https://nasional.tempo.co/read/1048587/kata-pengamat-mengapa-megawati-pilih-tni-polri-di-pilgub-jabar
Kata Pengamat Mengapa Megawati Pilih TNI Polri
di Pilgub Jabar
Reporter:
Ahmad Fikri (Kontributor)
Editor:
Widiarsi Agustina
Selasa, 9 Januari 2018 09:54 WIB
0 komentar
<https://nasional.tempo.co/read/1048587/kata-pengamat-mengapa-megawati-pilih-tni-polri-di-pilgub-jabar#comments>
832419
#
#
#
#
Kata Pengamat Mengapa Megawati Pilih TNI Polri di Pilgub Jabar
<https://nasional.tempo.co/read/1048587/kata-pengamat-mengapa-megawati-pilih-tni-polri-di-pilgub-jabar>
Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri (kiri) menyerahkan surat
rekomendasi kepada pasangan bakal calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa
Barat TB Hasanuddin (tengah) dan Anton Charliyan (kanan) di kantor DPP
PDIP, Lenteng Agung, Jakarta, 7 Desember 2018. ANTARA FOTO
*TEMPO.CO*, *BANDUNG* - Pengamat militer yang juga pemerhati politik
dari Universitas Padjadjaran Muradi menyebut Keputusan Ketua Umum PDI
Perjuangan Megawati <https://www.tempo.co/tag/megawati>Soekarnoputri
memilih memasangkan Mayor Jenderal TNI (Purnawirawan) Tubagus Hasanudin
dan Inspektur Jenderal Polisi Anton Charliyan untuk memenangkan
Pemilihan Gubernur Jawa Barat ( Pilgub Jabar
<https://www.tempo.co/tag/pilgub-jabar-2018> ) punya pertimbangan
sendiri. Selain tak masuk dalam 10 besar nama kandidat yang
diperhitungkan dalam survei Peilkada, keduanya yang orang baru harus
bekerja keras.
Meski begitu,menurut Muradi, Megawati punya alasan untuk menunjuk
keduanya. Menurut Muradi, pilihan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati
memilih memasangkan calon berlatar belakang TNI-Polisi dalam satu paket
di Jawa Barat. “Ini simbolik,” kata Muradi saat dihubungi Tempo di
Bandung, Minggu 7 Januari 2018.
BACA: Cerita TB Hasanuddin Dampingi Habibie, Gus Dur, hingga Megawati
<https://nasional.tempo.co/read/1048552/cerita-tb-hasanuddin-dampingi-habibie-gus-dur-hingga-megawati>
Seperti diketahui, Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri hari ini,
Minggu, 7 Januari 2018, mengumumkan pasangan calon gubernur di sejumlah
daerah, salah satunya Jawa Barat. Dengan bermodal 20 kursi di parlemen,
PDIP mengusung pasangan calon gubernur sendirian tanpa menggandeng
partai koalisi dengan memilih calon gubernur, Ketua DPP PDIP Jawa Barat
Mayor Jenderal TNI (Purnawiran) Tubagus Hasanudin yang disandingkan
dengan calon wakil gubernur mantan Kapolda Jawa Barat Inspektur Jenderal
Anton Charliyan.
Muradi mengatakan, dengan menyandingkan pasangan berlatar belakang
militer dan polisi sekaligus PDIP membangun citra bahwa partai tersebut
tidak anti terhadap calon berlatar belakang kedua institusi tersebut.
“PDIP ingin dicitrakan bahwa mereka tidak anti TNI, tidak anti Polri,”
kata dia.
Ketua Umum PDIP Megawati, misalnya saat mengumumkan pasangan calon
gubernur Jawa Barat secara khusus menyinggung bahwa partainya bukan
‘partai polisi’. “Saya menangkapnya mereka ingin menegaskan tidak
masalah dengan ‘jenderal TNI; ini ditegaskan oleh Megawati bahwa mereak
banyak mendukung calon gubernur berlatar belakang TNI sejak dulu. Dan
ini ditegaskan sekarang di Jawa Barat,” kata Muradi.
BACA:Megawati Pun Geregetan, Sempat Ingin Maju Pilkada 2018
<https://nasional.tempo.co/read/1048213/megawati-pun-geregetan-sempat-ingin-maju-pilkada-2018>
Muradi mengatakan, lewat pasangan ini PDIP juga ingin menegaskan
posisinya sebagai partai yang anti dengan kelompok radikal. PDIP juga
dinilainya ingin menarik simpati TNI sekaligus. “Ini berkaitan dengan
Jawa Barat dicitrakan ‘basis’ kelompok radikal. Memasang Tb atau Anton
ini sebagai sinyalemen menegaskan PDIP dalam posisi yang sama dengan TNI
dan Polri yang anti kelompok radikal, pro UUD 1945, pro NKRI,” kata dia.
Muradi mengatakan, penempatan kedua pasangan berlatar belakang TNI-Polri
ini juga upaya PDIP untuk mengelola pemenangan dengan pendekatan
teritorial. Menyandingkan pasangan calon ini diharapkan bisa menjalankan
pendekatan teritorial untuk mengelola basis partai. “Ini target
utamanya, ini soal konslidasi internal,” kata dia.
Pola tersebut,menurut Muradi, isa dijalankan dalam 6 bulan ini, tetap
berat untuk memenangkan pemilihan gubernur Jawa Barat. “Kalau bicara
hari ini, berat,” kata dia.
Muradi mengatakan, kendati tidak bisa memenangkan pilkada, PDIP akan
tetap diuntungkan karena suara mereka tetap utuh hingga pemilu 2019.
“Saya memuji langkah ini tepat untuk menjaga basis suara. Kalau basis
suara ini terjaga, dengan asumsi yang 20 persen dalam Pilpres 2014
kemarin, dan mungkin nanti akan bertambah,” kata dia.
Langkah Megawati <https://www.tempo.co/tag/megawati>di Pilgub Jabar
<https://www.tempo.co/tag/pilgub-jabar-2018>, kata Muradi, ujungnya
adalah menyelamatkan suara partai tersebut pada Pemilu 2019. “Basis
partai ini yang mereka mau jaga, sekaligus juga warning pada
kelompkradikal, serta secara simbolik ingin mengatakan TNI dan Polri
bisa bersama PDIP. Targetnya gak ingin menang, tapi ujung-ujungnya untuk
menyelamatkan suara 2019,” kata dia.
AHMAD FIKRI