----- Pesan yang Diteruskan ----- Dari: 'Chan CT' [email protected]
[nasional-list] <[email protected]>Kepada: GELORA_In
<[email protected]>Terkirim: Selasa, 28 November 2017 05.05.50
GMT+1Judul: [nasional-list] Nyai Ontosoroh tampil di London
Nyai Ontosoroh tampil di London
Minggu, 26 November 2017 18:22 WIB
Pertunjukan "Ontosoroh" di London, Inggris.
London (ANTARA News) - Sosok Nyai Ontosoroh dalam karya klasik "Bumi Manusia"
Pramoedya Ananta Toer ditampilkan dalam pertunjukan seni kontemporer musikal
dan tari bertajuk "Ontosoroh" di London dalam rangkaian Festival Europalia
Indonesia di gedung kesenian bergengsi Kings Place,, Sabtu malam.
"Saya bangga bisa ikut ambil bagian dalam Festival Europalia Indonesia yang
digelar di London," ujar komposer yang merangkap pesinden atau vokalis dalam
pertunjukkan Ontosoroh, Peni Candra Rini, kepada Antara London sebelum
pertunjukkan dimulai pada pukul 8 malam waktu Inggris.
Sekitar 150 penonton, yang sebagian besar warga Inggris, terpukau dengan
penampilan "Ontosoroh" yang dibawakan penari Ade Suharto, koreografer asal
Indonesia yang telah menjadi warga Australia. Ia membawakan tarian itu dengan
lenggak lenggok tubuhnya diiringi gamelan yang dimainkan musisi dari ISI
Surakarta.
Ontosoroh merupakan proyek musik dan tarian kolaboratif antara Peni Candra
Rini, sang pesinden yang juga komposer kontemporer wanita Indonesia jebolan ISI
Surakarta, bersama Ade Suharto yang berbasis di Melbourne serta tiga musisi
dari Surakarta, Jawa Tengah.
Peni sukses menggabungkan teknik vokal tradisional dan kontemporer, seperti
lagu-lagu Jawa klasik, tembang, ditulisnya dalam bahasa Jawa puitis dan bahasa
sehari-hari, serta vokal eksperimental yang eksploratif.
Sementara Ade menggambarnya dari kosakata gaya tari Jawa klasik membentuk arus
narasi karya yang diilhami oleh karakter Nyai Ontosoroh dari novel Boemi
Manoesia oleh Pramoedya Ananta Toer, penulis Indonesia yang dicekal dan
dipenjara di Pulau Buru.
Ontosoroh mewakili munculnya suara baru yang radikal dalam budaya Indonesia,
suara-suara yang membuka jalan bagi nasionalisme yang berkembang di Indonesia
dan kemerdekaan selanjutnya.
Sebagai wanita yang tinggal dan bekerja lebih dari satu abad sejak zaman
Ontosoroh, kolaborasi Peni dan Ade menafsirkan penokohan wanita secara global
yang sangat inspiratif pada pascareformasi sastra Indonesia melalui lensa
kontemporer.
Panitia penyelenggara Festival Europalia Indonesia di Inggris, Sebastian
Merrick, kepada Antara London mengakui bahwa pertunjukkan seni Indonesia di
London sangat krusial dalam membuka wawasan masyarakat Inggris Raya terhadap
seni budaya Indonesia yang dinilainya sangat tinggi seperti halnya pertunjukkan
malam ini, yakni kolaborasi dari dua seniman wanita berkaliber dunia.
"Pertunjukkan yang sangat memukau," ujarnya.
Lain halnya dengan kesan Caya Fairrie, seorang diaspora Indonesia yang menonton
bersama sang suami mengakui awalnya ragu tentang penggambaran adaptasi Nyai
Ontosoroh ke dalam karya modern.
Sebab, semua yang pernah membaca buku Boemi Manoesia tahu tentang kekuatan
karakter klasik dari karya literatur sastra yang luar biasa. Tapi ternyata
penampilan mereka membuktikan sebaliknya, ujarnya.
Hal yang sama juga diakui Sammy Brett, gadis Inggris yang tergabung dalam
kelompok gamelan Siswa Sukra dari South Bank yang pernah tampil di Indonesia
dan berguru kepada Peni Candra Rini. "Luar biasa menyaksikan karya seni
adiluhung Ontosoroh ini, pertunjukkan yang mengagumkan," ujar Sammy Brett, yang
bangga menyaksikan sang guru tampil di London.
Peni Chandra Rini begitu kuat bingkai vokalnya saat nyinden dan penghayatan Ade
Soeharto dalam mendalami karakter sang nyai sehingga membawa penonton dengan
mudah masuk ke dalam bingkai tersebut dan memvisualisasikan lyrics Peni dalam
gerak tari nya yang sangat menggugah kalbu yang bikin penonton tidak mungkin
berkedip mata.
Rini tidak banyak menampilkan gerak, melainkan ia total mengedepankan kekuatan
vokal. Kedalaman penghayatan Rini akan setiap kata yang disenandungkannya,
membawa penonton pada suasana kehidupan sosok Nyai Ontosoroh bertahun-tahun
lampau.
Sementara Ade Suharto, permainan gerak tubuh serta mimik wajahnya, seakan
menyimpan misteri. Tatapannya tajam dan dalam. Namun, pada pertengahan adegan,
menuju klimaks, tiba-tiba Ade Suharto berteriak, seperti sedang melampiaskan
sesuatu yang lama terpendam dalam dirinya.
Penampilan berdurasi sekitar satu jam itu berupaya mengungkap dan
mengeksplorasi kekuatan perempuan serta perjuangan mereka dalam meraih
kebebasan.
Sebelumnya, pada sesi pembuka tampil musisi Inggris Laura Kidd yang sempat
menjalani residensi selama tujuh minggu di Indonesia dalam rangka pertukaran
budaya antar kedua negara Indonesia dan Inggris atas dukungan British Council
dan Kemendikbud.
Tembang-tembang sekembalinya Laura Kidd dari Indonesia yang ditampilkan sebagai
pembuka telah direkam dan akan dirilis Januari tahun depan. Pemilik blog She
Makes War ini mempelajari instrumen tradisional sebagai bagian dari festival
UK/ID oleh British Council di Indonesia.
Para seniman pendukung yang tampil dalam pertunjukan Ontosoroh selain Peni dan
Ade Suharto yaitu Iswanto pemain gamelan, Boby Budi Santoso dunek gitar dan
Pitutur Tustho Gumawang pemain gamelan.
Pewarta: Zeynita Gibbons
Editor: Suryanto