Hahaa, ... mang Radi jadi bersuara lagi dengan keong-sawah! Tapi mang, dari 
berbagai jenis keong air yg pernah saya makan, yaa memang seperti foto tulisan 
“Disebut Bernutrisi Tinggi, Sebergizi Apa Sih Keong Sawah?” dibawah ini. Kulit 
rumah keong berwarna agak kehitaman dan berbentuk bulat, ... Yang biasa dimakan 
di HK, sepertinya keong-laut, biasa ditumis dan keluarin keongnya dari rumah 
keong ditusuk dgn tusuk-bambu. Cukup enak. Hanya saja saya tidak berkesempatan 
melihat dan menangkap sendiri, apalagi yang namanya keong-sawah itu.

Mestinya usul Menteri Susi makan keong-sawah ini disambut dan digencarkan untuk 
diternak sebagai salah satu alternatif makanan bergizi tinggi untuk mengatasi 
jutaan anak Indonesia yang masih kekurangan gizi. Jangan biarkan anak-anak itu 
hidup kurang gizi berkepanjangan hanya dengan menunggu kemampuan Pemerintah 
kasih makan daging sapi dan minum susu setiap harinya!

Kalau kupang yang jenisnya agak beda, ... tentu juga bisa saja dikerjakan 
seperti yang sudah banyak bisa dilihat diternak oleh nelayan di Tiongkok, dan 
juga sudah dikerjakan di Malaysia, Peternakan Kupang secara besar2an : 
https://www.youtube.com/watch?v=yA4QsnAzE-o  . Nah, kalau menghendaki 
Peternakan Tirem yang dirasakan lebih enak dimulut dan bisa nyabet duit lebih 
banyak juga caranya tidak banyak beda spt foto dibawah ini: 





Sedang yg disebut kupang di Malaysia, agak berbeda dengan kupang yg di 
Surabaya, dibawah ini. 


KUPANG LONTONG PAK COWBOY (PRIGEN); YANG INI BENERAN SEDAP!
09/03/2011 · by laurentiadewi · in ALL, FOODICTIONARY
Ini adalah makanan penuh kontroversi *halah*, haha!




Yup, kupang! Hahaha!

  Kupang adalah hewan laut semacam kerang kecil. Disebut juga kerang putih atau 
Corbula Faba. Hidup di lumpur air asin (taken from here).

Nih kerang kecil, identik dengan kotoran (bahkan kotoran manusia!) karena 
hidupnya yang didaerah lumpur air asin (pertemuan sungai dengan laut). Tapi 
semoga artikel ini bisa membuat kalian engga lagi ngeri (dan yang doyan kupang, 
makin lahap, haha!):

  Kupang adalah hewan laut sejenis kerang atau tiram. Bentuknya kecil, 
berukuran kira-kira tiga sampai lima milimeter, tubuhnya berwarna cokelat agak 
pucat. Kupang disebut juga kerang putih atau bernama ilmiah corbula faba ini 
biasanya dapat ditemukan di pinggir pantai atau lumpur berair asin.

  Dulu, dimasa remaja  ketika masih tinggal bersama almarhum kedua orang tua 
saya di Surabaya. Mereka bercerita bahwa yang namanya kupang laut yang kemudian 
diolah menjadi sajian maknyus khas Surabaya atau Sidoarjo itu ditangkap dengan 
menggunakan umpan (maaf)“kotoran manusia” alias tinja.

  Para nelayan kupang menempatkan tinja manusia tersebut pada papan atau 
tripleks yang selanjutnya ditempatkan di pinggir laut berombak tenang.

  Konon binatang laut yang jadi santapan khas Surabaya dan Sidoarjo ini akan 
secara suka rela berdatangan menghampiri umpan yang dipasang tadi.

  Lalu setelah kupang berkumpul dalam jumlah banyak di papan atau tripleks, 
nelayan tadi tinggal memanen hasilnya.

  Ketika saya ceritakan pengalaman menangkap kupang ala cerita almarum orang 
tua saya kepada nelayan Bangkalan Madura, mereka malah tertawa terbahak-bahak. 
Seraya berkata de’ remah be’en tak oning cong ( bagaimana kamu tidak mengerti 
nak).

  Mereka lalu menjelaskan bahwa cerita dari mulut ke mulut tentang cara 
menangkap kupang laut dengan umpan kotoran manusia itu tidak benar alias rumor 
belaka.

  Yang benar untuk menangkap kupang dengan mudah tinggal menggunakan tanah liat 
berwarna kuning. Begitu imbuh salah satu nelayan kupang laut di Bangkalan yang 
saya temui Minggu pagi itu.

  Memang ada kawasan pesisir dimana tanah liatnya itu berwarna kuning. Seperti 
misalnya daerah-daerah yang terletak di pantai utara Jawa Timur. Sebagai 
contohnya di Kedung Cowek Surabaya, Desa Candi Sidoarjo dan Bangkalan Madura.

  Sebenarnya untuk menangkap kupang, para nelayan Bangkalan menggunakan 
peralatan yang sangat sederhana. Mereka cukup menyabit rumput atau ganggang 
laut di mana diyakini kupang banyak menempel disitu.

  Biasanya  habitat kupang ini berada di pantai yang berombak tenang atau pada 
saat air laut surut. Pada saat kondisi seperti itulah kawanan kupang ditangkap 
oleh para nelayan .

  Di beberapa daerah di Jawa Timur, seperti Surabaya, Sidoarjo, dan di Pulau 
Madura ada sedikit perbedaan pada ukuran cangkang kupang.

  Cangkang kupang di Surabaya lebih kecil dari kupang di Sidoarjo. Di Bangkalan 
Madura ukuran cangkang kupang lautnya lebih besar lagi (taken from here).

Aku sendiri pernah denger kisah kupang yang identik dengan kotoran itu, Mamiku 
apalagi, sampai-sampai anaknya yang semata wayang ini dilarang keras makan 
kupang, namun akhirnya.. pada tanggal 8 Maret 2011 aku pernah icip kupang 
lontong, tepatnya di Kupang Pojok Jaya dan lumayan doyan:



Trus, aku dikenalkan dengan kupang yang ini:



Dan jrenggg, hauahuauha.. jadi duoyannn!!! Btw, bandingkan deh foto Kupang 
Pojok Jaya dengan foto kupang lontong yang kedua. Foto yang kedua jauh lebih 
menggoda, kan?! Dan memang lebih yumm! Sluuuurrrph, haha!

Nah, foto yang kedua itu adalah fotonya kupang lontong Pak Cowboy (aslinya sih 
tanpa nama tapi karena si penjual pakai topi cowboy, maka semua kawan 
menyebutnya kupang lontong “Pak Cowboy”), lokasinya diseberang Ayam Goreng Sri, 
Prigen:



Tempat makannya hanya warung semi permanen tapi yang antri makan bejubel (ada 
kawan Mami yang rela antri 3 jam untuk seporsi kupang lontong ini!), wow..


From: Dharmawan Isaak 
Sent: Thursday, December 7, 2017 6:00 PM
To: Chan CT 
Cc: GELORA_In 
Subject: Re: Fw: [GELORA45] Disebut Bernutrisi Tinggi, Sebergizi Apa Sih Keong 
Sawah?

Bung Chan, bekitjot saja melum mentjitjip, tapi keong sawah sja suka sekali dan 
waktu ketjil sering mentjari keong sawah sehabis panen, tapi jang paling sering 
dilakukan kaum tani mungut keong sawah sambil bkerdja umpamanaj di waktu 
menjngkul, menjiangi dll.. 
Di Djawa Barat di sawah terdapat tiga matjam ialah susuh bentuknja hampir mirip 
bakitjot, hanja saja tidak melihat susuh jang besar, karena ketjil dan klitnja 
keras makannja agak sulit, jang kedua orang Sunda menjebutnja tutut, lebih 
besar kulitnja tidak begitu keras dibanding dengan kulit susuh dan kalau 
direbus dagingnja adakalanja deluar sendiri, bentuknja sedikit kurang 
mengerutjuk dibanding dengan susuh, jang ketiga keong, bentuknja paling tidak 
mengerutjut, bisa dikatakan bagian atas kulitnja hampir rata djenis ini dalah 
djenis jang sanga besar, kalau jang hidup di rawa2 seperti didaerah 
Bandjar/Rawalakbok saja pernah melihat besarnja sampai mendekati apel ukuran 
sedang.
Paling sederhana masaknja direbus tjukup pakai garam, daun salam,lada hitam, 
adakanja djuga ditamabah kunjit/cucurma enak dilahap dengan apa sadja.
Waktu saja ketjil, kalau mengembalakan kambing di mana ladang penggembalaan 
dekat sawah, amaka bawa kaleng dan bumbu jang diperlukan, tentu sadja tak lupa 
bawa korek api,mengembala sambil melahap keong.
Inilah Bung Chan nostalgia anak desa.
Oh ijah tentang gidji dan lain2nja waktu itu belum tau, kalau enak saja 
ketahui, apalagi kalau jang masak dirumah dengan bumbu lengkap dan pakai santen.
Bung sebagai anak kota tentusulit membajnagkangkan bagai mana menjenangkannja 
"kebebasan" kehidupan anak2 djadjahan waktu itu. . 

2017-12-07 4:17 GMT+01:00 Chan CT <[email protected]>:



  From: [email protected] [GELORA45] 
  Sent: Thursday, December 7, 2017 9:25 AM

    









  Disebut Bernutrisi Tinggi, Sebergizi Apa Sih Keong Sawah?



  RESA EKA AYU SARTIKA
  Kompas.com - 06/12/2017, 11:16 WIB













  Olahan keong sawah khas Purwokerto.(TRIBUNJATENG/KHOIRUL MUZAKKI)





  KOMPAS.com - Keong sawah adalah salah satu hewan yang sangat umum di 
Indonesia. Di beberapa daerah, keong sawah sudah sering disulap menjadi makanan 
yang lezat.



  Sayangnya, masih banyak orang yang meragukan kandungan nutrisi dan gizi dari 
hewan air satu ini.



  Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Environmental Science, 
Toxicology, and Food Technology pada Januari 2013 menyebutkan bahwa keong sawah 
sebenarnya memiliki kandungan nutrisi dan gizi yang tinggi. Bahkan, kandungan 
kalsiumnya lebih darisusu.



  Penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan dari University of Agriculture, 
Makurdi, Nigeria tersebut menyebutkan bahwa di Afrika Barat dan Eropa, berbagai 
jenis siput sudah banyak diko nsumsi, meski pada umumnya yang dikonsumsi adalah 
bekicot.



  Baca juga: Penyakit Langka Demam Keong Masih Menghantui Warga Poso



  Selain itu, keong sawah (Pila ampullacea) juga banyak dikonsumsi, terut ama 
oleh warga di Afrika Barat dan Asia.



  Para peneliti kemudian meneliti kandungan nutrisi yang lebih lengkap pada 
hewan tersebut dengan memisahkan daging dari cangkangnya.



  Selanjutnya, daging tersebut didehidrasi dalam oven bersuhu 60 derajat 
celcius selama 24 jam. Hasilnya kemudian digiling hingga menjadi bubuk. Bubuk 
inilah yang kemudian dianalisis untuk mendapatkan kandungan nutrisi dan gizi 
keong sawah.



  Hasil dari analisis tersebut menunjukkan bahwa keong sawah memiliki kandungan 
air 76 ,32 persen. Presentase kandungan air ini berbeda dengan beberapa temuan 
sebelumnya. "Variasi ini bisa disebabkan oleh efek lingkungan," tulis 
penelitian tersebut.



  Sedangkan protein yang dimiliki mencapai 10,40 persen. "Lebih rendah daripada 
ikan air tawar dan siput tanah raksasa (Archchatina maginat)," sambungnya.



  Baca juga: Terinspirasi Siput, Peneliti Ciptakan Lem Super untuk Organ Tubuh



  Penelitian sebelumnya telah menyebutkan bahwa asam amino dalam protein siput 
dapat digunakan untuk melengkapi sereal sumber protein yang membuat (orang) 
kekurangan lisin lebih baik.



  Selain protein, keong sawah juga mengandung serat kasar sekitar 0,01 persen. 
"Serat kasar rendah P ampullacea atau keong sawah disebabkan oleh aktivitas 
berenang keong dalam air yang lebih berat daripada merangkak di darat," ungkap 
temuan tersebut.



  Lalu, jumlah lipid keong sawah hanya 0,09 persen, lebih rendah dibandingkan 
dengan hewan lainnya. Ini membuktikan bahwa penggunaan keong sawah ampuh untuk 
pengobatan hipertensi.



  Tak hanya itu, kandungan mineral pada keong sawah juga bisa dibilang tinggi, 
apalagi jika dibandingkan dengan siput darat.



  Mineral yang terkandung dalam keong sawah di antaranya adalah fosfor 60,52 
mg, kalsium 129,18 mg, potasium 71, 13 mg, zat besi 10,90 mg, sodium 0,04 mg, 
magnesium 31,19 mg, dan zinc 1,31 mg. Semuanya dalam skala per 100 gram.



  Baca juga: Pijatan Keong-keong Ini Bikin Kinclong Wajah Anda



  Menariknya, kandungan kalsium dalam keong sawah ini lebih tinggi jika 
dibandingkan kalsium dalam daging sapi, telur, bahkan susu.



  Kandungan potasiumnya juga telah terbukti baik untuk keseimbangan cairan se 
rta regulasi konduksi impuls saraf, detak jantung, dan metebolisme sel.

  Keong sawah juga mengandung zat besi yang tinggi dan dipercaya membantu 
pembentukan darah merah. "Unsur ini penting untuk pembentukan darah merah, dan 
karena zat besi (dalam keong sawah) bersifat akuatik maka bisa direkomendasikan 
untuk wanita hamil dan anak-anak," tulis laporan tersebut.




  Dengan kata lain, ini membuktikan bahwa keong sawah merupakan sumber mineral 
yang baik. Para peneliti pun menyarankan untuk memasukkan keong sawah sebagai 
makan an yang kita konsumsi.




  

Kirim email ke