----- Pesan yang Diteruskan ----- Dari: 'Chan CT' [email protected] 
[nasional-list] <[email protected]>Kepada: GELORA_In 
<[email protected]>Terkirim: Selasa, 5 Desember 2017 01.39.27 
GMT+1Judul: [nasional-list] Fw: [GELORA45] Reshuffle Kabinet Jilid III, Banyak 
Menteri Bakal Diganti
     

  From: Sunny ambon [email protected] [GELORA45] Sent: Tuesday, December 5, 
2017 6:03 AM   


http://nasional.harianterbit.com/nasional/2017/12/04/90552//25/Reshuffle-Kabinet-Jilid-III-Banyak-Menteri-Bakal-Diganti

 

Di Publish Pada Tanggal : Senin, 04 Desember 2017 14:13 WIB 

Reshuffle Kabinet Jilid III, Banyak Menteri Bakal Diganti 

 

Presiden Joko Widodo dan Wapres Jusuf Kalla 

 
Jakarta, HanTer - Memasuki tahun 2018, wacana reshuffle kabinet kembali 
‎terdengar. Indikasi tersebut, dinilai wajar tatkala mendekati momentum 
pertarungan politik di Pilkada serentak 2018 dan Pilpres 2019.  Bahkan Presiden 
Joko Widodo disebut sudah memberi sinyal untuk merombak kabinetnya. 
Perwakilan Kantor Staf Kepresidenan Wandy Tuturoong memberikan sinyal bahwa 
Presiden Jokowi akan melakukan perombakan kabinet (reshuffle) di tahun politik 
menjelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak 2018.  

“Salah satu kemungkinan akan di-reshuffle di tahun politik adalah Mensos 
Khofifah Indar Parawansa, karena dirinya sudah memastikan diri maju di 
Pemilihan Gubernur Jawa Timur.  Kemungkinan besar akan terjadi (reshuffle)," 
kata Wandy dalam diskusi bertajuk 'Peluang Reshuffle di Ujung Pemerintahan' di 
bilangan Tebet, Jakarta Selatan, Kamis (23/11/2017).  

Pengamat kebijakan Publik Zulfikar Ahmad menyakini Jokowi kan merombak 
kabinetnya. “Banyak menteri yang akan diganti termasuk menteri-menteri ekonomi. 
Pasalnya kinerja mereka kurang baik,” ujarnya singkat.

Pengamat politik dari Point' Indonesia (PI) Karel Susetyo mengatakan, Jokowi 
memang kerap melempar isu akan ada lakukan reshuffle. Namun, reshuffle kali ini 
bisa saja dilakukan Jokowi. Mengingat ada menterinya yakni Khofifah yang maju 
dalam Pilkada di Jawa Timur.

Menurutnya, bisa juga reshuffle yang dilakukan secara gemuk dengan mengganti 
sejumlah menteri yang dinilainya kurang berkompeten. 

Tidak Beresiko

Sementara itu pengamat politik dari pengamat politik dari Institute For 
Strategic and Development Studies (ISDS), M. Aminudin mengatakan, jika 
reshuffle dilakukan Jokowi tidak beresiko dalam menghadapi tahun politik 2018 
dan 2019.  

Oleh karenanya, lanjut Aminudin,  istilah tahun poltik dilempar kubu Jokowi 
untuk mengalihkan kritik-kritik yang dilakukan masyarakat terhadap kinerja 
Jokowi seperti terkait ekonomi dan penegakan hukum yang amburadul. Sehingga isu 
reshufle bisa menjadi sarana Jokowi untuk ‘menekan’ PAN, PKB yang tidak bulat 
mendukung UU Ormas.   “Dalam reshuffle nanti Jokowi akan mempreteli menteri 
yang dikenal dekat dengan Wapres Jusuf Kala,” paparnya.

Tahun Politik

Pengamat Politik dari Indonesia Public Institute (IPI) Karyono Wibowo meragukan 
jika Jokowi melakukan reshuffle kabinet dalam waktu dekat. Alasannya 2018 
adalah tahun politik yang tinggal beberapa hari ke depan. Sehingga terlalu 
riskan dan berisiko jika Jokowi akan melakukan reshuffle terhadap sejumlah 
pembantunya di Kabinet Kerja. Jika pun ada perombakan di kabinetnya maka yang 
dilakukannnya adalah geser posisi atau reposisi terhadap pembantunya bukan 
mereshuffle.

"Perombakan posisi karena Menteri Sosial, Khofifah Indar Parawansa akan maju di 
Pilkada Jawa Timur. Pergantian Khofifah ini bisa jadi ada pergantian posisi 
para menterinya," ujar Karyono kepada Harian Terbit, Minggu (3/12/2017).

Karyono menuturkan, pergantian posisi menteri bisa terjadi di bidang ESDM yang 
saat ini dijabat Ignatius Jonan. Posisi Jonan bisa digantikan oleh Wawen ESDM 
Archandra Tahar. Sementara Jonan bisa menduduki sebagai menteri BUMN atau 
kembali ke Perhubungan. Sementara Rini Soemarno dan Budi Karya Sumadi bisa 
ditarik ke Sekretaris Negara. Reposisi menteri merupakan hak prerogatif Jokowi 
yang akan mempertimbangkan beberapa aspek. 

Citra Jokowi

Direktur Eksekutif Budgeting Metropolitan Watch (BMW), Amir Hamzah, menilai, 
adanya ketidakpastian terkait isu reshuffle kabinet. Ia melihat, isu reshuffle 
kerap hilang-timbul. "Sehingga, hal ini berpengaruh pada citra Jokowi di 
masyarakat selaku kepala negara‎," terangnya di Jakarta, Minggu (3/12/2017).

Tak hanya itu, menurutnya, hal itu juga akan menimbulkan ketidakpastian publik 
yang berpengaruh pada kondisi ekonomi dan politik.

Sebelumnya, ‎Presiden Jokowi sempat mengungkapkan akan bersikap tegas terhadap 
kinerja bawahannya. Ia mengatakan, tak pernah membiarkan menteri-menterinya 
bekerja tanpa target. Target itu menurutnya, dinilai penting mengukur prestasi 
can pencapaian pembantu Presiden.

Bahkan, ancamannya tak main-main. Mereka yang berkinerja buruk harus menerima 
bila dicopot. "Taruhannnya jabatan. Enak saja enggak diberi target. Jadi 
menteri enggak diberi target terlalu enak buat saya," kata Jokowi beberapa 
waktu lalu.

‎Awal 2018

Disisi lain, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo, sempat mengatakan 
bahwasanya pemerintah akan merombak atau mereshuffle Kabinet Kerja Jilid III 
pada awal tahun 2018. Menurutnya, reshuffle kabinet itu dilakukan untuk 
memberikan kesempatan kepada menteri mencalonkan diri di Pilkada 2018.

Ia mengungkapkan, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa merupakan menteri 
yang berpotensi diganti. Hal itu karena, Khofifah kemungkinan besar akan maju 
di Pilkada Jawa Timur. "Ibu Khofifah sudah yakin maju Pilgubkan, pasti diganti. 
Soal pengganti siapa? Hak presiden," tutur Tjahjo di Jakarta, Minggu 
(3/12/2017). 

 

 
    

Kirim email ke