https://tirto.id/memutihkan-orang-papua-cmPk


Memutihkan Orang Papua? <https://tirto.id/memutihkan-orang-papua-cmPk#>



*Sejenak, coba dengar kabar saudara kita di pulau paling timur Indonesia. *


Reporter: Aulia Adam
<https://tirto.id/author/auliaadam?utm_source=internal&utm_medium=topauthor>

01 Desember, 2017 *dibaca normal 3:30 menit *

   -

   *Populasi orang asli Papua terus menurun di daerah perkotaan di Papua *

3.4k Shares

*Sejenak, coba dengar kabar saudara kita di pulau paling timur Indonesia.*

*tirto.id <http://tirto.id> - *Dainius Pūras menyambangi Papua pada Jumat
terakhir Maret lalu. Selama kurang lebih 30 jam, ia harus memantau
kehidupan warga di sana. Sebagai Pelapor Khusus dari Perserikatan
Bangsa-Bangsa (PBB), ia memang bertugas untuk menilai standar kesehatan
fisik dan mental orang-orang Indonesia, termasuk rakyat Papua. Penilaian
itu diperlukan untuk mengukur sejauh mana negara hadir menggenapi kewajiban
melayani masyarakat terutama di bidang kesehatan—salah satu hak asasi
manusia.

Dalam kunjungan singkat itu, Pūras menggarisbawahi sejumlah poin yang
menurutnya perlu perbaikan segera di tanah Papua. Di antaranya: kesehatan
ibu dan kesehatan anak-anak, seksual dan reproduksi, kesehatan mental,
HIV/AIDS, dan narkoba. Ia juga mengangkat masalah kekurangan tenaga medis
di Papua dalam satu konferensi pers.

"Penting untuk mencari solusi terkait pelayanan kesehatan di Papua, layanan
yang diterima dan digunakan oleh masyarakat," ujarnya, dikutip *Antara
<http://palembang.antaranews.com/berita/460157/pelapor-khusus-pbb-minta-pemprov-papua-tingkatkan-pelayanan-kesehatan>*,
31 Maret.

Dari keseluruhan cerita kesehatan di Indonesia, Pūras mengutarakan akan
memberi porsi besar pada kasus HIV/AIDS di Papua. Kasus ini akan dimuat
dalam laporannya yang dirilis pada 2018 nanti.

"Kami juga memberi perhatian terkait penyakit HIV/AIDS yang tingkat
prevalensinya semakin tinggi,” katanya.

Keputusan Pūras benar belaka. HIV/AIDS di Papua memang perlu diberi
sorotan.

Sejak 2015 hingga 2016, kasus penyakit yang menyerang imunitas tubuh itu
terus meningkat. Hingga Juni 2016, Dinas Kesehatan Provinsi Papua mencatat
25.349 kasus, dan selang enam bulan kemudian, pada Desember 2016, meningkat
menjadi 26.973 kasus.

Parahnya, kondisi ini menyerang lebih banyak orang-orang berusia produktif,
dari umur 19 hingga 49 tahun. Rentang usia yang terkena HIV-AIDS: 589 kasus
menyerang usia 1-14 tahun, 3.007 kasus pada usia 15-19 tahun, dan 21.811
kasus pada usia 20-49 tahun.

Angka-angka ini jadi salah satu perkara yang disorot Sekretariat Keadilan,
Perdamaian, dan Keutuhan Ciptaan (SKPKC) Fransiskan Papua, sebuah gereja
yang memantau kasus pelanggaran HAM di Papua.

Dalam laporan *Papua di Ambang Kehancuran,* yang diluncurkan di
Jakarta pada 11 April lalu, Gereja Fransiskan Papua menuntut pemerintah
Indonesia untuk tanggap menyelesaikan kasus HIV/AIDS. Angka 2,3 persen
kasus HIV/AIDS yang terdeteksi pada masyarakat Papua dianggap sudah terlalu
tinggi dan mengancam eksistensi penduduk asli Papua.

“Kesehatan mereka adalah tanggung jawab negara, dan peningkatan jumlah
HIV/AIDS ini adalah bukti pemerintah abai,” ujar Basilius Triharyanto,
salah satu penulis laporan.

Menurutnya, jumlah tersebut bisa disiasati jika pemerintah tanggap dan
menyediakan layanan kesehatan yang memadai. “HIV/AIDS hari ini bukan lagi
penyakit yang tak bisa disiasati. Ada obat yang bisa membuat orang-orang
dengan HIV/AIDS lebih sehat dan lebih produktif,” tambahnya.

Triharyanto benar. Salah satu penanganan paling mutakhir terhadap penderita
HIV adalah terapi ARV alias *antiretroviral therapy*, biasa disingkat
<https://tirto.id/bersahabat-baik-dengan-hiv-b6sV> jadi ART. Ia adalah
serangkaian pengobatan yang akan mengontrol jumlah virus HIV dalam tubuh.
Terapi ini bisa membuat seorang HIV Positif tidak bisa menularkan virus
pada orang lain, dan hidup produktif seperti orang sehat pada umumnya

Harganya memang tidak murah. Namun, demi menunaikan janji melindungi
segenap bangsa Indonesia, pemerintah harusnya punya siasat tentang hal itu.

Di London, Oktober lalu, bahkan seorang dengan HIV yang tak ingin
disebutkan namanya didiagnosis <https://tirto.id/obat-hiv-sudah-dekat-b1kM>
sembuh total, meski masih perlu dipantau di laboratorium, setelah menjalani
pengobatan HIV/AIDS termuktahir. Ini membuktikan kalau dunia medis hari ini
sudah lebih ramah pada orang dengan HIV/AIDS.

Tapi, orang-orang Papua masih belum merasakannya. Terutama 2,3 persen dari
mereka yang terang-terang sudah terpapar HIV/AIDS. Hidup mereka di ujung
maut.

Pada 2007, sebenarnya pemerintah telah membentuk Komisi Penanggulangan AIDS
di tingkat provinsi dan kabupaten/kota di Papua. Tapi, menurut Triharyanto,
hasil kerja mereka "tak signifikan" sama sekali. Terbukti dari jumlah kasus
yang terus bertambah. Padahal, kasus-kasus HIV/AIDS ini sudah ditemukan
hampir di seluruh daerah di Papua.

“Harusnya sudah tidak bisa dibiarkan lagi dan segera ditangani. Karena
bisa-bisa orang Papua—terutama penduduk asli Papua—punah,” kata Veronica
Koman <https://twitter.com/veronicakoman>, pengacara HAM dan aktivis Papua
Itu Kita, yang turut bertemu Pelapor Khusus PBB Dainius Pūras selama
kunjungannya ke Indonesia.

[image: Memutihkan Orang Papua?]

share infografik



*Ancaman Kepunahan Orang Papua*

Studi terbaru
<http://www.globalresearch.ca/indonesias-west-papua-settlers-dominate-coastal-regions-highlands-still-overwhelmingly-papuan/5569676>
Dr. Jim Elmslie, akademisi University of Sydney, dalam
*The Asia-Pasific Journal*, menyebut jumlah penduduk asli Papua makin
menurun di wilayah perkotaan.

Ramalan itu dibikinnya dari analisis jumlah penduduk asli Papua yang memang
terus menurun dengan mengombinasikan kedatangan migran orang non-Papua dan
isu lain termasuk layanan kesehatan tak layak di sana sejak 1970-an. Pada
1963, jumlah penduduk asli Papua masih 100 persen. Namun, dalam sensus
1971, jumlah penduduk asli Papua menjadi 96 persen (923 ribu), sementara
jumlah orang non-Papua sebesar 4 persen (36 ribu).

Pada sensus 2010, jumlah penduduk asli Papua sekitar 73,57 persen
(2.121.436 jiwa), sementara jumlah pendatang 22,84 persen (658.708 jiwa).
Lima kabupaten dengan mayoritas non-Papua adalah Merauke (62,73%), Nabire
(52,46%), Mimika (57,49%), Keerom (58,68%), dan Kota Jayapura (65,09%).
Ke-23 kabupaten lain di Papua dan Papua Barat masih didominasi oleh orang
asli Papua.

Meski begitu, enam kota lain berpotensi berubah di masa mendatang dengan
orang non-Papua: Kab. Jayapura (38,52%), Yapen Waropen (21,91%), Biak
Numfor (26,18%), Boven Digoel (33,04%), Sarmi (29,75%), dan Waropen
(20,41%).

Dari data ini, orang non-Papua terkonsentrasi di perkotaan. Di pegunungan,
mayoritas adalah orang asli Papua seperti di Lanny Jaya (99,89%), Tolikara
(99,04%), Yahukimo (98,57%), Paniai (97,58%), dan Jayawijaya (90,9%).

Konfigurasi yang berubah itu lantaran program transmigrasi negara
pemerintahan Soeharto yang mengirim orang-orang di wilayah padat penduduk
ke wilayah yang masih jarang penduduk. Belakangan, ia tak cuma diubah oleh
transmigrasi, melainkan para migran ekonomi yang mencari peruntungan ke
Papua. Mereka termasuk orang Makassar, Bugis, Maluku, selain Jawa dan
sebagainya.

Kondisi ini ditambah dan diperparah lewat kekerasan negara dan gelombang
korporasi di wilayah yang paling terutup
<https://www.hrw.org/report/2015/11/10/something-hide/indonesias-restrictions-media-freedom-and-rights-monitoring-papua>
dari akses peliputan media maupun pemantauan kejahatan kemanusiaan.

Itu secara gradual menurunkan jumlah orang asli Papua. Persentasenya terus
merosot. Ada ungkapan: datang ke Papua dengan M-16, pulang dari Papua
membawa 16 M.

Dari studi demografinya, Elmslie memperingatkan pemerintah Indonesia kalau
orang asli Papua terancam punah. Elmslie bahkan menyebutnya
<https://www.academia.edu/25626271/A_Slow-Motion_Genocide_Indonesian_Rule_in_West_Papua>
sebagai "*slow-motion genocide*."

“Kalau pemerintah terus-terusan mengabaikan laporan-laporan semacam ini,
dan tidak segera mengambil kebijakan, ya bisa dibilang ini upaya mereka
memutihkan etnis Papua,” ujar Veronica Koman.

========

*Catatan: Artikel orisinal pernah tayang pada April 2017. Disunting secara
minor dan dipublikasikan*

Kirim email ke