Telah terbit buku
INDONESIATIDAK PERNAH DIJAJAH. Karya Batara R. Hutagalung. Penerbit Matapadi Yogyakarta. Tebal buku 316 halaman. Harga Rp. 70.000,-.(Diluar ongkos kirim). Sementara belum tersedia di Toko Buku. Pemesanan langsung kepada Penerbit Matapadi: 1. Melalui mail: [email protected] 2. Melalui WA: 0857-43750221 atau0817-9407446 Khusus untuk DKI Jakarta, mulai Januari 2018. DENGANTANDATANGAN PENULIS. (pengiriman tercepat dengan Grab/Gojek): 1. Melalui email: [email protected] : 2. Melalui WA: 0812-19547578 ============================ Buku ini merupakan rangkuman dariartikel-artikel/tulisan-tulisan saya sejak tahun tahun 1999, kuliah umum danceramah-ceramah yang saya berikan di berbagai Perguruan Tinggi di seluruhIndonesia, ceramah-ceramah di lingkungan TNI/para Calon Atase Pertahanan sertabuku-buku yang telah saya terbitkan sejak tahun 2001. Inti penulisan di buku ini adalah, menghapus mitos"Belanda menjajah Indonesia 350 tahun, Jepang menjajah Indonesia 3,5tahun." Juga menghapus beberapa mitos lain. Tidak pernah ada penjelasan bagaimana perhitungannyasampai ke angka 350 tahun, kapan dimulainya dan kapan berakhirnya “penjajahanBelanda di Indonesia.” Kata INDONESIA sendiri baru “diciptakan” oleh seorangInggris George Samuel Windsor Earl, tahun 1850 dan dipopulerkan oleh seorangJerman, Adolf Bastian mulai tahun 1884. Kata INDONESIA mulai digunakan di kalangan pribumi diwilayah jajahan belanda sejak awal tahun 1920-an, untuk menggantikan namaNederlands Indie. Kalimat yang semula dimaksud untuk membangkitkansemangat rakyat Indonesia sejak 17 Agustus 1945, justru dijadikan olok-olokoleh antek-antek belanda, yang mengatakan: “Memalukan, negeri sebesar Indonesiadapat dijajah selama 350 tahun oleh bangsa yang negerinya lebih kecil dariProvinsi Jawa Timur, dan penduduk Indonesia belasan kali lipat dari pendudukBelanda.” Selain menghapus beberapa mitos, buku ini jugamengungkap pemalsuan sejarah Nusantara dan membongkar kejahatan-kejahatan yangterjadi di masa penjajahan Belanda di Nusantara dan selama masa pendudukantentara Jepang di wilayah bekas jajahan Belanda. Tokoh-tokoh yang telah membaca Naskah buku ini,memberikan sambutan- sambutan dan komentar - komentar (endorsement). Kata sambutan di buku: 1. Jenderal TNI (Purn.) Widjojo Soejono. 2. Brigjen TNI (Purn.) Dr. Saafroedin Bahar. 3. Prof. Drs. Pariata Westra. Endorsement/komentar: 1. Prof. DR. Mestika Zed. 2. Prof. dr. Dewa Putu Widjana. 3. Prof. Dr. Marthen Napang. I. Katasambutan dari Jenderal TNI (Purn.) Widjojo Soejono. S A M B U T A N Assalamu’alaikum Wr. Wb. Salam Sejahtera, Om Swastiastu 1. Sebuah bangsadidefinisikan oleh John Stuart Mill sebagai sekumpulan orang dengan solidaritasdan loyalitas bersama yang tidak terjadi antara mereka dengan orang – oranglain serta kehendak bersama untuk membangun sebuah Negara bagi perwujudan cita– citanya dikemudian hari. Elemen – elemen obyektif Bangsa adalah wilayahtinggal, bahasa dan lain sebagainya namun yang sangat menentukan adalah elemensubyektifnya yaitu hasrat untuk bersatu. Globalisasi yang tidak terbatas padaaspek ekonomi tetapi juga memberi dampak pada bidang Politik dan Budaya yangamat nyata dan pada era sekarang ini sesungguhnya secara rasional dan sudahfinal tidak mungkin meniadakan Negara Bangsa sebagai sebuah tatanan manusia dimuka bumi. Ingatan bersama atau common memory tentang kejayaan ataupun deritabersama para pendahulunya serta hasrat yang kuat untuk mewujudkan masa depanyang sejahtera dan sentosa dalam persatuan dan kesatuan amatlah menentukan bagikelestarian dan ketahanan Bangsa tersebut. 2. Dengan tetap menghargaiSumpah Pemuda sebagai peristiwa bersejarah yang memiliki arti luar biasabesarnya sebagai common memory, namun nyatanya secara legal formal BangsaIndonesia baru ada tanggal 17 Agustus 1945. V.O.C. Belanda yang mulai menetapdi Jayakarta pada tahun 1611 nyatanya memang mulai menguasai tempat - tempatatau wilayah tertentu di Nusantara yang mempunyai kepentingan bagi pelayaran,hubungan dan usaha dagangnya. Penguasaan itu di dalam banyak keadaan telahdidapatkannya melalui penaklukan atau kerjasama dengan para penguasa setempatbahkan setelah kegagalan dua kali penyerangan terhadap Batavia pada tahun 1628oleh Mataram, diputuskan untuk mulai berbaik – baik saja dengan Belanda sebabbukankah mereka hanya hendak berdagang. Sebuah common memory yang kini masih relevandengan pesan wanti – wanti bahwa Globalisasi sebenarnya bukan saja memberikanpeluang tetapi juga punya muatan ancaman. 3. Sekedar penalaran yangwajar mengakui bahwa tempat – tempat dan wilayah – wilayah tertentu saja diNusantara memang pernah dijajah oleh Belanda secara sporadis dan untuk masatertentu. Bahkan G.J. Resink seorang Ahli Hukum Belanda yang juga seorangPengamat Sejarah dalam bukunya berjudul “Bukan tiga ratus lima puluh tahun”menyatakan bahwa Penjajahan atas tempat – tempat dan wilayah – wilayahNusantara itu menurut bukti – bukti hukum dan sejarah tidak berlangusng selama350 tahun. Saya memahami bahwa para pemimpin Perjuangan Kemerdekaan yangmenggunakan angka 350 tahun dijajah dengan melalui dramatisasi bermaksud untukmeng – gelorakan semangat berjuang bagi Kemerdekaan. Tetapi belum sebuahkearifan namun sesuatu penalaran yang wajar saja berpendapat bahwa dramatisasiitu sekaligus juga mengandung kenisthaan. Apalagi dramatisasi itu tidak pernahdibuktikan oleh fakta sejarah. 4. Saya mengenal Penulissebagai Putra Letnan Kolonel Dr. Wiliater Hutagalung (Almarhum), seorang seniorsaya yang menjabat sebagai Dokter Divisi VI/Narotama pada awal tahun 1946.Percakapan selama tumpangan kendaraan dari front Legundi, Surabaya kebelakangyang diberikan kepada saya yang ketika itu seorang Kapten berumur 18 tahunmemberikan inspirasi yang luar biasa besarnya kepada saya dengan kepribadianAlmarhum. Menjelang usia 90 tahun ini saya amat bersyukur bisa mengenalPutranya yang dengan caranya menunjukkan dedikasi dan komitmen yang begitubesar kepada Bangsanya. Diantarantya, meluruskan Sejarah, memperbaiki commonmemory, membunuh dramatisasi yang negative serta membangun optimisme danharapan bagi Bangsanya. 5. Tiada lain, semoga bukuini bermanfaat bagi segenap Warga Bangsa kita sebagai salah satu bekal Budayabagi pelestarian dan pensejahteraan dirinya dalam suasana kehidupan bersamaantar Bangsa yang tetap harus menjunjung tinggi etika namun tidak pernahmeninggalkan hukum alam tua “Survival of the fittest” yang bermakna kelestarianhanya untuk yang kuat. Yang lemah akan tersingkir untuk punah. Nusantara yangdulu abai dan terpecah belah memang mengundang penjajahan. Indonesia yangbersatu dan waspada Insya Allah akan mempunyai masa depan yang sejahtera dankuat sentosa. Wassalamu’alaikum Wr. Wb. Om Shanti Shanti Shanti Om Jakarta, 27 Nopember 2017 Widjojo Soejono Jendral TNI (Purn) ******** Baca selengkapnya di: http://batarahutagalung.blogspot.co.id/2017/12/telah-terbit-buku-indonesia-tidak.html
