So true. Secara kongkrit dalam hal Papua ini apakah anda bermaksud berkata terjadi pergantian imperialisme, dari imperialisme kulit putih berubah jadi imperialisme kulit berwarna (coklat).
---In [email protected], <ajegilelu@...> wrote : Imperialisme tidak mengenal suku, agama, ras, paspor. Tidak peduli Anda mengerti atau tidak, yang jelas 'Indonesia' bukan sekedar negara. Sejarah membentuknya sebagai perwujudan dari niat dan ikhtiar perlawanan terhadap praktek kolonialisme serta tabiat imperialisme. Dalam hal Hindia Belanda, praktek dan tabiat itu (kebetulan) diperankan pihak Belanda. Jadi, bisa saja tabiat mental imperialis muncul dalam kemasan kulit putih maupun berwarna. Baik sekedar sebagai antek maupun imperialis totok. Sebaliknya, Belanda ada juga yang Danudirdja Setiabudi. Begitu juga Indian ada yang pengkhianat. Tidak semua urusan boleh digeneralisir, sekalipun bisa. --- jonathangoeij@... wrote: Apakah yang dikatakan Surya Anta itu tidak benar? Coba anda mengenakan sepatu Papua, saat ini yang mereka perjuangkan itu referendum menentukan nasib sendiri apakah berdiri sendiri ataukah tetap bersama Indonesia. Juga orang2 yang sekarang ini boleh dibilang sebagian besar atau mungkin seumur hidupnya hidup dalam penjajahan Indonesia, itu yang mereka rasakan dan mereka perjuangkan untuk lepas dari belenggu penjajahan. Mereka itu orang2 yang melihat dengan mata kepala sendiri pemukiman dibakar, bapak dan saudara dibunuh, ibu dan saudari diperkosa, pelaku2nya adalah orang Indonesia bukan Belanda. On Thursday, December 7, 2017, 4:46:03 AM PST, jetaimemucho1@... wrote: "After Dec. 1, 1961, [former president] Soekarno declared the Trikora 19 days later in Yogyakarta to seize West Papua and dissolve the country," said Surya Anta, spokesman for the People's Front of Indonesia for West Papua.Jelas dari kalimat di atas, mereka menuduh Soekarno menganeksi Papua Barat. Mereka sama sekali tidak bicara tentang kekuasaan kolonial yang setelah 17 agustus 1945 mau terus mengangkangi Papua Barat. Alasan ras mereka ajukan. Persis seperti penguasa kolonial Belanda yang juga menggunakan alasan ras untuk terus menduduki Papua Barat. Kalau orang mau jujur mempelajari sejarah dengan benar, jangan melupakan peran penguasa kolonial Belanda. Mengapa kok pendukung separatisme itu menggunakan argumentasi yang datang dari pihak penguasa kolonial??? Kebenaran dan fakta sejarah lah yang selalu para pendukung separatisme ingin lupakan dan campakkan!!! On Tuesday, December 5, 2017 10:32 PM, jonathangoeij@... wrote: Apakah bisa dibantah? ---"We're not Indonesian, we're the Morning Star, the Morning Star, you've just said red and white," demonstrators chanted, referring to West Papua's historical flag ..."The relationship between Papua and Indonesia is like an illegal marriage," said one activist."We are different from Indonesia, it's been a long time. You are white, we are black, your hair is straight, we are curly, we are brothers or you just want our own natural wealth," an orator shouted in front of a police officer. --- ilmesengero@... wrote : Untuk melihat foto/foto click situs di bawah ini http://jakartaglobe.id/eyewitness/march-west-papuan-independence - March for West Papuan IndependenceOn Friday (01/12), dozens of demonstrators gathered in Central Jakarta to demand West Papuan independence from Indonesia. Marchers brought posters and sang traditional West Papuan songs in defiance what the demonstrators see as a foreign occupation of the territory. (JG Photo / Yudha Baskoro)By : JG | on 11:42 AM December 04, 2017 Category : Eyewitness, Multimedia, Photos Jakarta. On Friday (01/12), dozens of demonstrators gathered in Central Jakarta to demand West Papuan independence from Indonesia. Marchers brought posters and sang traditional West Papuan songs in defiance what the demonstrators see as a foreign occupation of the territory. "We're not Indonesian, we're the Morning Star, the Morning Star, you've just said red and white," demonstrators chanted, referring to West Papua's historical flag. Marchers, members of the Papuan Student Alliance and the People's Front of Indonesia for West Papua, also demanded that the Indonesian government force US-based mining giant Freeport McMoran to shut down operations in the province. The demonstration came on the eve of West Papua's first declaration of independence on Dec. 1, 1961. "The relationship between Papua and Indonesia is like an illegal marriage," said one activist. "We are different from Indonesia, it's been a long time. You are white, we are black, your hair is straight, we are curly, we are brothers or you just want our own natural wealth," an orator shouted in front of a police officer. "After Dec. 1, 1961, [former president] Soekarno declared the Trikora 19 days later in Yogyakarta to seize West Papua and dissolve the country," said Surya Anta, spokesman for the People's Front of Indonesia for West Papua. In fact, Trikora was the name given to the Indonesian military operation to invade and annex the Dutch territory of New Guinea, which lasted nine months.Demonstrators planned to march to Freeport's offices in Kuningan, South Jakarta, but were stopped by police in front of the Megaria cinema in the center of the city.
