Bekerja Tanpa Henti, Dokter di Cina Rubuh di Depan PasienReporter:  Yon 
YosephEditor: Maria Rita HasugianRabu, 3 Januari 2018 11:33 WIB 
Ilustrasi dokter bedah. bet.com

TEMPO.CO, Jakarta - Seorang dokter di Cina rubuh di depan pasiennya setelah 
terserang stroke karena bekerja selama 18 jam tanpa istirahat.

Zhao Bianxiang, 43, semaput dan bernafas terengah-engah setelah bekerja tanpa 
henti pada 29 Desember 2017. Dia dinyatakan tewas setelah 20 jam upaya 
penyelamatan.

Baca: Gaji Dokter di Cina Setara Sopir Taksi

Seperti yang dilansir Daily Mail pada 2 Januari 2018, Bianxiang meninggal 
karena pendarahan subarachnoid, yang disebabkan oleh aneurisma di otak yang 
pecah.

Bianxiang adalah wakil kepala pengobatan pernafasan di Rumah Sakit Rakyat 
Distrik Yuci di kota Jinzhong, provinsi Shaanxi, Cina.

Dokter tersebut jatuh saat mengunjungi seorang pasiennya dan menanyakan 
kabarnya kepada putri sang pasien. Dia kemudian ambruk sekitar jam 12 siang.

Baca: Dokter di Saudi Periksa Pasien Lewat Wi-Fi

Setiap hari Bianxiang memulai kerjanya pada pukul 6 sore sehari sebelumnya dan 
terus bekerja tanpa istirahat.

Zhao Bianxiang dinyatakan meninggal pada pukul 7.16 pagi pada 30 Desember 2017 
setelah menderita perdarahan subarachnoid, jenis stroke yang tidak biasa yang 
disebabkan oleh perdarahan di permukaan otak. 

Rekan medis menggambarkannya sebagai 'pekerja gila' yang selalu menempatkan 
profesinya di atas hal-hal lain. Ia mengaku kepada rekannya bahwa ia terlalu 
sibuk untuk bersantai-santai.

Baca: Di Bangladesh, Dokter Harus Menulis Jelas

Laporan menunjukkan bahwa Cina kini melampaui Jepang sebagai jumlah kematian 
tertinggi terkait dengan kerja keras. Hampir 600.000 pekerja Cina dikatakan 
meninggal karena kelelahan setiap tahun. Antara Januari dan Juli tahun 2017, 13 
dokter dilaporkan meninggal disebabkan oleh kerja berjam-jam.

Kirim email ke