Soal rezim memperlakukan warganya adalah soal lain lagi. Kita semua tahu selama
rezim mengabdi kepada kepentingan kaum investor dan imperialisme, warga akan
selalu dikorbankan, di manapun mereka berada, tidak hanya di Papua. Tidak baca
penelitian yang saya postingkan dulu tentang kehidupan buruh tambang nikel di
Sulawesi yang upahnya lebih rendah dari pada buruh Tiongkok dan kondisi
hidupnya juga lebih buruk. Untuk memandikan anaknya, buruh harus beli air,
karena air dari sumur sudah terkontaminasi. siapa yang mengekplotasi tambang
itu? Investor Tiongkok yang membawa buruh kasarnya sendiri....Justru karena itu
saya bilang yang mendesak adalah berjuang bersama melawan ketidak adilan
pemerintah boneka imperialisme...bukan memisahkan diri!!!
Indonesia membebaskan dirinya dari penjajahan kolonial belanda adalah sebuah
tindakan menentukan nasib sendiri. Tapi Papua memisahkan diri dari Indonesia
bukan menentukan nasib sendiri karena Indonesia tidak menjajah Papua. Sudah
tentu buat mereka yang menganggap Indonesia menganeksi dan menjajah Papua,
memisahkan diri dari Indonesia sama dengan menentukan nasib sendiri. Jadi
sekali lagi, tergantung titik tolak yang digunakan. Dan titit tolak ini ada
hubungan erat dengan sejarah dan masa lalu. Ketika Indonesia menyatakan
kemerdekaan 1945, di Papua belum/tidak ada gerakan untuk merdeka sendiri, bebas
dari belanda dan tidak tergabung dengan Indonesia. Pilihannya ketika itu adalah
merdeka bersama dengan pulau-pulau Nusantara lainnya dalam Indonesia atau
memilih bersama dengan Belanda. Dalam “Manifesto from First Papuan
People’sCongress-1961”, saya temukan antara lain tuntutan: a. our flag be
hoistedbeside the Netherland flag; b. our national anthem (Hai Tanahku Papua”)
be sungand played in addition to the Netherlands national anthem”. Artinya,
KongresRakyat Papua adalah sebuah lembaga yang pro Belanda karena ingin
supayabenderanya berkibar di samping bendera Belanda dan lagu
kebangsaannyadinyanyikan bersama dengan lagu kebangsaan Belanda. Apakah ini
tidak serupadengan kasus Republik Maluku Selatan yang mendapat dukungan dari
KerajaanBelanda?
Jadi apa yang disebut aksi untuk merdeka pada tahun 1961, bukanlah untuk
membebaskan diri dari kolonialisme Belanda, tapi tetap berada dalam pelukan
penguasa kolonial Belanda. Inilah yang diperingati baru-baru ini seolah-olah
sebagai pernyataan kemerdekaan Papua, yang mana tidak sesuai dengan kenyataan
sejarah.
On Thursday, December 7, 2017 8:21 PM, BILLY GUNADIE
<[email protected]> wrote:
Apa yang kita lihat, pemerintah Indonesia tidak ada tanggung jawab terdapat
warganya, minum air bersih saja musti beli, termasuk tipuan BPJS, seolah peduli
akan kesehatan warganya. Pencemaran lingkung disegala pelosok. Pembangunan
infrostrukutur bukan kepentingan rakyat jelata.
Belanda kabur tanpa tanggung jawab, sewaktu pemerintah Sukarno dan Suharto
mengambil alih Iran Barat.
Sewaktu pertambangan open pit, pembersihan peka tanah, semasuk RUMAH penduduk
asli (yang berupa pohon), dibabat, sewkatu mereka protes dikatakan tororis
menduduki kantor, dengan tombak bambu dan panah bambu (portable cubicle), lalu
dikirim paratooper unutk dihabisi nyawanya sekampung.
On Thursday, December 7, 2017 2:03 PM, Jonathan Goeij
<[email protected]> wrote:
Pemerintah Indonesia dan aparatnya memakai istilah Indonesia Timur dan Barat,
dan itu bukan hanya diberbagai media tetapi juga ada diberbagai legislasi.
Supaya jelas, saya tidak pernah bersimpati pada pemerintahan Kolonial Belanda.
Tetapi benar sekali saya bersimpati pada rakyat Papua. Lagipula masalah Papua
saat ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan Belanda yang telah angkat
kaki dari Papua 50an th yg lalu yang artinya urusan kependudukan Belanda sudah
selesai.
Anda ingin jaminan tidak ada korupsi, aneh juga! Kalau tetap bersama Indonesia
itu justru sudah terjamin akan korupsi, lha wong dikasih contoh dan diajarin
buat korupsi kok.
Satu hal anda benar, tidak semua orang Papua ingin merdeka, contohnya ya para
pejabat yang sudah keenakan korupsi itu lebih memilih tetap bersama Indonesia.
Karena itu perlu adanya referendum sehingga jelas berapa banyak yg ingin
merdeka berapa yg ingin tetap bersama Indonesia.
On Thursday, December 7, 2017, 9:41:49 AM PST, Tatiana Lukman
<[email protected]> wrote:
Siapa yang pakai istilah Indonesia Barat dan Indonesia timur?? Jangan
menciptakan istilah-istilah sendiri. BK tidak pernah bicara dan membedakan
Indonesia Barat dan Indonesia Timur. Kita bicara tentang Indonesia yang
wilayahnya adalah apa yang dikenal Hindia Belanda. Dan siapa yang mengembalikan
kedaulatan?? Lagi-lagi dipakai ujuran ras, padahal itulah yang digunakan oleh
kaum kolonial Belanda. Ya terserah saja kalau memang mau mengikuti dan memihak
kepada kaum kolonial Belanda. Ngapain harus pakai GARIS WALLACE atau WEBER
LINE ??? Sungguh lucu!! Padahal masalahnya sederhana saja. Indonesia
menyatakan kemerdekaan terhadap penjajah belanda dan dengan sendirinya
wilayahnya adalah seluruh wilayah yang dijajah Belanda. Tak satu kata kutukan
dari para pembela separatisme terhadap sikap Belanda yang terus mau
mengangkangi Papua Barat!!! Pendukung separatisme menyamakan kedudukan
Indonesia sebagai negara yang dilanggar kedaulatannya dengan Belanda yang
justru mempertahankan penjajahan!!!
Sangat betul, sewaktu dikembalikan deaulatan ke Indonesia Barat, mereka
Indonesia Timur tidak diadakan referendum, mereka dipaksa oleh RI, Belanda dan
USA.
Perjanjain sepihak, seharusnya mulai dari GARIS WALLACE, atau paling dikit
WEBER LINE... Sesuai pernyataan "Pribumi", yang nota bene turunan Mongoloid,
Cina dan India (Indo Persia)
On Thursday, December 7, 2017 6:20 PM, BILLY GUNADIE
<[email protected]> wrote:
Sangat betul, sewaktu dikembalikan deaulatan ke Indonesia Barat, mereka
Indonesia Timur tidak diadakan referendum, mereka dipaksa oleh RI, Belanda dan
USA.
Perjanjain sepihak, seharusnya mulai dari GARIS WALLACE, atau paling dikit
WEBER LINE... Sesuai pernyataan "Pribumi", yang nota bene turunan Mongoloid,
Cina dan India (Indo Persia).
Penduduk Irian Barat di eksploitasi dan di Genocide, sewaktu penambangan open
pit.
On Thursday, December 7, 2017 10:39 AM, Jonathan Goeij
<[email protected]> wrote:
Apakah yang dikatakan Surya Anta itu tidak benar?
Coba anda mengenakan sepatu Papua, saat ini yang mereka perjuangkan itu
referendum menentukan nasib sendiri apakah berdiri sendiri ataukah tetap
bersama Indonesia. Juga orang2 yang sekarang ini boleh dibilang sebagian besar
atau mungkin seumur hidupnya hidup dalam penjajahan Indonesia, itu yang mereka
rasakan dan mereka perjuangkan untuk lepas dari belenggu penjajahan. Mereka itu
orang2 yang melihat dengan mata kepala sendiri pemukiman dibakar, bapak dan
saudara dibunuh, ibu dan saudari diperkosa, pelaku2nya adalah orang Indonesia
bukan Belanda.
On Thursday, December 7, 2017, 4:46:03 AM PST, Tatiana Lukman
<[email protected]> wrote:
"After Dec. 1, 1961, [former president] Soekarno declared the Trikora 19 days
later in Yogyakarta to seize West Papua and dissolve the country," said Surya
Anta, spokesman for the People's Front of Indonesia for West Papua.
Jelas dari kalimat di atas, mereka menuduh Soekarno menganeksi Papua Barat.
Mereka sama sekali tidak bicara tentang kekuasaan kolonial yang setelah 17
agustus 1945 mau terus mengangkangi Papua Barat. Alasan ras mereka ajukan.
Persis seperti penguasa kolonial Belanda yang juga menggunakan alasan ras untuk
terus menduduki Papua Barat. Kalau orang mau jujur mempelajari sejarah dengan
benar, jangan melupakan peran penguasa kolonial Belanda. Mengapa kok pendukung
separatisme itu menggunakan argumentasi yang datang dari pihak penguasa
kolonial??? Kebenaran dan fakta sejarah lah yang selalu para pendukung
separatisme ingin lupakan dan campakkan!!!
On Tuesday, December 5, 2017 10:32 PM, "Jonathan Goeij
[email protected] [GELORA45]" <[email protected]> wrote:
Apakah bisa dibantah?
---"We're not Indonesian, we're the Morning Star, the Morning Star, you've just
said red and white," demonstrators chanted, referring to West Papua's
historical flag
..."The relationship between Papua and Indonesia is like an illegal marriage,"
said one activist."We are different from Indonesia, it's been a long time. You
are white, we are black, your hair is straight, we are curly, we are brothers
or you just want our own natural wealth," an orator shouted in front of a
police officer.
---In [email protected], <ilmesengero@...> wrote :
Untuk melihat foto/foto click situs di bawah ini
http://jakartaglobe.id/eyewitness/march-west-papuan-independence
-
March for West Papuan IndependenceOn Friday (01/12), dozens of demonstrators
gathered in Central Jakarta to demand West Papuan independence from Indonesia.
Marchers brought posters and sang traditional West Papuan songs in defiance
what the demonstrators see as a foreign occupation of the territory. (JG Photo
/ Yudha Baskoro)By : JG | on 11:42 AM December 04, 2017
Category : Eyewitness, Multimedia, Photos
Jakarta. On Friday (01/12), dozens of demonstrators gathered in Central Jakarta
to demand West Papuan independence from Indonesia. Marchers brought posters and
sang traditional West Papuan songs in defiance what the demonstrators see as a
foreign occupation of the territory.
"We're not Indonesian, we're the Morning Star, the Morning Star, you've just
said red and white," demonstrators chanted, referring to West Papua's
historical flag.
Marchers, members of the Papuan Student Alliance and the People's Front of
Indonesia for West Papua, also demanded that the Indonesian government force
US-based mining giant Freeport McMoran to shut down operations in the province.
The demonstration came on the eve of West Papua's first declaration of
independence on Dec. 1, 1961.
"The relationship between Papua and Indonesia is like an illegal marriage,"
said one activist.
"We are different from Indonesia, it's been a long time. You are white, we are
black, your hair is straight, we are curly, we are brothers or you just want
our own natural wealth," an orator shouted in front of a police officer.
"After Dec. 1, 1961, [former president] Soekarno declared the Trikora 19 days
later in Yogyakarta to seize West Papua and dissolve the country," said Surya
Anta, spokesman for the People's Front of Indonesia for West Papua.
In fact, Trikora was the name given to the Indonesian military operation to
invade and annex the Dutch territory of New Guinea, which lasted nine
months.Demonstrators planned to march to Freeport's offices in Kuningan, South
Jakarta, but were stopped by police in front of the Megaria cinema in the
center of the city.