TULISAN LAMA  DARI ALMARHUM  A. UMAR SAHID

Bung Karno : « Revolusi itu berarti menjebol dan membangun ! »
Oleh Darius Boro Beda <https://www.facebook.com/BoroBedaDarius> pada 2
Februari 2012 pukul 18:42
<https://id-id.facebook.com/notes/pemuda-adonara-bangkit/bung-karno-revolusi-itu-berarti-menjebol-dan-membangun-/349836811707326/>

Bung Karno : « Revolusi itu berarti

menjebol dan membangun ! »



Menyambung tulisan « Bangsa Indonesia perlu meneruskan revolusi !!! »
beberapa waktu yang lalu, berikut ini disajikan kutipan-kutipan dari pidato
Bung Karno pada Hari Kemerdekaan 17 Agustus 1964 (artinya 1 tahun sebelum
terjadinya peristiwa G30S) yang pernah terkenal dengan judul « Tahun Vivere
Pericoloso » disingkat TAVIP (hidup secara berbahaya, bahasa Italia).



Bagi mereka yang pernah mendengar (atau membaca) pidato « Tahun Vivere
Pericoloso » akan melihat bahwa Bung Karno memang satu-satunya pemimpin
Indonesia yang betul-betul kranjingan untuk mengajak bangsa Indonesia
menjadikan diri sebagai bangsa revolusioner dengan melakukan Revolusi
terus-menerus¸ demi kepentingan rakyat banyak.



Dalam satu pidato 200 kali kata Revolusi

Kranjingannya atau gandrungnya Bung Karno kepada kerevolusioneran bangsa
Indonesia ini tercermin dalam banyak sekali pidato-pidatonya (atau
karya-karyanya). Boleh dikatakan bahwa Bung Karno-lah satu-satunya pemimpin
Indonesia yang telah mencurahkan banyak tenaga dan fikirannya supaya bangsa
Indonesia menjadi bangsa yang menempuh perjuangan revolusioner dan
mempunyai cita-cita dan watak patriotisme yang tinggi dalam mengabdi kepada
tanah-air dan bangsa.



Salah satu contohnya yang tipikal dan jelas (serta kuat !) sekali
menunjukkan siapakah Bung Karno, bagaimana sikapnya terhadap Revolusi, apa
hukum-hukum Revolusi menurutnya, adalah pidatonya « Tahun Vivere Pericoloso
» tersebut. Dalam satu pidatonya yang ini saja, Bung Karno menyebutkan
kata-kata Revolusi (atau revolusioner) sebanyak lebih dari 200 kali.
Sungguh, luar biasa !



Bagi semua orang yang masih juga mempunyai fikiran bahwa Revolusi yang
selalu dianjurkan Bung Karno kepada bangsa Indonesia adalah sesuatu yang
menakutkan, yang selalu merupakan tindakan yang berdarah-darah, atau
kegiatan yang hanya bunuh-membunuh, atau pembrontakan dan amuk-amukan yang
sembarangan saja, dan pengrusakan yang hanya menimbulkan anarchi atau
kekacauan, seyogianya berusaha membaca atau mempelajari (dengan baik-baik)
karya-karya Bung Karno. Bukan, bukan, dan sekali lagi bukan hal-hal negatif
yang begituanlah yang menjadi ajaran-ajaran revolusioner Bung Karno.



Dengan membaca karya-karyanya (dan mendengarkan pidato-pidatonya) kita
semua akan mengerti bahwa Revolusi yang dikobarkan dan digemuruhkan Bung
Karno bersama-sama rakyat Indonesia selama bertahun-tahun adalah mobilisasi
rakyat Indonesia untuk menempuh patriotisme kerakyatan, nasionalisme
revolusioner, dan internasionalisme, yang semuanya ditujukan untuk
menghilangkan « exploitation de l’homme par l’homme » (pemerasan manusia
oleh manusia) dan « exploitation des nations par les nations « (pemerasan
bangsa-bangsa oleh bangsa-bangsa). Tujuan Revolusi yang begitu besar,
begitu luhur dan begitu indah inilah yang menjadi tujuan Bung Karno bersama
pendukung-pendukungnya.



Dalam pidato « Tahun Vivere Pericoloso » (dapat dibaca di buku Dibawah
Bendera Revolusi, jilid II, hal 559 – 598) terdapat banyak kalimat-kalimat
atau ungkapan Bung Karno yang sangat penting sekali untuk diketahui oleh
semua orang yang ingin menilai dan menghormatinya sebagai seorang tokoh
revolusioner yang sungguh-sungguh besar.



Oleh karena itu, akan diusahakan tidak lama lagi adanya tulisan-tulisan
yang lain, yang menyajikan kutipan-kutipan pidato Bung Karno tentang
Revolusi, yang tidak atau belum bisa disajikan kali ini, mengingat
banyaknya atau panjangnya. Dalam tulisan kali ini baru bisa didahulukan
kutipan mengenai enam hukum-hukum Revolusi, yang lengkapnya adalah seperti
yang di bawah ini :



Enam hukum-hukum Revolusi menurut Bung Karno

Kata Bung Karno : »Apa hukum-hukum revolusi itu ? Hukum-hukum Revolusi itu,
kecuali garis-besar romantika, dinamika, dialektika yang sudah kupaparkan
tadi, pada pokoknya adalah :



Pertama, Revolusi mesti punya kawan dan lawan, dan kekuatan-kekuatan
Revolusi harus tahu siapa kawan dan siapa lawan ; maka harus ditarik
garis-pemisah yang terang dan harus diambil sikap yang tepat terhadap kawan
dan terhadap lawan Revolusi ;



Kedua, Revolusi yang benar-benar Revolusi bukanlah « revolusi istana « atau
« revolusi pemimpin », melainkan Revolusi Rakyat ; oleh sebab itu, maka
Revolusi tidak boleh « main atas » saja, tetapi harus dijalankan dari atas
dan dari bawah ; (huruf miring dari teks aslinya Pen.)



Ketiga, Revolusi adalah simfoninya destruksi dan konstruksi, simfoninya
penjebolan dan pembangunan, karena destruksi atau penjebolan saja tanpa
konstruksi atau pembangunan adalah sama dengan anarchi, dan sebaliknya ;
konstruksi atau pembangunan saja tanpa destruksi atau penjebolan berarti
kompromi, reformisme



Keempat, Revolusi selalu punya tahap-tahap ; dalam hal Revolusi kita :
tahap nasional-demokratis dan tahap Sosialis, tahap yang pertama meretas
jalan buat yang kedua, tahap yang pertama harus dirampungkan dulu, tetapî
sesudah rampung harus ditingkatkan ke tahap yang kedua -- inilah dialektik
Revolusi ;



Kelima, Revolusi harus punya Program yang jelas dan tepat, seperti dalam
Manipol kita merumuskan dengan jelas dan tepat : (A) Dasar/tujuan dan
Kewajiban-kewajiban Revolusi Indonesia ; (B) Kekuatan-kekuatan sosial
Revolusi Indonesia ; (C) Sifat revolusi Indonesia, (D) Hari depan Revolusi
Indonesia ; dan (E) Musuh-musuh Revolusi Indonesia. Dan seluruh
kebijaksanaan Revolusi harus setia kepada Program itu ;



Keenam, Revolusi harus punya sokoguru yang tepat dan punya pimpinan yang
tepat, yang berpandangan jauh–kemuka, yang konsekwen, yang sanggup
melaksanakan tugas-tugas Revolusi sampai pada akhirnya, dan Revolusi juga
harus punya kader-kadernya yang tepat pengertiannya dan tinggi semangatnya.



Demikianlah hukum-hukum Revolusi » (Kutipan panjang selesai, dari DBR
halaman 572-573)



Seruan Bung Karno masih relevan untuk sekarang



Hukum-hukum Revolusi yang diungkapkan Bung Karno seperti tersebut di atas
menunnjukkan dengan jelas sekali kepada kita semua bahwa ia benar-benar
memang tokoh politik revolusioner, yang mempunyaii fikiran-fikiran
progressif dan mengandung ciri-ciri Marxisme.



Ungkapannya bahwa Revolusi yang benar-benar Revolusi bukanlah « revolusi
istana » atau « revolusi pemimpin » dan bahwa Revolusi tidak boleh « main
atas » saja, tetapi harus dijalankan dari atas dan dari bawah adalah
fikiran revolusioner yang contoh-contohnya bisa dilihat sekarang (antara
lain ) di Revolusi China, Vietnam, Kuba, Venezuela, Bolivia, Ekuador



Ketika Bung Karno mengatakan bahwa Revolusi adalah simfoninya destruksi dan
konstruksi atau simfoninya penjebolan dan pembangunan ia dengan tepat dan
juga bagus sekali memakainya untuk menghadapi situasi negara dan bangsa
kita pada waktu itu, yang memang masih memerlukan banyak sekali penjebolan
dan pembangunan.



Alangkah masih relevannya ungkapan Bung Karno itu kalau dihubungkan dengan
situasi negara dan bangsa kita dewasa ini !!! Begitu banyak yang harus
sama-sama di-destruksi (dijebol) dan di-konstruksi (dibangun) oleh bangsa
kita Terlalu banyak kebrengsekan dan kebusukan yang melanda hampir di
seluruh bidang yang harus dijebol untuk kemudian dibangun kembali demi
kepentingan rakyat banyak.

Mengenai tahap-tahap Revolusi, Bung Karno juga amat jelas merumuskannya
dengan mengatakan bahwa untuk Revolusi kita perlulah dirampungkan dulu
tahap yang pertama , yaitu Revolusi nasional demokratis yang meretas jalan
buat tahap yang kedua , yaitu tahap Sosialis. Inilah jalan yang harus kita
tempuh bersama, menurut pandangan jauh Bung Karno.

Jadi, seperti yang sering dinyatakannya dalam berbagai kesempatan, Bung
Karno adalah - pemimpin Indonesia yang jelas-jelas menganjurkan jalan
Sosialisme untuk hari kemudian bangsa dan negara Indonesia.



Situasi dewasa ini yang penuh dengan kebejatan moral

Seperti sudah disebutkan diatas, pidato « Tahun Vivere Pericoloso » adalah
pidato Bung Karno yang penuh dengan kata-kata Revolusi, yang diutarakannya
secara menggebu-gebu, menggeledeg, menggelora dan berkobar-kobar. Meskipun
dalam pidato-pidatonya yang lain ia juga bicara banyak tentang Revolusi,
namun yang kali ini adalah yang paling menonjol.



Oleh karena itu adalah sangat penting bagi kita semua, terutama yang mau
ikut dalam usaha bersama dalam perjuangan besar-besaran yang oleh Bung
Karno dirumuskan dengan kata-kata Revolusi (yang berarti penjebolan dan
pembangunan) untuk menghayati ajaran-ajaran revolusionernya, dan berusaha
bersama-sama mewujudkannya dalam praktek.



Seruan Bung Karno kepada bangsa Indonesia (waktu itu) untuk mengobarkan
terus-menerus Revolusi, pada dasarnya berlaku juga bagi kita semua dewasa
ini, kalau kita memang benar-benar ingin melakukan perubahan besar-besaran
dan fundamental di segala bidang, dengan terus-menerus mengadakan
penjebolan dan pembangunan.

Situasi negara dan bangsa kita dewasa ini sudah demikian rusaknya dan
busuknya, dengan melandanya kebejatan moral dan kemerosotan akhlak serta
kebusukan iman (terutama di kalangan elite atau atasan) , sehingga tidak
mungkin bisa diatasi atau diperbaki dalam waktu dekat dan dengan
tindakan-tindakan yang hanya merupakan tambal sulam saja.



Revolusi rakyat dari dari atas dan dari bawah

Begitu besarnya kerusakan dan parahnya pembusukan itu sehingga tidak adalah
pemikiran atau tindakan, dari pemimpin Indonesia yang mana pun atau partai
politik yang mana pun yang mampu memperbaikinya. Inilah yang sudah terjadi
selama ini, dan juga akan tetap terjadi di masa depan, kecuali dengan
Revolusi, Yaitu Revolusi yang berupa penjebolan dan pembangunan (destruksi
dan konstruks), yang dilakukan dengan rakyat, atau dari rakyat, oleh
rakyat, dan untuk rakyat, dan juga dari atas dan dari bawah, seperti yang
diajarkan oleh Bung Karno.



Namun, Revolusi yang harus dilancarkan bersama-sama oleh sebagian terbesar
rakyat kita itu bukanlah soal yang gampang dan bisa dilakukan sembarangan
saja. Enam hukum-hukum revolusi yang dikemukakan Bung Karno tersebut di
atas merupakan pedoman penting bagi kita semua, di samping perlunya kita
terus mempelajari juga ajaran atau pengalaman dari tokoh-tokoh revolusioner
besar dunia lainnya beserta pelaksanaan perjuangan mereka.



Kiranya kita semuanya menyadari bahwa pekerjaan atau tugas Revolusi yang
harus diselesaikan bangsa adalah berat dan besar, dan juga rumit sekali.
Sebab, yang perlu dijebol, diganti, atau dirobah adalah amat banyak. Di
antaranya adalah bertumpuknya segala hal-hal negatif dan menyengsarakan
rakyat yang sudah dilakukan rejim militer Suharto selama 32 tahun, dan
sisa-sisanya masih diteruskan sampai sekarang.



Beratnya dan besarnya serta rumitnya pekerjaan Revolusi yang harus
diselesaikan bangsa kita ini disebabkan karena segala kebusukan dan
keburukan yang merugikan kehidupn rakyat itu dibela atau dipertahankan oleh
berbagai macam sisa-sisa Orde Baru beserta simpatisan-simpatisannya yang
masih terdapat di mana-mana beserta segala macam kekuatan reaksioner
lainnya yang anti-Bung Karno dan anti-kiri. Karenanya, kekuatan
anti-Revolusi ini adalah amat besar dan kuat sekali.



Penggalangan front yang seluas-luasnya untuk Revolusi

Mengingat itu semuanya, maka segala jalan dan usaha perlu ditempuh oleh
semua kalangan dan golongan yang menginginkan terjadinya perubahan besar
dan fundamental di negeri kita, untuk menggalang bersama-sama berbagai
macam front atau persekutuan atau aliansi (walaupun sementara) yang luas
dan kuat guna menghadapi kekuatan anti-Revolusi.

Semua peserta dalam perjuangan besar ini harus berusaha mentrapkan enam
hukum-hukum Revolusi yang sudah dirumuskan Bung Karno dan memperhatikan
semua unsur dan syarat-syaratnya (siapa kawan dan lawan, sifat Revolusi
rakyat, dilaksanakannya Revolusi dari atas dan dari bawah, simfoninya
penjebolan dan pembangunan, tahap-tahap Revolusi sampai tahap Sosialis,
Program Revolusi yang tepat, pentingnya sokoguru dan pimpinan yang tepat
dan berpandangan jauh, dan kader-kader yang bersemangat tinggi.



Untuk bisa terbangunnya kekuatan besar yang berupa pendukung, pendorong
atau penggerak Revolusi yang demikian ini dibutuhkan waktu yang panjang ,
banyak tenaga dan fikiran, dan pengorbanan-pengorbanan yang tidak sedikit.
Penggalangan kekuatan revolusioer ini bisa dilakukan melalui berbagai cara
atau jalan dan dengan macam-macam bentuk, antara lain mengadakan aksi-aksi
untuk membela kepentingan rakyat dan memperjuangkan tuntutan massa luas
demi kehidupan lebih baik, dan dengan gerakan-gerakan untuk melawan segala
macam penindasan oleh bangsa sendiri maupun bangsa asing,.



Segala macam aksi atau kegiatan revolusioner untuk membela kepentingan
rakyat ini merupakan cara penting untuk meningkatkan kesedaran massa rakyat
untuk mendukung revolusi dan juga langkah penting sekali untuk
mempersiapkan pelaknsanaan revolusi. Kesedaran politik revolusioner yang
tinggi dari massa rakyat banyak (terutama dari kalangan buruh, tani, rakyat
miskin umumnya) adalah syarat bagi berhasilnya revolusi.



Jumlah rakyat yang sudah dirugikan -- dengan berbagai bentuk dan cara --
oleh pemerintahan Orde Baru adalah amat besar, yang terdiri dari
macam-macam golongan (jadi bukan hanya golongan komunis saja, melainkan
juga dari golongan-golongan lainnya, termasuk golongan Islam). Demikian
juga mereka yang jadi korban politik neo-liberalisme yang dianut
pemerintahan dewasa ini, termasuk kalangan menengah (pengusaha kecil dll).
Mereka ini semualah yang perlu dipersatukan di bawah bendera revolusi.



Sekali lagi, berdasarkan pengalaman jatuh-bangun dan kegagalan yang sudah
berkali-kali, yang sudah dilalui selama lebih dari 40 tahun sejak
pemerintahan Suharto, dan tidak adanya perspektif lainnya untuk menyetop
proses kemerosotan dan pembusukan lebih lanjut, maka makin jleaslah bahwa
tidak ada jalan lain kecuali jalan Revolusi yang sudah ditunjukkan oleh
Bung Karno.



Yaitu jalan destruksi dan konstruksi atau jalan penjebolan dan pembangunan
yang dilakukan terus-menerus, demi kepentingan rakyat banyak dan demi
Negara yang berdasarkan Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika dan ajaran-ajaran
revolusioner Bung Karno lainnya.



Paris, 30 Juli 2010

A. Umar Said





Pada 23 November 2017 11.11, Yoseph T Taher [email protected] [GELORA45]
<[email protected]> menulis:

>
>
>
> Jokowi lahir tahun 1961. Jadi waktu kejadian G30S tahun 1965,  beliau baru
> berumur 4 tahun. Sesudah Soeharto menang mengkudeta Bung Karno dan
> merekayasa serta merobah sejarah, Jokowi masuk sekolah......SD....SMP.....
> SMA.....Fakultas..........semua pengajaran dan kurikullum sekolah ikut
> "ajaran Orba Soeharto". Tidak mau ikut kurikulum/ajaran Soeharto pasti
> tidak bakal lulus......! Tidak bakal jadi sarjana.......!
>
> Selama 32 tahun Soeharto nongkrong jadi penguasa Indonesia, semua berobah
> balik kanan gerak........nggak ada lagi yang namanya "revolusi agustus 45".
> Semua berobah untuk kepentingan Imperialis Asing, Amerika dan Inggris dan
> anteknya Orde Baru Soeharto. Sejarahpun ikut kemauan Soeharto yang dianggap
> "pemenang", dan dia dengan bangga bisa bilang "Nyang nggak sukak thak
> gebug..!" Sebab 'politiknya' adalah bedil dan bayonet. Anggota MPRS
> dibersihkan, dirombak dan dipreteli, orang-orang yang benar dan simpati
> kepada Soekarno semua dibuang, dipecat, ditangkap dan ditahan atau dibunuh
> dan diganti dengan orang-orang yang bisa mengucapkan "nggih ndoro" kepada
> anak Kemusuk Soeharto.......! Dalam keadaan hampir 100% anggota MPRS adalah
> orang-orangnya Soeharto, sipil dan militer, dalam saat itulah "Nato"
> (Nasution dan Soeharto) menciptakan segala Tap-Tap MPRS yang dipaksakan,
> yang merugikan Rakyat, Bangsa bahkan Founding Father Revolusi Indonesia
> Bung Karno. Sesudah Soeharto lengser dan mati karena sakit otak (40 dokter
> mencoba menyelamatkan nyawanya di Rumah Sakit tapi tak berhasil), tidak ada
> kekuatan baik dari Rakyat maupun dari Langit yang bisa merobah segala Tap
> dan Peraturan MPRS yang diwariskan oleh Jenderal Dajal pembunuh 3 juta
> rakyat Indonesia tak bersalah itu. Apalagi, 32 tahun (1965-1998)
> bukanlah waktu yang singkat yang digunakannya untuk menciptakan
> pengikut-pengikut yang bisa membebek dan menjalankan segala ajaran
> "Jenderal Besar" Soeharto, dan yang sampai sekarang bisa berhasil nongkrong
> dalam partai dan pemerintahan "re-Formasi" tanpa ada yang tahu isi
> perutnya........Dan justru sejarah yang diputar balik oleh Orba Soeharto
> itulah yang dipakai dan digunakan oleh bangsa dan pemerintahan Indonesia
> sampai sekarang.........! Bangsa Indonesia takut untuk berpikir (bayangkan:
> berpikir sajapun takut....!), apakah benar PKI berontak tahun 1965 itu?
> Benarkah PKI kudeta pada tahun 1965 itu? Benarkah G30S itu didalangi oleh
> PKI? Kenapa partai besar pemenang nomor 4 Pemilu yang beranggotakan jutaan
> orang, tidak melakukan perlawanan dan 3 juta anggotanya dibantai tentara
> Soeharto seperti membantai ayam dalam kandang tanpa perlawanan, dan 2 juta
> ditangkap dan ditahan dan banyak yang yang mati karena dihilangkan/dibunuh
> dan kurang makan? Apakah mereka yang berkuasa sekarang berani membongkar
> dan memeriksa kembali apa sebenarnya yang terjadi, ketimbang 'mewarisi'
> ucapan dan pameo tokoh-tokoh pembantai rakyat itu?
>
> K.H. Abdurrahman Wahid Mantan Presiden RI pernah mengatakan:
>
> *“Kalau kita ingin supaya masa depan bangsa ini cerah, harus ada
> keberanian untuk membongkar yang lama, sehingga kita tahu betul peristiwa
> ini bagaimana sebetulnya, adanya, dan sebagainya:”* (dari film dokumen
> Kawan Tiba Senja)
>
> Surat kabar Riau Pos Pekanbaru pada tanggal 1 Oktober 2006  menulis: *"Sejarah
> adalah milik pemenang. Realitas tersebut terbukti dalam pengungkapan fakta
> peristiwa G30S selama ini yang merupakan interpretasi sejarah dari penguasa
> orde baru“*
>
> *Nah.......adakah keberanian bangsa dan pemimpin Indonesia untuk memeriksa
> kembali masa lalu yang sangat kejam dan biadab itu selain menikmati,
> mewarisi dan melanjutkan kejahatan kemanusiaan yang "dilakukan dan
> dihasilkan" ordebaru Soeharto itu.......??? (YTT).*
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> ------ Original Message ------
> From: "'Chan CT' [email protected] [GELORA45]" <
> [email protected]>
> To: "GELORA_In" <[email protected]>
> Sent: Monday, 20 Nov, 2017 At 5:48 PM
> Subject: [GELORA45] Jokowi: "Kalau PKI bangkit, gebuk saja"
>
>
>
>
>
>
>
> Jokowi: "Kalau PKI bangkit, gebuk saja"
>
> *Pewarta: **Joko  Susilo* * Senin,  20 November 2017 13:18  WIB*
>
>
> *Presiden Joko Widodo  . (ANTARA /Puspa Perwitasari)*
>
> Jakarta (ANTARA News) - Presiden Joko Widodo  mengkritik cara-cara tak
> beretika dan melupakan kesantunan dalam berpolitik  sehingga masih sering
> keluar tuduhan tidak berdasar seperti klaim bangkitnya  Partai Komunis
> Indonesia (PKI), padahal undang-undang, yakni TAP MPRS,  jelas-jelas
> menjadi payung hukum yang membuat PKI mustahil hidup lagi di  Indonesia.
>
> "Coba kita lihat, masih banyak yang teriak-teriak  antek asing, antek
> aseng, mengenai PKI bangkit. Kalau saya, PKI bangkit gebug  saja sudah,
> gampang. payung hukumnya jelas, TAP MPRS masih ada, ngapain  banyak-banyak
> masalah ini. Juga mengenai anti Islam, anti ulama, Cara politik  yang
> beretika harus mulai kita sampaikan," kata Presiden kepada para senior PPAD
>  (Persatuan Purnawirawan Angkatan Darat), FKPPI (Forum Komunikasi Putra
> Putri  Purnawirawan dan Putra Putri TNI-Polri dan Yayasan Suluh Nuswantara
> Bakti  (YSNB), saat membuka Simposium Nasional Kebudayaan Tahun 2017 di
> Jakarta,  Senin.
>
> Presiden menyebut masih banyak elit politik yang  tidak memberikan
> pendidikan yang baik kepada masyarakat, terutama generasi muda.  Oleh
> karena itu dia meminta generasi muda meneladankan kesantunan dalam
>  berpolitik.
>
> "Memberikan nilai-nilai itu kepada generasi muda,  bagaimana berpolitik
> yang beretika, cara-cara bicara yang beretika, bagaimana  menghargai sebuah
> senioritas, bagaimana menjaga nilai-nilai kesantunan," kata  Presiden
>
> Presiden mengatakan cara-cara berpolitik santun  harus dikembangkan dan
> disampaikan kepada masyarakat, terutama pada anak-anak  agar nilai
> keindonesian tidak hilang.
>
> Untuk itu, lanjut Jokowi, pemerintah telah  membentuk Unit Kerja Presiden
> Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP PIPI) dan  mengeluarkan Perpres nomor
> 87/2017 tentang Pendidikan tentang Penguatan  Pendidikan Karakter untuk
> memberikan kepada generasi muda tidak tergerus  nilai-nilai
> ke-Indonesiannya.
>
> "Nilai-nilai keindonesiaan, yakni nilai  kesopanan, kesantunan, semua
> terkandung dalam ideologi Pancasila harus terus  disampaikan pada anak-anak
> kita, bagaimana mengenai kerukukanan, bagaimana  persaudaraan, bagaimana
> mengenai toleransi," kata Presiden.
>
> Jokowi  mengakui bahwa saat ini, pendidikan generasi muda saat ini tidak
> hanya menerima  pendidikan dari guru dan orang tua saja tetapi juga dari
> media sosial.
>
> "Jangan  keliru, yang mendidik anak kita sekarang ini bukan dari guru,
> orang tua, tetapi  lebih banyak oleh media sosial. Kekuatan keterbukaan
> kekuatan media sosial  sekarang mempengaruhi sekali dari semua aspek baik
> ekonomi, politik maupun  sosial, dan ini yang harus kita antisipasi," kata
> Jokowi.
>
> Presiden  mengingatkan bahwa perkembangan yang sangat cepat teknologi
> informasi tidak bisa  dibendung yang membuat lanskap ekonomi dan politik
> baik internasional maupun  nasional berubah.
>
> "Jika ini tidak diantisipasi, tidak disiapkan  nilai-nilai karakter
> keindonesia kita, nilai karekter bangsa akan tergerus,  kalau penyiapannya
> betul-betul tidak mulai dari tahapan yang benar," kata  Presiden.
>
> Editor: Jafar M  Sidik
>
>
>
>
>
> 
>

Kirim email ke