http://internasional.kompas.com/read/2017/11/30/15552981/putus-pasokan-minyak-korea-utara-china-bakal-alami-hal-ini
Putus Pasokan Minyak Korea Utara, China Bakal Alami Hal Ini...
Ardi Priyatno Utomo
Kompas.com - 30/11/2017, 15:55 WIB
Foto tanpa tanggal yang dikeluarkan oleh kantor berita Korea Utara,
KCNA, pada 3 September 2017, memperlihatkan pemimpin Korut Kim Jong Un
(tengah) sedang melihat pipa logam di tempat yang tak diketahui.
Foto tanpa tanggal yang dikeluarkan oleh kantor berita Korea Utara,
KCNA, pada 3 September 2017, memperlihatkan pemimpin Korut Kim Jong Un
(tengah) sedang melihat pipa logam di tempat yang tak
diketahui.(REUTERS/KCNA)
*BEIJING, KOMPAS.com* - Demi menghentikan provokasi Korea Utara ( Korut
<http://indeks.kompas.com/tag/korut>), Amerika Serikat (AS) menyerukan
komunitas internasional untuk memutus hubungan dengan mereka.
Duta Besar AS untuk PBB, Nikki Haley, sempat berucap Presiden Donald
Trump <http://indeks.kompas.com/tag/Donald-Trump> telah meminta Presiden
China <http://indeks.kompas.com/tag/China>, Xi Jinping
<http://indeks.kompas.com/tag/Xi-Jinping>, agar memutus pasokan minyak
<http://indeks.kompas.com/tag/minyak> ke Korut.
Namun, sejumlah analis berkata sangat kecil kemungkinan Xi bakal
menuruti permintaan Trump.
Pengamat dari Institut Kebijakan Masyarakat Asia, Daniel Russel,
mengatakan China sangat takut jika Korut tidak menerima pasokan minyak
mereka.
Dalam analisa Russel, rezim Kim Jong Un bakal jatuh jika pasokan minyak
terhenti.
Tatkala pemerintahan komunis itu jatuh, maka Korut bakal berada dalam
kekacauan. Akibatnya, masyarakat Korut bakal berbondong-bondong keluar
dari negerinya.
*Baca juga : AS: Jika Terjadi Perang, Korea Utara Akan Hancur Lebur
<http://internasional.kompas.com/read/2017/11/30/10574041/as-jika-terjadi-perang-korea-utara-akan-hancur-lebur>
*
Perbatasan China menjadi destinasi yang paling dituju rakyat Korut.
"Pemerintah China jelas kewalahan menangani pengungsi sebanyak itu,"
tutur Russel dilansir dari kantor berita /AFP/ Kamis (30/11/2017).
Selain itu, meski saat ini berhubungan dengan Washington, Xi melihat
Korut masih menjadi "andalan" untuk membendung dominasi AS di Asia Timur.
"Saya rasa, Xi bakal sengaja lambat bertindak untuk menghindari
kekacauan di kawasan semenanjung, bukan karena adanya misil balistik
antar-benua (ICBM)," beber Russel.
Senada dengan Russel, pengamat Korea dari Institut Charhar China, Wang
Peng, menyatakan China sedang "mengembalikan bola kepada AS".
Beijing, ujar Wang, jelas tidak suka dengan Jong Un. Namun, mereka bakal
lebih tidak bahagia jika pemerintahannya sampai kolaps.
"Saya kira Beijing tidak akan mampu menangani reaksi berantai dan
konsekuensi jika mereka sampai berani memutus minyak Korut," papar Wang.
Dinas Informasi Energi AS memperkirakan, Korut mengonsumsi 15.000 minyak
setiap harinya.
Minyak <http://indeks.kompas.com/tag/minyak> mentah itu disalurkan dari
Dandong ke depo minyak Sinuiju melalui Sungai Yalu via pipa sepanjang 30
kilometer.
Pipa yang beroperasi sejak 1975 itu diberi nama "Pipa Persahabatan Sino
dan DPRK (nama resmi Korut)".
Wang melanjutkan, kebanyakan minyak yang diekspor dari China digunakan
untuk kebutuhan militer.
Antara lain pengembangan senjata nuklir maupun kebutuhan operasional
kendaraan perang Korut.
"Saya meragukan jika ada rakyat jelata yang bisa menikmati minyak
tersebut," ungkap Wang.
*Baca juga : Indonesia Kecam Uji Coba Rudal Korut
<http://nasional.kompas.com/read/2017/11/29/19313981/indonesia-kecam-uji-coba-rudal-korut>
*