AS gelap mata, dengan sombong ancam penentang Yerusalem ibu kota Israel
 Rabu, 20 Desember 2017 14:05 WIB
 
Duta Besar Amerika Serikat untuk PBB Nikki Haley (Reuters)

Begitu Anda memberikan suara Anda, saya ingin Anda tahu bahwa Presiden dan AS 
akan menganggap pribadi suara Anda ini
Jakarta (ANTARA News) - Duta Besar Amerika Serikat untuk PBB Nikki Haley 
mengirimkan email ke beberapa anggota PBB yang berniat mendesakkan pemungutan 
suara pada Majelis Umum PBB berisi tuntutan agar AS menarik keputusannya 
mengakui Yerusalem ibu kota Israel.

"Begitu Anda memberikan suara Anda, saya ingin Anda tahu bahwa Presiden dan AS 
akan menganggap pribadi suara Anda ini," tulis Haley dalam email yang juga 
diperlihatkan kepada majalah online Foreign Policy. 

"Presiden (AS) akan menyaksikan suara ini dengan cermat dan meminta saya 
melaporkan balik negara-negara yang memberikan suara untuk menentang kami. Kami 
akan mencatat setiap dan masing-masing suara menyangkut masalah ini," sambung 
dia.

Haley menyatakan AS tidak meminta negara-negara lain mengikuti langkahnya dan 
memindahkan kedutaan besar mereka ke Yerusalem, "meskipun kami kira itu pantas 
dilakukan."

Para diplomat menilai ancaman Haley itu akan dianggap sepi oleh negara-negara 
yang memberikan suara "ya" pada Majelis Umum PBB nanti karena mayoritas anggota 
PBB, temasuk sekutu-sekutu setia AS seperti Inggris dan Prancis, kemungkinan 
besar akan memberikan suara "ya".

Surat Haley ini disebarkan sehari setelah AS memveto rancangan resolui Dewan 
Keamanan PBB yang disusun Mesir yang menyatakan negara mana pun termasuk AS 
yang mengakui Yerusalem ibu kota Israel "tak punya hukum apa-apa."  "Keputusan 
itu gugur dan hampa serta harus dibatalkan," begitu bunyi rancangan resolusi 
usulan Mesir itu.

Rancangan resolusi ini sendiri didukung penuh oleh 14 negara dari total 15 
negara anggota Dewan Keamanan PBB. Ini membuat para diplomat AS seperti 
terasing dari arus besar dunia.

AS sendiri menganggap keputusannya mengakui Yerusalem ibu kota Israel sebagai 
masalah kedaulatan negaranya di mana legislatif AS sudah sejak puluhan tahun 
lalu memandatkan untuk memindahkan kedutaan besar AS di Israel ke Yerusalem 
dari Tel Aviv.

Selasa kemarin Haley mencuit, "Di PBB kami selalu diminta untuk berbuat lebih.  
Oleh karena itu, ketika kami membuat keputusan, berdasarkan amanat rakyat 
Amerika mengenai di mana letak kedutaan besar kami, kami tak ingin mereka yang 
sudah kami bantu itu menentang kami. Kamis nanti mungkin ada pemungutan suara 
yang mengkritik pilihan kami. AS akan mencatat nama-nama (negara yang menentang 
keputusan pengakuan Yerusalam ibu kota Israel) itu."

Dalam surat kepada negara-negara anggota PBB itu, Haley menegaskan bahwa 22 
tahun lalu Kongres AS sudah menyatakan "Yerusalem harus diakui sebagai ibu kota 
Israel, dan bahwa kedutaan besar AS harus berlokasi di Yerusalem. Presiden 
Trump menegaskan deklarasi itu dengan resmi mengakui Yerusalem sebagai ibu kota 
Israel."

Keputusan presiden, kata dia, "sama sekali tidak menghakimi negosiasi status 
final (Yerusalem), termasuk perbatasan-perbatasan spesifik kedaulatan Israel di 
Yerusalem."




Pewarta: -
Editor: Jafar M Sidik

Kirim email ke