untuk mengonsumsi kerang hijau dari perairan itu.
 Kaki Hasan, seorang nelayan di Muara Angke, Jakarta Utara, menghentak-hentak 
membersihkan kerang hijau yang baru dibawanya dari Teluk Jakarta. Gerakannya 
seakan melambangkan kekecewaan terhadap hasil panennya belakangan ini.
 Tempe: 'Makanan ajaib' yang (masih) dianggap murahan di Indonesia 
http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-38529395 Yang perlu Anda ketahui tentang 
VX, 'zat pemusnah massal' yang membunuh Kim Jong-nam 
http://www.bbc.com/indonesia/dunia-39074287 "Susah. Kita lagi susah sekarang. 
Kerangnya lagi susah dan kotor. Kan ini kotor kayak begini," ungkapnya sambil 
memperlihatkan kerang hijau yang dikerubungi tritip atau kerang batu. "Biasanya 
kalau bersih, ya dia bersih. Gak ada tritipnya."
Image captionHasan (kiri) membersihkan kerang hijau yang baru dibawanya dari 
Teluk Jakarta. Peneliti di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut 
Pertanian Bogor, Etty Riani, menyebut banyaknya tritip yang menempel di kerang 
hijau, adalah salah satu "pertanda tidak langsung" telah tercemarnya Teluk 
Jakarta oleh merkuri.
 "Kerang hijau mampu menyerap logam berat dalam jumlah yang sangat tinggi," 
ujarnya. Namun, pencemaran yang begitu dahsyat, diduga Etty membuat kerang 
hijau "keracunan", sehingga kehilangan kemampuan membersihkan diri, termasuk 
dari tritip.
Image captionKerang hijau dihinggapi banyak kerang batu (tritip) berlumpur 
sehingga perlu dibersihkan. "Aduh, pencemaran di Teluk Jakarta sudah 
sangat-sangat tinggi... Pencemaran logamnya memang tinggi sekali. Pada kerang 
hijau, konsentrasi Hg (merkuri) saja sudah mencapai 40mg/kg lebih, padahal baku 
mutu konsumsinya hanya 1mg/kg," ceritanya dengan nada getir.
Image captionSetelah dibersihkan dengan kaki, kerang direndam dan digoyang di 
air untuk membersihkan lumpurnya. Hasil penelitian Etty sejalan dengan telaah 
Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Tidak 
hanya merkuri, peneliti LIPI, Zainal Arifin bahkan menyebut "kerang hijau di 
Teluk Jakarta juga memiliki kandungan arsenik yang tinggi; 6,77, tiga kali 
lipat dari batas yang bisa dikonsumsi."
 Hanya boleh seekor kerang Merkuri bukanlah logam yang pencemarannya bisa 
dianggap sepele.
 Ingat bagaimana sejumlah masyarakat di kota Minamata, Kumamoto, Jepang, pada 
tahun 1950an menderita lumpuh, cacat fisik dan kanker karena memakan ikan yang 
tercemar logam berat itu.
Image captionNelayan Muara Angke melaut sekitar 3km dari pinggir laut setiap 
harinya untuk memanen kerang hijau. Dan sekarang kerang hijau di Teluk Jakarta, 
menurut Etty, membawa ancaman serupa.
 "Kami hitung analisis risikonya; kalau orang dewasa makan kerang, itu risiko 
kejadian kankernya baru berkurang kalau dia hanya makan satu ekor (kerang 
hijau) per sekali makan. Itu dengan asumsi bahan makanan lainnya tidak 
terkontaminasi logam berat."
Image captionKerang hijau dikupas. Menurut pengakuan nelayan Hasan, sekilo 
daging dijual Rp12 ribu. Namun, ancaman itu ternyata tidak dianggap serius oleh 
sejumlah konsumen di sebuah warteg (Warung Tegal) di Jakarta Pusat, yang gemar 
memakan kerang hijau. Misalnya Pia, yang sambil tergelak mengungkapkan bahwa 
meskipun dia "tahu merkuri bisa memicu kanker, tetapi kalau suka ya tetap makan 
saja, asal jangan kebanyakan."
 Sementara, pemilik warteg, Asri merasa caranya memasak kerang hijau, sudah 
cukup membuat penganan itu bersih dari pencemar, termasuk logam berat.
 "Ya itu, caranya ya dicuci bersih, langsung digoreng pakai minyak panas, baru 
dimasak pakai bumbu. InsyaAllah yakin aman," ungkapnya.
Image captionDaging kerang hijau setelah dilepas dari cangkangnya.Image 
captionPanganan kerang hijau dijual di warteg. Tetapi Etty menegaskan merkuri 
tidak bisa dilepaskan dari tubuh kerang yang telah tercemar.
 "Kalau dia sudah terakumulasi (di tubuh kerang hijau), logam berat tidak akan 
bisa lepas. Karena ikatan logam berat ini, pada asam amino pada gugus yang 
ikatannya kovalen, yang sifatnya irreversible (tidak dapat diubah). Tidak mampu 
lepas. Sehingga sangat sulit dilepaskan."
 Bermula dari industri Meskipun begitu, Etty menekankan masyarakat tetap bisa 
memakan kerang hijau, "asalkan jangan yang berasal dari Teluk Jakarta" yang 
tercemar.
 Para pengusaha yang mengubah udara menjadi uang 
http://www.bbc.com/indonesia/vert-cap-40041836 Misteri yang tersisa dari 
bangkai hewan raksasa di Maluku 
http://www.bbc.com/indonesia/trensosial-39932026 Namun, himbauan tersebut, 
dikhawatirkan nelayan Muara Angke, Hasan, akan terus menggerus pendapatannya, 
yang belakangan memang sudah turun dari Rp400 ribu menjadi Rp100 ribu perhari, 
karena munculnya nelayan dari berbagai perairan Jawa, yang mulai memasok kerang 
hijau ke Jakarta.
 "Aku sudah puluhan tahun (di sini) seandainya ada kerang ini kotor atau 
berbahaya, itu kan setiap pembeli, pas makan, itu kan pasti ada yang sakit atau 
apa. Ini kan gak ada," kata Hasan, protes. "Contohnya kami. Sebelum kita 
menjual, kita kan coba dulu. Menurut saya gak ada yang (be)racun."
Image captionKerang hijau direbus sebelum dilepas dari cangkangnya. Etty 
menyatakan, berdasarkan penelitiannya pencemaran logam berat di Teluk Jakarta 
telah berlangsung lebih dari 10 tahun. "Pencemarannya bahkan sudah mencapai 
Kepulauan Seribu".
 Menurutnya, pencemar berasal dari banyaknya industri di Jakarta, khususnya 
pabrik barang elektronik "yang masih menggunakan bahan merkuri, dan membuang 
limbahnya ke sungai yang berujung ke Teluk Jakarta... Tetapi tetap tidak ada 
tindakan pemerintah," pungkasnya.


 

Kirim email ke