Anggaran Sama, Pendidikan Indonesia Kalah Jauh dari Vietnam 
https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20171204135157-532-259989/anggaran-sama-pendidikan-indonesia-kalah-jauh-dari-vietnam/
 Dinda Audriene Muthmainah , CNN Indonesia | Selasa, 05/12/2017 08:48 WIB
 Bagikan :    
https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20171204135157-532-259989/anggaran-sama-pendidikan-indonesia-kalah-jauh-dari-vietnam/#
  
https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20171204135157-532-259989/anggaran-sama-pendidikan-indonesia-kalah-jauh-dari-vietnam/#
  
https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20171204135157-532-259989/anggaran-sama-pendidikan-indonesia-kalah-jauh-dari-vietnam/#
 Menteri Keuangan Sri Mulyani mengeluhkan kondisi pendidikan di Indonesia yang 
berada di peringkat ke-68, bahkan kalah dari Vietnam yang di peringkat delapan. 
(CNN Indonesia/Safir Makki).
 Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Keuangan Sri Mulyani mengeluhkan kondisi 
pendidikan di Indonesia yang masih berada di peringkat ke-68 di antara 
negara-negara di dunia. Hal ini berbanding terbalik dengan Vietnam yang berada 
di peringkat delapan.

"Indonesia menghabiskan 20 persen Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 
untuk pendidikan, sama seperti Vietnam. Tapi hasilnya sangat berbeda," kata Sri 
Mulyani, Senin(4/12).

Kendati demikian, Sri Mulyani melanjutkan, jumlah dana sebenarnya bukan perkara 
utama dalam menumbuhkan kualitas pendidikan di suatu negara. Melainkan, cara 
menghabiskan dana tersebut.


 
 

 Lihat juga: Bos Pajak Baru dari 'Kacamata' Para Kolega 
https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20171204083241-532-259918/bos-pajak-baru-dari-kacamata-para-kolega/
 
"Indonesia dalam hal ini telah melakukan pembahasan dengan Kementerian 
Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud)," ucap Sri Mulyani.

Menurutnya, pemerintah akan membenahi sistem pendidikan di kabupaten, kota, dan 
provinsi. Misalnya, pemerintah memastikan lagi soal kualitas guru yang mengajar 
di berbagai daerah tersebut.

"Jumlahnya sudah memadai secara total, namun distribusi maupun kualifikasinya 
kurang. Ini tantangan bagi Indonesia," jelas dia.

Tak hanya guru, tapi kualitas sistem kurikulum yang ditetapkan juga penting 
untuk dikaji. Dengan demikian, pemerintah masih perlu membenahi penggunaan 
anggaran pendidikan.


 Lihat juga: Cabai Bawa Inflasi November Terbang Landai 0,2 Persen 
https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20171204113123-532-259948/cabai-bawa-inflasi-november-terbang-landai-02-persen/
 
"Ini juga penting meningkatkan peranan dan kualitas kelas menengah," imbuhnya.

Membahas mengenai kelas menengah, Ia menjelaskan, kelas menengah tahun 2016 
sebenarnya telah meningkat menjadi 21 persen dari posisi 14 tahun lalu yang 
masih tujuh persen.

Menurutnya, masyarakat yang masuk dalam kelas menengah adalah mereka yang 
menghabiskan sekitar Rp500 ribu hingga Rp2 juta per hari. Namun, Sri Mulyani 
berpendapat, kelas menengah ini masih belum cukup kuat dan masih rentan 
terguncang oleh kondisi ekonomi.

"Upaya mengurangi kemiskinan bergantung dari kelas menengah, mereka bisa 
menciptakan lapangan kerja, jadi kelas menengah bisa jadi pendorong pertumbuhan 
ekonomi di masa depan," papar Sri Mulyani.

Lebih lanjut, Sri Mulyani mengatakan, tantangan untuk menumbuhkan kelas 
menengah saat ini salah satunya berasal dari perkembangan teknologi informasi. 
Pasalnya, hal itu bisa menghapus lapangan kerja bagi masyarakat.

"Misalnya, papangan kerja dulu ada sebagai kendaraan untuk beranjak dari 
kemiskinan," ungkap Sri Mulyani.


 Lihat juga: Dapatkan Google, Sri Mulyani Incar Pajak Perusahaan Sejenis 
https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20171201125824-92-259455/dapatkan-google-sri-mulyani-incar-pajak-perusahaan-sejenis/
 (lav)

 

Kirim email ke