----- Pesan yang Diteruskan ----- Dari: 'Chan CT' [email protected] 
[nasional-list] <[email protected]>Kepada: GELORA_In 
<[email protected]>Terkirim: Jumat, 24 November 2017 03.18.02 
GMT+1Judul: [nasional-list] Fw: [GELORA45] Jokowi: Pemerintah Tak Akan 
Toleransi Radikalisme, Apa Pun Organisasinya
     

  From: Awind [email protected] [GELORA45] Sent: Friday, November 24, 2017 
7:15 AM   


 

http://regional.kompas.com/read/2017/11/23/17215071/jokowi-pemerintah-tak-akan-toleransi-radikalisme-apa-pun-organisasinya


Jokowi: Pemerintah Tak Akan Toleransi Radikalisme, Apa Pun Organisasinya
Kontributor Kompas TV, Fitri RachmawatiKompas.com - 23/11/2017, 17:21 WIB   
Presiden Joko Widodo (ketiga kanan) bersama Gubernur NTB TGB Zainul Majdi 
(kanan), Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin (kedua kanan), Ketua PBNU KH Said 
Agil Siroj (ketiga kiri) dan Ketua MUI KH Maruf Amin (tengah) memukul Gendang 
Beleq secara bersama-sama saat membuka Munas Alim Ulama dan Konbes Nahdlatul 
Ulama di Islamic Center NTB di Mataram, Kamis (23/11). Munas Alim Ulama dan 
Konferensi Besar Nahdlatul Ulama yang berlangsung hingga 26 November 2017 itu 
dihadiri oleh 1.000 ulama se-Indonesia yang bertema Memperkokoh Nilai 
Kebangsaan melalui Gerakan Deradikalisasi dan Penguatan Ekonomi Warga. ANTARA 
FOTO/Ahmad Subaidi/aww/17.(ANTARA FOTO/AHMAD SUBAIDI)
MATARAM, KOMPAS.com - Presiden Republik Indonesia Joko Widodo menegaskan bahwa 
pemerintah memilih tegas dan tidak memberikan toleransi terhadap aliran radikal 
dan intoleransi yang ada di Indonesia.

Apalagi, lanjut dia, telah ada undang-undang dan perppu yang telah menjadi 
payung hukum untuk menyikapi aliran-aliran radikal maupun intoleransi tersebut.

“Saya sudah minta kepada seluruh jajaran di pemerintahan agar tegas dan tidak 
memberikan toleransi terhadap aliran-aliran radikal dan yang intoleran yang ada 
di negara kita, apa pun organisasinya,” kata Jokowi dalam pidatonya saat 
menghadiri dan membuka Musyawarah Nasional dan Konferensi Besar Alim Ulama 
Nahdatul Ulama NU di Mataram, NTB, Kamis (23/11/2017).

(Baca juga: UU Usang dan Ujaran Kebencian Akan Dibahas dalam Munas NU di Lombok)

Dalam kesempatan itu, Jokowi mengatakan bahwa Indonesia dikenal baik dalam hal 
toleransi.. sehingga para tokoh agama dari negara, seperti Afganistan dan 
Pakistan, berencana datang ke Indonesia untuk belajar langsung cara Indonesia 
menjaga kedamaian meskipun memiliki pulau, bahasa, dan keberagaman yang sangat 
luas.

“Ulama-ulama besar Pakistan, Afganistan, termasuk kelompok Taliban, akan 
bertemu dengan ulama-ulama Indonesia. Tahapan berikutnya, ulama-ulama kita yang 
kita pilih bisa datang ke negara-negara itu untuk memberikan 
pengalaman-pengalaman yang ada di Indonesia,” kata Jokowi.
Presiden RI Joko Widodo membuka Munas dan Konferensi Besar Alim Ulama Nahdlatul 
Ulama di Islamic Center Mataram, Kamis (23/11/2017).(KOMPAS.com/Fitri 
Rachmawati) Menurut dia, negara-negara tersebut menilai Indonesia sebagai 
negara yang tidak punya kepentingan, netral dan sejuk, apalagi dengan adanya 
organisasi terbesar di Indonesia yaitu Nahdlatul Ulama. 
(Baca juga : Presiden Jokowi Buka Munas NU di Mataram)

Jokowi berharap, hasil pembahasan dan rekomendasi para ulama yang mengikuti 
Munas dan konferensi NU di Mataram bisa disampaikan kepada pemerintah agar 
pihaknya bisa menindaklanjutinya, terutama yang berkaitan dengan radikalisme 
dan gerakan intoleran.

Jokowi mengaku akan meminta pertimbangan apa yang harus dilakukan oleh 
pemerintah untuk mengatasi aliran-aliran yang mengganggu perdamaian di negeri 
ini.
Presiden Joko Widodo menyampaikan pidato saat pembukaan Munas Alim Ulama dan 
Konferensi Besar Nahdlatul Ulama di Islamic Center NTB di Mataram, Kamis 
(23/11). Munas Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama yang berlangsung 
hingga 26 November 2017 itu dihadiri oleh 1.000 ulama se-Indonesia yang bertema 
Memperkokoh Nilai Kebangsaan melalui Gerakan Deradikalisasi dan Penguatan 
Ekonomi Warga. ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi/aww/17.(ANTARA FOTO/AHMAD SUBAIDI) 
Topik yang disampaikan Jokowi sejalan dengan tema besar Munas dan Konferensi 
Besar Alim Ulama NU di Mataram, "Memperkokoh Nilai Kebangsaan melalui Gerakan 
Deradikalisasi dan Penguatan Ekonomi Warga". 
Jokowi membuka secara simbolis acara ini dengan memukul gedang belek, alat 
musik tradisional Lombok, bersama sejumlah pengurus NU dan Gubernur NTB, Zainul 
Majdi.

 

 

 

 

 
    

Kirim email ke