http://nasional.harianterbit.com/nasional/2017/12/04/90552//25/Reshuffle-Kabinet-Jilid-III-Banyak-Menteri-Bakal-Diganti


*Di Publish Pada Tanggal : *Senin, 04 Desember 2017 14:13 WIB
Reshuffle Kabinet Jilid III, Banyak Menteri Bakal Diganti

*Presiden Joko Widodo dan Wapres Jusuf Kalla*
<http://nasional.harianterbit.com/nasional/2017/12/04/90552//25/Reshuffle-Kabinet-Jilid-III-Banyak-Menteri-Bakal-Diganti#>
*Jakarta, HanTer - *Memasuki tahun 2018, wacana reshuffle kabinet kembali
‎terdengar. Indikasi tersebut, dinilai wajar tatkala mendekati momentum
pertarungan politik di Pilkada serentak 2018 dan Pilpres 2019.  Bahkan
Presiden Joko Widodo disebut sudah memberi sinyal untuk merombak kabinetnya.

Perwakilan Kantor Staf Kepresidenan Wandy Tuturoong memberikan sinyal bahwa
Presiden Jokowi akan melakukan perombakan kabinet (*reshuffle*) di tahun
politik menjelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak 2018.

“Salah satu kemungkinan akan di-*reshuffle *di tahun politik adalah Mensos
Khofifah Indar Parawansa, karena dirinya sudah memastikan diri maju di
Pemilihan Gubernur Jawa Timur.  Kemungkinan besar akan terjadi (*reshuffle*),"
kata Wandy dalam diskusi bertajuk 'Peluang *Reshuffle *di Ujung
Pemerintahan' di bilangan Tebet, Jakarta Selatan, Kamis (23/11/2017).

Pengamat kebijakan Publik Zulfikar Ahmad menyakini Jokowi kan merombak
kabinetnya. “Banyak menteri yang akan diganti termasuk menteri-menteri
ekonomi. Pasalnya kinerja mereka kurang baik,” ujarnya singkat.

Pengamat politik dari Point' Indonesia (PI) Karel Susetyo mengatakan,
Jokowi memang kerap melempar isu akan ada lakukan reshuffle. Namun,
reshuffle kali ini bisa saja dilakukan Jokowi. Mengingat ada menterinya
yakni Khofifah yang maju dalam Pilkada di Jawa Timur.

Menurutnya, bisa juga reshuffle yang dilakukan secara gemuk dengan
mengganti sejumlah menteri yang dinilainya kurang berkompeten.

*Tidak Beresiko*

Sementara itu pengamat politik dari pengamat politik dari Institute For
Strategic and Development Studies (ISDS), M. Aminudin mengatakan, jika
reshuffle dilakukan Jokowi tidak beresiko dalam menghadapi tahun politik
2018 dan 2019.

Oleh karenanya, lanjut Aminudin,  istilah tahun poltik dilempar kubu Jokowi
untuk mengalihkan kritik-kritik yang dilakukan masyarakat terhadap kinerja
Jokowi seperti terkait ekonomi dan penegakan hukum yang amburadul. Sehingga
isu reshufle bisa menjadi sarana Jokowi untuk ‘menekan’ PAN, PKB yang tidak
bulat mendukung UU Ormas.   “Dalam reshuffle nanti Jokowi akan mempreteli
menteri yang dikenal dekat dengan Wapres Jusuf Kala,” paparnya.

*Tahun Politik*

Pengamat Politik dari Indonesia Public Institute (IPI) Karyono Wibowo
meragukan jika Jokowi melakukan reshuffle kabinet dalam waktu dekat.
Alasannya 2018 adalah tahun politik yang tinggal beberapa hari ke depan.
Sehingga terlalu riskan dan berisiko jika Jokowi akan melakukan reshuffle
terhadap sejumlah pembantunya di Kabinet Kerja. Jika pun ada perombakan di
kabinetnya maka yang dilakukannnya adalah geser posisi atau reposisi
terhadap pembantunya bukan mereshuffle.

"Perombakan posisi karena Menteri Sosial, Khofifah Indar Parawansa akan
maju di Pilkada Jawa Timur. Pergantian Khofifah ini bisa jadi ada
pergantian posisi para menterinya," ujar Karyono kepada *Harian Terbit*,
Minggu (3/12/2017).

Karyono menuturkan, pergantian posisi menteri bisa terjadi di bidang ESDM
yang saat ini dijabat Ignatius Jonan. Posisi Jonan bisa digantikan oleh
Wawen ESDM Archandra Tahar. Sementara Jonan bisa menduduki sebagai menteri
BUMN atau kembali ke Perhubungan. Sementara Rini Soemarno dan Budi Karya
Sumadi bisa ditarik ke Sekretaris Negara. Reposisi menteri merupakan hak
prerogatif Jokowi yang akan mempertimbangkan beberapa aspek.

*Citra Jokowi*

Direktur Eksekutif Budgeting Metropolitan Watch (BMW), Amir Hamzah,
menilai, adanya ketidakpastian terkait isu reshuffle kabinet. Ia melihat,
isu reshuffle kerap hilang-timbul. "Sehingga, hal ini berpengaruh pada
citra Jokowi di masyarakat selaku kepala negara‎," terangnya di Jakarta,
Minggu (3/12/2017).

Tak hanya itu, menurutnya, hal itu juga akan menimbulkan ketidakpastian
publik yang berpengaruh pada kondisi ekonomi dan politik.

Sebelumnya, ‎Presiden Jokowi sempat mengungkapkan akan bersikap tegas
terhadap kinerja bawahannya. Ia mengatakan, tak pernah membiarkan
menteri-menterinya bekerja tanpa target. Target itu menurutnya, dinilai
penting mengukur prestasi can pencapaian pembantu Presiden.

Bahkan, ancamannya tak main-main. Mereka yang berkinerja buruk harus
menerima bila dicopot. "Taruhannnya jabatan. Enak saja enggak diberi
target. Jadi menteri enggak diberi target terlalu enak buat saya," kata
Jokowi beberapa waktu lalu.

‎*Awal 2018*

Disisi lain, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo, sempat
mengatakan bahwasanya pemerintah akan merombak atau mereshuffle Kabinet
Kerja Jilid III pada awal tahun 2018. Menurutnya, reshuffle kabinet itu
dilakukan untuk memberikan kesempatan kepada menteri mencalonkan diri di
Pilkada 2018.

Ia mengungkapkan, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa merupakan menteri
yang berpotensi diganti. Hal itu karena, Khofifah kemungkinan besar akan
maju di Pilkada Jawa Timur. "Ibu Khofifah sudah yakin maju Pilgubkan, pasti
diganti. Soal pengganti siapa? Hak presiden," tutur Tjahjo di Jakarta,
Minggu (3/12/2017).

Kirim email ke