----- Pesan yang Diteruskan ----- Dari: 'Chan CT' [email protected] 
[GELORA45] <[email protected]>Kepada: GELORA_In 
<[email protected]>Terkirim: Rabu, 10 Januari 2018 00.23.36 GMT+1Judul: 
Fw: [GELORA45] Kata Pengamat Mengapa Megawati Pilih TNI Polri di Pilgub Jabar
     

  From: 'j.gedearka' [email protected] [GELORA45] Sent: Wednesday, January 
10, 2018 2:10 AM  


 

https://nasional.tempo.co/read/1048587/kata-pengamat-mengapa-megawati-pilih-tni-polri-di-pilgub-jabar


Kata Pengamat Mengapa Megawati Pilih TNI Polri 


di Pilgub Jabar 
Reporter: 
Ahmad Fikri (Kontributor)
Editor: 
Widiarsi Agustina
Selasa, 9 Januari 2018 09:54 WIB   
Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri (kiri) menyerahkan surat rekomendasi 
kepada pasangan bakal calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat TB 
Hasanuddin (tengah) dan Anton Charliyan (kanan) di kantor DPP PDIP, Lenteng 
Agung, Jakarta, 7 Desember 2018. ANTARA FOTO
 
TEMPO.CO, BANDUNG - Pengamat militer yang juga pemerhati politik dari 
Universitas Padjadjaran Muradi menyebut Keputusan Ketua Umum PDI Perjuangan 
Megawati Soekarnoputri memilih memasangkan Mayor Jenderal TNI (Purnawirawan) 
Tubagus Hasanudin dan Inspektur Jenderal Polisi Anton Charliyan untuk 
memenangkan Pemilihan Gubernur Jawa Barat ( Pilgub Jabar ) punya pertimbangan 
sendiri. Selain tak masuk dalam 10 besar nama kandidat yang diperhitungkan 
dalam survei Peilkada, keduanya yang orang baru harus bekerja keras.

Meski begitu,menurut Muradi, Megawati punya alasan untuk menunjuk keduanya. 
Menurut Muradi, pilihan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati memilih memasangkan 
calon berlatar belakang TNI-Polisi dalam satu paket di Jawa Barat. “Ini 
simbolik,” kata Muradi saat dihubungi Tempo di Bandung, Minggu 7 Januari 2018.

BACA: Cerita TB Hasanuddin Dampingi Habibie, Gus Dur, hingga Megawati

Seperti diketahui, Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri hari ini, Minggu, 7 
Januari 2018, mengumumkan pasangan calon gubernur di sejumlah daerah, salah 
satunya Jawa Barat. Dengan bermodal 20 kursi di parlemen, PDIP mengusung 
pasangan calon gubernur sendirian tanpa menggandeng partai koalisi dengan 
memilih calon gubernur, Ketua DPP PDIP Jawa Barat Mayor Jenderal TNI 
(Purnawiran) Tubagus Hasanudin yang disandingkan dengan calon wakil gubernur 
mantan Kapolda Jawa Barat Inspektur Jenderal Anton Charliyan. 

Muradi mengatakan, dengan menyandingkan pasangan berlatar belakang militer dan 
polisi sekaligus PDIP membangun citra bahwa partai tersebut tidak anti terhadap 
calon berlatar belakang kedua institusi tersebut. “PDIP ingin dicitrakan bahwa 
mereka tidak anti TNI, tidak anti Polri,” kata dia.

Ketua Umum PDIP Megawati, misalnya saat mengumumkan pasangan calon gubernur 
Jawa Barat secara khusus menyinggung bahwa partainya bukan ‘partai polisi’. 
“Saya menangkapnya mereka ingin menegaskan tidak masalah dengan ‘jenderal TNI; 
ini ditegaskan oleh Megawati bahwa mereak banyak mendukung calon gubernur 
berlatar belakang TNI sejak dulu. Dan ini ditegaskan sekarang di Jawa Barat,” 
kata Muradi.

BACA:Megawati Pun Geregetan, Sempat Ingin Maju Pilkada 2018

Muradi mengatakan, lewat pasangan ini PDIP juga ingin menegaskan posisinya 
sebagai partai yang anti dengan kelompok radikal. PDIP juga dinilainya ingin 
menarik simpati TNI sekaligus. “Ini berkaitan dengan Jawa Barat dicitrakan 
‘basis’ kelompok radikal. Memasang Tb atau Anton ini sebagai sinyalemen 
menegaskan PDIP dalam posisi yang sama dengan TNI dan Polri yang anti kelompok 
radikal, pro UUD 1945, pro NKRI,” kata dia.

Muradi mengatakan, penempatan kedua pasangan berlatar belakang TNI-Polri ini 
juga upaya PDIP untuk mengelola pemenangan dengan pendekatan teritorial. 
Menyandingkan pasangan calon ini diharapkan bisa menjalankan pendekatan 
teritorial untuk mengelola basis partai. “Ini target utamanya, ini soal 
konslidasi internal,” kata dia.

Pola tersebut,menurut Muradi, isa dijalankan dalam 6 bulan ini, tetap berat 
untuk memenangkan pemilihan gubernur Jawa Barat. “Kalau bicara hari ini, 
berat,” kata dia.

Muradi mengatakan, kendati tidak bisa memenangkan pilkada, PDIP akan tetap 
diuntungkan karena suara mereka tetap utuh hingga pemilu 2019. “Saya memuji 
langkah ini tepat untuk menjaga basis suara. Kalau basis suara ini terjaga, 
dengan asumsi yang 20 persen dalam Pilpres 2014 kemarin, dan mungkin nanti akan 
bertambah,” kata dia.

Langkah Megawati di Pilgub Jabar, kata Muradi, ujungnya adalah menyelamatkan 
suara partai tersebut pada Pemilu 2019. “Basis partai ini yang mereka mau jaga, 
sekaligus juga warning pada kelompkradikal, serta secara simbolik ingin 
mengatakan TNI dan Polri bisa bersama PDIP. Targetnya gak ingin menang, tapi 
ujung-ujungnya untuk menyelamatkan suara 2019,” kata dia.

AHMAD FIKRI






    

Kirim email ke