From: [email protected] [GELORA45] Sent: Monday, December 11, 2017 12:07 PM
Ruhut: Yang Zalimi Ahok Mestinya Malu, Prestasi Mereka Apa Selain Bikin Rusuh? Minggu, 10 Desember 2017 | 14:28 WIB Ruhut bersama Ahok saat kampanye (dok.lajuberita) JAKARTA, NNC - Politisi Ruhut Sitompul mengomentari masuknya nama mantan Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok dalam daftar 'Top 100 Global Thinkers 2017' versi majalah Foreign Policy, dan disejajarkan dengan para pemikir dunia lainnya. < p style="margin-top:3px;margin-bottom:10px;">Ruhut mengatakan, dengan pengakuan dunia akan prestasi Ahok ini, seharusnya membuat orang-orang yang memenjarakan dia di kasus penistaan agama, merasa malu. "Dunia internasional mengakui beliau adalah seorang berlian, jadi siapapun yang membuat dia harus dipenjara mestinya malu, karena dia nggak ada salahnya itu. Dia ditahan karena politis," kata Ruhut kepada NNC, Jumat (8/12/2017). Bahkan mantan petinggi Partai Demokrat itu mempertanyakan pihak-pihak yang kerap menzalimi Ahok, untuk menunjukkan prestasi apa yang sudah mereka perbuat untuk bangsa dan negara ini. "Indonesia harus bangga (atas prestasi Ahok), dan siapa yang menzalimi dia mestinya malu, karena yang menzalimi dia prestasi apa yang mereka buat? Yang ada bikin rusuh di Republik ini saja kan," ungkap Ruhut. Sebelumnya diberitakan, Ahok menjadi satu-satunya orang Indonesia yang masuk dalam daftar 'Top 100 Global Thinkers 2017' versi majalah bergengsi Foreign Policy, bersanding dengan tokoh-tokoh lain dari berbagai negara. Mereka dipilih berdasarkan kriteria pemikiran dan akti vitas seseorang sepanjang tahun 2016, yang dinilai mampu menentang situasi buruk, sehingga bersumbangsih untuk mengubahnya. Nama-nama yang masuk 'Top 100 Global Thinker' yang dirilis setiap tahun ini, berasal dari berbagai profesi, mulai dari presiden, legislator, teknokrat, pelawak, pengusaha hingga pembuat film. Dalam 'Top 100 Global Thinkers 2017' ini, Ahok bersanding dengan nama-nama seperti, Presiden Korea Selatan Moon Jae-in, Perdana Menteri Irak Haider Abadi, Presiden Prancis Emmanuel Macron, juga sejumlah aktivis perempuan Arab Saudi. Lantas, apa yang mendasari 'Foreign Policy' memilih Ahok masuk dalam 'Top 100 Global Thinkers 2017'? Ternyata pihak majalah tersebut menganggap, Ahok sebagai tokoh yang melawan hantu fundamentalis. "Basuki Tjahaja Purnama, for standing up to Indonesia's creeping fundamentalism," tulis Associate Editor Foreign Policy, Benjamin Soloway, Rabu (6/12/2017). Selain itu, Benjamin menyebut Ahok bukanlah tipe ideal bagi politikus Indonesia. Hal itu karena Ahok berasal dari kelompok minoritas di negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. "Bermulut tajam (kasar), keturunan asal Tiongkok dan beragama Protestan di negara dengan penduduk mayoritas muslim terbesar dunia. Ahok bukan tipe ideal untuk politikus di Indonesia seperti kebanyakan orang. Mungkin ini perbedaan itu yang bisa bekerja dirinya," ungkap Benjamin. Sekadar informasi, 'Foreign Policy' adalah majalah kenamaan Amerika Serikat yang didirikan oleh Pro fesor dari Harvard dan rekannya Warren Demian Manshel sejak 1970. Topik majalah mencakup politik, ekonomi, integrasi, dan ide global. Reporter : Adiel Manafe Editor : Wulandari Saptono
