https://www.antaranews.com/berita/666079/nu-tegaskan-tak-akan-surut-perangi-radikalisme-terorisme
NU tegaskan tak akan surut perangi radikalisme-terorisme
Pewarta: Sigit Pinardi Selasa, 21 November 2017 00:07 WIB
KH. Said Aqil Siroj (FOTO ANTARA/ Ujang Zaelani)
Tak peduli orang lain mau bilang apa karena ini juga demi Islam."
Jakarta (ANTARA News) - Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menegaskan
bahwa NU tidak akan surut memerangi radikalisme dan terorisme yang
mengatasnamakan agama Islam.
"Tak peduli orang lain mau bilang apa karena ini juga demi Islam," kata
Said Aqil saat konferensi pers menjelang pelaksanaan Munas Alim Ulama
dan Konbes NU di Kantor PBNU, Jakarta, Senin.
Munas Alim Ulama dan Konbes NU digelar di Nusa Tenggara Barat tanggal
23-25 November dengan tema Memperkokoh Nilai Kebangsaan Melalui Gerakan
Deradikalisasi dan Penguatan Ekonomi Warga. Presiden Joko Widodo
dijadwalkan membuka forum permusyawaratan setingkat di bawah muktamar itu.
Menurut Said Aqil, NU bersemangat memerangi radikalisme terorisme yang
mengatasnamakan agama Islam karena justru mencoreng wajah Islam sendiri.
"Di Al Quran itu disebutkan tidak ada yang paling jahat melebihi orang
yang melakukan kejahatan atas nama Tuhan atau Islam. Itu paling jahat,"
katanya.
Bahkan, lanjut dia, Nabi Muhammad SAW telah memprediksi bakal munculnya
orang-orang yang membaca Al Quran, tetapi tidak paham substansinya
sehingga mereka melakukan tindakan yang mereka anggap sesuai tuntunan
Islam, padahal sebaliknya.
Ia pun kembali mencontohkan pelaku pembunuhan terhadap khalifah yang
juga menantu Nabi Muhammad SAW, Ali bin Abi Thalib, yang menyebut
tindakannya itu juga demi Islam.
Jadi, kata Said Aqil, radikalisme terorisme sama sekali bukan ajaran
Islam, justru bertentangan dengan ajaran yang dibawa Nabi Muhammad SAW.
Menurut dia, Islam moderat, Islam Nusantara, Islam yang ramah yang
selama ini dipraktikkan umat Islam Indonesia itulah wajah Islam yang
sebenarnya.
"Arab sendiri kini ingin seperti Indonesia. Saya diundang ceramah
tentang Islam Nusantara di Al Azhar Mesir dan di hadapan raja Maroko,"
katanya.
Tapi, anehnya, kata dia, justru orang-orang Indonesia yang beberapa
tahun belajar di Arab, pulang ke Tanah Air bersikap dan bertingkah lebih
Arab daripada orang Arab itu sendiri.
Editor: Kunto Wibisono
COPYRIGHT © ANTARA 2017