https://www.antaranews.com/berita/667299/nyai-ontosoroh-tampil-di-london
Nyai Ontosoroh tampil di London
Minggu, 26 November 2017 18:22 WIB
Pertunjukan "Ontosoroh" di London, Inggris.
London (ANTARA News) - Sosok Nyai Ontosoroh dalam karya klasik "Bumi
Manusia" Pramoedya Ananta Toer ditampilkan dalam pertunjukan seni
kontemporer musikal dan tari bertajuk "Ontosoroh" di London dalam
rangkaian Festival Europalia Indonesia di gedung kesenian bergengsi
Kings Place,, Sabtu malam.
"Saya bangga bisa ikut ambil bagian dalam Festival Europalia Indonesia
yang digelar di London," ujar komposer yang merangkap pesinden atau
vokalis dalam pertunjukkan Ontosoroh, Peni Candra Rini, kepada Antara
London sebelum pertunjukkan dimulai pada pukul 8 malam waktu Inggris.
Sekitar 150 penonton, yang sebagian besar warga Inggris, terpukau dengan
penampilan "Ontosoroh" yang dibawakan penari Ade Suharto, koreografer
asal Indonesia yang telah menjadi warga Australia. Ia membawakan tarian
itu dengan lenggak lenggok tubuhnya diiringi gamelan yang dimainkan
musisi dari ISI Surakarta.
Ontosoroh merupakan proyek musik dan tarian kolaboratif antara Peni
Candra Rini, sang pesinden yang juga komposer kontemporer wanita
Indonesia jebolan ISI Surakarta, bersama Ade Suharto yang berbasis di
Melbourne serta tiga musisi dari Surakarta, Jawa Tengah.
Peni sukses menggabungkan teknik vokal tradisional dan kontemporer,
seperti lagu-lagu Jawa klasik, tembang, ditulisnya dalam bahasa Jawa
puitis dan bahasa sehari-hari, serta vokal eksperimental yang eksploratif.
Sementara Ade menggambarnya dari kosakata gaya tari Jawa klasik
membentuk arus narasi karya yang diilhami oleh karakter Nyai Ontosoroh
dari novel Boemi Manoesia oleh Pramoedya Ananta Toer, penulis Indonesia
yang dicekal dan dipenjara di Pulau Buru.
Ontosoroh mewakili munculnya suara baru yang radikal dalam budaya
Indonesia, suara-suara yang membuka jalan bagi nasionalisme yang
berkembang di Indonesia dan kemerdekaan selanjutnya.
Sebagai wanita yang tinggal dan bekerja lebih dari satu abad sejak zaman
Ontosoroh, kolaborasi Peni dan Ade menafsirkan penokohan wanita secara
global yang sangat inspiratif pada pascareformasi sastra Indonesia
melalui lensa kontemporer.
Panitia penyelenggara Festival Europalia Indonesia di Inggris, Sebastian
Merrick, kepada Antara London mengakui bahwa pertunjukkan seni Indonesia
di London sangat krusial dalam membuka wawasan masyarakat Inggris Raya
terhadap seni budaya Indonesia yang dinilainya sangat tinggi seperti
halnya pertunjukkan malam ini, yakni kolaborasi dari dua seniman wanita
berkaliber dunia.
"Pertunjukkan yang sangat memukau," ujarnya.
Lain halnya dengan kesan Caya Fairrie, seorang diaspora Indonesia yang
menonton bersama sang suami mengakui awalnya ragu tentang penggambaran
adaptasi Nyai Ontosoroh ke dalam karya modern.
Sebab, semua yang pernah membaca buku Boemi Manoesia tahu tentang
kekuatan karakter klasik dari karya literatur sastra yang luar biasa.
Tapi ternyata penampilan mereka membuktikan sebaliknya, ujarnya.
Hal yang sama juga diakui Sammy Brett, gadis Inggris yang tergabung
dalam kelompok gamelan Siswa Sukra dari South Bank yang pernah tampil di
Indonesia dan berguru kepada Peni Candra Rini. "Luar biasa menyaksikan
karya seni adiluhung Ontosoroh ini, pertunjukkan yang mengagumkan," ujar
Sammy Brett, yang bangga menyaksikan sang guru tampil di London.
Peni Chandra Rini begitu kuat bingkai vokalnya saat nyinden dan
penghayatan Ade Soeharto dalam mendalami karakter sang nyai sehingga
membawa penonton dengan mudah masuk ke dalam bingkai tersebut dan
memvisualisasikan lyrics Peni dalam gerak tari nya yang sangat menggugah
kalbu yang bikin penonton tidak mungkin berkedip mata.
Rini tidak banyak menampilkan gerak, melainkan ia total mengedepankan
kekuatan vokal. Kedalaman penghayatan Rini akan setiap kata yang
disenandungkannya, membawa penonton pada suasana kehidupan sosok Nyai
Ontosoroh bertahun-tahun lampau.
Sementara Ade Suharto, permainan gerak tubuh serta mimik wajahnya,
seakan menyimpan misteri. Tatapannya tajam dan dalam. Namun, pada
pertengahan adegan, menuju klimaks, tiba-tiba Ade Suharto berteriak,
seperti sedang melampiaskan sesuatu yang lama terpendam dalam dirinya.
Penampilan berdurasi sekitar satu jam itu berupaya mengungkap dan
mengeksplorasi kekuatan perempuan serta perjuangan mereka dalam meraih
kebebasan.
Sebelumnya, pada sesi pembuka tampil musisi Inggris Laura Kidd yang
sempat menjalani residensi selama tujuh minggu di Indonesia dalam rangka
pertukaran budaya antar kedua negara Indonesia dan Inggris atas dukungan
British Council dan Kemendikbud.
Tembang-tembang sekembalinya Laura Kidd dari Indonesia yang ditampilkan
sebagai pembuka telah direkam dan akan dirilis Januari tahun depan.
Pemilik blog She Makes War ini mempelajari instrumen tradisional sebagai
bagian dari festival UK/ID oleh British Council di Indonesia.
Para seniman pendukung yang tampil dalam pertunjukan Ontosoroh selain
Peni dan Ade Suharto yaitu Iswanto pemain gamelan, Boby Budi Santoso
dunek gitar dan Pitutur Tustho Gumawang pemain gamelan.
Pewarta: Zeynita Gibbons
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2017