http://www.koranperdjoeangan.com/negara-lambat-seperti-keong-sejahterakan-rakyat-kencang-bagai-kereta-cepat-menumpuk-hutang/



Opini <http://www.koranperdjoeangan.com/category/opini/>


Negara Lambat Seperti Keong Sejahterakan Rakyat, Kencang Bagai Kereta Cepat
Menumpuk Hutang

5 Desember 2017
<http://www.koranperdjoeangan.com/negara-lambat-seperti-keong-sejahterakan-rakyat-kencang-bagai-kereta-cepat-menumpuk-hutang/>
Redaksi <http://www.koranperdjoeangan.com/author/redaksi/> Jokowi
<http://www.koranperdjoeangan.com/tag/jokowi/>, Keong
<http://www.koranperdjoeangan.com/tag/keong/>

Facebook <http://www.koranperdjoeangan.com/#facebook>Twitter
<http://www.koranperdjoeangan.com/#twitter>Google+
<http://www.koranperdjoeangan.com/#google_plus>Google Gmail
<http://www.koranperdjoeangan.com/#google_gmail>WhatsApp
<http://www.koranperdjoeangan.com/#whatsapp>Line
<http://www.koranperdjoeangan.com/#line>

Oleh : Ferdinand Hutahaean – Rumah Amanah Rakyat

Penghujung 2017, perjalanan bangsa kembali di hiasi pernyataan konyol dari
kabinet kerja pemerintahan Jokowi. Kabinet Kerja yang sudah meninggalkan 3
tahun pemerintahan dengan sederet masalah bangsa yang tak kunjung teratasi
dan justru makin bertumpuk tumpuk seolah Kabinet ini setiap bekerja hanya
menghasilkan tambahan masalah baru. Setiap Kabinet ini bekerja, rakyat
semaki takut karena hampir dipastikan buah kerja mereka adalah hutang baru.

Terbaru kemarin adalah Menteri Pertanian yang melanjutkan daftar kekonyolan
kabinet (Maaf saya harus menyebutnya Konyol) dengan pernyataannya terkait
mahalnya harga daging. Dengan ringan dan tanpa merasa rakyat ini harus
dimuliakan dan dimanusiakan, sang Menteri mengarahkan Rakyat agar beralih
dari konsumsi daging ke konsumsi Tutut atau keong sawah. Sang Menteri
dengan mudahnya meminta Rakyat beralih makan keong sawah jika daging mahal
karena protein Tutut sama dengan protein daging. Sepele sekali masalahnya
menurut nalar pak Menteri hanya pada urusan protein. Pak Amran sang Menteri
Pertanian tampaknya lupa bahwa konsumsi daging bukan hanya urusan protein,
tapi menyangkut urusan rasa, jenis masakan dan kebiasaan masyarakat. Ahh
sudahlah, anggap saja itu sinyal keras atau kode keras dari Mentan kepada
Rakyat.

Kekonyolan seperti ini sebelumnya pernah terucap dari beberapa menteri
kabinet kerja. Ketika beras mahal, Menko Puan pernah usulkan solusinya agar
diet jangan banyak makan nasi. Ketika cabe dan bawang mahal, Mendag Enggar
usulkan agar tak usah makan cabe atau tanam sendiri. Sepele sekali
masyarakat ini ternyata dalam pemikiran Kabinet Kerja. Tak mampu beri
Solusi, maka Rakyat arahkan saja untuk lari dari realitas kehidupan. Solusi
cepat dalam kategori solusi konyol.

Semua hal diatas terjadi tentu menunjukkan kualitas kinerja kabinet ini.
Besar dalam retorika, nihil dalam prestasi.

Cobalah kita melihat realita saat ini, ekonomi tidak tumbuh, beku di angka
pertumbuhan tidak jelas antara 4,7-5,2 % jatuh dari angka diatas 6% era
SBY. Kesehatan rakyat makin terancam tak terobati karena BPJS merugi
ditengah tingginya gaji Manajemen BPJS, angka kemiskinan terus bertambah
tiap tahun, angka pengangguran meningkat, sulitnya mencari lapangan kerja,
Listrik merangkak menggerogoti hampir 30% pendapatan rakyat, BBM , Gas
menambah frustasi rakyat, retribusi jalan tol terus naik, dan semua itu
menjadi beban hidup yang ditanggung rakyat secara langsung. Satu hal yang
meningkat tajam di era kabinet kerja ini adalah peningkatan hutang yang
sangat signifikan bahkan angkanya mengalahkan 32 tahun Soeharto dan
mengalahkan 10 tahun SBY.Tercatat 3 tahun Jokowi telah berhutang lebih dari
1.300 Trilliun dan itu rekor penghutang terbesar dalam sejarah bangsa
Indonesia.

Kembali kepada keong, pak Menteri Pertanian, sepertinya itu menjadi sinyal
keras atau kode keras kepada rakyat. Rakyat harus siap-siap kepada
pelambatan kesejahteraan kedepan. Ekonomi akan makin berat, kesejahteraan
akan melambat seperti keong. Namun sebaliknya pemerintah ini akan berlari
kencang bagai Kereta Api Cepat dalam urusan menumpuk hutang. Bulan ini
mungkin akan bertambah hutang baru seiring obligasi yang akan dijual
pemerintah di bursa Amerika sebesar 4 Milyar Dolar.

Haruskah rakyat kuatir? Tentu sudah selayaknya rakyat kuatir akan masa
depan kehiduoan berbangsa dan bernegara. Rakyat telah dijadikan objek yang
harus diexploitasi dibalik infrastruktur dan rakyat bukan lagi komponen
yang harus dipelihara negara. Katanya rakyat tidak boleh manja, padahal
adalah kewajiban negara memelihara rakyatnya bukan mengexploitasinya.
Lihatlah salah satu exploitasi itu, jalan tol dibangun dengan hutang,
rakyat harus bayar hutang lewat pajak juga harus bayar tarif tol untuk
melintasinya, dan ironi besarnya, tarifnya terus naik.

Lantas Rakyat dapat apa? Hanya dapat exploitasi sebagai mesin hidup
pembayar hutang memperkaya kaum kapitalisme yang berkolaborasi rejim neolib
anti subsidi.

Selamat menikmati hidup yang berat era kabinet kerja. Atau mungkin lebih
baik mereka berhenti kerja agar hutang tidak terus menggunung?

Kirim email ke