From: Awind [email protected] [GELORA45] 
Sent: Sunday, December 10, 2017 7:23 AM

  



https://dunia.tempo.co/read/1040872/2-tokoh-ini-melahirkan-konflik-panjang-israel-palestina?BeritaUtama&campaign=BeritaUtama_Click_1


2 Tokoh Ini Melahirkan Konflik Panjang Israel -  
Palestina 

Reporter: 
Terjemahan
Editor: 
Maria Rita Hasugian
Sabtu, 9 Desember 2017 17:01 WIB 
 
Arthur James Balfour. wikipedia.org

TEMPO.CO, Jakarta -Konflik tak berkesudahan antara Israel dan Palestina tak 
pernah lepas dari dua tokoh ini: Lord Arthur Balfour dan Baron Walter 
Rothschild.  Siapa mereka dan apa yang telah mereka lakukan sehingga memicu 
konflik di kawasan Timur Tengah tersebut?

Balfour merupakan menteri luar negeri Inggris yang pada 2 November 1917 
mengirimkan sepucuk surat kepada Rothschild, tokoh Zionisme terkemuka.  Surat 
berisi 67 kata yang ditorehkan Balfour  memuat dukungan dari pemerintah Inggris 
tentang pendirian satu rumah untuk kaum Yahudi di Palestina.

Baca: Mahmoud Abbas: Yerusalem Ibukota abadi Palestina

Surat dengan 67 kata itu kemudian dikenal sebagai Deklarasi Balfour. Deklarasi 
yang memberi ruang bagi penduduk Yahudi untuk mendirikan Israel. Surat ini yang 
kemudian mendorong terbentuknya negara Israel tahun 1948.

Berikut 67 kata isi surat Balfoour kepada Rothschild:

“His Majesty’s government view with favour the establishment in Palestine of a 
national home for the Jewish people, and will use their best endeavours to 
facilitate the achievement of this object, it being clearly understood that 
nothing shall be done which may prejudice the civil and religious rights of 
existing non-Jewish communities in Palestine, or the rights and political 
status enjoyed by Jews in any other country.”

Rotshchild dikenal dengan anjurannya untuk penentuan nasib sendiri untuk 
orang-orang Yahudi atas tanah air mereka yang terbentang dari Laut Tengah 
sampai ke sisi timur Sungai Yordania, daerah yang dikenal sebagai Palestina.

Lord Walter Rothschild. britannica.com

Mengutip BBC, surat Balfour itu dianggap sebagai pengkhianatan besar mengingat 
janji Inggris sebelumnya saat meminta dukungan politik dan militer saat Perang 
Dunia I dari kalangan Arab, yang saat itu di bawah kekhalifahan Usmaniyah, 
Turki.

Baca: Putra Mahkota Arab Saudi Usul Abu Dis Jadi Ibukota Palestina

Inggris waktu itu berjanji akan mendukung perjuangan negeri-negeri Arab untuk 
merdeka dari kekuasan Usmaniyah. Bagi Arab, janji itu meliputi Palestina, 
meskipun tidak secara khusus disebutkan.

Namun, bagi orang Yahudi, Deklarasi Balfour telah mewujudkan cita-cita mereka 
dengan lahirnya negara Israel pada tahun 1948.

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menggambarkan Deklarasi Balfour sebagai 
tonggak sejarah pembentukan negaranya. Sementara rakyat Palestina ingin Inggris 
meminta maaf atas Deklarasi Balfour itu. 

Deklarasi Balfour telah membuat rakyat Palestina masih terus berjuang untuk 
membentuk negaranya sendiri.

Baca: Perempuan Palestina-Israel Gandeng Tangan Gelar Aksi Damai

Saat peringatan seratus tahun Deklarasi Balfour, 2 November 2017, Perdana 
Menteri Theresa May bertemu Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu di 
London.

May dan para menterinya menghadapi tugas diplomasi yang tidak mudah saat ini. 
Di satu sisi Inggris berhadapan dengan Israel yang bergembira dengan hadirnya 
Deklarasi Balfour dan di sisi lain, berhadapan dengan rakyat Palestina yang 
marah karena kampung halaman mereka dicaplok Israel. 

"Kami akan menandai seabad dengan kebanggaan dan hormat, namun juga rasa sedih, 
karena isu antara Israel dan Palestina masih tak terselesaikan," kata Alistair 
Burt, Menteri urusan Timur Tengah, seperti dikutip dari Guardian.

Dan, May bungkam menghadapi tuntutan rakyat Palestina agar Inggris meminta maaf 
atas surat Balfour kepada Rothschild seabad lalu. 


--------------------------------------------------------------------------------

a.. Inggris 
a.. Palestina 








Kirim email ke