----- Pesan yang Diteruskan ----- Dari: [email protected] [GELORA45]
<[email protected]>Kepada: "[email protected]"
<[email protected]>Terkirim: Minggu, 19 November 2017 04.37.53
GMT+1Judul: [GELORA45] Diduga Terpapar Merkuri, Beberapa Ikan di Sungai KSB Mati
“Kisaran kadar mercuri yang ditemukan mulai dari 002 mg/l sampai dengan 1,72
mg/l (melewati ambang batas) di wilayah hilir tepatnya di desa Banjar,”
tandasnya.
...
Kepala DLH KSB, H. Hamzah (Suara NTB/ils)
Diduga Terpapar Merkuri, Beberapa Ikan di Sungai KSB Mati
PILIHAN EDITORSUMBAWA BARAT 6 Oktober 2017 13:54 SUARANTB.com
Taliwang (Suara NTB) – Beberapa ikan yang hidup di Daerah Aliran Sungai (DAS)
Taliwang-Banjar ditemukan mati terapung dengan kondisi membengkak. Matinya
ikan-ikan tersebut diduga karena terpapar bahan kimia berbahaya jenis merkuri
yang sering digunakan oleh warga masyarakat dalam proses pemurnian emas hasil
tambang ilegal (peti).
Iwan, salah seorang warga Desa Batu Putih, Kecamatan Taliwang, kepada Suara
NTB, Kamis, 5 Oktober 2017 mengatakan kondisi tersebut (ikan mati) sudah
terjadi dari beberapa hari yang lalu terhitung dari tanggal 3-4 Oktober. Selain
ikan-ikan liar yang mendiami aliran sungai ini, ikan-ikan yang sengaja
dipelihara oleh warga sekitar juga ikut mati.
Terhadap kondisi tersebut, dia memperkirakan ikan ini mati karena terpapar
limbah mercuri yang terbuang bebas ke sungai. Apalagi saat ini di beberapa
aliran sungai sudah ada gelondong dan tong (alat pemurnian emas menggunakan
merkuri) di wilayah aliran sungai mulai dari Kecamatan Berang Rea hingga
Taliwang dan Banjar.
“Kami berharap kepada Pemda Sumbawa Barat untuk segera mengatasi permasalahan
ini, karena apabila dibiarkan akan berdampak kepada lingkungan kehidupan
masyarakat sekitar yang semakin parah,” ungkapnya.
Ditemui secara terpisah Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) KSB Drs. H. Hamzah,
tidak memungkiri adanya laporan dari masyarakat terkait ikan-ikan yang mati
mendadak ini. Namun demikian, sampai dengan saat ini dinas terkait belum bisa
memastikan apakah matinya ikan-ikan ini karena terpapar merkuri atau tidak.
Dengan kata lain pihaknya akan turun lapangan untuk melakukan pengecekan serta
akan mengambil beberapa sampel ikan yang mati untuk dilakukan uji laboratorium.
“Kita belum bisa pastikan apakah ikan ini mati karena terpapar merkuri atau
tidak. Tetapi yang jelas kita akan bersurat ke Pemprov untuk melakukan
pengecakan terhadap kondisi ini,” ujarnya.
Lebih dari itu lanjutnya, dinas terkait juga akan segera melakukan kordinasi
dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov) untuk bisa turun ke lapangan. Hal ini
(kordinasi) sengaja dilakukan karena kewenangan untuk penanganannya saat ini
sudah berada di Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi.
Provinsilah yang akan mengambil tindakan dalam menyikapi masalah ini. Tentu
sebagai pemilik wilayah (DLH) tidak akan tinggal diam karena yang menjadi
korban adalah masyarakat Sumbawa Barat.
“Kita (DLH) hanya sebagai mediator dan pemberi informasi dalam kasus ini,
karena kewenangan untuk menindak lanjuti adalah dinas ESDM provinsi,” ujarnya.
Seraya menyebutkan, hasil uji lab yang dilakukan Dinas ESDM KSB bersama dengan
tim Universitas Gajah Mada (UGM), tahun 2016 lalu, berhasil menemukan kandungan
Hg (mercury) di beberapa wilayah aliran sungai yang dijadikan sample sudah
ditemukan. Baik dari sungai Moteng yang ada di kecamatan Brang Rea sampai
dengan Desa Serangin, yang merupakan daerah sedimentasi pertemuan air sungai.
Dari aliran sungai tersebut, tim menemukan kandungan kadar mercury, namun
jumlahnya tidak melalui baku mutu kelas II sekitar 002 mg/L.
“Kisaran kadar mercuri yang ditemukan mulai dari 002 mg/l sampai dengan 1,72
mg/l (melewati ambang batas) di wilayah hilir tepatnya di desa Banjar,”
tandasnya. (ils)