Pestasinya selain bikin rusah, ya terima rasuah (uang sogokan). Jadi bikin lapangan kerja : untuk KPK, polisi, jaksa, hakim........ Yang disogok apanya ya ?
2017-12-11 5:07 GMT+01:00 [email protected] [GELORA45] < [email protected]>: > > > > Ruhut: Yang Zalimi Ahok Mestinya Malu, Prestasi Mereka Apa Selain Bikin > Rusuh? > <http://www.netralnews.com/news/megapolitan/read/118142/ruhut.yang.zalimi.ahok.mestinya.malu..pr> > > Minggu, 10 Desember 2017 | 14:28 WIB > > > [image: Ruhut bersama Ahok saat kampanye (dok.lajuberita)] > Ruhut bersama Ahok saat kampanye (dok.lajuberita) > > > JAKARTA, NNC - Politisi Ruhut Sitompul > <http://www.netralnews.com/news/tag/ruhut%20sitompul> mengomentari > masuknya nama mantan Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok > <http://www.netralnews.com/news/tag/ahok> dalam daftar 'Top 100 Global > Thinkers 2017' versi majalah Foreign Policy, dan disejajarkan dengan para > pemikir dunia lainnya. > > Ruhut mengatakan, dengan pengakuan dunia akan prestasi Ahok > <http://www.netralnews.com/news/tag/ahok> ini, seharusnya membuat > orang-orang yang memenjarakan dia di kasus penistaan agama, merasa malu. > > "Dunia internasional mengakui beliau adalah seorang berlian, jadi siapapun > yang membuat dia harus dipenjara mestinya malu, karena dia nggak ada > salahnya itu. Dia ditahan karena politis," kata Ruhut kepada NNC, Jumat > (8/12/2017). > > Bahkan mantan petinggi Partai Demokrat itu mempertanyakan pihak-pihak yang > kerap menzalimi Ahok <http://www.netralnews.com/news/tag/ahok>, untuk > menunjukkan prestasi apa yang sudah mereka perbuat untuk bangsa dan negara > ini. > > "Indonesia harus bangga (atas prestasi Ahok > <http://www.netralnews.com/news/tag/ahok>), dan siapa yang menzalimi dia > mestinya malu, karena yang menzalimi dia prestasi apa yang mereka buat? > Yang ada bikin rusuh di Republik ini saja kan," ungkap Ruhut. > > Sebelumnya diberitakan, Ahok <http://www.netralnews.com/news/tag/ahok> menjadi > satu-satunya orang Indonesia yang masuk dalam daftar 'Top 100 Global > Thinkers 2017' versi majalah bergengsi Foreign Policy, bersanding dengan > tokoh-tokoh lain dari berbagai negara. > > Mereka dipilih berdasarkan kriteria pemikiran dan aktivitas seseorang > sepanjang tahun 2016, yang dinilai mampu menentang situasi buruk, sehingga > bersumbangsih untuk mengubahnya. > > Nama-nama yang masuk 'Top 100 Global Thinker' yang dirilis setiap tahun > ini, berasal dari berbagai profesi, mulai dari presiden, legislator, > teknokrat, pelawak, pengusaha hingga pembuat film. > > Dalam 'Top 100 Global Thinkers 2017' ini, Ahok > <http://www.netralnews.com/news/tag/ahok> bersanding dengan nama-nama > seperti, Presiden Korea Selatan Moon Jae-in, Perdana Menteri Irak Haider > Abadi, Presiden Prancis Emmanuel Macron, juga sejumlah aktivis perempuan > Arab Saudi. > > Lantas, apa yang mendasari 'Foreign Policy' memilih Ahok > <http://www.netralnews.com/news/tag/ahok> masuk dalam 'Top 100 Global > Thinkers 2017'? Ternyata pihak majalah tersebut menganggap, Ahok > <http://www.netralnews.com/news/tag/ahok> sebagai tokoh yang melawan > hantu fundamentalis. > > "Basuki Tjahaja Purnama, for standing up to Indonesia's creeping > fundamentalism," tulis Associate Editor Foreign Policy, Benjamin Soloway, > Rabu (6/12/2017). > > Selain itu, Benjamin menyebut Ahok > <http://www.netralnews.com/news/tag/ahok> bukanlah tipe ideal bagi > politikus Indonesia. Hal itu karena Ahok > <http://www.netralnews.com/news/tag/ahok> berasal dari kelompok minoritas > di negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. > > "Bermulut tajam (kasar), keturunan asal Tiongkok > <http://www.netralnews.com/news/tag/tiongkok> dan beragama Protestan di > negara dengan penduduk mayoritas muslim terbesar dunia. Ahok > <http://www.netralnews.com/news/tag/ahok> bukan tipe ideal untuk > politikus di Indonesia seperti kebanyakan orang. Mungkin ini perbedaan itu > yang bisa bekerja dirinya," ungkap Benjamin. > > Sekadar informasi, 'Foreign Policy' adalah majalah kenamaan Amerika > Serikat yang didirikan oleh Profesor dari Harvard dan rekannya Warren > Demian Manshel sejak 1970. Topik majalah mencakup politik, ekonomi, > integrasi, dan ide global. > > Reporter : Adiel Manafe > Editor : Wulandari Saptono > > > >
