Padahal untuk Anggaran KJP Plus pada 2018 Rp 3,9 Triliun, SUDAH meningkat Rp 
560 Miliar, lho! Atau karena anggara tahun ini, 2017 sudah HABIS, kering lebih 
dahulu entah kemana perginya, ... sedang untuk anggaran tahun 2018 belum 
ngucur?  Hehehee, ...

Menarik juga, ...!

Salam,
ChanCT



From: kh djie [email protected] [GELORA45] 
Sent: Saturday, December 9, 2017 9:08 AM
To: Gelora45 
Subject: Re: [GELORA45] Re:[temu_eropa] "Dulu KJP Lancar, Sekarang Kok Macet 
Ya?" ; "Katanya KJP Plus, Kok Malah Minus?"

  

Perlu dibikin macet dulu, supaya uan pelicin datang.....

2017-12-09 1:34 GMT+01:00 zeta roza [email protected] [GELORA45] 
<[email protected]>:

    

  #Dimana saja kah Visi Misi Gub baru DKI Jkt untuk mengatasi KEMACETAN:  
Kesejahteraan warga,  lalulintas transportasi umum khususnya dan banjir cq 
penormalisasian saluran sungai dan gorong2 diseluruh kawasan DKI Jkt?


  #Terutama "PROJECT BERSIH" KORUPSI, KOLUSI DAN NEPOTISME, pelayanan-fasilitas 
INNOVATIVE dan meningkatkan alat-prasarana pendidikan UMUM INTELEKTUALITAS 
MENCERDASKAN BANGSA TANPA TERKECUALI... 


  /////////


  "Saya dapat Rp 80.000," ujar Mama Intan."

  "Padahal biasanya, uang KJP yang diterima anaknya yang bersekolah di SDN 
Kebon Kacang 05 Rp 100.000 tiap bulannya. Beruntung anaknya tak perlu uang 
transport untuk ke sekolah karena lokasinya dekat." 




  "Iya awal November kemarin waktu ambil sembako di RPTRA sudah dengar-dengar, 
katanya ini tutup buku (terakhir)," kata Mama Ilham ditemui di rumahnya, Rabu 
(22/11/2017)."





  ///////////


  Verzonden via Yahoo Mail op Android


    Op vr, dec. 8, 2017 om 8:39 schreef 'Chan CT' [email protected] 
[temu_eropa]
    <[email protected]>:
      
    "Dulu KJP Lancar, Sekarang Kok Macet Ya?"
    NIBRAS NADA NAILUFAR

    Kompas.com - 08/12/2017, 13:54 WIB

    SDN Kampung Bali 07, Jakarta Pusat, Jumat (8/12/2017).(KOMPAS.com/NIBRAS 
NADA NAILUFAR)

    JAKARTA, KOMPAS.com - Sejumlah orangtua pemegang Kartu Jakarta Pintar (KJP) 
mengeluhkan dana yang macet dan berkurang jumlahnya. Ketika Kompas.com 
berkunjung ke Rusun Kebon Kacang pada Jumat (8/12/2017), banyak dari warga yang 
mengaku tak dapat uang bulanan penuh.

    Mama Intan misalnya. Pedagang minuman dan makanan ini mengandalkan saldo 
bulanan di KJP anaknya untuk belanja.

    "Saya dapat Rp 80.000," ujar Mama Intan.

    Padahal biasanya, uang KJP yang diterima anaknya yang bersekolah di SDN 
Kebon Kacang 05 Rp 100.000 tiap bulannya. Beruntung anaknya tak perlu uang 
transport untuk ke sekolah karena lokasinya dekat.

    "Akhirnya saya pakai buat beli beras sama telor aja, enggak cukup buat beli 
daging. Biasanya mah beli," kata Mama Intan.

    Baca juga : Katanya KJP Plus, Kok Malah Minus?

    Masalah yang sama juga dialami ibu-ibu di Jalan Kampung Bali XXVIII. Di 
pojok gang, para ibu mengeluhkan KJP yang semakin sulit.

    Salah satunya Evi yang punya dua anak yang bersekolah di SDN Kampung Bali 
07. Ia mengaku hingga Jumat ini, saldo di KJP anaknya belum juga bertambah.

    "Dulu KJP lancar, sekarang kok macet ya? Padahal udah tanggal 8 ini, 
biasanya paling telat kan tanggal 5 udah turun duitnya," kata Evi.

    Selain uang bulanan KJP yang belum turun, Evi mengeluhkan uang per enam 
bulan yang dicairkannya Juni lalu. Mestinya anaknya mendapat Rp 600.000, namun 
saldo yang tertera saat itu hanya Rp 300.000.

    Baca juga : Sandiaga Pastikan Subsidi Daging Murah untuk Penerima KJP Aman

    Oleh karena belum pernah terjadi sebelumnya, Evi mengira ada masalah pada 
rekening anaknya. Ia pun ke Bank DKI untuk menanyakan kekurangan saldo ini.

    "Kata orang bank ternyata semua juga gitu, katanya uangnya ditahan enggak 
diturunin, baru bisa diambil nanti pas SMA. Bingung saya enggak ngerti kenapa 
jadi gini," ujarnya.

    Selain saldo KJP yang berkurang dan terlambat, Evi juga mempertanyakan 
penjualan sembako dan daging murah yang biasa rutin diadakan di RPTRA dekat 
rumahnya. Menurut dia, sejak Oktober ia tak lagi membeli paket sembako dan 
daging murah.

    Baca juga : Anggaran KJP Plus pada 2018 Rp 3,9 Triliun, Meningkat Rp 560 
Miliar

    "Biasanya di RPTRA, cuma terakhir udah lama saya enggak beli soalnya 
katanya pindah tapi enggak tahu pindahnya ke mana," ujarnya.

    Kompas.com masih meminta klarifikasi dari Kepala Dinas Pendidikan DKI 
Jakarta Sopan Adrianto mengenai keluhan sejumlah penerima KJP ini.

    "Katanya KJP Plus, Kok Malah Minus?"
    NIBRAS NADA NAILUFAR

    Kompas.com - 22/11/2017, 14:25 WIB

    Pasar daging murah di Kelurahan Tambora, Jakarta Barat, Jumat 
(25/7/2014).(Kompas.com/Abba Gabrilin)

    JAKARTA, KOMPAS.com - Mama Ilham, warga Jatipadang, Pasar Minggu, Jakarta 
Selatan, mengaku kecewa adanya wacana pemegang Kartu Jakarta Pintar (KJP) tak 
akan menerima subsidi pangan lagi.

    "Iya awal November kemarin waktu ambil sembako di RPTRA sudah 
dengar-dengar, katanya ini tutup buku (terakhir)," kata Mama Ilham ditemui di 
rumahnya, Rabu (22/11/2017).

    Mama Ilham mengatakan, saban bulan, ia mengambil jatah sekilo daging ayam, 
sekilo daging sapi, sekilo telur ayam, dan sekilo beras dengan harga Rp 80.000. 
Menurut dia, program subsidi pangan itu cukup membantu keluarganya.

    Dia mengaku punya dua anak. Satu masih bersekolah di SD Negeri di Pasar 
Minggu, dan satu lagi duduk di bangku SMK.

    Baca juga : Sandiaga Pastikan Subsidi Daging Murah untuk Penerima KJP Aman

    "Beneran deh, dulu sebelum ada daging murah Rp 35.000, saya sekeluarga cuma 
setahun sekali makan daging. Sekarang Alhamdulillah bisa setiap bulan," ujar 
Mama Ilham.

    Ratusan warga mengantre pembelian daging murah di Kantor Kecamatan 
Cipayung, Jakarta Timur, Kamis (15/12/2016).(Nurito / Beritajakarta.com)

    Ia menyayangkan jika program tersebut terancam batal hanya karena Pemprov 
DKI tak lagi memberikan PMD kepada PD Dharma Jaya. Pada era Gubernur Anies 
Baswedan, ia meminta agar janji menambah tunjangan KJP.

    "Katanya KJP Plus, kok malah minus? Mana dong plusnya?" ujarnya.

    Baca juga : Dirut PD Dharma Jaya: Saya Enggak Tahu Bagaimana Beli 
Persediaan Daging KJP

    Cepi, seorang warga yang anaknya penerima KJP juga menyatakan keberatan 
jika manfaat KJP berkurang. Apalagi, jika harus digantikan dengan mata anggaran 
yang menurutnya tidak penting.

    "Lebih baik kan buat warga yang butuh KJP, jangan orang susah malah 
dikurangi," kata Cepi.

    Cepi mengaku justru mendengar KJP sekarang bisa dicairkan tunai alih-alih 
lewat belanja dan penukaran seperti sebelumnya.

    Menurut dia, kedua jenis kebijakan itu yang penting menguntungkan 
masyarakat. Cepi hanya mengingatkan jika KJP bersifat tunai, maka ada potensi 
penyalahgunaan.

    Baca juga : KJP Plus Milik Anies-Sandi Dianggarkan Rp 4,1 Triliun pada 2018

    "Ya kalau anak dapatnya tunai, nanti sama emaknya dipakai beli HP, itu 
ruginya," ujar Cepi.

    Anggota PPSU manfaatkan operasi daging murah yang diadakan pemerintah di 
Kecamatan Palmerah, Jakarta Barat, Rabu (7/12/2016)(Kompas.com/David Oliver 
Purba)

    PD Dharma Jaya menjadi salah satu BUMD yang tidak akan diberikan PMD tahun 
2018. Alasannya, supaya BUMD bisa mandiri tanpa terus-menerus mendapatkan 
suntikan dana dari pemerintah.

    Alih-alih mandiri, PD Dharma Jaya malah tidak bisa membeli stok daging 
subsidi untuk penerima KJP. Selama ini dengan subsidi itu, pemegang KJP bisa 
membeli daging sapi dan daging ayam dengan harga murah.

    Direktur PD Dharma Jaya Marina Ratnamengatakan masih bisa menggunakan dana 
PSO untuk membeli daging. Dia meminta pencairan PSO bisa dipercepat. Jika benar 
tak diberi PMD, PSO menjadi cara satu-satunya untuk membeli daging subsidi KJP.

    Baca juga : Anggaran KJP Plus pada 2018 Rp 3,9 Triliun, Meningkat Rp 560 
Miliar

    Terakahir, Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno memastikan subsidi 
daging murah untuk penerima Kartu Jakarta Pintar aman. Menurut Sandi, DKI tidak 
akan kekurangan stok daging.

    Meski Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tidak akan memberikan penyertaan 
modal daerah (PMD) kepada PD Dharma Jaya, Sandi memastikan subsidi pemerintah 
untuk warga marjinal tetap ada.

    Hampir seribu warga pemegang Kartu Jakarta Pintar (KJP) sejak pagi hingga 
siang menyerbu kantor Kecamatan Matraman, di Jakarta Timur, Senin (27/6/2016). 
Kedatangan warga yang berbondong-bondong itu untuk mendapatkan daging murah 
melalui dana KJP.(Robertus Belarminus)

    Pemprov DKI Jakarta, lanjut Sandi, akan menggelontorkan dana sebanyak 
mungkin untuk subsidi daging.

    Baca juga : Anies-Sandiaga Tak Berikan Penyertaan Modal kepada 5 BUMD DKI

    Saat ditanya mengenai sumber dana, Sandi hanya menyebutkan, PMD PD Dharma 
Jaya yang dinolkan adalah untuk dana yang akan digunakan bagi tempat pemotongan 
ayam. Sandi menyebut PMD itu berbeda dengan dana modal untuk PD Dharma Jaya.

    Sandi mengatakan akan bertemu dengan jajaran direksi badan usaha milik 
daerah (BUMD) khusus pangan untuk membahas soal subsidi bahan pangan.

    [Non-text portions of this message have been removed]





Kirim email ke